Matahari kelihatannya sedang dengan senang hati mencurahkan sinar dan panasnya ke Bumi, tanpa ampun kendati jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Jalanan juga sangat lengang, rupanya banyak oranf yang lebih suka berdiam diri di rumah daripada harus melintasi jalanan.
" Gila, panas banget. Aspal aja meleleh. " Iskandar melemparkan helm keatas kursi. Diambilnya sebotol air dan meneguknya sampai tandas.
" Gak usah lebay deh, mana mungkin aspal sampe meleleh ... baru berapa derajat juga. " sahut Sisy tanpa mengangkat pandangan dari monitor.
" Umpama neng. "
" Kepalamu tuh yang meleleh .... apa maksudmu meletakkan data seabrek gini di mejaku ? "
Iskandar tertawa ... ternyata bersikap terbuka lebih midah buat kita, aku juga kangen ribut denganmu ... ," Kamu sendirian ?"
" Kak Mif sama Kak Ito baru saja keluar, janjian sama manajer tempat mereka melakukan penelitian untuk tugas akhir. "
" Sudah mulai sibuk mereka. "
" Kelihatannya begitu. " disimpannya file sebelum mulai mencetak " Kak Dewi tadi gak kuliah sama kamu ?"
" Tadi sih iya, tapi dia langsung pulang. Mau ngantar ibunya arisan. " digesernya tubuh saat Sisy menghempaskan tubuh disampingnya " Sama ibunya Den Mas Roni kayaknya. "
" Hush. "
" Beneran, dari tadi Dewi ngomel ngomel aja. " dibesarkannya kipas angin , " Eh translate kuisioner yang aku minta sudah jadi belum ?"
" Sudah, di kotakmu. "
Iskandar menarik isi kotaknya sembarangan, nyengir ketika melihat Sisy melotot melihat kelakuannya , " Iya. iya aku beresin. Sy ..."
Sisy menatapnya , " Pasti ada maunya. " mencibir melihat Iskandar memasang tampang memelas.
" Kamu mau nolongin aku, gak ?"
" Gak usah basa basi. "
" Kamu mau nemenin pelanggan kita nemuin buyer gak ? Buyernya orang Prancis. "
" Kenapa aku ? Dia kan klien mu. "
" Cieh ... klien. " Iskandar menepuk kepala Sisy dengan gulungan kertas ditangannya , " Kalau kamu kan lebih enak ngobrolnya, sekalian praktek bahasa Prancismu ... Ayolaaaah ... "
" Mulai deh. "
" Terima kasih sayang ... "
" Gombal .... aku gak bilang iya."
" Aku tahu kamu akan bilang iya," ditepuknya pipi Sisy ," Sekalian cari peluang sama buyernya ya."
Sisy menggerutu, lalu terdiam saat menatap sesosok tubuh berdiri di depan pintu.
" Selamat siang." sosok itu menyapa lembut.
" Siang, masuk ." Sisy tersenyum, menyingkirkan tangan Iskandar.
" Masuk, Rik .." Iskandar melambaikan tangannya ," Sy, ini Rika ... adiknya Miftah."
" Oh ... Sisy ." diulurkannya tangan ," Duduk, teh."
" Kang Mif ada ?"
" Lagi keluar." mencoba sedikit lembut " Ditunggu saja, sebentar lagi juga balik."
Iskandar tergelak ," Gak usah sok kalem ... Kalau Dewi yang ngomong gitu baru cocok."
" Berisik ah." Sisy mencibir, meraih sebotol air ," Minum teh ... panas banget diluar."
" Terima kasih." Rika tersenyum. Matanya sempat menangkap dua orang itu bertukar pandang dan senyum jahil ... Kang Mif benar, gadis ini berpembawaan ringan. Tidak ada yang tidak suka berada didekatnya ... apalagi lelaki seperti Iskandar ...
" Darimana, Rik ?"
" Dari perpustakaan daerah, minjemin buku pesanan Kang Mif."
Sisy kembali ke depan komputer, melanjutkan pekerjaan yang sempat ditinggalkannya. Disusunnya berkas yang sudah selesai dicetak, memeriksanya sekali lagi lalu meletakkan ke dalam map ... Adiknya Kak Mif .., identik. Apa semua anggota keluarganya rapi dan teratur seperti ini, ya ? Jangan jangan rumah mereka setenang ruang ujian ...
" Ngapain senyum senyum sendiri, Sy ? Kesambet hantu pohon diujung jalan ?"
" Gak apa apa." digigitnya bibir sambil menekan pipinya saat menyadari pikirannya melantur ," Is, kapan aku nganter ke pelangganmu ?" dimatikannya komputer.
" Kalau bisa besok makan siang."
" Kalau besok siang aku gak bisa, aku latihan. Besok makan malam atau lusa makan siang." dimasukkannya map ke kotak setelah memberi sedikit catatan.
" Bukannya sore ini kamu latihan ?"
" Besok juga, bulan depan kejurda."
" Halaah ... kayak yang bakal menang aja."
" Lihat saja nanti, kalau ada piala bisa buat hiasan kantor. Siapin aja coklat buat aku." diraihnya ransel ," Teh Rika, ditinggal dulu. Hati hati sama makhluk disebelahmu, belum divaksin." ujarnya sambil tertawa dan bergegas keluar saat Iskandar melemparkan botol kosong kearahnya.
" Lucu dia."
" Jahil." gerutu Iskandar.
" Tapi kelihatan kalau baik, menyenangkan."
" Dapat info darimana ? Miftah ? Terlalu subyektif, kakakmu pernah ada rasa." sahutnya lalu mengutuki dirinya sendiri ketika menyadari masih ada sebersit rasa cemburu didadanya.
Kamu juga kan ? Aku bisa merasakan itu walaupun Kang Mif gak mengatakan apa apa tentang ini ... ditundukkannya kepala sejenak, menahan diri untuk tidak mengucapkannya. Ditatapnya wajah tampan yang tengah bersandar di dinding dengan mata terpejam itu, ada garis garis kelelahan disudut matanya. Setelah sekian lama, ternyata masih ada saja sesuatu yang menarik darinya. Sejak masa orientasi dulu saat lelaki ini menjadi ketua kelompoknya, ia menaruh perhatian lebih ... tapi berlusin gadis menarik dikampus lalu lalang disekitar lelaki ini, membuatnya mencukupkan diri dengan menganguminya dari jauh. Betapa inginnya ia seperti Dewi yang selalu berada disekitar Iskandar, atau seperti gadis gadis lain yang tanpa canggung menunjukkan rasa tertariknya. Tapi ternyata lelaki ini sudah menjatuhkan hatinya pada Sisy ... Bagaimana aku bisa bersaing dengan gadis sehangat dan seterbuka Sisy ? Mungkin ini juga yang dirasakan Kang Mif, bagaimana ia bisa bersaing dengan lelaki sehangat dan seterbuka Iskandar ? Bagaimana mereka bisa tahu kalau kami hanya diam .... ?
" Rik, mikirin apa ? Sudah gak usah mikir negara, sudah ada presidennya."
Rika tersentak, tersenyum gugup dengan wajah memerah saat mendapati Iskandar tengah menatapnya sambil bertopang dagu " Eh, kang Mif lama gak ya ?"
Iskandar mengangkat bahu , " Entahlah, kalau sudah janjiam pasti dia kesini. " melangkah cepat keluar saat mendengar penjual buah melintas , " Mau ?"
" Gak, makasih." sahutnya sambil menggeleng.
" Seger lho panas panas gini." Iskandar membawa masuk sekantung kecil potongan buah.
Rika tersenyum lembut.
" Aduuuh dasar adiknya Miftah. Eh sorry ...". lanjutnya melihat kilasan sedih dimata gadis itu.
" Memangnya kenapa kalau adik Kang Mif ?"
Iskandar menggaruk kepalanya, mengeluh dalam hati saat Rika menatapnya selembut anak rusa ... ayolah, aku paling gak tahan ditatap seperti itu. kamu mengingatkanmu pada Sisy malam itu ... " Kalian selalu tenang begini ? Bisa marah gak sih ?"
" Ya Bisalah."
" Coba."
Rika tertawa kecil ," Mana bisa ... gak ada apa apa lalu marah, kan gak lucu."
Iskandar nyengir dan Rika kembali menenangkan hatinya.
" Eh, sudah lama Rik ?" Miftah mengucapkan salam dan masuk dengan tenang.
" Lumayan, ini bukunya. "
" Makasih. Kamu aman disini sama dia ?"
Iskandar menendang tulang kering Miftah ," Tenang adikmu belum aku apa apain kok."
" Wah Mif, dia bilang belum ... Hati hati saja." sahut Ito disambut acungan tinju Iskandar ," Sisy kemana ? "
" Latihan, mau kejurda katanya. "
" Iya, bulan depan. "
" Urusan kalian beres ? "
Ito tersenyum lebar ," Beres .... "
" Dan ? " tanya Iskandar mendengar nada menggantung itu.
" Kamu tahu aja. Ada order, mereka mau bikin riset pasar "
" Detailnya ? "
" Kamu sama Dewi saja yang kesana biar lebih jelas." diulurkannya memo dan kartu nama , " antara jam sembilan sampai sebelum makan siang."
" Siap .. kalian konsen beresin tugas akhir saja. "
Miftah memandang adiknya yang seringkali mencuri pandang saat Iskandar bicara ... Oh tidak .. Rika, ternyata kamu ada rasa padanya. Jangan sekarang dik, setidaknya biarkan dia sembuh dulu dari luka hatinya, aku gak mau kamu jadi semacam pelarian. Dia lelaki yang baik, tapi saat ini ia masih menyompan rasanya pada Sisy ... seperti aku.