Hampir bersamaan, keduanya bangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat saat jam dinding menunjukkan waktu setengah tiga.
" Pulang ?" Miftah meraih tasnya, menatap gadis yang sibuk memasukkan buku kedalam tas nya yang menggembung penuh.
" Gak, masih mau jalan." dianggukkannya kepala pada petugas perpustakaan yang mulai terlihat lelah ," Kakak mau pulang ?"
" Gak ada acara yang jelas sih ..."
" Enak sekali, kalau aku gak ada acara lgi sekarang udah terbang ke atas kasur." ditahannya senyum melihat beberapa mata menatap mereka yang berjalan beriringan.
" Mau latihan, neng ?" Iskandar menghentikan motornya ," Aku mau ke kosambi, lumayan kan ada tebengan ?" dilambaikannya helm.
" Kok bolak balik ke kosambi, buka lapak ya disana ?"
" enak aja ... kamu bolak balik kesana juga aku gak nanya."
" Iya deh gak nanya ... daripada kehilangan ojek gratis." disambarnya helm ditangan Iskandar ," Duluan, Kak."
" Iya." sahut Miftah sambil membuka pintu mobilnya.
" Mif, aku duluan."
" Iya." Miftah menghembuskan nafas saat memasuki mobil dan mengeluh mendapatkan sambutan udara panas .. kalau saja aku tadi lebih cepat menawarkan diri ...tapi kelihatannya Iskandar sudah berhasil, atau nyaris berhsil .
" Mif ..."
Miftah batal menjalankan mobil dan membuka jendela ," Ada apa ?" ditatapnya Ito yang berlari ke arahnya.
" Kamu mau kemana ?"
" Pulang."
" Ada yang mau aku bicarakan."
" Masuklah, kita cari tempat lain aja ," dibukanya pintu samping untuk Ito ," Kusut amat."
Yang ditanya menghela nafas sambil mencari posisi yang nyaman ," Kok jam segini masih di kampus, aku pikir kamu sudah dirumah. Di perpus lagi ?"
" Iya, masih ada bahan yang kurang." diserahkannya tiket ke tukang parkir dan menyusuri jalanan yang tidak terlalu padat ," Kamu sendiri ?"
" Aku baru selesai mengerjakan program yang pernah kita bahas."
" Berhasil ?" ditatapya wajah puas lelaki itu ," Aku tahu kamu pasti bisa."
" Aku gak sendirian."
" Sama Dewi kan ?"
" Kok Tahu ?"
Miftah tersenyum ," Siapapun tahu kalian mojok terus belakangan ini. Selain program, dapat apa lagi.?"
Wajah yang tersenyum itu mendadak lelah ," Susah ngejalaninya, Mif. Aku tahu dari awal banyak perbedaan anata aku sama Dewi, tapi ..."
Miftah diam, berusaha tidak bertanya
" Tapi aku gak bisa bohongin diri sendiri lebih lama. Kamu tahu aku menyukainya sejak awal kenal, dan semakin hari rasa itu semakin jelas."
" Ya kejarlah kalau begitu."
Ito tertawa pahit ," Gak perlu ngejar sih sebenarnya."
" Terus apalagi ?"
" Aku gak yakin."
Miftah tertawa lirih ," Hei, mana ada kalimat ini aku dengar dari Ito ? Setahuku kamu gak pernah menyerah menghadapi hidup."
" Tapi ini beda .."
" Siapa bilang ? Ini hidupmu, hidupnya ... hidup kalian berdua." diangkatnya bahu ," Tapi itu kembali padamu. Setahu aku Dewi gak pernah memilih milih ... seperti yang ada dalam banyanganmu dalam berteman."
" Yang aku mau bukan sekedar berteman, Mif."
" Baguslah kalau kamu serius."
Ito mendesah jengkel ," Dan itu artinya ini menyangkut keluarganya juga, Mif."
" Keluarga Dewi gak gitu gitu amat, biasa aja."
" Kamu bisa ngmong seperti itu karena kalian gak jauh berbeda, sementara aku ..."
Miftah menghentikan mobilnya saat lampu merah, menatap lelaki disampingnya tanpa suara.
" Kalaupun bisa jalan, apa aku sanggup menghidupinya dengan standar dia selama ini ?"
Miftah menahan tawa, sebelum termenung sejenak menyadari sahabatnya begitu serius dan memandang jauh ke depan ," Kalau memang saling mengerti dan menerima, kalian bisa bikin standar baru kan ?" dijalankannya kembali mobil ," Lagipula masih ada waktu untuk mencari kerja yang mungkin bisa jadi nilai tambah kedepannya."
" Lagi banyak tugas gini Mif, kerja apaan ?"
" Lho bukannya programmu berhasil dan mau dikomersilkan ?"
" Mulai dari mana ?"
" Astaga ... orang jatuh cinta itu mendadak b**o, ya "
Ito tertawa malu ," Kelihatannya seperti itu. Ayolah, sebenarnya maksudmu apa ?"
" Kau sendiri yang bilang mau komersil."
" Yang aku maksud bukan sekedar mencari uang saku, Mif."
" Itooo " Miftah menghela nafas ," Jangan meremehkan pekerjaan. Awalnya mungkin gak banyak menghasilkan, tapi kalau kita serius ... itu bisa jadi pekerjaan tetap. Sejak kapan sih jiwa bisnismu buntu begini ?"
Ito tergelak menepuk dahinya sendiri ," Bener b**o banget niiih ... thanks."
Miftah tersenyum ," Gimana kalau gabung ?'
" Maksudnya ?"
" Kita terima aja semua kerjaan yang kita bisa. Tugas keuangan, penelitian, atau sekedar pengetikan atau terjemahan."
"Sebentar, yang tiga bisalah kita kerjakan ,tapi ide dari mana terjemahan ?"
" Misalnya."
" No no no ..." Ito mengubah sikap duduknya, menatap Miftah penuh inat ," Kamu gak mungkin bicara cuma misalnya. Dilihatnya mata kelam itu sedikit berkilat panik ," Ajak siapa lagi ?"
" Iskandar ... dia rajin baget tuh bikin penelitian."
" Ok, sepakat. Siapa lagi ?'
Miftah tertawa kecil ," Aku gak bisa bohongi kamu ya ?"
" Ayolah ... orang seperti kamu itu gampang banget ditebak, tinggal ngikuti alurmu beberapa tahun belakangan. Siapa ?"
" Sisy."
" Anak baru itu ? Atas dasar apa ?"
" Aku tadi baru tahu kalau dia terima terjemahan diktat dari teman teman, dan kalau melihat sekilas dia bagus. Penguna jasanya memilih kembali ke dia."
" kapan kamu pikirkan ini ?"
" tadi, di perpustakaan."
" Yakin dia mau ?"
" Coba saja. Tadi aku bilang kalau perlu bantuan aku akan menghubunginya, dan dia bilang ok." ditariknya nafas ," Kalau perlu sedikit merayu, bisa minta tolong Iskandar."
" Kok Iskandar ?"
" Kelihatannya mereka sudah deket."
" Oke .... eh ini mau kemana ?"
" Ke toko buku, gak ada acara lagi kan ? Setelah itu aku traktir makan, janji." lanjutnya melihat Ito mendengus malas.
Ito tersenyum, paham ini kunjungan rutin setiap awal bulan. Heran bagaimana kamar Miftah bisa tidak berantakan dengan buku sebanyak itu