Sisy menggerutu sambil memicingkan matanya, Ah ... kata siapa Bandung dingin ... dipercepatnya langkah mencapai rimbunan pohon disepanjang jalan Gandapura, menghembuskan nafas lega ketika sinar matahari tidak lagi seterik tadi.
" Hai."
Sisy mendelik sewot pada Iskandar yang menghentikan motor disampingnya sambil melepas helm dan kacamata hitamnya ," Hai, kirain siapa."
" Dari mana mau kemana, neng ?"
" Dari belakang mau ke depan."
Iskandar menggerutu ," Iyalah, kamu gak berjalan mundur."
Sisy tertawa, " Dari rumah teman, kak."
" Mau ke ...?"
" Mau ke kota."
" Ayolah, ini juga bukan desa." sahutnya sambil tertawa
" Sorry,mau ke Dago."
" Jalan kaki ?"
Sisy menunjuk dengan dagunya ," Di depan sana ada angkutan ," dilepasnya topi ," Lagipula kalau harus jalan juga sudah gak jauh lagi."
" Sudahlah, ada pilihan yang lebih baik," diulurkannya helm ," Ayo aku antar, kebetulan juga aku gak ada acara."
" Emang kalau gak ada acara suka ngojek ya, Kak ?"
" Bawel." dipakaikannya helm ke atas kepala Sisy.
Sisy tertawa lepas, mengancingkan helm dan duduk dibelakang punggung Iskandar ," Ayo Mang."
Iskandar menggerutu, tapi diam diam merasa senang. Nggak salah kalau selama ini ia diam mengamati mereka yang mencoba mendekati gadis ini dengan cara konvensional berguguran satu persatu. Rupanya harus dengan cara santai seperti ini bisa dekat dengannya. Lagipula dengan cara ini ia tidak perlu memikirkan banyak hal, hanya menjadi dirinya sendiri.
" Bener nih gak mau makan ?" Sisy menatap lelaki yang menerima helmnya dengan sikap hormat yang berlebihan.
Iskandar tertawa, memasukkan motor ke tempat parkir dan melepas helm dengan tampang terpaksa ," Baiklah, daripada kamu kecewa."
Sisy tergelak, menjajari langkah lelaki itu ," Minum ? Es krim ?"
" Makan."
" Dasar." disikutnya lengan Iskandar lalu mendahului masuk dan menyebutkan pesanannya ," Sst, aku lagi ada rejeki, kasian tukang ojek seperti dirimu." ditepisnya tangan Iskandar yang merogoh saku untuk mengambil dompet.
" Kalau begitu lain kali aku yang mengajakmu."
" Boleh, siapa takut." sahut Sisy tanpa menyadari lelaki disampingnya tersenyum senang.
Tunggu saja, setelah ini kita akan sering keluar bersama... dan aku pastikan itu akan menyenangkan....
" Nglamun ?" Sisy menyenggolnya lalu meletakkan nampan ," Aku kesana dulu."
Iskandar duduk menatap gadis yang tengah mencuci tangan di wastafel. Jeans, kaos merah, sneakers putih ... gambaran yang sesuai dengan tipe gadis yang diinginkannya selama ini. Gadis yang tidak merasa harus membeli baju model terbaru, yang harus memulas ulang bedak dan lipstik setelah makan, atau yang tidak pede dengan tinggi badannya sehingga harus menambalnya dengan sepatu yang mengurangi kenyamanan.
" Kok belum makan ?" Sisy menatap makanan Iskandar yang belum tersentuh.
" Ish .... aku masih punya sopan santun." gerutu Iskandar, dan mulai makan ," Janjian dengan seseorang ?" tanyanya melihat Sisy berulang kali melirik jam tangannya.
" Iya, janjian."
" Sorry kalau mengganggu."
Sissy tertawa ," Janjian sama cewek cakep kok, mestinya bilang terima kasih." dilambaikannya tangan pada seseorang.
" Hai." seorang gadis berambut panjang berdiri disamping meja mereka ," Mana titipanku ?"
" Basa basi kek kapan aku datang , udah lama belum ," sembur Sisy galak ," Main tagih aja. Nih kenalin." ditunjuknya Iskandar dengan dagu.
Gadis itu tersenyum ," Hai, aku Made."
" Iskandar." disambutnya tangan yang terulur itu.
Made duduk disamping Sisy dan menyeruput teh botol dingin itu sampai habis, meringis ketika gadis itu menatapnya galak ," Iya, iya aku beliin lagi."
Iskandar menatap keduanya ," Biar aku aja." katanya sambil berdiri ," Mau minum apa ?"
" Cola"
" Teh botol"
Iskandar menuju counter, sambil menunggu dilihatnya Made mengambil satu bungkusan besar dan amplop dari ransel Sisy sementara pemiliknya masih asik memindahkan isi mangkok ke perutnya.
" Makasih, seangkatan atau kakak kelasnya Sisy ?"
" Kakak kelas setahun. Kamu ?"
" Teman main dari kecil." Sisy meletakkan sendoknya ," Nadamu kayak introgasi gitu kak ? Tertarik ?"
" Mau cari tahu tentang kamu, sebenarnya."
Sisy tertawa, tanpa menyadari lelaki itu serius ," Lihat De, kalau pas pulang bilang sama teman teman nanti ya ... aku laku lho... dan lagi dia gak jelek."
Yang diajak bicara hanya tersenyum ," Kayak yang berani aja."
Sisy mencibir .
Iskandar menghela nafas, Kelihatannya gadis ini susah diajak serius. Sikapnya begitu ringan tanpa beban dan hanya menganggap semuanya 'biasa'. Iskandar sadar butuh banyak waktu dan kesabaran kalau ingin memenangkan hatinya. Tanpa sadar ia mengeluh .... Sabar bukan sifatnya.