BAB 11
Malam yang Tidak Pernah Ia Ceritakan
Alya tidak kembali ke kamarnya setelah percakapan itu.
Ia masih duduk di ruang tamu bersama ibunya, meskipun keduanya sudah lama tidak berbicara lagi.
Jam dinding berdetak pelan.
Setiap detiknya terasa lebih keras dari biasanya.
Alya menatap foto di tangannya.
Foto lama di tepi danau.
Tiga orang yang ia kenal.
Dan satu orang yang seharusnya ia kenal—tetapi tidak.
Perasaan aneh mulai muncul di dalam dirinya.
Seolah ingatan yang hilang itu bukan sekadar kenangan yang terlupakan.
Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang sengaja menolak untuk mengingat.
“Ibu.”
Ibunya mengangkat kepala.
“Apa?”
Alya menatap langsung ke matanya.
“Kenapa Ibu tidak pernah mengatakan tentang aku yang pingsan di danau?”
Ibunya terlihat sedikit lelah.
“Alya…”
“Kenapa?”
Ibunya menarik napas panjang.
“Karena kamu sendiri tidak pernah menanyakannya.”
Jawaban itu sederhana.
Namun Alya tahu itu bukan alasan sebenarnya.
“Ada hal lain, kan?”
Ibunya tidak menjawab.
Ia hanya memandang meja.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata,
“Malam itu… kamu terus mengatakan sesuatu ketika kamu sadar.”
Alya menegang.
“Apa?”
Ibunya terlihat ragu.
Namun akhirnya ia berkata pelan,
“Kamu bilang kamu tidak ingat apa yang terjadi.”
“Itu saja?”
Ibunya menggeleng pelan.
“Kamu juga mengatakan satu kalimat lagi.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
“Apa?”
Ibunya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Kamu bilang… ada seseorang di sana.”
Alya membeku.
“Di danau?”
Ibunya mengangguk.
“Kamu mengatakan ada seseorang yang berdiri di dekat air.”
Alya mencoba mengingat.
Namun seperti biasa, pikirannya berhenti di dinding yang sama.
Kosong.
Gelap.
“Siapa orang itu?” tanya Alya pelan.
Ibunya menggeleng.
“Kamu tidak pernah mengatakan siapa.”
Ruangan kembali sunyi.
Alya merasakan sesuatu bergerak pelan di dalam pikirannya.
Sebuah bayangan samar.
Namun ketika ia mencoba menangkapnya, bayangan itu langsung menghilang.
“Aku harus mengingatnya,” kata Alya.
Ibunya terlihat khawatir.
“Tidak semua kenangan harus diingat kembali.”
“Tapi ini penting.”
“Alya—”
“Jika aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu…”
Alya berhenti sejenak.
“…aku tidak akan pernah bisa benar-benar melanjutkan hidup.”
Ibunya tidak menjawab.
Ia hanya memandang Alya dengan mata yang terlihat sedih.
Alya akhirnya berdiri.
“Aku akan ke danau lagi besok.”
Ibunya langsung menatapnya.
“Kenapa?”
“Aku ingin mencoba mengingat sesuatu.”
Ibunya menggeleng cepat.
“Itu bukan ide yang baik.”
“Kenapa?”
Ibunya tidak langsung menjawab.
Namun Alya bisa melihat ketakutan di wajahnya.
“Alya,” katanya pelan.
“Tempat itu sudah membawa terlalu banyak hal buruk.”
Alya menatapnya dengan tenang.
“Mungkin.”
Ia mengambil foto dari meja.
“Namun jika kebenaran memang ada di sana…”
Alya menarik napas panjang.
“…aku harus menemukannya.”
Ibunya tidak mengatakan apa pun lagi.
Namun sebelum Alya naik ke tangga, wanita itu berkata pelan,
“Alya.”
Ia berhenti.
“Ya?”
Ibunya menatapnya dalam-dalam.
“Ada satu hal lagi yang tidak pernah kamu ketahui tentang malam itu.”
Jantung Alya kembali berdetak lebih cepat.
“Apa?”
Ibunya terlihat ragu beberapa detik.
Namun akhirnya ia berkata,
“Kamu tidak sendirian ketika ditemukan di tepi danau.”
Alya menegang.
“Maksud Ibu?”
Ibunya berkata dengan suara sangat pelan,
“Ketika polisi menemukanmu… ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari kamu.”
Dunia Alya terasa berhenti.
“Siapa?”
Ibunya menggeleng.
“Mereka tidak pernah menemukan orang itu.”
Alya merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Apa maksudnya?”
Ibunya melanjutkan,
“Polisi hanya melihat bayangan seseorang di antara pepohonan.”
“Lalu?”
“Ketika mereka mendekat…”
Ibunya berhenti sejenak.
“…orang itu sudah menghilang.”
Ruangan kembali sunyi.
Alya berdiri diam di tengah ruang tamu.
Semua potongan cerita mulai terasa seperti puzzle yang belum lengkap.
Ada seseorang di danau malam itu.
Ada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya ketika ia ditemukan.
Dan mungkin—
Ada seseorang yang selama ini mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Namun orang itu memilih untuk tetap bersembunyi.
Selama tujuh tahun.
Alya akhirnya naik ke tangga menuju kamarnya.
Namun malam itu ia tahu satu hal dengan sangat jelas.
Semakin ia mendekati kebenaran—
Semakin terasa bahwa seseorang mungkin tidak ingin kebenaran itu pernah terungkap.
Dan jika orang itu benar-benar masih berada di kota ini…
Maka Alya mungkin sedang berjalan menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kenangan lama.