Malam di kota itu selalu terasa lebih sunyi daripada yang Alya ingat.
Atau mungkin dulu ia tidak pernah benar-benar memperhatikannya.
Dari jendela kamarnya, lampu jalan terlihat redup di antara bayangan pohon-pohon tua. Angin malam bergerak pelan, membuat dedaunan berdesir seperti suara yang hampir bisa dimengerti, tetapi selalu hilang sebelum sempat dipahami.
Alya duduk di lantai kamarnya.
Buku catatan hitam itu masih berada di pangkuannya.
Ia sudah membacanya berkali-kali, meskipun sebenarnya hampir tidak ada yang bisa dibaca.
Dua kalimat.
Hanya dua kalimat.
Namun dua kalimat itu terasa cukup untuk membuka sesuatu yang selama ini ia paksa tetap tertutup.
Alya menatap tulisan tangan itu sekali lagi.
Tulisan yang begitu ia kenal.
Tulisan yang dulu sering ia lihat di buku pelajaran, di catatan kecil yang diselipkan di antara halaman novel, atau di kertas-kertas yang Raka gunakan untuk menggambar sesuatu yang menurutnya penting.
Raka selalu punya tulisan yang sedikit miring.
Seolah setiap huruf tidak pernah benar-benar ingin diam.
Alya menutup buku itu perlahan.
“Ini tidak mungkin,” gumamnya pelan.
Namun semakin ia mencoba menolak pikiran itu, semakin jelas satu hal terasa di kepalanya.
Tulisan itu terlalu mirip.
Terlalu akrab.
Dan kenangan tentang Raka mulai datang tanpa izin.
Ia tidak bisa menghentikannya.
Mereka pertama kali bertemu ketika Alya berusia sembilan tahun.
Hari itu adalah hari pertama Alya pindah ke kota kecil itu.
Ia masih ingat bagaimana ia berdiri di halaman sekolah dengan perasaan asing yang tidak bisa dijelaskan.
Semua orang terlihat sudah saling mengenal.
Sementara ia berdiri sendirian dengan tas baru dan sepatu yang masih terlalu bersih untuk halaman sekolah yang penuh debu.
“Nama kamu siapa?”
Suara itu datang dari belakangnya.
Alya menoleh.
Seorang anak laki-laki berdiri di sana.
Rambutnya sedikit berantakan. Seragamnya tidak rapi. Namun matanya terlihat penuh rasa ingin tahu—dan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang tidak dimiliki anak-anak lain.
Keberanian.
“Alya,” jawabnya pelan.
Anak itu mengangguk.
“Aku Raka.”
Ia menunjuk ke arah lapangan sekolah.
“Kamu mau main?”
Sesederhana itu.
Tidak ada pertanyaan aneh.
Tidak ada jarak.
Seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Sejak hari itu, Raka selalu ada di dekatnya.
Mereka pulang sekolah bersama.
Mengerjakan tugas bersama.
Berdebat tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Dan tertawa tentang hal-hal yang bahkan sekarang sudah tidak bisa Alya ingat dengan jelas.
Namun perasaan itu—
Perasaan ringan ketika bersama Raka—
Masih tersisa.
Seolah tidak pernah benar-benar pergi.
Raka selalu mengatakan satu hal yang sama.
“Kota ini terlalu kecil.”
Ia sering mengatakannya sambil berbaring di rumput lapangan belakang sekolah.
Menatap langit seolah ada sesuatu di sana yang hanya bisa ia lihat.
“Kita akan pergi suatu hari nanti.”
Alya biasanya hanya tertawa.
Namun jauh di dalam dirinya, ia selalu berharap kalimat itu benar.
Alya membuka mata.
Kamar itu kembali terlihat di sekelilingnya.
Namun kenangan tadi terasa terlalu nyata untuk diabaikan.
Ia memandang buku hitam itu lagi.
Jika seseorang benar-benar mencoba membuatnya percaya bahwa Raka masih hidup—
Maka itu bukan sekadar kebohongan.
Itu sesuatu yang lebih dari itu.
Sesuatu yang disengaja.
Sesuatu yang memiliki tujuan.
Alya berdiri perlahan.
Ia berjalan menuju jendela.
Angin malam terasa lebih dingin sekarang.
Seolah membawa sesuatu dari luar—
Sesuatu yang belum ia pahami.
Dari kejauhan, ia bisa melihat lampu kecil di ujung jalan.
Dan tiba-tiba, satu tempat muncul di pikirannya.
Danau.
Tempat itu selalu menjadi tempat favorit Raka.
Tempat mereka duduk berjam-jam tanpa alasan jelas.
Tempat mereka berbicara tentang masa depan.
Dan tempat di mana—
Alya menutup matanya cepat.
Ia belum siap untuk melanjutkan ingatan itu.
Namun sesuatu di dalam dirinya mulai mendesak.
Jika ia ingin tahu kebenaran—
Ia harus kembali ke sana.
Bukan besok.
Sekarang.
Alya mengambil jaket tipis dari kursinya.
Ia membuka pintu kamar perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Tangga kayu berderit pelan ketika ia menuruni anak tangga terakhir.
Lampu ruang tamu sudah dimatikan.
Ibunya mungkin sudah tidur.
Alya membuka pintu depan dengan hati-hati.
Udara malam langsung menyambutnya.
Dingin.
Sedikit lembap.
Dan entah kenapa—
terasa asing.
Kota itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Langkah Alya cepat.
Ia berjalan melewati jalan kecil yang dulu sering ia lalui bersama Raka.
Setiap langkah membawa sesuatu.
Bukan hanya ingatan.
Tetapi juga perasaan yang belum selesai.
Namun Alya tidak berhenti.
Ia terus berjalan.
Beberapa menit kemudian, jalan itu mulai berubah.
Lampu jalan semakin jarang.
Pepohonan semakin rapat.
Dan suara air mulai terdengar di kejauhan.
Pelan.
Hampir seperti bisikan.
Danau.
Alya berhenti di tepi jalan setapak yang menuju ke sana.
Tempat itu hampir tidak berubah.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar menyentuhnya.
Air danau terlihat hitam di bawah langit malam.
Permukaannya tenang.
Terlalu tenang.
Alya berjalan mendekat.
Langkahnya pelan di atas tanah lembap.
Ia berhenti di tempat yang sangat ia kenal.
Tempat mereka dulu sering duduk.
Tempat terakhir ia melihat Raka.
Dadanya terasa berat.
Alya menatap permukaan danau.
Kenangan itu mulai muncul lagi.
Potongan demi potongan.
Namun sebelum ingatan itu sempat terbentuk sepenuhnya—
Sesuatu membuatnya membeku.
Ada seseorang di sana.
Di sisi lain danau.
Seseorang berdiri di bawah cahaya lampu jalan yang redup.
Tubuhnya tinggi.
Diam.
Seolah tidak sedang melakukan apa pun.
Namun kehadirannya terasa terlalu jelas untuk diabaikan.
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
Ia tidak yakin apakah orang itu menyadarinya atau tidak.
Namun ada sesuatu yang terasa aneh.
Orang itu tidak bergerak.
Seolah memang sedang menunggu.
Bukan menunggu siapa pun—
Tetapi menunggu seseorang yang sudah ia kenal.
Dan tiba-tiba, orang itu bergerak.
Perlahan.
Ia berjalan beberapa langkah mendekati tepi danau.
Cahaya lampu menyentuh sebagian wajahnya—
tidak cukup jelas, tetapi cukup untuk membuat Alya menahan napas.
Siluet itu…
terlalu familiar.
Terlalu dekat dengan sesuatu yang ia kenal.
Seolah tubuhnya mengingat lebih dulu sebelum pikirannya sempat memahami.
Alya tidak berani bergerak.
Pikirannya dipenuhi satu kemungkinan yang tidak masuk akal.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin itu—
Namun sebelum ia sempat memastikan, orang itu tiba-tiba berbalik.
Gerakannya cepat.
Seolah ia tahu ia sedang dilihat.
Dan dalam hitungan detik, ia berjalan menjauh.
Masuk ke dalam kegelapan di antara pepohonan.
Menghilang begitu saja.
Alya berdiri terpaku.
Jantungnya masih berdetak keras.
Ia mencoba bernapas lebih tenang.
Namun tubuhnya terasa dingin.
Lebih dingin dari udara malam.
Alya melangkah satu langkah ke depan.
Lalu berhenti.
Ia tidak tahu apakah harus mengejar atau tidak.
Namun sesuatu di dalam dirinya mengatakan—
itu bukan keputusan yang tepat.
Belum.
Alya menatap ke arah tempat orang itu menghilang.
Kegelapan di sana tampak lebih pekat dari seharusnya.
Seolah menyembunyikan sesuatu.
Atau seseorang.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke kota ini—
ia mulai percaya bahwa semua ini bukan kebetulan.
Seseorang telah menunggunya.
Seseorang telah meninggalkan petunjuk.
Dan seseorang baru saja memastikan bahwa ia benar-benar datang ke tempat ini.
Alya menatap danau sekali lagi.
Permukaannya tetap tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Alya tahu—
sesuatu telah berubah.
Di dalam dirinya.
Dan di kota ini.
Ia menggenggam tangannya erat.
Dan satu pertanyaan muncul di pikirannya—
bukan lagi sebagai kemungkinan.
Tetapi sebagai sesuatu yang harus ia jawab.
Bagaimana jika seseorang di kota ini…
tidak pernah benar-benar pergi?
Dan jika itu benar—
maka selama ini…
siapa yang sebenarnya ia tangisi?