Meraih Beasiswa

1046 Words
            Setelah rapat panjang dengan keluarga Brahma, Kanaya akhirnya memenangkan perdebatan kampus mana yang akan dia ajukan untuk beasiswa. Awalnya Papanya kurang setuju dengan pendapat Kanaya terkait dengan kampus yang akan Naya pilih, tetapi dengan alasan logis yang Kanaya utarakan, akhirnya alasanpun disetujui dengan syarat untuk saat ini Kanaya harus menyembunyikan kampus mana yang akan dia pilih dari Indira, karena khawatir Indira akan pilih kampus yang sama dengannya, dan itu tidak baik mengingat citra keluarga Indira yang notabanenya adalah keluarga pengusaha elektronik yang cukup terkenal di negeri ini. Kanaya memikirkan berpisah dengan teman baiknya, bagaimana hari – harinya tanpa Indira yang dikenalnya lebih dari belasan tahun, pasti rasa awkward banget, yang kemana mana biasanya sama – sama, kini akan disibukkan dengan dunianya masing – masing. Lamunan Kanaya buyar ketika handphone yang di meja belajarnya bergetar, cepat cepat dia mengambil handphonenya temannya mengirimkan gambar terkait dengan pilihan kampus dan fakultas yang dia pilih. My bestie        : Kok Cuma di read doang Nay? Itu kampus yang gua pilih serta fakultasnya, gua tau lu ga akan pilih fakultas tersebut. Kan gua tau nilai komputerlu Nay, tapi gua harap kita tetap di kampus yang sama Aku hanya membalas dengan mengirim gambar panda berpelukan, tak mungkin aku berbohong dengan mengatakan ya. Jika ku beritahu kampus mana yang akan kupilih, kupastikan Dira akan mengubah formulir kampus yang akan dia tuju, tanpa memberitahu dan mengikuti egonya. Ntahlah Anak Pak Pandu itu antara tak memiliki prinsip hidup atau memang tak mau pisah denganku. Tak ada balasan kulihat. Berarti ini waktunya tidur, lagi ga mood ngebucinin oppa jongki dan hyun bin. Selamat tidur para pangeranku, ucapku pada wallpaper handphoneku yang sudah bertahun – tahun tak kuganti.             Hari yang ditunggu – tunggu pun tiba, hari ini adalah ujian test penerimaan, sekaligus wawancara. Indira tak banyak ngomong saat kami sampai di lokasi test hanya beda ruangan saja. Setelah melalui beberapa ujian test, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 12.00. Para pengawas memberitahu akan mengumumkan jam 13.30 calon mahasiswa mana yang akan lolos untuk menuju tahap selanjutnya dan sesi wawancara akan dilakukan pada pukul 14.00, kemudian berlalu dari ruangan . Aku keluar ruangan kulihat Dira sudah menunggu. Ayo makan Nay, mumpung pengumumannya lama, kita makan di mall aja lah ya, naik ojek online aja ya soalnya kalau taksi pasti macet. Ayo ungkapku dengan semangat, Indira sudah tak sependiam tadi, uh artinya dia belum tahu universitas mana yang akan tuju dan aku harus menyiapkan kata-kata yang pas untuk Indira, terkadang aku bingung ini temanku atau kekasihku yang perlu penjelasan. Tapi dalam sebuah hubungan baik pertemanan maupun pacaran sikap terbuka itu satu sama lain adalah hal yang penting, itu yang aku tau selama berteman dengan Indira. Gimana ujianlu lancar Nay? Tanya Indira memulai percakapan Yoi, lu gimana, yakin ga lu bakal nyampe tahap wawancara Yakinlah, maksudlu Anak Pak Pandu ini akan tidak diterima, oh tidak mungkin, gua berjiwa kompetitif keturunan keluarga Pandu, kalau ga punya dipecat gua dari keluarganya, ucap Dira dengan gaya sombongnya. Tak mengapa yang penting teman gua yang baik hati ini sudah tidak marah lagi.             Ngobrol ngalur ngidul sambil berjalan di mall, memasuki butik butik pakaian tetapi tidak ada yang dibeli, mencoba tester kosmetik di mall menjadi salah satu bagian favorite mereka, bahkan Bryan pernah malu dengan kebiasaan kami kalau sudah di mall, sangking ga enak dengan SPG, Bryan membeli make up yang kami coba tadi. Bagaimana mungkin Indira cepat move on jika pria tersebut memiliki kepekaan tinggi terhadap hal – hal yang disukai dan tidak disukai Indira. Handphone kami berdua bergetar artinya pengumuman tahap 1 sudah keluar, dan hasilnya kita berdua lolos. Kami teriak teriak ga jelas di mall tersebut dan menjadi bahan pusat perhatian pengunjung disana, kami berlalu secara cepat sebelum ditangkap satpam sebagai biang kegaduhan di tempat peralatan make – up tersebut.             Kanaya Cantika Brahmana, panggil salah satu panitia, aku pun memasuki ruangan test. Ada 3 penguji disana. Keluarga Brahmana, tanya salah satu penguji yang masih muda disana? Aku terdiam bingung dengan pertanyaan? Pemuda itu tersenyum melihat wajah kebingunganku, maksud saya kamu keturunan atau golongan Brahmana Hindu? Oh, bukan Pak, Brahmana itu nama kedua orang tua saya pak artinya Saya anak Pak Brahma dan Ibu Lana disingkat Brahmana, kalau diliat liat sebenarnya bukan singkatan pak, wong jelas jelas nama Bapak saya yang paling banyak, mama saya cuman nambah kata na doang, ucapku bercerocos panjang, yang kemudian gelak tawa kudengar dari 3 penguji. Aku bingung apa yang membuat mereka tertawa jadinya aku ikut tertawa garing hanya untuk menghargai. Dari tadi peserta wawancara tegang banget cuman kamu doang yang nyerocos seperti sedang tidak wawancara, lengkap pemuda tersebut. Ok karena kami sudah tau nama kamu, alangkah lebih baiknya kamu juga tau nama kami, perkenalkan nama saya Alan sebagai salah satu pendiri perusahaan dan pencetus, beasiswa perusahaan ini, dan ini bu Mega sebagai manajer HRD perusahaan kami, dan ini Pak Yudi bagian pengelolaan mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Perkenalan dan pertanyaan saya sudah cukup ya. Bu Mega menanyakan pertanyaan mengapa kamu mengambil universitas ini? Saya sudah melihat skors kamu dan kamu salah satu yang tertinggi. Melihat nilai kamu seharusnya kamu memilih universitas yang lebih bergengsi. Pertanyaan bu Mega membuat ku tersadar, apa alasanku memilih kampus ini, ya kali aku menjawab karena kampus ini murah dan kulihat ada beasiswanya, ayo dong otakku berpikir, gunakan alasan logismu yang cemerlang. Akhirnya jawaban yang keluar dari mulutku adalah uang kuliah di kampus ini murah, terakreditasi B, dekat dengan rumahku, dan tujuan uang beasiswa ini bukan hanya untuk kugunakan untuk kuliah tetapi juga untuk kursus komputerku dan juga bahasa inggrisku. Menurutku jika ingin sukses maka aku harus punya keahlian diluar jurusan yang sedang aku jalani sekarang. Dan kampus yang aku tuju ini memberi aku kesempatan untuk melakukan semua itu. Kampus ini memang tidak terlalu banyak diminati oleh calon mahasiswa, tapi Saya punya prinsip, jika kamu mutiara maka kamu akan tetap menjadi mutiara dimanapun kamu berada. Jawabanku tadi menjadi penutup atas pertanyaan Bu Mega, Pak Yudi hanya mengatakan saya tidak akan bertanya karena pertanyaan saya sudah kamu jawab beberangan dengan pertanyaan Bu Mega, dan saya rasa cukup. Silahkan menunggu di luar, hasilnya akan kami umumkan setelah semua peserta selesai wawancara. Ini baru wawancara Kanaya, belum Indira. Apa yang terjadi dengan Indira ? Dan siapakah pria utama dalam cerita ini? Allan? Atau pria lain? Masih terlalu Awal untuk menebak siapa prianya readers… Tunggu part selanjutnya ya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD