= ADA MAUNYA =

1404 Words
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Kiara sudah berdandan secantik mungkin sampai Fahrial yang sejak tadi nonton televisi jadi tidak fokus dan terpesona melihat Kiara. Seteleah selesai Make up, Fahrial lihat Kiara membawa pakaian lalu masuk ke dalam kamar mandi, mungkin dia ingin menggantinya.   “ Kiara emang cantiknya kelewatan. “ Puji Fahrial sambil geleng – geleng kepala, bagaimana dia tidak tambah jatuh hati. Ya, meskipun kelakuan gadis itu agak bikin Fahrial nahan batin.   Tak begitu lama, Kiara kembali keluar dari kamar mandi dan penampilannya saat ini membuat Fahrial terkaget – kaget.   “ Astaghfirullah, Kia? “ Fahrial menganga dibuatnya. Bagaimana tidak? saat ini Kiara hanya mengenakan mini dress di atas lutut dan sangat memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ya, jika itu hanya ditunjukkan kepada Fahrial tentunya tidak akan masalah, tapi malam ini Kiara ingin bertemu banyak temannya meskipun di dalam rumah.   “ Kenapa, sih? “ Kiara nampak tenang, ia berdiri di depan cermin yang berada di sudut ruangan untuk melihat penampilannya dari atas kepala hingga ujung kaki sudah sempurna atau belum.   Fahrial bangun dari duduknya, ia menghampiri Kiara. “ Kia, kamu mau ketemu temen – temen kamu pakai baju seperti ini? “   “ Iya, Fahri. Gimana? bagus, gak? “ Kiara malah menanyakan pendapat disaat Fahrial lagi tertegun.   “ Iya aku mengakui ini sangat bagus. Tapi… “ Fahrial memperlambat ucapannya sebentar. “ Tunggu dulu, apakah teman kamu cewek semua atau ada cowoknya? “   “ Cewek enam dan cowok empat. “ Jawab Kiara semakin membuat Fahrial sontak melebarkan matanya.   “ APA?! “ Fahrial memegang pundak Kiara, lalu memutar tubuh gadis itu, kemudian mendorong pelan tubuh Kiara menuju lemari. “ Ganti baju kamu sekarang juga. “ Perintahnya, sungguh Fahrial tidak menyukai apa yang Kiara pakai saat ini.   Laki – laki mana yang tidak menyukai penampilan Kiara yang sangat menggoda iman tersebut, bahkan Fahrial saja melihatnya sampai membuat darahnya berdesir.   “ Fahri, kamu ini apa – apaan, sih? “ Kiara berhenti melangkah, ia kembali membalikkan badannya kehadapan Fahrial.   “ Kiara, aku gak akan biarin kamu ketemu temen – temen cowok kamu pakai baju seperti ini! “ tegas Fahrial.   Alis Kiara terangkat satu. “ Kenapa? “   “ Sebagai seorang suami, aku gak rela lihat tubuh istriku di jadikan pertontonan oleh pria lain! pokoknya, ganti! “ sekali lagi Fahrial menegaskan.   Namun, memang dasarnya Kiara keras kepala, gadis itu tetap menolak untuk disuruh ganti pakaian. “ Aku gak mau! “ tolaknya. “ Lagipula, waktu belum nikah sama kamu, aku juga sudah sering menggunakan pakaian seperti ini, Fahrial! “ balas Kiara tak kalah nyolot.   “ Ya, itu dulu saat kamu belum menikah. Tapi, sekarang ini kamu sudah menjadi tanggung jawabku, Kiara. “ Ucap Fahrial, ia berusaha menjelaskan dengan nada rendah agar tidak terkesan membentak Kiara.   Selama Fahrial bicara, bibir Kiara malah monyong – monyong seolah mengikuti apa yang Fahrial ucapkan, hal tersebut membuat Fahrial menghela nafasnya.   “ Kalau masih ingin mengadakan pertemuan sama teman kamu dirumah ini, ganti dulu pakaian kamu! “ Perintah Fahrial menunjuk ke arah lemari.   “ Ck, Fahri kenapa kamu jadi banyak ngatur, sih? “ Kiara bertelak pinggang, matanya sedikit melotot. “ Kita memang sudah menikah, tapi bukan berarti kamu bisa mengatur hidupku seenak jidat! “ Kiara maju kehadapan Fahrial agar lebih dekat. “ Urus saja hidup kita masing – masing! “ seru Kiara sangat menusuk hati Fahrial.   Selesai bicara, Kiara pergi ke arah meja rias untuk merapihkan lagi tatanan rambutnya yang agak berantakan gara – gara dia ngomel pakai tenaga.   Fahrial membisu, ia menatap kepergian Kiara dengan perasaan bak tercabik – cabik karena kalimat simple yang baru saja Kiara katakan sangat memberikan batasan seakan – akan  Kiara tidak ingin Fahrial masuk ke dalam kehidupannya, meski hanya sedikitpun.   Bagaimana bisa Kiara membataskan diri terhadap Fahrial seperti itu, sedangkan Fahrial saja rela menyerahkan jiwa dan raga bahkan dunianya untuk Kiara tanpa gadis itu ketahui. Percayalah Kiara, belum tentu ada pria yang mencintaimu sebesar Fahrial, bahkan sejak dulu perasaan itu tidak pernah berubah di dalam relung hati Fahrial.   Dengan langkah lemas, Fahrial berjalan kembali menuju sofa untuk duduk disana. Lelaki itu termenung sambil bertanya – tanya, apa kesalahannya hingga tak layak mendapatkan cinta Kiara.   Kiara yang lagi menyisir rambutnya melirik Fahrial melalui cermin meja rias, melihat wajah murung Fahrial, Kiara jadi memikirkan sesuatu. Dia tidak merasa menyesal atas apa yang telah dia perbuat atau katakan tadi, tapi yang ada di fikiran Kiara saat ini adalah dia takut kalau Fahrial tidak jadi memberikannya uang.   “ Duh, kalau dia marah sama gue, nanti dia gak jadi tranfer gue duit lagi. Arghh! Kayaknya gue harus baik – baikin dia, nih. “ Gumam Kiara dengan suara pelan.   Kiara bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Fahrial dan duduk di sebelah lelaki itu. Fahrial diam saja sampai akhirnya dia menoleh ke arah Kiara karena gadis itu mengulurkan tangannya kehadapan Fahrial.   “ Maaf. “ Ucap Kiara dengan wajah ketus karena permintaan maafnya itu terkesan dipaksakan.   Fahrial mengerutkan keningnya, matanya menyipit memandang Kiara karena dia agak heran melihat seorang Kiara tiba – tiba saja meminta maaf kepadanya. “ Kamu minta maaf? “ tanyanya.   “ Iya, Fahrial. Udah buruan deh, ayo salaman. “ Paksanya terburu – buru.   Dengan senang hati, Fahrial menjabat tangan Kiara pertanda dia sudah memaafkan gadis itu. Memang sangat mudah sekali bagi Fahrial untuk memaafkan Kiara meskipun tadi gadis itu baru saja menyakiti hatinya.   “ Aku maafin kamu. “ Balas Fahrial dengan senyuman merekah.   Kiara menarik tangannya untuk berhenti bersalaman tetapi Fahrial menahannya. “ Fahri, lepasin. “ Kiara terus saja menarik.   Fahrial tidak langsung melepaskan begitu saja, ia cium dulu punggung tangan Kiara beberapa kali sebelum akhirnya Fahrial melepaskannya.   “ Fahri, kamu apa – apaan, sih. “ Kiara usap punggung tangannya itu ke sofa untuk menghapus bekas ciuman Fahrial.   “ Kenapa diapus? “ tanya Fahrial seraya menghela nafas berat.   “ Sudah lupakan. “ Kiara menyerahkan ponsel yang berada di tangannya kepada Fahrial. “ Nih, nomor rekening aku. “ Katanya langsung tanpa bertele – tele.   Fahrial mengulum bibirnya sambil manggut – manggut, sekarang dia tahu kenapa Kiara tiba – tiba meminta maaf kepadanya.   “ Oh, jadi karena ada maunya kamu minta maaf sama aku. “ Ledek Fahrial, tapi tangannya tetap mengambil ponsel Kiara.   “ E—enggak, kamu jangan suka fitnah! “ protes Kiara. “ Masa, orang minta maaf aja dituduh – tuduh ada maunya! “   “ Hm, iya – iya. “ Fahrial mengiyakan saja meskipun dia sadar bahwa pada kenyataannya gadis itu mendadak bersikap baik supaya Fahrial mentransfernya uang, tapi Fahrial tidak mempermasalahkan itu. Bagi Fahrial, memberikan uang untuk istri bukanlah sesuatu yang memberatkannya.   “ Kalau orang berniat baik untuk minta maaf, jangan disangka ada maunya, itu sama aja kamu menuduh dan itu menambah dosa kamu. “ Celetuk Kiara sok bijak, padahal dia sendiri sadar atas apa yang dia perbuat itu memang meminta maaf karena ada maunya.   “ Iya, istriku. “ Sahut Fahrial sangat lembut tetapi membuat Kiara bergidik geli sambil membelalakan matanya.   Fahrial mengeluarkan ponselnya, ia buka aplikasi M-banking dan langsung mentransfer ke nomor rekening Kiara.   “ Sudah berhasil. “ Kata Fahrial.   “ Coba aku cek, nanti kamu bohongin aku lagi. “ Ucap Kiara seraya mengecek saldo ATM nya.   “ Emangnya aku itu kamu, tukang bohong. “ Balas Fahrial cukup menjengkelkan bagi Kiara, gadis itu ingin marah tetapi ketika melihat isi saldo ATM nya mendadak tersenyum sumringah.   “ 10 juta? “ Mata Kiara langsung berbinar – binar seakan membentuk lambang uang dolar, kalau sudah urusan duit pasti Kiara sangat bahagia.   “ Hm, pakai uang itu buat keperluan kamu. “ Ucap Fahrial.   “ Ya ampun, Fahri. “ Kiara meraih tangan kanan Fahrial. “ Kamu baik banget, pokoknya kamu harus sering –sering kayak gini sama aku ya. “ Ungkap Kiara yang masih terus menggengam tangan Fahrial.   Fahrial melirik tangannya yang dipegang sambil cengar – cengir, ia cukup senang dikala Kiara menyentuhnya.  “ Cium dong. “ Celetuk Fahrial tiba – tiba menunjuk bibirnya sendiri.   “ Eh—“ seketika Kiara terdiam, ia menarik tangannya yang sejak tadi menggengam Fahrial. “ Kamu jangan memafaatkan kesempatan ya! “ seru Kiara mendadak memasang wajah nyolot.   “ Ayolah, Kia. Aku aja gak pelit sama kamu, masa giliran aku cuma minta di cium sebentar aja kamu pelit banget, sih.“ Pinta Fahrial seraya menaik turunkan kedua alisnya.   “ OGAH! “ Kiara buru – buru berdiri, ia takut Fahrial akan menyosor dirinya duluan seperti di sofa ruang tamu tadi. Kiara buru – buru berlari keluar kamar dan memilih untuk menunggu kedatangan temannya di lantai dasar.   Fahrial terkekeh melihat Kiara nampak ketakutan.   “ Sama suami sendiri aja ketakutan, emangnya wajahku serem apa? “ Fahrial mengusap wajahnya. “ Kia…Kia… “
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD