BAB 19
Luka yang Lebih Dalam
Nama itu masih menggantung di udara.
Arga.
Alya menatap Dimas seolah berharap ia akan segera mengatakan bahwa semua itu hanyalah dugaan yang salah.
Namun Dimas tetap berdiri di sana dengan wajah serius.
Tidak bercanda.
Tidak ragu.
“Kenapa kamu berpikir Arga yang melakukannya?” tanya Alya akhirnya.
Dimas menghela napas pelan.
“Aku tidak mengatakan dia yang melakukannya.”
“Lalu?”
“Aku hanya mengatakan dia mungkin tahu lebih banyak daripada yang ia katakan.”
Alya memandang lantai perpustakaan yang berdebu.
Pikirannya mulai berputar.
Arga adalah orang yang pertama kali mengatakan bahwa malam itu bukan kecelakaan.
Arga yang menunjukkan pesan misterius dari ponsel Raka.
Arga yang menyuruhnya datang ke perpustakaan ini.
Semua petunjuk yang ia temukan sejauh ini—
Datang dari Arga.
Namun jika Arga benar-benar mencoba membantunya…
Kenapa Dimas justru mencurigainya?
“Dimas.”
“Ya?”
“Sejak kapan kamu tahu tentang Arga?”
Dimas tampak berpikir sejenak.
“Aku tidak benar-benar mengenalnya.”
“Lalu kenapa kamu menyebut namanya?”
Dimas menatap Alya dengan hati-hati.
“Karena aku pernah melihatnya.”
Alya langsung menoleh.
“Di mana?”
Dimas menjawab pelan,
“Di danau.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
“Kapan?”
“Malam itu.”
Ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin.
“Apa maksudmu?”
Dimas melanjutkan dengan pelan,
“Ketika aku mengatakan aku melihat seseorang di antara pepohonan…”
Ia berhenti sejenak.
“…aku pikir itu dia.”
Alya merasakan napasnya sedikit tertahan.
“Kamu yakin?”
Dimas menggeleng.
“Tidak sepenuhnya.”
“Kenapa kamu tidak mengatakan ini sebelumnya?”
Dimas tersenyum tipis.
“Sama seperti kamu.”
“Apa maksudmu?”
“Aku juga tidak ingin mengingat malam itu.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Alya menatap kertas surat dari Raka sekali lagi.
Tulisan tangan itu terasa seperti sesuatu yang hidup.
Seolah Raka masih mencoba berbicara kepadanya dari masa lalu.
“Raka mengatakan seseorang menyimpan kebencian,” gumam Alya.
Dimas mengangguk pelan.
“Iya.”
Alya memandangnya.
“Apakah kamu tahu siapa yang dia maksud?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Namun akhirnya ia berkata,
“Aku punya dugaan.”
“Apa?”
Dimas menatap Alya dengan ekspresi yang sangat hati-hati.
“Kamu.”
Dunia Alya terasa berhenti.
“Apa?”
Dimas cepat menggeleng.
“Bukan kamu yang dia benci.”
“Lalu?”
Dimas berkata pelan,
“Dia benci seseorang karena kamu.”
Alya mengerutkan kening.
“Aku tidak mengerti.”
Dimas menatapnya lama.
“Kamu benar-benar tidak ingat?”
“Ingat apa?”
Dimas menghela napas panjang.
“Beberapa minggu sebelum kejadian itu…”
Ia berhenti sejenak.
“…ada seseorang yang sering datang ke sekolah untuk mencari kamu.”
Alya mencoba mengingat.
Namun pikirannya masih kosong.
“Siapa?”
Dimas berkata pelan,
“Arga.”
Alya membeku.
“Itu tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak pernah mengenalnya sebelum beberapa hari lalu.”
Dimas mengangguk pelan.
“Itulah yang aneh.”
Alya merasakan sesuatu bergetar di dalam kepalanya.
Bayangan samar muncul.
Seorang laki-laki berdiri di gerbang sekolah.
Namun bayangan itu terlalu kabur untuk dikenali.
“Raka pernah mengatakan sesuatu tentang dia,” lanjut Dimas.
“Apa?”
Dimas memandang keluar jendela.
“Dia mengatakan Arga seharusnya tidak datang kembali ke kota ini.”
Alya menelan ludah.
“Kenapa?”
Dimas menjawab dengan pelan,
“Karena jika Arga kembali…”
Ia berhenti sejenak.
“…semua masalah lama akan kembali juga.”
Angin bertiup melalui jendela yang sedikit terbuka.
Alya merasakan pikirannya semakin kacau.
Jika Arga memang sudah ada di kota ini sebelum kejadian itu—
Maka kemungkinan yang muncul menjadi jauh lebih rumit.
“Malam itu…” kata Alya perlahan.
“…apakah kamu melihat wajah orang di pepohonan?”
Dimas menggeleng.
“Tidak jelas.”
“Lalu kenapa kamu berpikir itu Arga?”
Dimas menatapnya.
“Karena cara dia berdiri.”
Alya mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
Dimas menjawab,
“Dia berdiri seperti seseorang yang sudah lama menunggu.”
Kalimat itu membuat bulu kuduk Alya berdiri.
Menunggu.
Seolah seseorang memang sudah merencanakan sesuatu malam itu.
Namun sebelum Alya sempat mengatakan sesuatu lagi—
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari pintu perpustakaan.
Suara pintu kayu yang terbuka perlahan.
Alya dan Dimas menoleh bersamaan.
Seseorang berdiri di ambang pintu.
Siluetnya terlihat jelas di bawah cahaya matahari dari luar.
Dan suara yang tenang itu berkata,
“Kalian benar-benar membicarakan aku tanpa mengundangku.”
Jantung Alya terasa berhenti.
Karena orang yang berdiri di pintu itu—
Adalah Arga.