Kenangan yang Berbeda

833 Words
BAB 14 Kenangan yang Berbeda Alya masih menatap layar ponsel itu. Pesan singkat yang tertulis di sana terlihat sederhana. Namun dampaknya terasa seperti sesuatu yang meruntuhkan seluruh dunia yang ia kenal. Datanglah ke danau malam ini. Aku perlu berbicara denganmu. — Alya Tulisan itu menggunakan namanya. Seolah ia sendiri yang memanggil Raka ke tempat itu. Padahal ia tahu dengan pasti— Ia tidak pernah mengirim pesan itu. Alya mengangkat pandangan perlahan. “Dari mana kamu mendapatkan ponsel ini?” Laki-laki itu menjawab dengan tenang. “Ini milik Raka.” Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat. “Kamu menemukannya?” Laki-laki itu menggeleng pelan. “Raka memberikannya kepadaku.” Dunia Alya terasa berhenti. “Apa maksudmu?” Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang permukaan danau yang berkilau di bawah cahaya matahari. “Kamu tahu kenapa Raka datang malam itu?” tanyanya. Alya menggenggam ponsel itu sedikit lebih erat. “Karena pesan ini.” Laki-laki itu mengangguk. “Ya.” “Dia percaya pesan itu dari aku.” “Iya.” Alya menghela napas panjang. “Jadi seseorang sengaja memanggilnya ke danau.” Laki-laki itu berkata pelan, “Dan orang itu tahu bahwa kamu juga akan berada di sana.” Alya mengerutkan kening. “Tunggu.” Ia menatap laki-laki itu. “Kamu bilang Raka memberimu ponsel ini.” Laki-laki itu mengangguk. “Benar.” Alya merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. “Kalau begitu…” Ia berhenti sejenak. “…kamu bertemu dengannya setelah malam itu?” Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Namun ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban. Alya merasakan napasnya sedikit terhenti. “Di mana kamu bertemu dengannya?” Laki-laki itu akhirnya berkata, “Di luar kota.” “Berapa lama setelah kejadian itu?” “Beberapa hari.” Alya memandangnya tanpa berkedip. Jika yang ia katakan benar— Maka satu hal menjadi jelas. Raka tidak tenggelam malam itu. Raka selamat. Setidaknya untuk beberapa waktu. Namun jika itu benar— Lalu kenapa tidak ada seorang pun yang mengetahui hal itu? “Kenapa kamu tidak pernah mengatakan ini kepada siapa pun?” tanya Alya. Laki-laki itu menghela napas pelan. “Karena ketika aku kembali ke kota ini…” Ia berhenti sejenak. “…Raka sudah benar-benar menghilang.” Alya merasakan perasaan dingin merambat di tubuhnya. “Maksudmu?” “Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi.” “Tidak ada yang mencarinya?” “Tentu saja ada.” Laki-laki itu memandangnya. “Tapi semua orang sudah percaya dia mati.” Alya terdiam. Selama tujuh tahun, seluruh kota hidup dengan satu cerita. Bahwa Raka tenggelam di danau. Bahwa tubuhnya tidak pernah ditemukan. Dan bahwa tragedi itu hanyalah kecelakaan. Namun sekarang— Cerita itu mulai retak. “Raka mengatakan sesuatu kepadamu sebelum pergi?” tanya Alya. Laki-laki itu mengangguk pelan. “Apa?” Laki-laki itu menatapnya dengan ekspresi serius. “Dia mengatakan seseorang mencoba membuatnya datang ke danau malam itu.” Alya menggenggam ponsel itu lebih erat. “Siapa?” “Dia belum tahu.” “Lalu?” Laki-laki itu melanjutkan, “Tapi dia yakin satu hal.” Alya menunggu. “Pesan itu bukan satu-satunya hal aneh yang terjadi malam itu.” Jantung Alya berdetak lebih cepat. “Apa lagi?” Laki-laki itu menunjuk ke arah danau. “Raka mengatakan dia melihat seseorang di sana sebelum kamu datang.” Alya membeku. “Di mana?” “Di antara pepohonan.” Alya merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah bayangan samar muncul di kepalanya. Namun ketika ia mencoba menangkapnya, bayangan itu kembali menghilang. “Dia mengatakan orang itu memperhatikan kalian,” lanjut laki-laki itu. “Apa Raka tahu siapa orang itu?” Laki-laki itu menggeleng. “Tidak.” Ia berhenti sejenak. “Namun dia yakin orang itu mengenal kalian.” Angin bergerak pelan di sekitar danau. Alya memandang permukaan air yang tenang. Jika seseorang memang berada di sana malam itu— Jika seseorang memang mengirim pesan itu— Maka semuanya bukan kebetulan. Seseorang telah merencanakan sesuatu. Dan kemungkinan besar— Orang itu masih berada di kota ini sekarang. Alya mengangkat pandangan. “Aku ingin tahu satu hal lagi.” Laki-laki itu menatapnya. “Apa?” “Kenapa kamu membantu aku sekarang?” Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Namun akhirnya ia berkata pelan, “Karena Raka memintaku.” “Apa yang dia katakan?” Laki-laki itu menatap Alya dalam-dalam. “Jika suatu hari kamu kembali ke kota ini…” Ia berhenti sejenak. “…aku harus memastikan kamu menemukan kebenaran.” Alya merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Namun masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Satu pertanyaan yang semakin terasa penting. “Kalau Raka benar-benar selamat malam itu…” Ia berkata pelan. “…lalu apa yang sebenarnya terjadi setelah itu?” Laki-laki itu tidak menjawab. Namun ekspresi di wajahnya berubah sedikit. Seolah pertanyaan itu membuka sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak siap untuk mengatakannya. Dan dari ekspresi itu saja— Alya mulai menyadari satu kemungkinan yang jauh lebih menakutkan. Bahwa malam ketika Raka menghilang… Mungkin bukanlah akhir dari cerita. Mungkin itu justru awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD