Kanaya gadis imut yang tidak hobi dandan, menghabiskan waktu bercengkrama dengan drakor drakor favoritenya. Tapi jangan salah meskipun hobiku mendrakor nilai sekolahku tak pernah turun, semua ada waktunya bagiku. Ada waktu belajar, menonton, dan memanjakan diri dan juga bermain dengan temanku Indira. Para pembaca sudah melihat latarbelakang keluarga ku, sekarang mari kita fokus ke gua. Gua saat ini sedang kuliah disalah satu universitas swasta yang tidak begitu terkenal di kota metropolitan ini. Mungkin kalian berpikir bagaimana mungkin gadis juara satu dikelasku ini bisa tidak masuk snmptn kampus favorite, ayo lah bung, mari kita ubah pola pikir, tak selamanya anak yang kalian anggap pinter akademik disekolah itu akan menempati universitas – universitas terkenal di dunia ini, jangan lupakan terkait dengan faktor keberuntungan dan faktor x yang lainnya. Kasus sepertiku banyak berjamuran, jadi ketika pengumuman gua ga lulus seleksi snmptn tak membuatku murung, sepertinya kasus seperti ini sering terjadi dan mentalku sepertinya sudah terbentuk mengingat banyaknya kakak kelasku yang tak masuk snmptn di kota metropolitan ini, tetapi jika memilih keluar kota hampir semuanya diterima. Dan aku tak mungkin memilih merantau keluar dari kota ini, bisa meraung – raung Pak Brahma jika kutinggalkan ha ha ha. Jadi ketika pengumuman aku sudah memberitahu oleh keluargaku untuk tidak terlalu berekspektasi tinggi putri sematawayangnya ini akan diterima di perguruan tinggi di kota ini. Karena untuk tahun ini universitas tersebut hanya menerima sedikit mahasiswa hanya 600 mahasiswa sedangkan yang memasukkan formulir pendaftaran sebanyak 8000 mahasiswa untuk jurusan yang kupilih. Jadi jangan terlalu berharap banyak. Dan tentu saja hal yang kupikirkan terjadi, bener kata orang jangan terlalu pesimis, nanti bakal kenyataan loh, lah dibanding optimis masuk tapi ga masuk, ya mending ga usah berharap. Sebenarnya kepribadianku bukanlah tipikal pesimis tapi ada baiknya terkadang sikap pesimis yang kita kumandangkan, tak mengapa biar jatuhnya tak terlalu sakit. Setelah melihat diriku dinyatakan tidak lulus, kulihat raut wajah mama dan papa. Sepertinya mereka sudah menyiapkan mental bahwa putrinya ini tak bisa masuk snmptn, tak ada raut kecewa kulihat, apalagi menyinggungku tak masuk karena drama koreaku yang bertaburan, ntahlah yang ada Papa hanya menepuk bahuku dan menggendongku ke meja makan. Lulus ga lulus kita tetap merayakannya, Mamaku memasak ayam pinadar, makanan kesukaanku, dan jangan lupakan sop ayam kampung yang menjadi menu favoriteku, sering sekali aku mengeluh karena berat badanku naik terus akibat masakan mama yang enaknya luar biasa. Kata Papa biar ketika sekolah tak ada pria yang melirikku, Ayah macam apa yang tak suka anaknya di lirik oleh pria, Ini dia salah satu keanehan papaku, kurasa tak ada Papa di dunia ini yang tak senang anaknya dilirik oleh pria.
Makanan yang tersaji di depanku masih terlihat lezat bagiku, tak diterima di universitas bukan berarti hidup berhenti disitukan. Gagal cari lagi itu prinsipku. Jika tak bisa menjadi berlian, mengapa tak mencoba menjadi emas saja, sama - sama perhiasan, hanya saja diperjualbelikan untuk berbeda kalangan. Tak mengapa asal masih berguna, kamu tetap bernilai. Setelah makan siang, kuputuskan untuk membrowsing universitas -universitas swasta yang menurutku harganya terjangkau. Dan tentu saja tak kutemukan, hingga pada akhirnya kumelihat salah satu universitas tidak begitu terkenal tetapi universitasnya berbanpt dengan akreditasi B, menurutku lumayan mengingat tak begitu jauh dari rumah. Dan yang membuatku paling bersyukur ada perusahaan yang memberikan beasiswa, dan universitas ini masuk salah satu universitas yang didaftarkan bisa mendapatkan beasiswa. Ada 10 universitas dan dari daftarnya kupilih universitas ini alasannya klise, uang beasiswa yang diberikan berbentuk tunai, mau pilih universitas mana saja perbulan mendapatkan 10.000.000 untuk uang saku dan uang kuliah, jika kita lulus dari persyaratan - persyaratan yang diberikan yang salah satunya adalah selama 3 tahun SMA mendapati peringkat 3 besar di kelas, dan kuota untuk mahasiswa baru hanya 10 mahasiswa saja. Sebelum memilih tentu saja rapat keluarga Brahma akan digelar dulu, maklum masih anak semata wayang. Oh iya aku lupa temanku Indira juga tak diterima di snmptn, hanya saja keluarganya bercukupan, menurutku universitas swasta mahal saja masih bisa dibiayaiin keluarganya. Informasi yang kudapat langsung kukirim ke w******p Indira
Gua : sent a picture to my bestie
Udeh lu ga usah sedih, ni ada formulir pendaftaran universitas swasta dan ada beasiswanya, pan gua tau lu gimana orangnya Dir, kayak orang ga punya, padahal duit bokaplu mampu nguliahin anak se RT Dir
My bestie : sedih aku tuh Naya, ga keterimaaa
Gua ; Makanya jan galau mulu, galau mulu sih ditinggalin si kakak kelas
My bestie : Enak aja, lagian ya gua putusnya udah 1 tahun kali, lu tuh ga masuk karena galau kan lu jongki lu dikabarkan berpacaran dengan song hye kyo, makanya lu ga belajar fokus, udah hyunbinlu belum ada dramanya. Bingungkan lu mau bucinin siapa lagi.
Gua : Enak aja, bukannya lu ya yang uring - uringan karena Bryan upload photo dengan cewek padahal captionnya hanya teman, tapi lu ngeliatinnya kayak ngulitin tuh cewek hidup – hidup, gua kenal lu dari orok ye, jadi gua udah tau tatapan mata lu, malah di upload sehari sebelum test lagi, ya jelaslah lu ga fokus.
My bestie : Gua kalau debat amalu selalu kalah ya memang, awas aja nanti lu jatuh cinta, gua ceng -cengin lu
Gua : Ha ha ha, gapapa yang penting lu udah lupa kalau ga masuk snmptn, jadi tuan putri keluarga Pandu, maukah tuan putri mengikuti test beasiswa ini?
My bestie : Lu bisa aja ya tuan putri keluarga Brahma, ya gua mau tapi gua rapat dulu ama keluarga gua, emang lu aja yang selalu rapat keluarga, gua juga bisa.
Pertemanan kami memang absurd, tetapi kami tetap nyaman, dari sd hingga SMA selalu sebangku, dan belum cukup itu aja, di rumahpun hanya Dira temanku, kami masih satu kompleks perumahan tetapi hanya beda gang aja. Rumah Indira bisa dibilang rumah yang elit di kompleks ini, bahkan sering sekali aku numpang tidur dirumahnya, dan akan terbangun dirumahku, tentu saja Pak Brahma akan datang tengah malam untuk menggendongku pulang, dan aku tetap seperti kebo yang tertidur pulas. Rumah Dira menjadi tempat tongkronganku, meskipun Dira tak dirumah berpacaran dengan Kak Bryan, aku selalu kerumahnya, lumayan untuk mencari wifi gratis ataupun meminum jus jeruk buatan Mbak Inem yang sangat enak, dan jangan lupakan pisang goreng wijen hasil buatan Mbak Jum. Guyonan Pak Kripto si supir dan sekaligus si tukang kebun Indira, sudah aku jelaskan bagaimana kayanya keluarga Indira. Dan kolam renang Dira menjadi tempat olahraga favoriteku, meski tak bisa berenang mencelupkan kaki di kolom renang ditemani jus, guyonan pak kripto, dan pisang goreng adalah paket yang lengkap untuk menikmati hidup.
Nanti aku bakal ceritaiin bagaimana Dira dan Bryan berpacaran, tenang saja aku saksi hidup temanku itu mengenal kata jatuh cinta. Tunggu di part selanjutnya ya :)