Keluarga Kanaya

1040 Words
    Setelah pengadopsian kedua bayi mungil nan cantik tersebut, keluarga Brahma berubah total, yang awalnya hari  -hari sepi, hanya sekedar bercanda gurau dengan Kanaya, kini rumah disibukkan dengan 2 putri mungil tersebut. Teriakan, tangisan, dan kegaduhan menjadi rutinitas baru didalam keluarga tersebut. Papa yang tak habis menggoda situan putri mungil Alea yang baru tidur, membuat mamanya jengkel seketika. Pah, Mama baru selesai nidurin Alea pah, jangan dinganggu Mama mau istirahat sebentar. Hari ini mama lelah sekali, mungkin karena sudah terlalu lama tidak pernah memiliki bayi. Bagaimana pun Mama Lana  tadi malam tidak tidur , karena bayi Alea menangis sepanjang malam, mungkin karena suasana rumah yang berbeda,sehingga bayi tersebut belum terbiasa, berbeda dengan kakaknya Revi yang tidur nyenyak pulas tak terganggu dengan suara tangisan adiknya. Kanaya jangan ditanya dia tak mendengar apapun, gadis itu suka sekali tidur dengan aerphone, Papa Brahma apalagi dia bisa tidur mendengkur seperti tidak terjadi apa - apa. Mengingat itu membuat Mama kesal setengah mati. Padahal yang beride untuk mengadopsi bayi adalah Kanaya dan Papanya, agar suasana rumah tetap rame dan mereka tidak kesepian karena Kanaya sudah berkuliah yang otomatis dunianya bukan lagi hanya terpusat dengan keluarganya,tetapi kenapa Mamanya sendiri yang mengurus 2 bayi tersebut. Papa hanya memberengut karena tak bisa menciumi putri bungsunya, Revi sedang bermain dengan Kanaya di kamarnya terdengar gelakan tawa dari kamar sebelah, dia mau ikut bergabung, tetapi memutuskan untuk membiarkan Kanaya bermain sendiri dengan Revi, mengingat gadis tersebut sebelumnya tak pernah bermain dengan anak kecil.Biarkan saja Kanaya menikmati hari - harinya mengurus adiknya mengingat sebentar lagi dia akan memulai kuliahnya, tentu saja waktunya akan sibuk dengan dunia kuliah, tugas, makalah dan belum lagi drama korea kesukaannya, bersyukurlah putrinya tak menyukai boyband dan girlfriend negeri ginseng tersebut, jika dia menyukainya maka otomatis dunia putrinya hanya berputar di negeri ginseng tersebut. "Mama ini, orang Papa baru pulang kerja, capek mau nyiumin putri papa biar capeknya hilang kok malah dilarang"sahut Papanya ketus.  Ya siapa suruh pulangnya kemaleman, papa lembur mulu sih". Papa lembur karena ada situasi mendadak di kantor yang harus papa selesaikan, lumayankan uangnya dapat menambah beli s**u dan skincare mama, goda papanya. Papa Brahma bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, yang memiliki jabatan supervisor. Sudah lama dia mengabdi pada perusahaan tersebut, karena alasan pendidikannya hanya sebatas SMA, maka dia tak dapat lagi untuk  menunjang kan karirnya. Mendapatkan jabatan supervisor juga karena dedikasinya yang tinggi terhadap perusahaan. Beberapa kali para petinggi menyuruhnya untuk berkuliah lagi, supaya jabatan yang diraihnya tak mentok hanya sampai supervisor. Tapi dia menolaknya alasannya simpel Kanaya, dia tak mau kehilangan tumbuh kembang putrinya itu dengan berkuliah, waktunya akan tersita banyak, mengingat Brahma adalah seorang yang perfeksionis. Selagi gaji yang diterimanya cukup untuk membutuhi kebutuhan keluarga, tabungan, dan sesekali makan diluar atau nginap di hotel berbintang di Bandung dan Puncak yang dilakukan 2 atau 3 kali dalam 1 tahun. Itu sudah cukup buatnya.  Prinsip Brahma adalah ketika berkeluarga kata bahagia bukan lagi hanya berputar di dunianya, kata bahagia itu hanya Lana dan Kanaya dan sekarang ditambah 2 putri mungilnya Alea dan Revi. Bersyukurnya dia memiliki istri yang tidak pernah protes dan selalu bersyukur dengan apa yang didapatkan oleh keluarga tersebut, dan jangan lupakan Kanaya yang selalu menjadi juara satu dikelasnya. Gadis itu memang kebanggaan keluarganya. Brahma melenggang ke kamar mandi, membasuh tubuhnya yang lelah bekerja. istrinya selalu menyiapkan air hangat ketika dia pulang kerja dan menyiapkan baju tidurnya. Selesai mandi, dia kembali dikamar, dimeja rias istrinya sudah tersedia makanan, Ayam goreng, tahu goreng dan sayur capcay, makanan kesukaannya. Mama Lana tak ada ditempat tidur, mungkin didapur mengambil minumannya. Tak berselang lama pintu dibuka benar istrinya datang membawa air putih hangat. Revi udah tidur dikamar Kanaya, Kanaya bilang malam ini Revi tidur dikamarnya, Mama Lana memulai percakapan. Katanya mama lelah, tidur gih, papa bisa kok ngambil makan didapur, ucap papa Lana sambil mengelus rambut istrinya. Papakan juga lelah Pa, dan Mama suka jika bisa mengurus Papa, dirumah kita memang ada dua putri lagi tetapi bukan berarti Mama ga ngurus Papa. Mama senang melakukannya. Menemani suaminya makanan adalah suatu kewajiban bagi mama Lana selama mereka menikah 25 tahun tak pernah sekalipun dia membiarkan suaminya makan sendirian jika berada dirumah. Meskipun dalam rumah tangga tak selalu rukun, pasti ada masa marah, merajuk, dan adu mulut dengan suaminya jika berbeda pendapat. Mama Lana selalu menemani, meskipun menemani makan suaminya dengan raut tak enak dipandang, dia akan menyiapkan air hangat, makanan di meja makan dan duduk ditempat biasa dia duduk ketika makan tetapi dengan handphone ditangannya, menscroll hal hal yang tak penting, sebagai alasan untuk tidak melihati suami tampannya itu. Agar suaminya tau bahwa dia masih marah.     Mama Lana merupakan gadis desa yang merantau kekota, bekerja disalahsatu perusahaan sebagai operator awalnya kemudian dipercaya menjadi leader untuk salah satu mesin disalah satu pabrik daerah tangerang. Perkenalan Lana dan Brahma karena dicomblangin oleh temennya Lana yang notabanenya juga temannya Brahma, Shanti namanya. Tak butuh waktu lama untuk Brahma menyatakan cinta kepada Lana, mengingat Lana adalah gadis yang enak diajak ngobrol dan suka berbagi makanan buatannya, meskipun awalnya rasa makanan gadis itu tak bisa dikatakan dengan kata kata,terkadang hambar,terkadang keasinan, tetapi Brahma selalu memakannya dan tentu saja Brahma bukan pria yang dengan bodohnya mengatakan makanan mu enak, tetapi dia memberitahu Lana, Na makananmu keasinan ataupun tidak ada rasa, meskipun berkata begitu tetapi makanan Lana selalu habis disantapnya. jika lauk yang dikasih keasinan maka Brahma akan membeli nasi diwarung untuk mengurangi rasa asinnya jika tak ada rasa, Brahma mengambil ngaram untuk mencocol makanan tersebut. Jika diingat ingat memang lucu rasanya. Dan Lana tak pernah marah dengan ungkapan Brahma, meski saat itu Brahma belum menjadi kekasihnya. Jika pria lain mungkin akan melepeh ataupun mengatakan makanannya enak tetapi membicarakannya dibelakangnya, beda dengan Brahma, lelaki itu memiliki integritas dan kejujuran yang dapat dipercaya. Baik zaman itu ataupun zaman sekarang, susah sekali menemukan lelaki seperti Brahma. Bahkan Brahma menyatakan cinta dengan Lana ketika lagi makan makanan yang tak ada rasanya. Sambil mencocol makanannya ke garam. Brahma mengatakan, kan kamu sudah memberikan makananmu, bagaimana jika kamu memberikan aku hatimu juga, aku menyukai sifatmu Lana, dan tentu saja ajakan berpacaran Brahma langsung diterima oleh Lana, setahun kemudian mereka memutuskan untuk menikah, Kanaya lumayan lama didapat oleh keluarga mereka. Lana memutuskan keluar dari pekerjaan ditahun ketiga mereka menikah, dan mendapatkan Lana pada usia pernikahan lima tahun
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD