Malam yang Sama, Cerita yang Berbeda

759 Words
BAB 20 Malam yang Sama, Cerita yang Berbeda Pintu perpustakaan masih terbuka. Cahaya dari luar masuk membentuk bayangan panjang di lantai kayu yang berdebu. Arga berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja disebut sebagai bagian dari misteri besar yang sedang mereka bicarakan. Alya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Sementara Dimas di sampingnya terlihat langsung menegang. “Arga,” kata Dimas pelan. Arga melangkah masuk. Langkahnya terdengar jelas di ruangan yang kosong itu. “Aku tidak menyangka kalian sampai sejauh ini,” katanya. Matanya tertuju pada kertas yang masih berada di tangan Alya. “Sepertinya kamu sudah menemukan suratnya.” Alya tidak menjawab. Ia hanya menatap Arga dengan penuh pertanyaan. Sementara itu Dimas berkata lebih dulu, “Sudah berapa lama kamu berdiri di luar sana?” Arga mengangkat bahu ringan. “Cukup lama.” “Jadi kamu mendengar semuanya?” “Sebagian.” Dimas menyilangkan tangannya. “Bagus.” Nada suaranya berubah sedikit lebih keras. “Karena sekarang kamu bisa menjelaskan sesuatu.” Arga memandangnya dengan tenang. “Apa yang ingin kamu dengar?” “Kenapa kamu berada di danau malam itu?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Alya langsung menatap Arga. Ini adalah pertanyaan yang juga ingin ia tanyakan sejak awal. Arga tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah menuju jendela perpustakaan. Dari sana danau terlihat samar di kejauhan. “Raka yang memanggilku,” katanya akhirnya. Alya terkejut. “Apa?” Arga menoleh. “Dia mengirim pesan kepadaku beberapa jam sebelum kejadian itu.” Dimas mengerutkan kening. “Pesan apa?” Arga menjawab dengan pelan, “Dia mengatakan ada seseorang yang mencoba mempermainkan kalian.” Alya merasakan dadanya menegang. “Mempermainkan?” Arga mengangguk. “Dia sudah menerima pesan yang mengaku dari kamu.” Alya langsung teringat pesan di ponsel tadi. “Pesan yang memintanya datang ke danau.” “Ya.” Arga menatap mereka berdua. “Raka merasa ada sesuatu yang tidak beres.” Dimas menyilangkan tangan lebih erat. “Lalu kenapa dia tetap datang?” Arga menjawab tanpa ragu. “Karena dia khawatir sesuatu akan terjadi pada Alya.” Alya membeku. “Kepadaku?” Arga mengangguk. “Dia pikir seseorang mencoba menjebaknya.” Ruangan kembali sunyi. Alya menatap surat dari Raka di tangannya. Jika Raka memang curiga sejak awal— Maka malam itu memang bukan kebetulan. Seseorang benar-benar merencanakannya. “Lalu apa yang terjadi ketika kamu tiba di danau?” tanya Dimas. Arga terdiam beberapa detik. Ekspresinya berubah sedikit. “Ketika aku sampai…” Ia berhenti sejenak. “…kalian sudah ada di sana.” Alya menelan ludah. “Apa yang kamu lihat?” Arga memandangnya. “Aku melihat kalian berdua bertengkar.” Alya mengerutkan kening. “Itu tidak benar.” Dimas langsung berkata, “Benar.” Alya menoleh ke arahnya. “Kamu ingat itu?” Dimas mengangguk pelan. “Kalian memang bertengkar.” Alya mencoba mengingat. Namun seperti biasa— Kenangan itu berhenti di tempat yang sama. Kabur. Tidak lengkap. “Apa yang kami perdebatkan?” tanya Alya. Dimas tidak langsung menjawab. Arga justru berkata lebih dulu. “Raka mengatakan sesuatu yang membuat kamu marah.” “Apa?” Arga menatapnya lama. “Dia mengatakan kamu harus pergi dari kota ini.” Kalimat itu terasa sangat familiar. Alya langsung teringat potongan kenangan dari malam itu. Kalau suatu hari aku benar-benar pergi… kamu harus pergi juga. Namun sebelum ia sempat memahami lebih jauh— Dimas berkata, “Itu bukan bagian terburuknya.” Alya menoleh cepat. “Maksudmu?” Dimas menatapnya dengan hati-hati. “Pertengkaran itu bukan antara kamu dan Raka.” Alya membeku. “Lalu?” Dimas mengarahkan pandangannya ke arah Arga. “Pertengkaran itu terjadi setelah Arga datang.” Ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin. Alya menatap Arga. “Apa itu benar?” Arga tidak langsung menjawab. Namun dari cara ia menarik napas, Alya tahu ada sesuatu yang tidak ingin ia katakan. “Arga,” kata Alya pelan. “Jawab aku.” Arga akhirnya berkata, “Raka memang marah ketika melihatku.” “Kenapa?” Arga menatap Alya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. “Karena dia tahu kenapa aku datang.” Alya merasakan sesuatu bergerak di dalam pikirannya. “Kenapa kamu datang?” Arga menjawab dengan sangat pelan. “Untuk memperingatkan kalian.” “Memperingatkan tentang apa?” Arga tidak langsung menjawab. Namun akhirnya ia berkata, “Ada seseorang yang datang ke danau malam itu sebelum kami.” Alya merasakan bulu kuduknya berdiri. “Siapa?” Arga menatapnya lama. Dan kalimat yang ia ucapkan selanjutnya membuat seluruh ruangan terasa berhenti. “Orang itu… adalah orang yang selama ini kamu percaya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD