Menghabiskan Siang

1038 Words
Laboratorium komputer sudah nyaris kosong, haya menyisakan dua kepala yang masih duduk di tempatnya dan mengacuhkan petugas yang sudah bersiap meninggalkan ruangan ," Kalau sudah selesai pastikan mematikan semuanya dan kunci pintu.taruh di pengajaran."  " Ya Pak ..." sahut Ito dan Dewi, bertukar pandang dan kembali  tenggelam dalam program yang mereka pelajari.  " Kalau ini sukses, kita gak perlu terlalu pusing ngerjain tugas."  " iya,tapi ini sekarag yang bikin pusing ," Dewi mengusap tengkuknya ," Mau dilanjutkan ? Ini saja sudah banyak membantu."  Ito mendesah ," Kalau masih bisa ditingkatkan mengapa tidak ? Ayolah, nanti bisa kita komersilkan ke teman teman untuk mengerjakan tugas. Bisa buat nambah uang jajan."  " Jahat banget sama teman sendiri dikomersilkan."  " Lho sama aja ... daripada mereka bayar ke orang lain ? Lebih jahat lagi" Ito terkekeh.  Dewi tersenyum tidak sanggup membantah. Benar juga, mahasiswa di kampus ini banyak yang mengoperkan tugas kuliah pada orang lain, dengan mengandalkan uang yang mereka miliki, atas nama sibuk atau hanya malas ," Siapa bilang yang kuliah di kampus favorit itu rajin semua  ?"  Ito tergelak ," makanya, sebenarnya tidak terlalu penting dimana kita menuntut ilmu, tapi lebih penting dari itu adalah bagaimana kita menjalaninya." diusapnya tengkuk yang sudah mulai pegal ," Tapi bagaimanapun, fasilitas juga penting. Coba kalau kita kuliah dikampus yang tidak memberikan kebebasan akses menggunakan fasilitas seperti ini ?  " Pakai aja yang dirumah."  " Itu karena kamu punya neng. Lalu bagaimana dengan rakyat jelata macam aku ?"  Dewi tersenyum, sedikit merasa bersalah, menyibukkan diri dengan mouse dan keyboard didepannya. Sudah sering ia mendengar kalimat seperti ini, tapi lelaki disampingnya ini mengucapkannya dengan ringan, seakan kondisi ekonomi keluarganya bukan hal yang perlu dijadikan beban, hanya sebuah kondisi yang  harus dijalani dan disiasati.  Dari Miftah dia mendengar tentang kondisi keluarga Ito, dan tidak dipungkiri semakin hari membuatnya semakin kagum. Ito selalu tahu diri tanpa harus minder, bekerja keras tanpa menyiksa diri, berhemat tanpa menjadi pelit ... dan yang penting dia selalu menjadi dirinya sendiri.  Tidak ada satu hal pun yang menarik minatnya akan lolos dari kejarannya. Tidak selalu berhasil memang, tapi  lelaki ini selalu bisa tersenyum menerima kegagalannya sambil tersenyum dan berkata Yang penting aku sudah melakukan yang terbaik, pasti ada yang kudapat dari proses ini ..  " Hei, ngerjain atau melamun ?"  Dewi tersentak ," Capek."  Ito mengangguk,menatap wajah lelah disampingnya"  Dewi ikut mematikan komputer dan berkemas, berdri didepan pintu mengamati Ito yang tengah memastikan semua sudah aman. Ditatapnya rambut ikal itu nyaris melewati kerah kaosnya, sudah waktunya dipotong.  " Apanya ?" Dewi tersentak menyadari Ito sudah berdiri didepannya sambil mempermainan kunci.  " Kamu tadi bilang waktunya dipotong."  " Rambutmu." bluuush ... pipi Dewi memerah saat sadar ia gagal mengerem lidahnya.  Ito mengusap rambut ditengkuknya dengan salah tingkah ," Masih malas ke tukang cukur. Jelek ya ?"  Dewi menggigit bibir dan berjalan duluan ke rruang pengajaran ~Gak ... gak jelek sama sekali ...~ Dibiarkannya Ito menyerahkan kunci dan berjalan beriringan ke tempat parkir.  " Capek ya ?" Ito menatap gadis yang tengah menggerakkan bahu yang terlihat kaku.  " Sudah tahu nanya."  Tersenyum tipis, diulurkannya tangan memijat bahu Dewi yang tegang, dan akhirnya semakin tegang karena sentuhannya ," Ah, sudahlah." ia merutuki dirinya yang nyaris lepas kelewatan.  " Pulang bareng ?" Dewi bersandar ke mobilnya.  " Aku mau makan dulu, sudah lapar lagi. Ikut ?"  " Boleh." diulurkannya kunci mobil ," Kamu yang bawa."  Ito menkalankan mobil keluar dari kampus ," Mau makan apa ?"  " Terserah, aku ngikut aja."  " No complain ya ..." ujar Ito ," Mau es durian gak ?"  Wajah Dewi berbinar ," Mau banget. Serumah pada doyan durian."  -Aku tahu - Ito tersenyum dan mengarahkan mobil ke warung langganannya. Hanya butuh beberapa menit sebelum memarkir mobil di pinggir jalan ," Ayo."  Dewi turun dan mengedarkan pandangan ," Kita makan dimana ? Gak lihat warung."  " Ada di dalam sana." Ito menarik tangan Dewi memasuki gang kecil disamping toko bunga, mengabaikan gadia itu terkesiap ," Mang dua ya, ditempat biasa." serunya pada penjual es yang menempati teras sebuah rumah.  Dewi menarik nafas, aroma yang membangkitkan selera menyerbunya begitu masuk ke rumah sederhana yang dijadikan warung yang cukup nyaman.  " Makan apa ?"  Dewi berdiri cukup lama ," Terserah kamu deh, mana yang enak. Aku bingung, kelihatannya enak semua." ujarnya malu malu.  " Ya sudah, duduklah disana." ditu juknya meja di dekat jendela.  " Lho kok malah kamu yang bawain makananku." seru Dewi melihat Ito mendekat sambil membawa nampan berisi dua piring dan dua gelas air.  " Memangnya salah ?"  " Kebalik."  Ito tertawa kikuk ," Sudahlah, kamu belum familiar disini. Gak ada salahnya aku yang melayanimu."  Dewi tersenyum, mengangguk dan mengucapkan terima kasih saat es duriannya diantarkan ," Mang bungkus dua ya." ujarnya ," Buat sikembar." terangnya pada Ito.  " Makanlah."  Dewi mengikuti Ito memindahkan isi piring ke perutnya dengan kecepatan setengah dari kecepatan lelaki itu.  " Santai aja, gak usah buru buru." Ito mendorong piringnya yang sudah kosong, meneguk setengah gelas air dan meraih mangkuk es nya. Ditatapnya Dewi yang tengah makan dwegan lahap namun tetap terlihat anggun. Ah ... bukannya dia selalu nampak seperti itu., dia curiga gadis ini ikut sekolah kepribadian sejak balita ....  Dewi memang tumbuh di keluarga yang berkecukupan, tapi sama sekali tidak sombong maupun cengeng, kecuali terlalu sering mengatakan terserah heheh  " Enak ... ihh kalau begini terus bisa gendut aku." Dewi menatap ngeri pada piring dan mangkuknya yang sudah kosonf -sebanyak itukah yang masuk ke perutku siang ini ?  Ito tertawa ," Tampangmu itu lho.... gak apa apalah sesekali. Sibuk aja sama berat badan, padahal badanmu sudah bagus." ups .... apa ini .. ," Sebentar." dia bangkit untuk membayar.  " To ...."  Ito mengibaskan tangan melihat gadia itu mengeluarkan dompet ," Sudahlah."  Dewi menurut, takit membuatnya tersinggung.  " Kamu langsung pulang aja." Ito menyerahkan kunci.  " Kamu ?"  " Gampang."  " Aku anter kamu dulu."  Ito menepuk pipi Dewi ," Wajahmu sudah kusut seperri baju belum disetrika."  " Tapi ...." tercekat ketika Ito menempelkan jari di bibirnya dan untuk sekian detik lebih lama dari searusnya mereka berdua tertegun sebelum serentak menarik diri ," Baiklah aku pulang. Makasih." dibukanya pintu mobil dan bergegas masuk.  Ito mengangguk. Ada semburat merah di wajahnya, melengkapi matanya yang menggelap ," Sampai besok, hati hati."  Dewi menjalankan mobilnya perlahan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD