Hari Ketika Segalanya Berubah

916 Words
BAB 6 Hari Ketika Segalanya Berubah Alya tidak langsung pulang malam itu. Ia masih berdiri di tepi danau beberapa menit setelah sosok itu menghilang ke dalam kegelapan. Angin malam bergerak pelan di atas permukaan air, membuat bayangan lampu jalan bergetar seperti sesuatu yang tidak tenang. Alya mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat tadi hanyalah kebetulan. Seseorang yang kebetulan memiliki tinggi badan yang mirip. Seseorang yang kebetulan berdiri di tempat yang sama. Namun semakin ia mencoba berpikir logis, semakin kuat rasa aneh itu muncul di dadanya. Siluet itu terlalu familiar. Terlalu mirip dengan seseorang yang sudah lama tidak ia lihat. Seseorang yang seharusnya tidak mungkin berada di sini. Alya menarik napas panjang. Udara malam terasa lebih dingin sekarang. Akhirnya ia berbalik dan berjalan pulang. Langkahnya lebih cepat dari sebelumnya. Bukan karena ia terburu-buru, tetapi karena pikirannya terlalu penuh. Ketika ia tiba di rumah, lampu ruang tamu masih menyala. Ibunya duduk di sofa dengan buku di tangannya. Wanita itu menoleh ketika pintu terbuka. “Kamu keluar?” Alya berhenti sejenak di dekat pintu. “Iya.” Ibunya menutup buku itu. “Ke mana?” Alya ragu beberapa detik sebelum menjawab. “Danau.” Ibunya tidak terlihat terkejut. Seolah tempat itu memang selalu menjadi tujuan pertama yang tidak bisa dihindari. “Kamu tidak berubah,” katanya pelan. Alya tidak menanggapi. Ia melepas jaketnya dan duduk di kursi dekat meja. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu Alya berkata, “Ibu.” Ibunya mengangkat pandangan. “Ya?” Alya menatap meja. “Sebelum malam itu… apakah ada sesuatu yang terjadi yang tidak pernah Ibu ceritakan padaku?” Ibunya mengerutkan kening. “Maksud kamu?” Alya menelan ludah. “Hal tentang Raka.” Nama itu membuat ruangan terasa lebih sunyi. Ibunya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Alya beberapa detik. Nama itu memang jarang disebut di rumah ini. Terlalu jarang. Seolah dengan tidak menyebutnya, mereka bisa berpura-pura bahwa semua yang terjadi tidak pernah benar-benar ada. Namun malam ini berbeda. Alya akhirnya kembali. Dan bersama dengan kepulangannya, semua kenangan itu juga kembali. Ibunya menghela napas panjang. “Kamu masih memikirkan malam itu.” Itu bukan pertanyaan. Alya menatapnya. “Aku tidak pernah berhenti memikirkannya.” Ibunya tampak sedih. “Alya…” “Aku ingin tahu satu hal.” “Hal apa?” Alya menatap langsung ke mata ibunya. “Malam itu…” Ia berhenti sejenak. “Malam itu benar-benar kecelakaan, kan?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Ibunya tidak langsung menjawab. Ia memandang Alya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Beberapa detik berlalu. Lalu akhirnya ia berkata pelan, “Itu yang semua orang percaya.” Jawaban itu membuat jantung Alya berdetak lebih cepat. “Itu yang semua orang percaya?” ulang Alya. Ibunya menunduk sedikit. “Alya… malam itu sudah lama sekali.” “Aku tahu.” “Dan beberapa hal lebih baik dibiarkan tetap seperti itu.” Alya menggeleng. “Tidak.” Ibunya menatapnya lagi. “Apa maksudmu?” Alya mengingat sosok yang ia lihat di danau tadi. “Seseorang ada di danau malam ini.” Ibunya tampak bingung. “Dan?” “Seseorang yang terlihat sangat mirip dengan Raka.” Kata-kata itu membuat ibunya membeku. Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata, “Itu tidak mungkin.” “Aku tahu.” “Raka sudah—” Ibunya berhenti sebelum menyelesaikan kalimat itu. Alya melanjutkan pelan, “Sudah meninggal.” Kata itu terasa berat di lidahnya. Selama tujuh tahun, itu adalah satu-satunya cerita yang ia dengar. Bahwa malam itu— Raka jatuh ke danau. Dan tidak pernah kembali. Alya selalu percaya bahwa itu salahnya. Karena malam itu ia yang mengajak Raka keluar. Ia yang memaksa mereka tetap di sana lebih lama. Ia yang tidak memperhatikan ketika semuanya berubah dalam hitungan detik. Dan sejak saat itu, Alya hidup dengan satu keyakinan. Bahwa ia telah kehilangan seseorang yang paling penting dalam hidupnya. Ibunya memandangnya dengan wajah pucat. “Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat?” Alya menggeleng pelan. “Aku tidak tahu.” Ia menarik napas panjang. “Tapi seseorang ada di sana.” Ruangan kembali sunyi. Jam dinding berdetak pelan. Alya berdiri dari kursinya. “Aku akan tidur.” Ibunya tidak menghentikannya. Namun ketika Alya hampir mencapai tangga, ibunya berkata sesuatu yang membuatnya berhenti. “Alya.” Ia menoleh. Ibunya terlihat ragu. “Ada satu hal lagi yang tidak pernah Ibu ceritakan kepadamu.” Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat. “Apa?” Ibunya menatap lantai beberapa detik sebelum berkata, “Malam setelah kejadian itu…” Ia berhenti sejenak. “Ada seseorang yang melihat sesuatu di danau.” Alya menegang. “Melihat apa?” Ibunya mengangkat pandangan. “Seseorang keluar dari air.” Dunia Alya terasa berhenti. “Apa?” Ibunya berkata dengan suara hampir seperti bisikan, “Orang itu bilang… dia melihat seseorang berenang ke tepi danau.” Alya merasakan dingin merambat di punggungnya. “Itu tidak pernah masuk laporan polisi,” lanjut ibunya. “Kenapa?” Ibunya menggeleng pelan. “Karena orang itu tidak pernah berani mengatakan siapa yang ia lihat.” Alya menatap ibunya tanpa berkedip. “Kenapa?” Ibunya menjawab dengan pelan, “Karena orang itu yakin… orang yang keluar dari danau malam itu adalah Raka.” Keheningan jatuh di antara mereka. Dan untuk pertama kalinya sejak tragedi itu terjadi— Sebuah kemungkinan yang selama ini tidak pernah terpikirkan mulai muncul di kepala Alya. Bagaimana jika malam itu… Raka sebenarnya tidak pernah mati? Dan jika itu benar— Lalu siapa yang selama ini berusaha membuat Alya kembali ke kota ini? Dan yang lebih menakutkan lagi— Untuk apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD