Sore Yang Basah

1008 Words
Jalan Sumatra di sore hari yang basah ... dinikmati dari beranda sebuah cafe samhil menikmati secangkir cappucino panas, sepiring snack .. dan seorang gadis menarik yang tengah berjalan cepat kearahnya. Miftah menatap tubuh jangkubg itu melangkah ringan melompati bebberapa henangan air kecil. Hanya sebentuk topi berwarna hitam yang melindunhinya dari sisa sisa tetesan air hujan sejak ia keluar dari pelataran hotel diujung jalan beberapa waktu lalu. Tas hitamnya, yang kali ini bukan ransel, bergerak menhikuti lambaian tangannya. " Hai, sorry lama." Miftah tersenyum, berdiri sampai gadis itu menarik kursi dan duduk dihadapannya , " Gak , aku juga baru saja datang kok.Makan ? Minum ?" dilambaikannya tangan pada pelayan cafe. " Coklat panas aja tanpa gula, sama minta seperti ini ya." ditunjuknya snack di piring Miftah. Sisy tersenyum pada pelayan yang mengangguk ramah setelah mengulang pesanannya. " Tumben, kemana jeans sama kaosnya ?" Sisy tertawa, menatap kemeja biru bergaris putih dan celana kain navy nya , " Mau gimana lagi ? Ayah bisa ngomel seharian kalau aku menemui partner bisnisnya dengan seragam harianku. " ujarnya Tidak seperti kamu yang selalu terlihat rapi dengan apapun yang kamu kenakan .. aku harus mengubah tema pakaianku untuk mendapatkan image berbeda ... lanjutnya dalam hati. " Urusan bisnis." Miftah menggigit snacknya , " Kamunpasti rajin membentu usaha orangtuamu. " " Kalau itu berarti native speaker gratis kenapa tidak ? " sahutnya tersenyum lebar. Lagipula ayah gak bakalan suka bayar terlalu benyak karyawan. Usaha seperri ini sudah terlalu banyak disana, sentuhan personal lebih membuat pelanggan ayah nyaman. " Pembicaraan terputus saatbpelayan mengantarkan pesanannya , " Terima kasih ya ." Sopan dan spontan ... cerdas dan cakap ... " Bagaimana ?" Miftah tersentak , " Ehm, banyak kerjaan nih." diulurkannya selembar kertas ," Itu judul buku dan bab bab yang harus ditranslate untuk tugas akhir semester. " Sisy mengerutkan keningnya, tersenyum saat mendapati dua diantara enam judul buku itu sudah pernah diselesaikannya ... terima kasih pada pencipta komputer yangvmembantuku menyimpannya ..., " Yang dua ini sudah selesai" ia menandai judul ketiga dan ke lima. " Selesai ? " " Bulan lalu aku translate ini untuk anak dari kampus lain. Tinggal cetak lagi saja. " Mintah mengangkat bahunya tipis ," Baguslah, itu membuatnya lebih cepat. " ... berapa judul buku yang sudah dinggah dikepala kecilmu itu ..., " Jadi bagaimana, kamu ambil yang empat ?" " Kak Mif gak mau ambil ?" Kalau itu artinya kita akan sering ketemu untuk membicarakan ini ..., " Ok, kamu dulu mau ambil berapa dan yang mana ?" Sisy tertawa ," Ini tugas kelasnya kakak ?" Miftah mengangguk ," Iya. " " Kalau begitu kakak yang pilih, ambil dulu yang bagian dari tugasnya kakak biar sekalian belajar. Efisien ... masuk akal , " Aku ambil ini." ditandainya judul teratas. " Aku ambil ini. " ujarnya membeo, menandai judul kedua. " Sisanya ?" Sisy tersenyum , " Taruh aja ditempat kak Dewi. Yang sudah selesai duluan bisa ambil lagi. Ini bukan cuma kerjaan buat aku kan ? " Pemurah ... Miftah menggerutu dalam hati saat menyadari satu persatu kelebihan gadis itu tertangkap oleh hatinya , " Cukup adil." " Bukunya di perpustakaan ada ?" " Ada, aku sudah pinjam semuanya, yang dua bisa aku kembalikan besok. " " Oke, kapan aku bisa dapat bukunya ? Pekerjaanku bisa kelar dalam dua hari ini. " " Aku antar kerumah kosmu ? " " Jangan deh, taruh di tempat kak Dewi aja, itu kantor kita kan ? Aku jarang di rumah. " " Jangan sampai mengganggu kuliahmu ya, kalau sudah terlalu banyak kamu harus bilang. " " Siap kak ... aku juga masih harus bagi waktu dengan kegiatanku yang lain kok." Miftah kembali menyesap minumannya ," Kenapa gak ambil pariwisata aaja ?" " Bosen, yang itu kami pelajari sambil jalan" Sisy menyesap coklat panas itu tanpa menyentuh gula yang disediakan. " Gak suka manis ?" " Tanpa gula aroma dan rasanya lebih mantap." sahutnya sambil mengangkat alis ," sok tau ya ?" Miftah tersenyum, meraih makanan di piringnya ," Kamu sudah bilang ke pelangganmu tentang perubahan tarif dan sebagainya" Sisy mengangguk ," Sudah, dan mereka gak keberatan. Toh selosihnya gak ganyak, sementara mereka gak harus nyari nyari waltu yang pas untuk ketemuan." digigitnya snack, meninggalkan remah disudut bibirnya ," Eh pelanggan, kayak udah resmi banget ya." " Nanti kalau sudah semakin besar kita ganti lagi pakai klien." Sisy tertawa lepas. .... Bagaimana aku bisa berharap tidak banyal lelaki yang menyukaimu ? Dan tentu saja dengan sikap seperti ini, Iskandar lebih mudah menyesuaikan diri bersamamu. ... .... Dasar pelit, apa susahnya sih tertawa ? Apa memang selalu seperti ini ? ... " Apanya ?" " Apa ?" Sisy menatap Miftah bingung. " Kamu tanya apa selalu seperti ini. Apanya ?" Senyum Miftah melebar melihat wajah gadis itu memerah perlahan. " Eh, kelpasan ngomong ya ?" digigitnya bibir sejenak ," Ehm ... apa kakak selalu aman terkendali seperti ini ?" " Apa ? Aman terkendali ?" sudut bibir Miftah berkedut menahan tawa. " Iya, pinjam istilah tni ... Maksudnya, aku belum pernah melihat kakak tertawa, selalu cuma tersenyum ," Sisy nyengir lalu meneguk minumannya ," Sorry." ...Terbuka, tapi tidak terkesan v****r ...," Gak apa apa, banyak yang bilang begitu. Tapi belum ada yang pake istilah aman terkendali." Sisy tertawa singkat, mengangkat cangkirnya dan menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. " Sudah mau pulang ?" Sisy menggeleng ," Aku harus mengantarkan ini ke jalan Belimbing." ditepuknya tas. " Setelah itu ? Makan malam yuk." lanjut Miftah melihat Sisy mengangkat bahu dengan ringan. Sisy menatapnya dengan pandangan jahil, tergelak melihat lelaki didepannya sedikit salah tingkah. " Ok ... ayo saja, tapi anterin ke jalan Belimbing dulu." Miftah memberi tanda meminta bill ... Jangan terlihat terlalu senang, baginya ini bukan hal yang istimewa. Pasti sudah banyak teman yang makan malam bersamanya ..., " Terima kasih, yuk." ajaknya setelah meletakkan beberapa lembar uang diatas nampan kecil ," Aku parkir di bawah." Sisy berdiri, berjalan mengikuti langkah tenang Miftah, kemudian duduk disamping lelaki yang mengemudikan mobilnya dengan tenang ... Aaah , apapun yang menyangkut lelaki ini memang identik dengan kata 'tenang'.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD