Rahasia yang Disimpan Kota Ini

903 Words
BAB 8 Rahasia yang Disimpan Kota Ini Alya keluar dari kafe itu dengan langkah pelan. Udara pagi terasa lebih hangat sekarang, namun kepalanya justru terasa semakin berat. Kata-kata Dimas terus berputar di pikirannya. Malam itu bukan kecelakaan. Kalimat itu sederhana. Namun jika benar— Maka seluruh cerita yang ia percayai selama tujuh tahun mungkin adalah kebohongan. Alya berjalan tanpa tujuan. Ia melewati jalan utama kota, kemudian berbelok ke jalan kecil yang dipenuhi toko-toko lama. Tempat itu dulu sering ia datangi setelah pulang sekolah. Namun sekarang semuanya terasa berbeda. Beberapa toko sudah tutup. Beberapa bangunan terlihat lebih tua. Namun ada satu hal yang tidak berubah. Tatapan orang-orang. Beberapa orang yang melewatinya terlihat mengenali wajahnya. Sebagian tersenyum kecil. Sebagian lain hanya menatap dengan ekspresi aneh. Alya tahu kenapa. Kota kecil selalu seperti itu. Semua orang tahu cerita semua orang. Dan cerita tentang dirinya— Tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan kota ini. Alya mempercepat langkahnya. Namun sebelum ia sempat berbelok ke jalan lain, seseorang memanggil namanya. “Alya?” Suara itu datang dari belakang. Alya berhenti. Ketika ia berbalik, seorang pria paruh baya berdiri di depan sebuah toko kecil. Beberapa detik Alya mencoba mengingat wajah itu. Lalu kenangan lama muncul. “Pak Hasan?” Pria itu tersenyum. “Benar.” Pak Hasan dulu adalah pemilik toko alat tulis yang sering mereka datangi saat SMA. Rambutnya sekarang lebih banyak uban. Namun wajahnya masih ramah seperti dulu. “Kamu kembali,” katanya. Alya mengangguk kecil. “Baru semalam.” Pak Hasan mengamatinya beberapa detik. “Sudah lama sekali.” Alya hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Pak Hasan menoleh ke arah jalan. “Kota ini tidak banyak berubah,” katanya. “Ya.” Namun Alya tahu itu tidak sepenuhnya benar. Yang berubah adalah dirinya. Pak Hasan kembali menatapnya. “Kamu sudah pergi cukup lama.” “Tujuh tahun.” Pak Hasan mengangguk pelan. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu pria itu berkata sesuatu yang membuat Alya menegang. “Kamu akhirnya kembali ke kota ini setelah semua yang terjadi.” Kalimat itu diucapkan dengan sangat hati-hati. Seolah ia tahu topik itu seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja. Alya mencoba tetap tenang. “Orang-orang masih membicarakannya?” Pak Hasan menghela napas. “Di kota kecil seperti ini… beberapa cerita tidak pernah benar-benar hilang.” Alya menatap jalan di depannya. Ia tidak ingin mendengar semua bisikan yang mungkin pernah beredar tentang dirinya. Namun satu pertanyaan tetap muncul di kepalanya. “Pak.” “Ya?” Alya menatapnya. “Menurut Bapak… malam itu benar-benar kecelakaan?” Pak Hasan tidak langsung menjawab. Ia memandang Alya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Alya,” katanya pelan. “Kenapa kamu menanyakan hal itu sekarang?” Alya ragu beberapa detik. Namun akhirnya ia berkata, “Karena seseorang mengatakan kepada aku bahwa malam itu bukan kecelakaan.” Pak Hasan terlihat terkejut. “Siapa yang bilang begitu?” “Aku tidak tahu.” Pak Hasan terdiam. Ia memandang jalan kosong di depan tokonya. Beberapa detik berlalu. Lalu ia berkata pelan, “Orang-orang di kota ini selalu punya cerita masing-masing tentang malam itu.” “Apa maksud Bapak?” Pak Hasan menatap Alya lagi. “Beberapa orang percaya itu kecelakaan.” “Dan yang lain?” Pak Hasan menghela napas panjang. “Beberapa orang percaya ada sesuatu yang terjadi sebelum Raka jatuh ke danau.” Jantung Alya berdetak lebih cepat. “Sesuatu seperti apa?” Pak Hasan tidak langsung menjawab. Seolah ia sedang mempertimbangkan apakah ia harus mengatakan hal itu atau tidak. Namun akhirnya ia berkata, “Ada yang bilang mereka mendengar suara pertengkaran malam itu.” Alya membeku. “Pertengkaran?” Pak Hasan mengangguk. “Di dekat danau.” Pikiran Alya langsung kacau. Ia mencoba mengingat malam itu. Namun seperti yang pernah ia katakan kepada Dimas, ada bagian dari kenangan itu yang terasa kosong. Kabur. Seolah sesuatu di dalam kepalanya menolak untuk membuka ingatan tersebut. “Siapa yang bertengkar?” tanya Alya. Pak Hasan menggeleng. “Tidak ada yang tahu pasti.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Namun beberapa orang percaya bahwa Raka tidak sendirian malam itu.” Alya menatapnya tajam. “Apa maksud Bapak?” Pak Hasan memandangnya dalam-dalam. “Mereka bilang… mungkin ada orang ketiga di sana.” Udara terasa lebih berat. Orang ketiga. Selama ini Alya selalu percaya bahwa malam itu hanya ada dua orang di danau. Dirinya. Dan Raka. Namun jika benar ada orang lain di sana— Maka cerita tentang malam itu berubah sepenuhnya. Alya merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Sebuah rasa takut yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Kecurigaan. “Pak Hasan.” “Ya?” “Apakah Bapak tahu siapa orang itu?” Pak Hasan menggeleng pelan. “Tidak.” Ia memandang Alya dengan wajah serius. “Namun jika memang ada orang ketiga malam itu…” Ia berhenti sejenak. “Orang itu mungkin masih berada di kota ini.” Alya merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh ke jalan. Kota kecil itu terlihat tenang seperti biasa. Orang-orang berjalan. Sepeda motor melintas. Seolah semuanya normal. Namun tiba-tiba Alya merasa seperti sedang berada di tempat yang berbeda. Tempat di mana setiap orang mungkin menyimpan rahasia. Dan salah satu dari mereka— Mungkin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam yang mengubah hidupnya selamanya. Namun Alya belum tahu satu hal yang jauh lebih mengerikan. Bahwa seseorang di kota ini sebenarnya sudah memperhatikannya sejak ia kembali. Dan orang itu— Tidak ingin kebenaran tentang malam itu terungkap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD