Kebenaran yang Mulai Retak

721 Words
BAB 15 Kebenaran yang Mulai Retak Alya masih berdiri di tepi danau. Angin pagi berhembus pelan di antara pepohonan, membawa bau air dan tanah basah yang sangat ia kenal. Namun tempat itu tidak lagi terasa seperti tempat yang sama seperti dulu. Terlalu banyak cerita yang mulai retak di dalam pikirannya. Selama tujuh tahun ia percaya satu hal. Bahwa malam itu hanyalah kecelakaan. Bahwa Raka jatuh ke danau. Bahwa semuanya berakhir di sana. Namun sekarang satu demi satu cerita itu mulai runtuh. Pesan misterius. Seseorang yang mengawasi dari pepohonan. Dan fakta bahwa Raka sebenarnya selamat malam itu. Alya menatap laki-laki di depannya. “Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Laki-laki itu memandang danau. “Aku tahu.” “Kalau Raka selamat malam itu…” Alya menarik napas pelan. “…kenapa dia tetap menghilang?” Laki-laki itu terdiam beberapa detik. Kemudian ia berkata, “Karena seseorang tidak ingin dia kembali.” Kalimat itu terasa berat. “Apa maksudmu?” Laki-laki itu akhirnya menatap Alya. “Raka mengatakan sesuatu kepadaku sebelum dia pergi.” “Apa?” Laki-laki itu menghela napas pelan. “Dia mengatakan bahwa seseorang mencoba menyakitinya malam itu.” Alya merasakan dadanya menegang. “Menyakitinya?” Laki-laki itu mengangguk. “Dia mengatakan seseorang datang ke danau setelah kamu tiba.” Alya mencoba mengingat. Namun seperti biasa— Kenangan itu berhenti di dinding kosong yang sama. “Dia tidak pernah mengatakan siapa orang itu?” tanya Alya. Laki-laki itu menggeleng. “Tidak.” “Kenapa?” “Karena dia sendiri tidak yakin.” Angin bergerak di atas permukaan danau. Alya menatap air yang tenang itu. Jika seseorang benar-benar datang malam itu— Jika seseorang mencoba menyakiti Raka— Maka kejadian itu jauh lebih serius daripada yang selama ini ia bayangkan. “Raka mengatakan satu hal lagi,” lanjut laki-laki itu. “Apa?” Laki-laki itu memandang Alya dengan serius. “Dia mengatakan kamu mungkin tidak mengingat semuanya.” Alya terdiam. “Kenapa dia bilang begitu?” Laki-laki itu menjawab pelan, “Karena ketika dia melihatmu terakhir kali malam itu…” Ia berhenti sejenak. “…kamu terlihat sangat ketakutan.” Alya merasakan sesuatu bergetar di dalam pikirannya. Sebuah bayangan muncul. Sangat cepat. Namun cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih keras. Suara. Seseorang berteriak. Dan bayangan seseorang berdiri di dekat mereka. Namun sebelum ia sempat melihat lebih jelas— Kenangan itu menghilang lagi. Alya membuka mata cepat. “Ada seseorang di sana.” Laki-laki itu mengangguk pelan. “Aku tahu.” Alya menatapnya. “Kamu tahu siapa orang itu?” Laki-laki itu tidak menjawab. Namun ekspresinya berubah. Sedikit. Hanya sedikit. Namun cukup untuk membuat Alya menyadari sesuatu. “Kamu tahu,” kata Alya pelan. Laki-laki itu menunduk sebentar. Kemudian ia berkata, “Aku hanya punya dugaan.” “Siapa?” Laki-laki itu menatap kota kecil yang terlihat di kejauhan. “Orang yang sangat dekat dengan kalian.” Alya merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Dekat dengan mereka. Berarti seseorang yang ia kenal. Seseorang yang mungkin ia percaya. “Siapa?” ulang Alya. Laki-laki itu menggeleng. “Aku tidak bisa mengatakan itu.” “Kenapa?” “Karena jika aku salah…” Ia berhenti sejenak. “…aku bisa menghancurkan hidup seseorang.” Alya menatapnya lama. “Dan jika kamu benar?” Laki-laki itu menjawab dengan pelan, “Maka seseorang di kota ini telah menyimpan rahasia selama tujuh tahun.” Keheningan jatuh di antara mereka. Alya menatap danau sekali lagi. Semakin banyak potongan cerita muncul. Dan semakin jelas satu hal. Seseorang telah berbohong. Selama tujuh tahun. Namun tiba-tiba satu pikiran muncul di kepala Alya. Ia menoleh cepat ke arah laki-laki itu. “Aku ingin tahu sesuatu.” “Apa?” “Ketika Raka bertemu denganmu setelah malam itu…” Alya menatapnya tajam. “…apakah dia menyebut nama seseorang?” Laki-laki itu terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab. “Ya.” Jantung Alya berdetak keras. “Siapa?” Laki-laki itu memandang langsung ke matanya. Dan mengucapkan satu nama yang membuat dunia Alya terasa berhenti. “Dimas.” Angin berhenti seolah ikut terkejut. Alya tidak bergerak. Tidak berbicara. Karena nama itu adalah nama seseorang yang baru saja ia temui kemarin. Seseorang yang terlihat sangat normal. Seseorang yang terlihat seperti teman lama yang ramah. Namun jika apa yang laki-laki ini katakan benar— Maka orang yang mungkin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi malam itu… Sudah berada sangat dekat dengannya sejak awal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD