Dengungan pendingin ruangan menjadi satu satunya suara di ruang baca yang lengang lewat tengah hari begini. Setelah mengambil buku, ia menuju pojok favoritnya diujung ruangan, dan menemukan seseorang telah duduk di kursi dengan pandang langsung ke jendela lebar itu. Keningnya berkerut melihat ssok itu dengan lebih detail, Sisy ! Setidaknya kita punya selera yang sama dalam memilih tempat diruangan ini. ..." Hai."
Sisy mengangkat wajahnya, tersenyum pada lelaki yang berdiri didekat mejanya sambil membawa sebuah buku tebal ," Hai, Kak."
" Sibuk ?" mata Miftah menyapu dua buku yang terbuka di meja sisy, disamping buku catatan dan sebuah kamus.
" Lagi janjian sama teman, Kakak ?"
" Cari bahan untuk tugas akhir."
" Mau disini ?" tanya Sisy melihat Miftah melirik kursinya ," Tempat favorit ?"
" Ah gak usah, disini sama aja." Miftah menarik kursi disamping Sisy, dan membuka bukunya.
Sisy mengangkat bahu dan kembali tenggelam dalam deretan huruf dihadapannya
Miftah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba berkonsentrasi pada bukunya. Dipejamkannya mata sejenak ketika menyadari matanya berulangkali melirik gadis yang duduk tenang disampingnya. Ia terpesona oleh kerutan halus disekitar mata bulat itu saat pemiliknya mengerutkan kening dengan konsentrasi tinggi. Gadis ini tidak nampak seperti kutu buku, tapi siapapun bia melihat ia menikmati berada ditempat ini dengan buku tebal dihadapannya. Jemari lentikk degan kuku pendek yang terpotong rapi itu terus menari diatas kertas, dan sesekali terhenti oleh kegiatanya mencari sesuatu di kamus. Dari pengamatan sekilasnya, Miftah memahami gadis ini memindahkan isi buku dalam bahasa yang berbeda Keren .... kepala cantik dengan rambut indah ini tidak kosong ..
"Sy .." panggilan pelan dibelakang punggung mereka membuat Sisy dan Miftah menoleh bersamaan ," Eh, maaf Kak Mif."
Miftah tersenyum tipis dan kembali pada bacaannya saat dilihatnya Sisy berdiri. Sempat dilihatnya Sisy menarik sebuah mapplastik dari dalam tasnya, menyerahkan pada kedua gadis yang baru datang itu.
" terima kasih, kalau ada yang kurang jelas cari aku saja. Terus yang ini minggu depan ya, lagi banyak kerjaan."
" Ok ... Mari Kak Miftah ... Makasih ya Sy."
Sisy dan Miftah sama sama melambaikan tangan singkat, menatap keduanya menghilang dibalik rak.
" Sorry mengganggu." Sisy nampak memasukkan sebuah amplop ke saku belakang jeans birunya.
" Gak kok ," ditatapnya buku di meja Sisy ," Eh, pake buku itu ?"
" Bukan punyaku."
" Itu buku anak tehnik."
" Iya ," Sisy mengangguk.
" Kok tertarik baca buku itu ?"
Sisy tertawa ," Siapa yang tertarik ? Ini cuma keharusan ... namanya kerjaan gak semua menarik kan ?"
" kerjaan ?" *Sial ... mengapa harus pasang tampang menggemaskan seperti itu sih ...*Digigitnya lidah agar pikiranya tak terucap melihat gadis disampingnya menarik pipi bagian dalamnya dan matanya menyipit lucu ... kalau saja ada fotografer disini ," Maksudnya, kamu bekerja dengan buku itu ?" ditatapnya buku berbahasa asing ," Translate ?"
Sisy nyengir ," Semacam itu. Mau ?" ditatapnya buku tebal dihadapan Miftah ," Tapi kelihatannnya tidak perlu.
" Mungkin belum terlalu perlu untuk buku seperti ini. Tapi buku dihadapanmu itu, aku gak tanggung."
" Cuma masalah kebiasaaan ... dan keterpaksaan." tertawa geli Sisy kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Ehm... jadi kamu beneran terima terjemahan ?"
" Iya, kak ... kenapa ?"
" Kalau ada perlu aku bisa menghubungimu ?"
" Kakak bisa kerjakan sendiri."
" Terkadang waktunya gak cukup, atau mungkin bukan aku tapi teman temanku."
Sisy tertawa ," Mau cariin pelanggan nih?Boleh banget ... Makasih."
Miftah tersenyum, terpukau oleh tawa ringan itu ," Mungkin lain kali." ujarnya dan memaksakan diri untuk kembali ke bukunya sebelum matanya menuntut melihat lebih lama.
Tidak terlalu pendiam, walaupun kelihatannya sedikit menahan diri dengan sebagian besar orang. Senyumnya gak pernah berubah menjadi tawa ... dasar pelit ! Digigitnya pipi, menahan agar tawanya tak keluar tanpa alasan bagi lelaki itu. Sesekali diliriknya sikap tenang dari pemilik mata kelam itu, dan tiba tiba saja ia mengerti mengapa banyak sekali gadis yang ribut dan salah tingkah hanya karena kedatangan seorag Miftah.... Matanya tidak bisa mempengaruhiku seperti mata tajam yang berjarak hampir sehari semalam perjalanan darat ... I miss you ....!