Matahari sudah hampir tenggelam ketika Miftah melihat sesosok tubuh berlari kearahnya sambil melambaikan tangan ke arah teman temannya yang masih duduk di tangga.
" Kak .. " nafasnya masih sedikit terengah. wajahnya memerah, keringat masih membasahi sedikit dahi dan rambutnya.
" Masuk, " Miftah mengulurkan tangan untuk membuka pintu disampingnya , " Capek ?"
Sisy menutup pintu lalu duduk bersandar , " Lututku mau lepas rasanya. " diambilnya botol minum, menghabiskan air yang tinggal setengah.
" Masih haus ?"
" Mau ngajak beli minum ? "
" Ayo ... " Miftah menjalankan mobil perlahan keluar dari GOR yang cukup ramai sore ini " kemana ? "
Sisy mengangkat bahu ," terserah." gumannya sambil membenahi kepangan rambutnya., memalingkan muka ketika lelaki disampingnya tidak bersuara , " Kak .. "
Miftah berlagak konsentrasi ke jalanan, bersyukur gadis itu tidak tahu dari tadi ia meliriknya " Kamu mau apa ?"
" Apa saja, sambil ngemil juga boleh. "
" Dago aja biar cepat. ?"
Sisy mengangguk, tersenyum lebar ketika Miftah mengarahkan mobilnya ke sebuah cafe yang serong mereka datangi " Asyik ... es krim, pizza, kue coklat, sama ... "
Miftah tersenyum , " Pesanlah apa yang kamu mau, tapi ayo masuk dulu. " dimatikannya mesin dan turun menyusul gadis yang sudah siap hanya membawa dompet dan ponselnya. Diarahkannya ke meja dekat jendela kaca lebar dengan pandangan luas ke jalanan.
" Kakak mau apa ? " Sisy mengulurkan daftar menu " aku sudah selesai memilih , " ujarnya sambil berdiri menuju etalase, kembali sambil membawa piring berisi kue berlumur coklat berbentuk beruang.
Miftah tersenyum geli " Kayak anak kecil aja. "
" Biar aja, enak. "
" Gak takut gendut makan makanan manis seperti itu ? Gadis gadis seusiamu biasanya sibuk dengan itu."
Sisy tergelak , " Gak akan tanya seperti itu deh kalau tau bagaimana tadi disiksa. " dipojatnya lutut " lagipula selama kalori masuk dan keluar seimbang aman aman saja kan ?"
Miftah tersenyum, membiarkan Sisy menghancurkan bentuk beruang itu sedikit demi sedikit. Wajahnya masih bersemu merah dan keringat masih membekas di kepalanya. Tapi secara keseluruhan wajah polos itu nampak segar, seperti gadis lain yang baru mandi dan berdandan. Kaos hitamnya nampak baru diganti, serasi dengan jeans yang belel tapi tidak lusuh. Belel karena usia bukan belel keren yang lagi trend. Gadis didepannya ini tidak pernah terlalu rapi, tapi tidak pernah serampangan juga. Serapi dan seformal apapun pakaian yang dikenakannya, kesan santai itu masih melekat kuat ... seperti Iskandar.
" Gimana skripsinya, kak ? "
" Minggu depan mulai ngurus administrasi ujian. Soal materi kata dosennya sudah gak masalah. "
" Capek ya ? "
" Lumayan, yang capek harus mondar mandir nyari dosennya. " ditelannya sepotong pizza, tersenyum melihat beruang itu sudah lenyap , " Mau ?" didorongnya piring ke tengah meja " Aku tadi makan siang terlambat. Ambil saja. "
Sisy tersenyum lebar lalu meraih sepotong , " Kak Ito gimana ?"
". Sama saja, mudah mudahan lancar. "
" Ada yang merawat ini. "
Miftah tersenyum ," Ternyata lumayan susah masuk ke keluarga Dewi."
Sisy menghela nafas, menelan gigitan terakhirnya " Orang tua Kak Dewi gak benar benar melarang kan ?"
Miftah mengangkat bahu ," Gak secara langsung bilang jangan, tapi masih memilih dan mencarikan alternatif buat Dewi."
" Wajar sih, orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya." ditariknya mangkuk es krim, melotot ketika Miftah tertawa kecil melihatnya ," Tinggal bagaimana mereka mempertahankannya. Aku lihat Kak Ito cukup kuat."
" Ito ... aku yakin. Kalau Dewi lebih butuh dorongan, bahkan untuk sekedar bertahan."
" Aku bantu dengan doa saja, mereka yang jalani ... mereka yang harus mengambil keputusan untuk bertahan atau menyerah." dinikmatinya es krim tanpa suara.
" Ada order penelitian baru lagi ya ?"
Sisy mengangkat wajahnya ," Ada beberapa perusahaan dan perorangan."
" Tentang apa saja ?"
" Kebanyakan sih marketing sama HRD. Tapi ada juga beberapa usaha kecil yang minta dibikinkan analisa bisnis untuk mengajukan kredit pengembangan usaha."
" Syukurlah ... setidaknya tidak terlalu mendesak untuk mencari pekerjaan setelah lulus nanti."
" Kakak masih mau tetap disini ?"
" Kenapa tidak ? Kamu berencana pulang ?"
" Mungkin, tapi itu masih lama. Kakak mau fokus disini ?"
" Entahlah, mungkin aku coba peruntungan kerja diluar dulu, aku berniat menambah porsi untuk Ito ... biar bisa jadi pegangan menentukan standard yang dia inginkan bersama Dewi."
Sisy menatapnya, sepenuhnya memahami dukungan lelaki ini pada sahabatnya " Dorongan gaib ... awas nyungsep."
Miftah tersenyum mengetahui Sisy memahaminya.
" Kak, sepertinya kita harus cari karyawan deh."
" Karyawan ?"
Sisy mengangguk , " Untuk pekerjaan intinya, kita masih bisa handle. Tapi untuk urusan administrasi, ngeprint, bayar bayar tagihan, nganter jemput berkas ... habis waktu kita untuk itu. "
Minfah mengangguk, yang dikatakan gadis itu benar. Usaha mereka berkembang cukup cepat, karyawan merupakan kebutuhan saat ini , " Kamu benar. Nanti kita bicarakan."
Sisy melanjutkan menikmati es krimnya
" Siapa yang dulu gak mau ngurusin, tinggal kerjain apa yang ada ? "
Sisy tertawa malu " Kebawa ... awalnya karena gak enak, kalian semua begitu serius. "
" Kita semua suka kok, dan kamu juga selalu serius. "
Sisy tertawa, sebelum melongo melihat dua orang yang baru keluar dari toko musik disamping cafe tempat mereka duduk saat ini " Kak, itu teteh .. sama Iskandar. "
Miftah mengikuti arah pandangan Sisy, tersenyum melihat adiknya berjalan pelan disamping Iskandar yang melangkah santai.
" Cocok. "
" Lihatlah, mereka berbeda " ditatapnya Rika yang nampak lembut dan rapuh dengan rok dan blus putihnya berdiri sopan disamping Iskandar yang nampak santai dengan jeans, kaos, jaket dan sneakers belelnya.
" Cocok gak berarti harus sama. Ada kalanya yang bertolak belakang diperlukan untuk mengisi bagian yang kosong, selama tujuannya sama. " sahut Sisy sambil menatap keduanya, tanpa menyadari Miftah menghela nafas dihadapannya.
Seperti kamu dan Rahyuda ...
" Menurutku, teteh bisa membuat Iskandar sedikit tenang. Sementara Iskandar akan mampu melindunginya ... dan akan merasa menjadi seorang pahlawan. " Sisy terkekeh mengucapkan kalimat terakhirnya.
" Pengamatanmu boleh juga. "
Sisy menatap lelaki didepannya , " Iskandar lelaki yang baik, dan punya tanggung kawab. Meskipun terkadang menyebalkan. "
" Aku tidak membantah, Iskandar memang seperti itu. Tapi bagaimanapun, aku tidak ingin adikku tersakiti. "
" Aku pikir Iskandar bukan tipe yang suka menyakiti perempuan. Kalau mau main main sudah banyak korbannya selama ini. "
" Memang bukan, tapi ... " ditatapnya Sisy dengan serius , " Saat ini aku khawatir dia masih menyimpan rasanya padamu. "
" Kak ... kami sudah bicara banya, dan kembali dari awal." ujarnya tanpa menyadari nada suaranya tak seyakin sebelumnya ... Maaf , gara gara aku ...
" Kita lihat saja nanti seiring waktu. " Miftah tersenyum menenangkan , " Iskandar bukan orang yang ceroboh, begitupun adikku. " dihelanya nafas melihat kilasan rasa bersalah dimata Sisy ... kamu cukup peka, tapi terkadang kamu terlalu sering menimpakan semua pada dirimu sendiri. Semua ini bukan salahmu .... benar benar bukan salahmu kalau kami mencintaimu ...