BAB 12
Orang yang Selalu Menyalahkan Dirinya
Pagi datang terlalu cepat.
Alya tidak yakin apakah ia benar-benar tidur malam itu.
Yang ia ingat hanya langit yang perlahan berubah dari hitam menjadi abu-abu di luar jendela kamarnya.
Dan pikirannya yang terus berputar tanpa henti.
Tentang danau.
Tentang seseorang yang berdiri di antara pepohonan malam itu.
Tentang bagian dari ingatannya yang hilang.
Alya duduk di tepi tempat tidur.
Foto lama itu masih berada di tangannya.
Ia sudah menatapnya begitu lama hingga setiap detail kecil di dalamnya terasa seperti sesuatu yang baru.
Raka tersenyum lebar di tengah foto.
Senyum yang dulu selalu membuat semuanya terasa baik-baik saja.
Alya mengusap permukaan foto itu perlahan.
“Kalau kamu masih di sini…” gumamnya pelan.
“…mungkin semuanya tidak akan seperti ini.”
Raka selalu punya cara untuk membuat masalah terasa lebih kecil.
Namun setelah malam itu—
Tidak ada lagi seseorang yang mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Alya berdiri dan berjalan menuju jendela.
Kota kecil itu mulai hidup kembali.
Orang-orang berjalan menuju tempat kerja.
Anak-anak menuju sekolah.
Seolah tidak ada yang pernah berubah.
Namun bagi Alya, semuanya berubah sejak malam itu.
Dan ia selalu percaya satu hal.
Bahwa semua itu adalah kesalahannya.
Kenangan tentang malam itu selalu dimulai dengan cara yang sama.
Raka yang menunggu di depan rumahnya.
Motor tua yang selalu ia bawa.
Dan senyum yang terlihat sedikit terlalu santai.
“Kita harus keluar sebentar.”
Alya ingat bagaimana ia mengerutkan kening waktu itu.
“Sudah malam.”
“Justru itu.”
Raka tertawa kecil.
“Kota ini paling indah saat semua orang sudah tidur.”
Alya akhirnya ikut naik ke motor itu.
Ia masih ingat angin malam yang terasa dingin di wajahnya.
Mereka pergi ke tempat yang selalu sama.
Danau di pinggir kota.
Tempat yang selalu terasa seperti dunia kecil milik mereka sendiri.
Namun malam itu berbeda.
Alya masih ingat bagaimana Raka terlihat lebih serius dari biasanya.
Ia duduk di tepi air.
Tangannya melempar batu kecil ke permukaan danau.
“Kamu pernah merasa ingin pergi dari kota ini secepat mungkin?” tanya Raka tiba-tiba.
Alya mengangguk.
“Sering.”
Raka tersenyum kecil.
“Aku juga.”
Lalu ia berkata sesuatu yang sampai sekarang masih teringat jelas di kepala Alya.
“Kalau suatu hari aku benar-benar pergi…”
Ia berhenti sejenak.
“…kamu harus pergi juga.”
Alya waktu itu hanya tertawa.
“Kenapa kamu bicara seperti itu?”
Raka tidak menjawab.
Ia hanya menatap permukaan danau yang gelap.
Dan setelah itu—
Kenangan Alya selalu berhenti.
Seolah seseorang mematikan lampu di dalam kepalanya.
Alya membuka mata.
Ia masih berdiri di depan jendela.
Namun dadanya terasa lebih berat sekarang.
“Kenapa aku tidak ingat sisanya?” gumamnya pelan.
Ia menutup matanya lagi.
Berusaha memaksa dirinya mengingat lebih jauh.
Namun seperti biasa—
Pikirannya hanya menemukan kegelapan.
Alya akhirnya menyerah.
Ia mengambil jaket dari kursinya.
Hari ini ia akan kembali ke danau.
Bukan karena ia yakin akan menemukan sesuatu.
Namun karena tempat itu mungkin satu-satunya tempat yang masih menyimpan jawabannya.
Danau itu terlihat berbeda di pagi hari.
Cahaya matahari memantul di permukaan air.
Beberapa burung terbang rendah di atas air.
Tempat itu terlihat jauh lebih tenang daripada yang Alya ingat.
Ia berjalan perlahan menuju tepi danau.
Langkahnya berhenti di tempat yang sangat ia kenal.
Tempat terakhir ia melihat Raka.
Alya menatap air yang tenang.
Perasaan aneh muncul di dalam dirinya.
Campuran antara takut dan penasaran.
Ia menutup mata.
Berusaha membayangkan malam itu.
Angin.
Suara air.
Dan suara seseorang.
Namun tiba-tiba—
Sebuah suara lain memecah keheningan.
“Tempat ini belum berubah.”
Alya langsung membuka mata.
Ia berbalik cepat.
Seseorang berdiri beberapa meter di belakangnya.
Seorang laki-laki.
Tinggi.
Memakai jaket gelap.
Wajahnya sebagian tertutup bayangan pohon.
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
“Kamu siapa?”
Laki-laki itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya berjalan beberapa langkah lebih dekat.
Sekarang wajahnya mulai terlihat jelas.
Namun Alya tetap tidak mengenalinya.
“Aku sudah menunggumu datang ke sini,” kata laki-laki itu.
Suara itu tenang.
Terlalu tenang.
“Apa maksudmu?”
Laki-laki itu menatap danau.
“Tempat ini selalu menarik orang kembali.”
Alya mengerutkan kening.
“Apakah kamu orang yang datang ke rumahku?”
Laki-laki itu tidak menyangkal.
“Ya.”
Alya merasakan tangannya sedikit dingin.
“Kenapa kamu mencariku?”
Laki-laki itu akhirnya menatap langsung ke matanya.
“Karena hanya kamu yang bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi malam itu.”
Alya menahan napas.
“Siapa kamu?”
Laki-laki itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya berkata pelan,
“Orang yang tahu bahwa kamu tidak bersalah.”
Kalimat itu membuat dunia Alya terasa berhenti.
“Apa?”
Laki-laki itu melanjutkan dengan tenang,
“Selama tujuh tahun kamu menyalahkan dirimu sendiri.”
Alya menatapnya tanpa berkedip.
“Tapi kamu salah.”
Angin bergerak pelan di permukaan danau.
Dan laki-laki itu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh hidup Alya terasa berubah dalam sekejap.
“Raka tidak jatuh ke danau karena kamu.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu—
Alya mulai menyadari bahwa cerita yang selama ini ia percayai mungkin tidak pernah benar-benar benar.