BAB 21 Kebenaran yang Menyakitkan Ruangan perpustakaan terasa sangat sunyi. Debu tipis masih melayang di udara, terlihat jelas di bawah cahaya matahari yang masuk dari jendela. Namun Alya hampir tidak memperhatikannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu kalimat yang baru saja diucapkan Arga. “Orang itu adalah orang yang selama ini kamu percaya.” Jantung Alya berdetak lebih cepat. Ia menatap Arga tanpa berkedip. “Siapa?” tanyanya pelan. Arga tidak langsung menjawab. Sebaliknya, Dimas berkata lebih dulu. “Berhenti membuat semuanya terdengar seperti teka-teki.” Nada suaranya lebih keras dari sebelumnya. “Jika kamu tahu sesuatu, katakan saja.” Arga menoleh ke arah Dimas. Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Ketegangan terasa jelas di antara keduanya. Alya merasakan sesuatu

