INDIRA DAN MANTAN

1409 Words
Tak berbeda jauh dengan kondisi Kanaya, dilain tempat Indira juga sedang menunggu waktunya untuk di panggil oleh panitia, dilihatnya di sekeliling sepertinya lumayan banyak yang lolos tahap pertama, mungkin ada setengah. Deg degan pasti, meski kedua orangtuanya tak memaksanya untuk lolos di tahap beasiswa kali ini, tapi dia masih berharap untuk lolos. uang itu akan dia pergunakan untuk hal yang sedang dia rencakan, meskipun sebenarnya dia sudah menyadari bahwa rencananya akan gagal tota. Ada hal yang mau dia bicarakan dengan Kanaya sebenarnya, hanya saja tak jadi Dira sampaikan, alasannya Dira tak mau Kanaya akan gagal fokus sehingga kehilangan beasiswanya, nanti saja akan Dia sampaikan, uneg -unegnya terhadap Kanaya. Tak terasa terdengar suara salah satu Panitia memanggil namanya, Indira Cathrine Panduwinata, silahkan memasuki ruangan wawancara. Dia menggangguk yakin sambil menghembuskan nafasnya sebagai untuk menenangkan diri, dia melangkah dengan penuh percaya diri,memasuki ruangan, dia membuka pintu dan mengucapkan “ Selamat… Dira terdiam tak menyelesaikan ucapannya, melihat seseorang pria yang dia kenal, duduk manis dikursi tengah juri” kemudian dengan suara pelan dia mengucapkan Siang, dan menuju ke tempat duduk yang disediakan dengan langkah perlahan. Ayo Indira tenangkan hatimu, ayo fokus – fokus jangan lemah, anggap ga kenal, rapalnya berkali kali dalam hati, tak berani dia memandang lurus karena kini bangkunya berhadapan dengan pria itu, pria yang berhasil mencuri hatinya, iya dia Bryan. Indira Chatrine Panduwinata, perkenalkan nama saya Bryan selaku salah satu perwakilan perusahaan dan pencetus beasiswa mahasiswa, dan perkenalkan yang ini Pak Budi sebagai perwakilan HRD, dan juga Bu Nita perwakilan dari departemen bagian beasiswa, ungkap pria tersebut panjang lebar sambil menetap wanita itu, tentu saja yang ditatap sekarang bingung mau natap yang mana, toh juga Bryan memanggil namanya, seperti tidak kenal. Baiklah Dira kini harus bersikap seperti tidak kenal dengan Bryan saja. Bodoh amat jika mereka dimasa lalu pernah punya kisah. Indira mengganguk dengan apa yang Bryan katakan, kan mungkin Dira bilang, senang bertemu dengan kalian, toh juga mereka juri disini. Bryan menanyakan satu pertanyaan, dari segi penghasilan orangtua kamu, Saya rasa mereka mampu untuk mengkuliahkan kamu tanpa beasiswa ini, apa alasan kamu mengikuti beasiswa ini? Belum sempat Dira menjawab, Bryan menambahkan pertanyaannya lagi, Kamu ga merasa bersalah jika seandainya kamu mendapatkan beasiswa ini, padahal kamu orang yang mampu, sedangkan seandainya yang ga lolos yang lainnya memang tidak mampu kuliah? Bryan bertanya seraya seperti mensudutkan Dira? Dira yang ditanya seperti itu menetap tak suka, ingin rasanya Dia keluarkan uneg – unegnya pribadinya, tetapi dia menahannya. Sambil menatap tajam ke Bryan dia menjawabnya dengan sarkas, sepertinya Anda keliru Pak Bryan dengan pertanyaan Anda, program beasiswa ini Anda yang merancangnya sebagai pencetusnya bukan? mengapa anda tidak menambahkan di persyaratannya, beasiswa ini diperuntukkan untuk mahasiswa yang kurang mampu atau gaji orangtuanya dibawah 5 juta misalnya, sehingga orang seperti saya tak mendaftar beasiswanya, Anda yang tidak jeli dengan persyaratannya ya otomatis di manfaatkan orang seperti saya, yang selalu mencari peluang. Dan seandainya gaji orangtua saya di bawah 5 juta saya juga ga akan mengambil beasiswa ini di universitas yang saya pilih sekarang Pak, saya harus sadar diri dimana posisi saya sekarang, Dira sudah bodoh amat dengan beasiswa, menurutnya harga dirinya sudah dipermalukan oleh Bryan. Dengan tidak langsung dia mengatakan bahwa Dira adalah orang yang egois, dan Dira paling benci jika dianggap egois. Dira pikir Bryan sudah tau bahwa dia lagi marah dengan ucapan Bryan, tapi Bryan malah menambahkan berarti menurut kamu orang miskin tidak layak untuk kuliah di tempat bergengsi? Jadi menurut mbak Dira sekolah – sekolah tinggi terkenal tersebut hanya diperuntukkan untuk oang – orang kaya seperti mbak? Pertanyaan Bryan yang terakhir lebih menyudutkannya, dengan secara terang – terangan Dia mengatakan Dira adalah orang yang memandang kesenjangan sosial, dan menikmati kesenjangan sosial tersebut. Kali ini Dira menatap datar Bryan sambil menjawab pertanyaan Bryan, sepertinya Bapak sangat lancang untuk menyimpulkan perkataan saya, maksud saya adalah jika saya adalah orang kurang mampu saya ga akan milih kampus ini, tetapi kampus yang lainnya, yang lebih murah dari ini tetapi memiliki akreditasi minimal B, alasannya adalah supaya Saya tidak merasa sedang berada didunia yang berbeda, ok beasiswa disini cukup untuk uang kuliah perbulan saya, lalu bagaimana dengan uang buku saya, ongkos saya berangkat kuliah, tugas, makalah, dan juga pertemanan saya. Yakali teman saya makan bakso boedjangan saya makan bakso 10 ribuan, terus ketika teman teman saya nongkrong di kafe kafe terkenal, saya hanya ada di rumah ataupun dikostan, maka secara otomatis itu juga membuat saya akan menjauh dari lingkungan pertemanan saya, bukankah akan terlihat lebih jelas kesenjangan sosial saya. Saya rasa sesi wawancara ini selesai disini Pak, kesalahan dari pihak anda jangan salahkan peserta untuk mengambil peluang ya pak, Indira berdiri dari bangkunya, hendak keluar, tetapi suara keras dari Bryan “ ga ada yang nyuruh kamu keluar, sesi wawancara belum kelar, diterima atau enggaknya kamu, kami yang menentukan bukan kamu, jadi jaga sikapmu dan berlaku lah layaknya perempuan yang di besarkan dari keluarga yang berkecukupan”. Indira yang awalnya hendak pergi kembali duduk, ingin rasanya dia menyiram minuman yang dimeja ke muka Bryan. Mbak Indira minum dulu mbak, supaya lebih tenang, ucap salah satu perempuan disamping Bryan, yang Indira sudah lupa siapa namanya. Sesi wawancara di lanjutkan dan Indira sudah menjawab berbagai pertanyaan dari pewawancara, dan Indira dipersilahkan keluar dari ruangan untuk menunggu hasil akhirnya. Suara handphonenya berbunyi dia melihat Kanaya menanyakan apakah sesi wawancaranya sudah selesai, jika sudah Dia akan ketempat Dira untuk bersama sama keruangan pengumuman mahasiswa yang terpilih. Ya ketiknya pada Dira. Secepat kilat Kanaya menghampiri ruangan Dira, untuk menuju ruang tunggu yang disiapkan oleh panitia. Napa dah tuh mukak cemberut mulu, hilang cantiknya ntar anak tuan Panduwinata? Ntar juga lu tau napa mukak gua masem gini, ungkap Dira yang masih kesel dengan kejadian yang tadi. Kanayapun tau temannya sedang didalam mood yang ga baik, tak ingin melanjutkan, duduk diam disisi Indira. Tak terasa jam sudah pukul 4 sore, para panitia mulai memasuki ruangan dan disusul oleh para juri, dan yap mata kanaya melihat seseorang yang dia kenal, yup Bryan mantan sahabatnya, pantas saja wanita ini uring – uringan. Suara Indira mengintrupsi pandangan Kanaya, ga usah diliatin gitu Nay, nyebelin dia tuh, dan lu taukan siapa yang buat gua badmood. Ok, kata kanaya tapi setelah ini lu harus ngejelasin apa yang terjadi, kita harus ngemall, ngobrol ada juga yang mau gua sampaian ke lu. Ok kata Dira, kan lu ga peduli gitu ama perasaan gua Nay, jadi harus banget hari ini kita ngobrol, dan gua juga ada yang mau gua sampaiin ke lu Nay. Napa dah ama perasaan lu, perasaan lu hati lu lagi kosong dah Dir, galau mulu. Ungkap sarkas Kanaya, lagian ya yang mutusin Bryan kan lu, kok lu doang yang susah move on, kayak disini lu yang jadi korbannya dah, padahalkan lu yang ninggalin Dir. Idih emang gua yang ditinggalin kok, ucap Dira tak mau kalah. Kanaya mau mengintrupsi perkataan Dira tetapi panitia sudah memulai. Tak banyak basa basi setelah kata sambutan dari Kak Allan perwakilan dari perusahaan langsung mengumumkan mahasiswa yang beruntung. Kanaya Cantika Brahmana, Indira Cathrine Panduwinata, begitu nama kita dipanggil hampir beberangan membuat kita berteriak senang dan melompat – lompat tak peduli pandangan orang lain. Dimana ada kanaya dan Indira disitu ada dunia mereka berdua. Udah lompat – lompatnya, silahkan kedepan, ungkap salah satu panitia mengintrupsi kehebohan mereka berdua. Mereka pun maju, kemudian dipanggil beberapa mahasiswa yang lainnya yang beruntung mendapatkan beasiswa. Untuk yang mendaftar dan lolos beasiswa data kalian akan kami kirimkan ke universitas yang kalian tuju dan kalian tak perlu melakukan pendaftaran lagi dan langsung dinyatakan lolos dari universitas kalian yang tuju dan juga untuk uang kuliah 1 bulan akan kami bayarkan dan kalian tetap mendapatkan full uang beasiswa di mulai dari bulan september, teman – teman hanya perlu ke kampus untuk mengambil almamater. Kemudian mengambil sesi foto, awalnya Kanaya diapit oleh Bryan dan Dira, dan ketika sesi foto mau diambil, Kanaya segera berpindah ke sisi Dira, agar Dira yang diapit olehnya dan Bryan. Tiba tiba suara perempuan mengintrupsi memanggil nama Bryan, oh gawat, bukannya itu perempuan yang ada di instagramnya Bryan. Kanaya hanya melihat wajah Dira yang datar, ekspresi yang dia keluarkan jika dia sudah mulai tak nyaman. Bryan memanggil perempun itu untuk berphoto bersama, dan wanita itu langsung mengambil posisi disamping Bryan dan Dira, seakan menghalangi mereka berdua. Setelah sesi photo Dira langsung menuju pintu keluar, menurutnya tak perlu berbasa basi dengan mantannya, yang diikuti oleh Kanaya. Bryan memanggil Nay, Dir, selamat ya ucap Bryan, Ya kak ucap Kanaya dengan sopan dan Dira hanya melihat tanpa merespon apapun, langsung keluar ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD