Jejak yang Tertinggal

834 Words
BAB 16 Jejak yang Tertinggal Nama itu masih bergema di kepala Alya. Dimas. Angin di tepi danau terasa tiba-tiba lebih dingin. Alya menatap laki-laki di depannya seolah berharap ia akan mengatakan bahwa semua itu hanya kesalahpahaman. Namun laki-laki itu tetap diam. Serius. Seolah ia tahu betapa berat nama itu bagi Alya. “Itu tidak mungkin,” kata Alya akhirnya. Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Alya menggeleng. “Dimas adalah teman kami.” Ia menatap danau, mencoba menenangkan pikirannya. “Dia tidak mungkin melakukan sesuatu kepada Raka.” Laki-laki itu berkata pelan, “Aku tidak mengatakan dia melakukan sesuatu.” “Lalu kenapa Raka menyebut namanya?” Laki-laki itu menarik napas perlahan. “Itulah yang aku juga ingin tahu.” Alya menatapnya. “Kamu tidak bertanya?” “Aku bertanya.” “Dan?” Laki-laki itu memandang air danau yang berkilau di bawah matahari pagi. “Raka hanya mengatakan satu hal.” “Apa?” Laki-laki itu mengucapkannya dengan pelan. “Dia mengatakan Dimas tahu sesuatu.” Alya merasakan sesuatu bergetar di dalam dadanya. “Tahu apa?” “Dia tidak menjelaskan.” Alya menggenggam tangannya. Pikirannya langsung kembali ke percakapannya dengan Dimas di kafe kemarin. Cara Dimas terlihat sedikit gugup ketika berbicara tentang malam itu. Cara ia mengatakan seseorang menanyakan tentang Alya. Dan cara ia mengatakan bahwa malam itu mungkin bukan kecelakaan. Semua itu tiba-tiba terasa berbeda sekarang. Seolah ada sesuatu yang ia lewatkan. “Raka pernah menyebut satu tempat sebelum pergi,” lanjut laki-laki itu. Alya menoleh cepat. “Tempat apa?” Laki-laki itu menatapnya. “Perpustakaan lama di dekat sekolah.” Alya langsung mengenalnya. Bangunan tua yang sudah lama tidak digunakan. Tempat itu dulunya sering mereka datangi untuk belajar saat ujian. Namun setelah sekolah itu direnovasi beberapa tahun lalu, perpustakaan lama itu hampir tidak pernah digunakan lagi. “Kenapa dia menyebut tempat itu?” tanya Alya. Laki-laki itu mengangkat bahu. “Dia mengatakan sesuatu tertinggal di sana.” “Apa?” “Aku tidak tahu.” Alya menatap danau lagi. Jika Raka benar-benar meninggalkan sesuatu di perpustakaan itu— Maka mungkin itu adalah petunjuk yang belum pernah ditemukan siapa pun. Alya mengangkat pandangan. “Aku harus pergi ke sana.” Laki-laki itu mengangguk pelan. “Itu juga yang aku pikirkan.” Alya memperhatikannya sejenak. “Kamu akan ikut?” Laki-laki itu tersenyum kecil. “Ini cerita kamu, Alya.” Ia mundur satu langkah. “Aku hanya membantu sedikit.” Alya merasa ada sesuatu yang aneh tentang laki-laki itu. Ia tahu terlalu banyak. Namun ia tidak pernah benar-benar menjelaskan siapa dirinya. “Siapa namamu?” tanya Alya tiba-tiba. Laki-laki itu berhenti berjalan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tampak ragu. Namun akhirnya ia berkata, “Arga.” Nama itu terasa asing bagi Alya. “Apa hubunganmu dengan Raka?” Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata pelan, “Kami pernah bekerja bersama.” “Di mana?” Arga tersenyum tipis. “Di tempat yang jauh dari kota ini.” Jawaban itu tidak benar-benar menjelaskan apa pun. Namun Alya tidak punya waktu untuk mengejar jawaban itu sekarang. Jika Raka memang meninggalkan sesuatu di perpustakaan lama— Ia harus menemukannya sebelum orang lain melakukannya. Perpustakaan lama itu terlihat lebih sunyi dari yang Alya ingat. Bangunan dua lantai itu berdiri di belakang sekolah. Cat temboknya mulai mengelupas. Beberapa jendela terlihat berdebu. Namun pintunya masih bisa dibuka. Alya mendorong pintu kayu itu perlahan. Suara berderit terdengar di ruangan kosong. Udara di dalam terasa dingin dan berbau buku tua. Rak-rak besar masih berdiri di tempatnya. Namun sebagian besar buku sudah dipindahkan ke perpustakaan baru. Langkah Alya menggema pelan di lantai. Tempat itu terasa seperti ruang yang terlupakan oleh waktu. Alya berjalan menuju meja panjang di tengah ruangan. Tempat mereka dulu sering belajar bersama. Ia menyentuh permukaan meja itu perlahan. Banyak kenangan tersimpan di sini. Namun ia tidak datang untuk mengenang masa lalu. Ia datang untuk mencari sesuatu. Alya mulai memeriksa meja. Laci pertama kosong. Laci kedua juga kosong. Namun ketika ia membuka laci ketiga— Ia menemukan sesuatu. Sebuah amplop kecil. Kertasnya sudah sedikit menguning. Namun nama yang tertulis di atasnya masih jelas. Untuk Alya. Tulisan tangan itu membuat napas Alya berhenti. Tulisan yang sama seperti di buku hitam. Tulisan tangan Raka. Alya mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Selama tujuh tahun ia percaya Raka telah menghilang tanpa meninggalkan apa pun. Namun sekarang— Ia memegang sesuatu yang jelas ditinggalkan untuknya. Alya membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas. Dan satu kalimat yang membuat jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya. Jika kamu membaca ini, berarti aku mungkin sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri. Alya menatap tulisan itu tanpa berkedip. Namun sebelum ia sempat membaca lebih jauh— Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Langkah kaki. Perlahan. Berat. Alya membeku. Ia belum sempat berbalik ketika sebuah suara yang sangat ia kenal berkata pelan di belakangnya. “Aku tidak menyangka kamu akan menemukannya secepat ini.” Suara itu membuat darah Alya terasa dingin. Karena suara itu adalah suara seseorang yang baru saja mereka bicarakan. Dimas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD