Pesan yang Tidak Pernah Sampai

888 Words
BAB 13 Pesan yang Tidak Pernah Sampai Alya tidak langsung menjawab. Angin pagi bergerak pelan di atas permukaan danau, membuat air bergetar halus seperti sesuatu yang hidup. Kalimat laki-laki itu masih menggantung di udara. “Raka tidak jatuh ke danau karena kamu.” Selama tujuh tahun, Alya hidup dengan keyakinan bahwa semua itu adalah kesalahannya. Bahwa jika malam itu ia tidak datang ke danau… Jika ia tidak memaksa Raka tinggal lebih lama… Maka semuanya tidak akan terjadi. Namun sekarang seseorang yang bahkan tidak ia kenal mengatakan bahwa semua keyakinan itu salah. “Bagaimana kamu bisa tahu itu?” tanya Alya akhirnya. Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Ia memandang danau sebentar sebelum berkata, “Karena aku tahu apa yang terjadi sebelum Raka masuk ke air.” Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat. “Apa yang terjadi?” Laki-laki itu menoleh ke arahnya. “Pertengkaran.” Kata itu jatuh pelan. Namun dampaknya terasa seperti batu yang dilempar ke air tenang. “Pertengkaran?” ulang Alya. Laki-laki itu mengangguk. “Ada seseorang yang datang malam itu.” Alya menegang. “Siapa?” Laki-laki itu menggeleng. “Itu yang harus kamu ingat sendiri.” Alya mulai merasa kesal. “Kamu bilang kamu tahu apa yang terjadi, tapi kamu tidak mau menjelaskan apa pun.” Laki-laki itu tetap tenang. “Aku tidak bisa memberitahumu semuanya.” “Kenapa?” “Karena sebagian dari kebenaran itu hanya bisa kamu temukan sendiri.” Alya menatapnya tajam. “Siapa kamu sebenarnya?” Laki-laki itu tersenyum kecil. “Seseorang yang seharusnya datang lebih cepat.” Jawaban itu sama sekali tidak membantu. Alya menghela napas panjang. “Kalau kamu tidak mau mengatakan siapa kamu…” Ia menunjuk danau. “…setidaknya katakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu.” Laki-laki itu terdiam beberapa detik. Kemudian ia berkata, “Raka datang ke danau malam itu karena seseorang mengiriminya pesan.” Alya mengerutkan kening. “Pesan?” Laki-laki itu mengangguk. “Pesan yang membuatnya percaya bahwa seseorang ingin bertemu dengannya.” “Siapa?” Laki-laki itu menatap Alya dalam-dalam. “Kamu.” Alya langsung menggeleng. “Itu tidak mungkin.” Laki-laki itu tidak terlihat terkejut. “Kamu yakin?” “Aku tidak pernah mengirim pesan apa pun.” Laki-laki itu berkata pelan, “Itulah masalahnya.” Alya merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Jika Raka datang ke danau karena pesan dari seseorang yang mengaku sebagai dirinya— Berarti ada seseorang yang sengaja mempertemukan mereka di sana. Namun untuk apa? “Raka menunjukkan pesan itu kepada seseorang sebelum datang ke danau,” lanjut laki-laki itu. “Siapa?” “Aku.” Alya membeku. “Kamu mengenal Raka?” Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Namun dari ekspresinya, Alya tahu jawabannya adalah ya. “Kenapa kamu tidak pernah muncul sebelumnya?” tanya Alya. Laki-laki itu menatap danau lagi. “Aku tidak berada di kota ini ketika semuanya terjadi.” “Lalu sekarang kamu tiba-tiba kembali?” “Aku kembali karena seseorang memintaku.” Alya merasakan perasaan aneh muncul di dadanya. “Siapa?” Laki-laki itu menatapnya. “Raka.” Keheningan jatuh di antara mereka. Alya hampir tertawa. Bukan karena lucu. Namun karena pikirannya menolak menerima kalimat itu. “Itu tidak mungkin.” Laki-laki itu tidak membantah. “Kenapa?” “Karena Raka sudah mati.” Kata itu keluar lebih keras dari yang Alya maksudkan. Laki-laki itu tidak terlihat terkejut. Ia hanya berkata pelan, “Apakah kamu benar-benar melihatnya mati?” Pertanyaan itu membuat Alya membeku. Ia mencoba menjawab. Namun kata-kata tidak keluar. Karena sebenarnya— Ia tidak pernah benar-benar melihat apa yang terjadi setelah itu. Ia hanya ingat suara air. Dan kemudian— Kegelapan. Laki-laki itu melanjutkan, “Kadang-kadang cerita yang paling sering kita dengar bukanlah cerita yang paling benar.” Alya menatapnya dengan perasaan campur aduk. “Jika kamu benar-benar mengenal Raka…” Ia berhenti sejenak. “…katakan sesuatu yang hanya aku dan dia yang tahu.” Laki-laki itu terdiam beberapa detik. Kemudian ia berkata pelan, “Raka pernah mengatakan sesuatu tentang kamu.” Alya menunggu. “Dia bilang…” Laki-laki itu memandang langsung ke matanya. “…jika suatu hari kamu berhenti menyalahkan dirimu sendiri, kamu akhirnya akan menemukan kebenaran.” Jantung Alya berdetak keras. Itu terdengar seperti sesuatu yang benar-benar akan dikatakan Raka. Namun masih ada satu hal yang tidak masuk akal. “Jika kamu benar-benar mengenalnya…” Alya berkata pelan. “…kenapa dia tidak pernah menceritakan tentang kamu?” Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Ia hanya memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu. Sebuah ponsel lama. Ia menyalakan layar dan menunjukkannya kepada Alya. “Ini pesan yang Raka terima malam itu.” Alya mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Di layar terlihat sebuah pesan singkat. Pengirimnya tidak dikenal. Namun isi pesannya membuat napas Alya terasa berhenti. Datanglah ke danau malam ini. Aku perlu berbicara denganmu. — Alya Alya menatap layar itu tanpa berkedip. Kalimat itu jelas menggunakan namanya. Namun ia tahu satu hal dengan pasti. Ia tidak pernah mengirim pesan itu. Alya perlahan mengangkat pandangan. “Jika aku tidak mengirim pesan ini…” Suaranya hampir seperti bisikan. “…lalu siapa yang melakukannya?” Laki-laki itu tidak menjawab. Namun ekspresinya cukup untuk memberi tahu Alya satu hal. Bahwa orang yang mengirim pesan itu— Mungkin adalah orang yang sama yang berada di danau malam itu. Dan jika itu benar… Maka seseorang di kota ini telah merencanakan semuanya sejak awal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD