BAB 7
Pertemuan yang Tidak Direncanakan
Alya hampir tidak tidur malam itu.
Pikirannya terus kembali pada satu kalimat yang diucapkan ibunya sebelum mereka berpisah.
Seseorang melihat Raka keluar dari danau.
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang tidak masuk akal.
Selama tujuh tahun, seluruh kota percaya bahwa Raka tenggelam malam itu. Bahkan polisi pernah menyisir danau selama berhari-hari.
Tidak ada yang menemukan tubuhnya.
Dan pada akhirnya, semua orang hanya menerima satu kesimpulan yang paling mudah.
Bahwa Raka telah pergi.
Namun sekarang, cerita itu tiba-tiba tidak terasa sesederhana dulu.
Ketika matahari pagi masuk melalui jendela kamarnya, Alya masih duduk di tepi tempat tidur.
Buku catatan hitam itu berada di sampingnya.
Ia sudah membacanya berkali-kali sepanjang malam, berharap ada tulisan lain yang tiba-tiba muncul.
Namun tidak ada.
Halaman-halamannya tetap kosong.
Seolah buku itu memang hanya ingin menyampaikan dua kalimat itu saja.
Alya akhirnya berdiri.
Ia membutuhkan udara segar.
Dan mungkin—jawaban.
Kota kecil itu terlihat berbeda di pagi hari.
Lebih hidup.
Lebih ramai.
Anak-anak berjalan menuju sekolah dengan tas di punggung mereka. Beberapa toko mulai membuka pintu.
Namun bagi Alya, semuanya terasa seperti kenangan lama yang diputar ulang.
Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas.
Langkahnya membawa dirinya ke pusat kota.
Tempat yang dulu menjadi titik pertemuan hampir semua orang.
Dan di sana—
Masih ada kafe kecil yang dulu sering ia datangi bersama Raka.
Papan namanya sudah diganti.
Cat dindingnya juga baru.
Namun bentuk bangunannya masih sama.
Alya berhenti beberapa detik sebelum akhirnya masuk.
Bel kecil di atas pintu berbunyi ketika ia membuka pintu.
Di dalam, aroma kopi langsung menyambutnya.
Beberapa orang duduk di meja-meja kecil sambil berbicara pelan.
Alya memilih meja dekat jendela.
Ia duduk dan memesan kopi.
Namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Ia sedang memikirkan banyak hal sekaligus.
Raka.
Danau.
Buku hitam.
Dan orang misterius yang datang ke rumahnya beberapa hari lalu.
“Alya?”
Suara itu datang tiba-tiba.
Alya menoleh.
Dan untuk beberapa detik, ia hampir tidak mengenali orang yang berdiri di sana.
Namun kemudian kenangan lama muncul.
“Dimas?”
Laki-laki itu tersenyum lebar.
“Benar-benar kamu.”
Dimas dulu adalah teman sekelas mereka di SMA.
Rambutnya sekarang lebih pendek. Wajahnya terlihat sedikit lebih dewasa.
Namun senyum itu masih sama.
“Kapan kamu kembali?” tanyanya.
“Semalam.”
Dimas duduk di kursi seberangnya tanpa menunggu izin.
“Kota ini benar-benar kecil,” katanya sambil tertawa pelan.
“Aku baru saja berpikir tentang kamu beberapa hari lalu.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Dimas tampak sedikit ragu.
“Karena seseorang menanyakan tentang kamu.”
Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat.
“Seseorang?”
Dimas mengangguk.
“Iya.”
“Siapa?”
Dimas menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.
“Aku tidak tahu.”
“Apa maksudmu?”
“Dia hanya datang ke toko buku tempat aku bekerja.”
Dimas berhenti sejenak.
“Dia bertanya apakah aku mengenal kamu.”
Alya merasakan tangannya sedikit dingin.
“Dia bilang apa lagi?”
Dimas menggeleng.
“Tidak banyak.”
“Dia terlihat seperti apa?”
Dimas berpikir sebentar.
“Tinggi.”
“Lalu?”
“Dia memakai topi.”
“Wajahnya?”
Dimas mengangkat bahu.
“Aku tidak melihat jelas.”
Alya merasa pikirannya semakin kacau.
“Dia bilang kenapa mencari aku?”
Dimas mengangguk pelan.
“Iya.”
“Apa?”
Dimas menatap Alya dengan ekspresi aneh.
“Dia bilang kamu mungkin akan segera kembali ke kota ini.”
Jantung Alya berdegup keras.
“Dan dia benar,” lanjut Dimas.
“Beberapa hari kemudian kamu benar-benar kembali.”
Alya mencoba tetap tenang.
“Dia datang kapan?”
“Dua hari lalu.”
Dimas menyesap kopinya.
“Jujur saja, aku pikir itu agak aneh.”
Alya menatapnya.
“Aneh bagaimana?”
Dimas ragu beberapa detik.
Namun akhirnya ia berkata,
“Karena sebelum pergi… dia mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
Dimas menatap Alya dengan serius.
“Dia bilang malam itu bukan kecelakaan.”
Dunia Alya terasa berhenti.
“Malam apa?”
Dimas menghela napas pelan.
“Alya… seluruh kota tahu malam apa yang aku maksud.”
Nama itu tidak perlu disebut.
Keduanya sudah tahu.
Malam ketika Raka menghilang.
Alya mencoba menelan ludah.
“Apa lagi yang dia bilang?”
Dimas menatapnya beberapa detik sebelum berkata,
“Dia bilang seseorang sebenarnya tahu apa yang benar-benar terjadi malam itu.”
“Apa?”
Dimas mengangguk.
“Tapi orang itu tidak pernah berani mengatakan kebenarannya.”
Alya merasakan napasnya sedikit berat.
“Siapa orang itu?”
Dimas terdiam.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia berkata pelan,
“Mungkin kamu.”
Alya membeku.
“Apa maksudmu?”
Dimas menatapnya dengan serius.
“Alya…”
“Kamu adalah orang terakhir yang bersama Raka malam itu.”
Kalimat itu jatuh seperti batu di tengah ruangan.
Alya merasa seluruh tubuhnya menegang.
Ia tahu itu.
Ia selalu tahu.
Namun mendengar orang lain mengatakannya tetap terasa berbeda.
Lebih nyata.
Lebih menyakitkan.
Alya menatap meja.
“Tapi aku tidak ingat semuanya.”
Dimas terlihat terkejut.
“Tidak ingat?”
Alya menggeleng pelan.
“Ada bagian dari malam itu yang… kosong.”
Dimas tidak mengatakan apa pun beberapa detik.
Lalu ia berkata,
“Mungkin itu sebabnya seseorang ingin kamu kembali.”
Alya menatapnya.
“Kenapa?”
Dimas menjawab dengan tenang,
“Karena mungkin hanya kamu yang bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi malam itu.”
Alya tidak langsung menjawab.
Namun jauh di dalam dirinya, sebuah perasaan aneh mulai muncul.
Perasaan bahwa semakin ia mencoba mengingat masa lalu—
Semakin banyak hal yang tidak masuk akal mulai muncul.
Dan mungkin…
Kebenaran tentang malam itu memang belum pernah benar-benar terungkap.
Namun satu hal mulai terasa semakin jelas.
Jika ia ingin menemukan jawaban—
Ia harus kembali menghadapi kenangan yang selama ini ia hindari.
Dan kemungkinan besar…
Kenangan itu akan jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.