Foto Lama di Dalam Laci

793 Words
BAB 9 Foto Lama di Dalam Laci Sore turun perlahan di kota itu. Langit berubah menjadi warna keemasan yang lembut, memantulkan cahaya pada jendela-jendela rumah tua di sepanjang jalan. Alya berjalan pulang dengan pikiran yang masih penuh. Percakapan dengan Pak Hasan terus berputar di kepalanya. Orang ketiga. Selama tujuh tahun, Alya hidup dengan satu cerita yang sangat sederhana. Malam itu hanya ada dua orang di danau. Dirinya. Dan Raka. Namun jika benar ada orang lain di sana… Maka seluruh ingatan yang ia pegang selama ini mungkin tidak lengkap. Atau bahkan— Salah. Alya berhenti di depan gerbang rumahnya. Rumah itu terlihat tenang seperti biasa. Lampu teras sudah menyala. Ibunya mungkin sedang menyiapkan makan malam di dapur. Namun sebelum masuk, Alya berdiri beberapa detik di halaman. Ia mencoba mengingat malam itu. Namun seperti yang selalu terjadi, ingatannya berhenti di titik yang sama. Terlalu banyak bagian yang terasa kabur. Seolah seseorang telah menghapus sebagian cerita dari pikirannya. Alya akhirnya masuk ke dalam rumah. Aroma masakan langsung menyambutnya. Ibunya sedang berada di dapur. “Kamu sudah pulang?” tanya wanita itu tanpa menoleh. “Iya.” Alya meletakkan tas kecilnya di kursi ruang tamu. “Kamu makan di luar?” tanya ibunya. “Aku hanya minum kopi.” Ibunya keluar dari dapur sambil membawa dua piring. “Bagus juga kamu keluar sedikit.” Alya tidak langsung menjawab. Ia masih memikirkan sesuatu. “Ibu.” Ibunya menatapnya. “Ada apa?” Alya ragu beberapa detik. Namun akhirnya ia bertanya, “Malam itu… apakah ada orang lain di danau?” Ibunya berhenti bergerak. “Alya.” “Pak Hasan bilang ada yang mendengar pertengkaran malam itu.” Ibunya menatapnya lama. “Kamu benar-benar ingin membuka semua ini lagi?” Alya menarik napas pelan. “Aku tidak pernah benar-benar menutupnya.” Ibunya tidak menjawab. Ia hanya kembali ke dapur. Percakapan itu berhenti di sana. Namun Alya tahu satu hal. Ibunya juga menyimpan sesuatu. Setelah makan malam, Alya kembali ke kamarnya. Langit di luar sudah gelap. Ia duduk di depan meja belajar lamanya. Buku hitam itu masih ada di sana. Namun kali ini pikirannya tertuju pada sesuatu yang lain. Ia membuka laci meja. Laci itu sedikit macet, seperti sudah lama tidak digunakan. Ketika akhirnya terbuka, Alya menemukan beberapa benda lama di dalamnya. Pulpen. Tiket bioskop lama. Dan sebuah kotak kecil berwarna biru. Alya mengenal kotak itu. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada beberapa foto lama. Foto-foto masa SMA. Alya mengambil salah satunya. Foto itu diambil di halaman sekolah. Ada tiga orang di sana. Alya. Raka. Dan Dimas. Mereka bertiga terlihat tertawa. Seolah hidup masih sangat sederhana waktu itu. Alya tersenyum kecil. Namun ketika ia mengambil foto berikutnya, senyum itu perlahan hilang. Foto itu diambil di tepi danau. Tempat yang sama yang ia datangi tadi malam. Raka berdiri di tengah. Alya di sampingnya. Namun ada satu hal yang membuat Alya membeku. Di belakang mereka… Ada seseorang lagi. Seseorang yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan. Seseorang yang berdiri agak jauh dari kamera. Wajahnya tidak terlalu jelas. Namun sosok itu cukup terlihat. Alya mengerutkan kening. “Siapa ini?” Ia membalik foto itu. Biasanya Raka suka menulis sesuatu di belakang foto. Dan benar saja— Ada tulisan kecil di sana. Tulisan tangan yang sangat ia kenal. Tulisan Raka. Alya membaca kalimat itu perlahan. Hari ini hampir sempurna. Sayangnya ada seseorang yang tidak seharusnya berada di sini. Jantung Alya berdetak lebih cepat. Ia menatap kembali foto itu. Sosok di belakang mereka terlihat berdiri di bawah bayangan pohon. Seolah tidak ingin terlihat jelas. Namun satu hal yang membuat Alya semakin gelisah— Orang itu sedang menatap langsung ke arah mereka. Ke arah kamera. Ke arah Alya. Alya mencoba mengingat hari ketika foto itu diambil. Namun anehnya, ia tidak ingat siapa orang itu. Padahal jika orang itu benar-benar ada di sana— Ia seharusnya ingat. Alya meraih lampu meja dan mengarahkan cahaya lebih dekat ke foto itu. Sosok itu masih sulit dikenali. Namun ada sesuatu yang terasa familiar. Sangat familiar. Seolah Alya pernah melihat orang itu berkali-kali sebelumnya. Namun ia tidak tahu di mana. Alya menelan ludah. Ia menatap tulisan di belakang foto itu lagi. Ada seseorang yang tidak seharusnya berada di sini. Kalimat itu terasa seperti peringatan. Dan tiba-tiba Alya menyadari sesuatu. Jika orang itu ada di foto ini… Jika orang itu berada di danau bersama mereka saat itu… Maka mungkin— Orang itu juga ada di sana malam ketika Raka menghilang. Alya merasakan dingin merambat di punggungnya. Ia menatap foto itu sekali lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke kota ini, satu kemungkinan yang menakutkan muncul di pikirannya. Bagaimana jika orang ketiga itu bukan sekadar saksi? Bagaimana jika orang itu sebenarnya adalah alasan mengapa Raka tidak pernah kembali? Dan yang lebih menakutkan— Bagaimana jika orang itu… masih berada di kota ini sekarang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD