Orang yang Selalu Diam

815 Words
BAB 17 Orang yang Selalu Diam Alya tidak langsung berbalik. Amplop itu masih berada di tangannya. Tulisan tangan Raka terasa seperti sesuatu yang hidup di atas kertas itu. Namun suara di belakangnya membuat seluruh tubuhnya menegang. Suara yang sangat ia kenal. Dimas. “Aku tidak menyangka kamu akan menemukannya secepat ini.” Langkah kaki terdengar pelan di lantai perpustakaan yang kosong. Alya akhirnya berbalik. Dimas berdiri beberapa meter di belakangnya. Tangannya dimasukkan ke saku jaket. Ekspresinya terlihat tenang. Terlalu tenang. Seolah ia sudah tahu Alya akan berada di sana. “Kamu mengikuti aku?” tanya Alya. Dimas mengangkat bahu sedikit. “Tidak terlalu sulit menebaknya.” “Apa maksudmu?” Dimas berjalan mendekat perlahan. “Kamu kembali ke kota ini.” Ia menatap amplop di tangan Alya. “Dan kamu mulai menanyakan tentang malam itu.” Alya merasakan napasnya sedikit lebih berat. “Jadi kamu tahu tentang ini?” Dimas tersenyum tipis. “Aku sudah tahu tentang surat itu sejak lama.” Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat. “Sejak kapan?” “Sejak Raka meninggalkannya di sini.” Alya menatapnya tajam. “Kamu tahu Raka meninggalkan ini?” Dimas mengangguk. “Aku melihatnya.” Ruangan tiba-tiba terasa lebih sunyi. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakan apa pun?” tanya Alya. Dimas menatap rak buku kosong di sebelah mereka. “Aku tidak berpikir kamu akan kembali.” Jawaban itu terdengar terlalu sederhana. Terlalu mudah. Alya menggenggam amplop itu lebih erat. “Dimas.” Ia menatap langsung ke mata temannya itu. “Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?” Dimas tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam beberapa detik. Kemudian ia berkata pelan, “Kamu masih tidak ingat apa pun?” Pertanyaan itu membuat Alya merasa tidak nyaman. “Aku hanya ingat sebagian.” Dimas mengangguk kecil. “Bagian sebelum semuanya berubah?” “Iya.” Dimas menatap danau yang terlihat samar dari jendela perpustakaan. “Kadang-kadang aku berharap kamu benar-benar tidak pernah mengingatnya.” Alya mengerutkan kening. “Kenapa?” Dimas akhirnya menatapnya lagi. “Karena kebenaran tentang malam itu…” Ia berhenti sejenak. “…tidak akan membuat segalanya lebih baik.” Alya merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. “Aku tidak peduli.” Dimas tersenyum kecil. “Itu yang selalu kamu katakan.” Alya tidak menjawab. Ia membuka kertas di dalam amplop itu. Tulisan tangan Raka terlihat jelas. Alya, Jika kamu membaca ini, berarti aku mungkin sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri. Malam itu tidak terjadi seperti yang semua orang pikirkan. Ada seseorang yang datang setelah kamu tiba di danau. Seseorang yang tidak seharusnya berada di sana. Alya berhenti membaca. Tangannya sedikit gemetar. Ia mengangkat pandangan ke arah Dimas. “Kamu tahu siapa orang itu?” Dimas tidak langsung menjawab. Namun ekspresinya berubah sedikit. Seolah ada sesuatu yang berat di dalam pikirannya. “Dimas.” Alya melangkah satu langkah lebih dekat. “Jawab aku.” Dimas menghela napas pelan. “Alya…” “Apa?” “Ada hal yang tidak pernah kamu ketahui tentang malam itu.” Alya menunggu. “Raka tidak datang ke danau sendirian.” Alya mengerutkan kening. “Maksudmu?” Dimas menatapnya dalam-dalam. “Dia datang untuk bertemu seseorang.” “Siapa?” Dimas berkata pelan, “Aku.” Keheningan jatuh di antara mereka. Alya menatapnya tanpa berkedip. “Kamu?” Dimas mengangguk. “Iya.” Alya merasakan pikirannya mulai berputar. “Kenapa?” Dimas memandang lantai sebentar. Kemudian ia berkata, “Karena Raka ingin memberitahuku sesuatu tentang kamu.” Alya terkejut. “Tentang aku?” Dimas mengangguk pelan. “Dia mengatakan kamu berada dalam bahaya.” Alya mengerutkan kening. “Apa maksudnya?” Dimas menggeleng. “Dia tidak sempat menjelaskannya.” “Apa yang terjadi setelah itu?” Dimas menatapnya lama. “Pertengkaran.” Alya merasakan jantungnya berdetak lebih keras. “Antara kamu dan Raka?” Dimas menggeleng. “Bukan.” “Lalu?” Dimas berkata dengan suara yang lebih pelan. “Antara Raka dan seseorang yang datang setelah itu.” Alya merasakan bulu kuduknya berdiri. “Siapa?” Dimas tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Alya seolah mencoba memastikan sesuatu. Akhirnya ia berkata, “Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas.” “Apa yang kamu lihat?” Dimas menarik napas panjang. “Aku hanya ingat satu hal.” “Apa?” Dimas menatap langsung ke matanya. “Orang itu berdiri tepat di belakangmu.” Dunia Alya terasa berhenti. “Apa?” Dimas melanjutkan dengan pelan, “Dan sebelum semuanya terjadi…” Ia berhenti sejenak. “…orang itu memanggil namamu.” Ruangan kembali sunyi. Alya merasakan pikirannya mulai dipenuhi bayangan samar. Suara seseorang. Langkah kaki di tanah. Dan seseorang berdiri sangat dekat di belakangnya. Namun bayangan itu masih terlalu kabur. Seolah ingatannya masih menyembunyikan sesuatu. Namun satu hal mulai terasa jelas. Malam itu tidak hanya tentang dirinya dan Raka. Ada orang lain di sana. Seseorang yang mungkin mengetahui semuanya. Dan mungkin— Seseorang yang sejak awal tidak ingin kebenaran itu pernah ditemukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD