= KETAHUAN BERBOHONG =

1404 Words
Fahrial sudah kembali ke rumah bersama Laras. Seperti yang sudah Laras katakan sebelumnya bahwa dia punya rencana untuk membuktikan apakah Kiara sedang datang bulan atau tidak. Kebetulan sekali pada saat mereka berdua masuk ke dalam rumah, Kiara lagi rebahan di sofa sambil memainkan ponselnya. Laras melirik Fahrial lalu berkata. “ Fahri, sebaiknya kamu pura – pura ke toilet atau kemana dulu gitu. Aku perlu ngomong berdua sama Kiara.“ Perintah Laras karena kalau ada Fahrial takut Kiara tetap mempertahankan kebohongannya. “ Oke.“ Fahrial berjalan melewati Kiara menuju Toilet. “ Kok, cepet banget pulangnya? Gak jalan – jalan dulu? “ tanya Kiara saat Fahrial melewatinya. Sepertinya dia berharap sekali Fahrial berlama – lama diluar. “ Gak, Kia.“ Jawab Fahrial, ia terus melanjutkan langkahnya. “ Kiara?“ panggil Laras. Kiara terbangun duduk dan menoleh ke arah sumber suara. “ Eh, mbak Laras. Kirain udah pulang. “ Laras duduk disebelah Kiara. “ Kamu punya pembalut gak? aku lagi pms, tapi lupa bawa cadangan pembalut. “ Tanya Laras mulai melancarkan aksinya. “ Yah, gak ada, mbak. Soalnya, jadwal datang bulanku biasanya akhir bulan, jadi aku belum beli dan siapin pembalut, deh.“ Jawab Kiara, ia melihat layar ponselnya. “ Ini aja masih awal bulan, jadi masih lama. “ Imbuhnya. Laras manggut – manggut, kini dia sudah tahu bahwa Kiara memang berbohong kepada Fahrial dan ketika Laras menoleh ke arah Toilet, ia lihat Fahrial mengintip di balik dinding. Itu berarti Fahrial menguping dan sudah mendengar fakta sebenarnya. “ Lagian tadi dari luar kenapa bukan beli sekalian? “ tanya Kiara dengan mata fokus ke layar ponsel. “ Yaudah kalau begitu, aku mau beli pembalut sekalian pulang aja. “ Kata Laras bangkit dari duduknya, ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Kiara. “ Oke, hati – hati ya.“ Kiara menjabat tangan Laras. Fahrial pun muncul kembali, ia berjalan mendekati Laras dengan perasaan mencelos atas kenyataan yang baru saja dia dengar bahwa Kiara telah membohonginya. “ Laras? Mau balik? “ tanya Fahrial. “ Iya, Fahri. “ “ Aku antar sampai depan. “ Fahrial pun mengajak Laras berjalan menuju pintu keluar. “ Kayaknya, tanpa perlu aku kasih tau, kamu sudah denger apa yang tadi Kiara bilang. “ Tutur Laras ketika sudah sampai di depan pintu keluar. Fahrial mengangguk lemas. “ Makasih, Laras. Walaupun kebenaran itu terdengar menyakitkan, tapi setidaknya aku jadi tahu kalau Kiara sudah membohongiku. “ Ungkapnya dengan perasaan kecewa. “ Yaudah, mungkin Kiara masih gugup atau belum siap, makannya dia buat alesan begitu. “ Laras menepuk pundak Fahrial. “ Sabar, ya. Sepertinya kamu harus lebih ekstra sabar lagi menghadapi Kiara. “ “ Hm, iya – iya.“ “ Senyum, dong. Masa anterin tamu pulang mukanya cemberut gitu. “ Ledek Laras spontan membuat bibir Fahrial melengkung membentuk senyuman. “ Bisa aja ya kamu. “ Fahrial usap kepala Laras yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. “ Yaudah sana, hati – hati bawa mobilnya. “ “ Oke, boss!“ seru Laras, ia melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya yang di parkir di depan rumah Fahrial. “ Bye, Laras. “ Fahrial melambaikan tangannya ke arah mobil Laras yang sudah mulai melaju menjauhinya. Fahrial menutup pintu rapat – rapat, kemudian dia berjalan mendekati Kiara. “ Aku mau ngomong penting sama kamu. “ Kata Fahrial yang baru saja duduk disebelah Kiara. “ Ngomong aja. “ Jawab gadis yang selalu fokus pada layar ponselnya. “ Kia… “ Fahrial rebut ponsel itu dari tangan Kiara membuat gadis itu terkejut. “ Balikin gak! itu ponselku! “ pintanya memaksa sambil mengadahkan tangannya. “ Aku akan balikin, tapi dengerin dulu aku mau ngomong.“ Ucap Fahrial memberikan tatapan serius. Kiara berdecak sebal. “ Ribet banget, sih! “ serunya. “ Yaudah buruan kamu mau ngomong apa? “ tanyanya agak nyolot. “ Kenapa kamu bohongin aku? ”tanya Fahrial sontak membuat Kiara melotot karena tak suka dengan pertanyaan Fahrial yang terkesan menuduh. “ Bohongin kamu apa? udah, deh. Jangan cari gara – gara! “ Tangan Kiara ingin mengambil ponselnya dari tangan Fahrial, tapi dengan cepat Fahrial sembunyikan di belakang punggungnya. “ Aku tahu kamu sedang tidak datang bulan, Kia. “ Ungkap Fahrial, seketika Kiara tertegun mendengarnya. “ Ka—kamu jangan sok tau ya! aku itu emang beneran lagi datang bulan, Fahri. Apa perlu aku kasih unjuk ke kamu, hah? kan, gak mungkin! “ balas Kiara masih berusaha untuk mengelak. “ Yaudah coba kasih unjuk aku kalau emang kamu beneran sedang datang bulan. “ Tantang Fahrial membuat Kiara jadi panik sendiri. “ Ih, ogah banget! Aku malu, lah. “ Ujarnya sambil melengos. “ Kenapa harus malu? Aku kan, suami kamu? “ “ Udahlah, Fahri. Kamu ini kenapa jadi curiga sama aku? apa kamu gak percaya sama istri sendiri, hah? “ balas Kiara selalu saja nyolot. “ Kalau kamu gak mau jujur, aku akan… “ Fahrial memajukan wajahnya mendekati Kiara, sementara Kiara sendiri kini berusaha untuk memundurkan tubuhnya agar menjauh dari Fahrial yang terus mendekat. “ Fahri, kamu mau ngapain? “ Kiara terus menjauh sampai akhirnya Kiara yang sejak tadi terus saja memundurkan tubuhnya kini sudah dalam posisi setengah berbaring. “ Terserah aku dong, mau ngapain aja. Lagian, kita ini sudah sah. “ Sambil senyam – senyum, Fahrial terus mendekati Kiara hingga kini tubuhnya sudah berada di atas Kiara dan wajah mereka berdua saling berdekatan. Kiara menahan nafasnya, ia sangat gugup di tatap begitu dekat oleh Fahrial, apa lagi tubuh lelaki itu kini ada di atasnya.“ Fa—Fahri, ka—“ Tak mau menyia – nyiakan kesempatan, Fahrial berikan ciuman di bibir Kiara, ia lumat dengan lembut bibir mungil milik Kiara sekalian untuk membungkam mulut istrinya yang baru saja ingin ngomel – ngomel kepadanya. Awalnya, Kiara terkesima dan diam membeku, seolah tubuhnya tidak dapat bergerak karena dalam keadaan terkejut, tapi setelah tersadar dia langsung mendorong tubuh Fahrial sekuat tenaga. “ FAHRIAL! “ Teriak Kiara penuh emosi, ia mengusap bibirnya yang baru saja mendapat kecupan dari suaminya, sedangkan Fahrial kini tersenyum merekah karena untuk pertama kalinya dia mencium bibir gadis yang selama ini Fahrial idam – idamkan. Rasanya benar – benar bagai terbang melayang ke langit ke tujuh meski hanya saling bersentuhan bibir. “ Kamu ini kurang ajar sekali! “ Kiara duduk tegak, ia mendorong kasar tubuh Fahrial karena merasa tidak terima atas apa yang baru saja lelaki itu lakukan. “ Itu bukan kurang ajar, tapi hal wajar yang dilakuin seorang suami kepada istrinya, Kia. “ Fahrial usap pipi Kiara tetapi langsung gadis itu tepis. “ Gak usah pegang – pegang! “ omelnya tetapi Fahrial malah senyam – senyum saja. “ Yaudah sekarang kamu mau jujur atau aku cium lagi? “ ancam Fahrial seketika membuat Kiara menggeleng cepat. “ Oke, aku akan jujur! “ serunya ketakutan. “ Aku memang berbohong soal datang bulan. “ Ungkap Kiara berkata sejujurnya. “ Kenapa kamu bohongin aku, hm? “ ucap Fahrial seraya memberikan ponsel Kiara karena gadis itu sudah mengatakan yang sebenarnya. “ Aduh, kamu itu cerewet banget, sih. “ Kiara yang sudah mendapatkan ponselnya segera bangkit dari duduknya dan ingin segera pergi tetapi Fahrial menarik tangannya sehingga membuat tubuh Kiara tersentak jatuh ke dalam pangkuan Fahrial. Mata Kiara melebar sempurna karena kini dia berada dalam pangkuan Fahrial bahkan dengan sengaja lelaki itu memeluknya untuk mencari kesempatan. “ Kia? “ panggil Fahrial. Kiara ingin berdiri tetapi tubuhnya di dekap kuat oleh Fahrial.“ Apa lagi, hah? lepasin aku, Fahri!“ Fahrial memberikan tatapan sedikit menggoda. “ Berarti, nanti malem kita bisa melakukan—“ “ Gak bisa! Temen – temen aku nanti malam mau datang. “ Merasa kesal, Kiara benturkan saja keningnya ke kepala Fahrial sehingga sontak lelaki itu melepaskan dekapannya dan membuat Kiara terbebas bisa berdiri. “ Aduh, Kia! “ Fahrial mengusap keningnya yang terasa nyut – nyutan di adu dengan dahi Kiara. “ Udah aku mau mandi! “ Untuk menghindari ajakan – ajakan Fahrial yang sudah Kiara duga pasti mengarah ke hal – hal berhubungan suami – istri, Kiara langsung berlari kecil menuju lantai atas atau lebih tepatnya ke kamar. “ Dasar otak mesuuum! Kurang ajar sekali dia cium – cium dan peluk aku! Arghh! Sepertinya aku harus mandi kembang tujuh rupa, nih! “ cibir Kiara seraya menaiki anak tangga. Fahrial menghela nafas seraya merebahkan tubuhnya di atas sofa, sesekali ia usap – usap dahinya yang masih agak sakit. “ Kapan ya aku bisa merasakan indahnya malam pertama. “ Gumam Fahrial sambil berkhayal. Jangankan malam pertama, ini saja sudah mau hari kedua tetapi tidak ada yang mereka lakukan di atas ranjang layaknya suami – istri. Baiklah, Fahrial akan menunggu saat – saat itu tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD