Kita ? Artinya Kamu Mau ...

1207 Words
Miftah mengangkat wajahnya, menatap dua orang yang duduk berdampingan diseberang mejanya tanpa suara. Diletakkannya pena, bersandar tanpa mengalihkan pandangan dari dua wajah yang perlahan lahan memerah ," Ok, ada apa ?" tanyanya, menyerah melihat keduanya tetap diam.  " Kita jadian." Ujar Ito.  " Bagus, selamat ya." ditepuknya tangan Dewi yang saling meremas gelisah diatas meja ," Ada yang salah ?"  " Kami takut keputusan ini salah ... hanya emosional." Ito menyahut pelan.  Miftah menghela nafas ," Kalian sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah, apa yang kalian [utuskan tidak meanggar norma atau aturan manapun kok. Kalau kalian sudah putuskan ... jalani."  " Tapi keluarga Dewi ..."  Miftah menatap Dewi, tersenyum tipis melihat Dewi mengiyakan dalam diam ," Belum tentu juga orangtuamu melarang, kalaupun ada penolakan ... itu yang harus kalian perjuangkan." Senyumnya menenangkan ," Ayo;ah To, kamu sudah mengambil langkah pertama, jangan menyerah. Kalau masalah pekerjaan dan penghasilan, kita bisa buat apa yang akan kita jalani inis esuai atau setidaknya mendekati standar mereka." ditepuknya tangan Dewi sekali lagi ," Mudah mudahan keluargamu cukkup terbuka untuk melihat usaha yang kalian lakukan. Jangan memandang semua buruk ... kehidupan keluargamu berproses, begitupun kehidupan kalian."  " Makasih, Mif." untuk pertama kalinya Dewi bersuara.  " Kalian yang jalani, aku cuma support saja." ditutupnya buka ," Dan support itu akan lebih besar kalau kalian traktir aku makan siang."  Ito tertawa ," Oke, tapi di kantin saja. Tanggal tua ini."  Ketiganya berjalan ke arah kantin yang cukup lengang, karena jam makan siang sudah lama lewat.  " Mif, itu Sisy. Kamu sudah bicarakan yang kemarin ?" Dewi duduk disamping Ito."  " Belum, sebentar lagi. Kebetulan aku lagi ada kerjaan buat dia," ditatapnya gadis yang tengah serius bicara dengan seseorang itu ...seserius papapun kamu, tetap saja bahasa tubuhmu terilhat ringan, nyaman untuk dilihat ... keningnya berkerut melihat setumpuk berkas yang diulurkan Sisy, digantikan sebendel berkas lagi ," Pekerjaan baru lagi."  ito dan Dewi berpandangan, serentak menyadari ada sesuatu yang dirasakan lelaki pendiam itu pada gadis berkepang satu dimeja sebelah. Sama sekali bukan jenis gadis yang dibayangkan orang akan menarik perhatian lelaki yang  identik dengan kata 'tenang'.  " Sy !" Dewi melambaikan tangan ketika dua orang yang tengah bicara dengan Sisy berdiri dan beranjak dari kursi ," Sini."  " Eh, Kak ..." dilambaikannya tangan ," Aku kesana dulu ya. Kalau sudah selesai nanti aku hubungi kalian." dialmbaikannya tangan dan menghampiri meja sebelah.  " Duduklah." Ito menunjuk kursi kosong disamping Miftah ," Makan ?"  " Tadi sudah, terima kasih." dipangkunya ransel, berusaha memasukkan berkas yang baru diterimanya.  " Gak usah dipaksa, sudah gak muat. Bawa apa aja sih ?"  Sisy tertawa, mengangkat bahu ketika menyadari kebenaran perkataan Ito. Ranselnya sudah penuh, dan akan membuat berkas itu kusut kalau dipaksa ," Kelihatannya butuh tas yang lebih besar."  " Yang bisa menampung badanmu sekalian ?"  Sisy nyengir, mengeluarkan botol dan meneguk air minumnya ," Kantong Doraemong gak kelihatan besar."  " Kamu kan gak mirip Doraemon." guman Miftah.  " Sisy tersenyum ," terima kasih. Aku kayak sizuka kan ?"  Miftah tersenyum ," Ada yang kasih kerjaan nih."  " Bener ?"  Miftah mengangguk, tapi aku gak bawa bahannya, aku juga belum tahu tarif pekerjaanmu."  Sisy menyebutkan deret angka ," Kenapa ? Kemahalan ?" tanyanya melihat tiga orang didepannya mengerutkan kening.  " Sy, kamu tahu standardnya disini berapa ?"  " Gadis itu menggeleng."  " Bisa dua kali lipat dari yang kamu tawarkan."  Sisy tertawa , " Pantas saja mereka cepat sekali bilang iya. Padahal aku pake yang biasa aku lakukan di Bali."  " Kamu gak rugi ?"  " Rugi ? itu sudah lebih dari cukup untuk biaya ngetik dan cetak, selenbihnya sudah nutup untuk biaya kursusku dulu. Ehm sorry." ujarnya meraih ponsel di sakunya dan berbicara perlahan sambil mengeluarkan buku catatan kecil dan pena.  Ketiganya berpandangan melihat gadis itu nampak fasih berbahasa jepang, bahkan mencoret coret dalam aksara negeri sakura itu ,  " Maaf ... sampai mana tadi ?" ditutupnya buku dan menyimpannya.  " Kamu bisa bahasa apa saja ?"  " Kenapa ?"  Ito mendengus ," ditanya balik nanya."  Sisy nyengir ," Aku ... bisa Jepang, Mandarin, sedikit Jerman dan Belanda, sedikit Italy atau spanyol meski sering ketuker. dan lagi belajar prancis dan korea." ujarnya dengan nada ringan seperti itu bukan sesuatu yang istimewa. ," Kenapa ?"  " Sebanyak itu ? Masuk HI bisa jadi diplomat kemana mana."  Sisy menggeleng ," Males ama perpolitikan."  " Sastra ?"  " Berarti cuma satu, aku ambil manajemen biar bisa belajar mengartur apa yang bisa menghasilkan." ujarnya sambil tersenyum.  " belajar dimana ?" Miftah memutar duduknya sedikit menghadap ke arah Sisy.  " Kursus, dan berlatih dengan teman serta tamu tamu ayah."  " Tamu ?"  Sisy tersenyum ," Ayah punya punya penginapan di Bali dan kita sering mengadakan tour untuk wisman, keliling Bali sampai Lombok."  " Sudah lama belajar banyak bahasa ?"  Sisy tersenyum malu ," Kalau bahasa Inggris sih sudah dari teka ... tapi itu umum disana, walaupun gak pake grammar. Orang sana hidupnya berinteraksi dengan orang asing." jelasnya cepat.  " Gak perlu sampai sebanyak itu biasanya."  " Aku selalu tertarik mendengar orang bicara bahasa asing, dan selalu kepingin bicara dengan bahasa yang sama. Sekarang belajar bahasa Sunda " ujarnya terkekeh ," Ayah ibuku menguasai lebih banyak bahasa dengan struktur yang jauh lebih bagus." Lanjutnya dengan kebanggan yang sangat kentara.  Miftah berdehem, " Begini." Miftah mengutarakan  rencana mereka sebelum dirinya ternggelam dalam kekaguman yang lebih besar ," Bagaimana ?"  " Bagus sih ...." Sisy tersenyum ," Tapi aku jelek banget dalam administrasi, nyari klien dan lain lain yang harus formal."  " Kamu gak harus melakukannya kalau gitu,Administrasi itu makananya Dewi, menghadapi orang itu Miftah jagonya." sahut Ito.  " Pendapatanmu bisa lebih besar, Sy. Dan lagi gak harus repot ketemuan dimana ... nanti bisa dilakukan di satu tempat yang kita sepakati jadi kantor sementara." lanjut Dewi.  " Dan setelah bukunya kita terjemahkan, kita tawarkan penelitian dan analisa datanya." dilihatnya mereka mengangguk ," Ah ... haruskah kita bersyukur masih banyak mahasiswa yang  mengambil jalan pintas seperti itu ?"  " Jadi kamu mau ?"  " Jangan mendesak gitu, dong." mata lebarnya menbula ke arah Ito dengan sinar jahil ," Apa akan bertahan dengan ini ?"  " Ada usul ?" tanya Miftah sambil memperhatikan jemari  lentik Sisy yang memainkan pena.  " Mungkin itu bagus untuk tahap awal, berikutnya kita bisa naik menjangkau perusahaan perusahaan kecil ... seperti terjemahanku, sudah mulai menyasar perusahaan untuk membuat atau menterjemahkan brosur. Siapa tahu kita bisa dapat proyek perusahaan besar."  Miftah tersenyum melihat sinar optimis itu ," Kita ? itu artinya kamu mau ?"  Wajah itu berseri ," Bisa dibilang begitu, aku sering gak enak hati menagih  kalau ke teman sendiri. belum lagi mencatat mana yang sudah lunas atau belum. Kemaren Iskandar sudah meneceritakan ini. Eh dia kemana ?"  " Mestinya kita tanya kamu, belakangan ini kalian sering barengan."  " Ish ... aku bukan baby sitternya. cuma kebetulan saja sering nebeng."  " Jadi, kapan kita bisa bicara serius tentang ini ?"  " Terserah, tapi jangan sekarang, aku mau latihan."  " Diantar ?"  " Makasih, itu makanannya baru datang. Kakak makan saja dulu." dikeluarkannya kartu nama ," Itu nomer ponselku, karena aku jarang di tempat kos. Aku duluan ya ." ujarnya dan berdiri mengemasi bawaannya.  " Ya, hati hati." sahut mereka serempak. Bergantian mengamati selembar kartu berwarna hitam putih yang akhirnya terselip di dompet Miftah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD