= BEBASKAN AKU =

1156 Words
Hari ini harusnya Fahrial berangkat ke kantor, tapi karena dia masih ingin menemani istrinya sehingga Fahrial izin untuk libur. Fahrial menyiapkan sarapan seadanya saja, ia buatkan sereal dan suusu putih hangat, lalu dia pergi ke lantai atas untuk mengantarkan makanan itu untuk Kiara. Fahrial mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak juga mendapatkan respon. “ Apa Kiara masih tidur? “ Fahrial memegang gagang pintu, lalu menekannya ke bawah dan ternyata pintu langsung terbuka, itu berarti semalam Kiara hanya menutupnya saja tanpa di kunci. “ Untung tidak di kunci. “ Ucap Fahrial, ia jadi bisa masuk ke dalam untuk melihat kondisi Kiara. Dia berjalan menuju meja untuk meletakkan sarapan yang telah di buatnya, kemudian menghampiri Kiara yang masih terlelap di atas kasur. “ Ya ampun! “ Fahrial terkejut ketika melihat di lantai berceceran bekas isi muntahan perut Kiara semalam yang memang belum di bersihkan oleh gadis itu. “ Kiara… kamu ini benar – benar ya! “ Fahrial hanya bisa ngedumel sendirian saja, ia bergegas mengambil kain pel dan membersihkan kotoran itu dengan ikhlas. Setelah bersih, Fahrial kembali menghampiri Kiara. Dia lihat istrinya tertidur masih memakai Flatshoes. Fahrial yang begitu perhatian pun segera melepaskan sepatu itu dari kaki Kiara. Fahrial tidak membangunkan Kiara, justru ia tutupi tubuh gadis itu dengan selimut agat tidurnya semakin nyenyak dan tidak kedinginan. Sambil menunggu Kiara bangun, Fahrial memilih untuk bersantai di balkon menikmati udara pagi ini. Sementara itu, tubuh Kiara menggeliat sambil menguap. Perlahan gadis itu membuka matanya, ia sempat memijat pelipisnya yang masih menyisakan sedikit pusing akibat terlalu banyak minum. “ Jam berapa sekarang? “ mata Kiara mengerjap lambat, ia memandang jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. “ Masih pagi. “ Ucap Kiara, ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, sampai akhirnya tatapannya berhenti ke arah balkon yang terlihat seorang lelaki sedang berdiri membelakanginya. “ Fahri? “ Kiara sontak terbangun duduk. “ Bagaimana bisa dia masuk ke dalam? Bukankah semalam aku sudah mengunci pintu? “ Kiara bertanya – tanya pada dirinya sendiri. “ Ah, ya ampun! pasti aku lupa menguncinya. “ Imbuh Kiara. Kiara beranjak turun dari kasur, ketika kakinya menyentuh lantai, ia baru tersadar kalau saat ini tidak ada bekas muntahan di bawah kasur, padahal seingatnya semalam dia mengeluarkan isi perutnya di lantai. “ Loh? “ Kiara menoleh ke arah Fahrial lagi. “ Apa dia yang sudah membersihkan muntahku? “ Kiara kembali melihat lantai yang sudah kinclong dan tercium pewangi lantai. Kiara jadi termenung sebentar dalam duduknya, ia yakin kedatangan Fahrial ke dalam kamar ingin membicarakan masalah perceraian sekaligus menceramahinya karena tadi malam mabuk. Sekarang, Kiara sudah tidak berharap lagi dengan pernikahan ini, jika memang Fahrial ingin bercerai, maka dia akan terima. Menurut Kiara, dia sudah hancur. Jadi, jika nanti sudah resmi bercerai, ia akan bisa menjadi perempuan yang bebas dan biarlah dia semakin hancur sendirian sebab memang sudah begitu alur kehidupannya. Kiara sudah merasa jenuh dengan kehidupannya, apapun nanti keputusan Fahrial, ia akan tetap menjadi dirinya yang saat ini yaitu ingin bebas tanpa terikat. Suka atau tidak suka, Fahrial harus terima. “ Kiara? “ panggil Fahrial dari luar balkon saat melihat istrinya sudah terbangun. Kiara berdiri, ia berjalan mendekati Fahrial. “ Kamu masuk ke dalam kamar dengan cara di dobrak atau memang pintu tidak terkunci? “ tanya Kiara tanpa ekspresi. “ Untuk apa aku mendobrak, pintu kamar memang tidak kamu kunci. “ Terang Fahrial. “ Oh. “ Kiara hanya ber-Oh- ria saja. “ Aku udah buatin sarapan untuk kamu. “ Fahrial menunjuk ke arah meja di dalam kamar. “ Makasih. “ Singkat Kiara, ia kembali masuk ke dalam. Dia duduk di sofa untuk menikmati sarapan yang Fahrial buatkan. Fahrial duduk di hadapan Kiara, ia pandangi Kiara yang makan dengan ekspresi datar, tidak ada pancaran semangat dari wajah Kiara. “ Bagaimana perasaanmu? “ tanya Fahrial ingin tahu keadaan gadis itu. “ Seperti yang kamu lihat. “ Balas Kiara seadanya saja. “ Aku berharap kamu bisa tersenyum. “ Celetuk Fahrial, sebab melihat Kiara merengut seperti saat ini membuatnya jadi ikut bersedih. “ Jangan berharap lebih, aku tidak suka di paksa. “ Jawab Kiara, ia meneguk suusu hangat yang Fahrial buatkan. Fahrial diam sebentar memandangi Kiara, ia memang jengkel dengan gadis itu tetapi cintanya terlalu besar sehingga setiap kali dia marah dan kecewa, bila melihat wajah Kiara seperti merasa mendapat ketenangan tersendiri. “ Kiara, ada yang ingin aku sampaikan. “ Kata Fahrial terlihat serius. “ Katakan saja. “ “ Ini soal pernikahan kita. “ Ungkap Fahrial. “ Kenapa? mau bercerai? Silahkan saja, aku tidak akan protes lagi jika itu keinginanmu. “ Tutur Kiara tenang, ia benar – benar sudah mengikhlaskan jika statusnya akan menjadi seorang janda muda. Fahrial mengangguk. “ Mari kita lupakan soal perceraian. “ Celetuk Fahrial. Kiara yang ingin menyuapkan sereal ke dalam mulutnya sampai tertahan karena agak kaget dengan pernyataan Fahrial. “ Yaudah. “ Kiara menjawab seadanya saja sebab dia tidak mau terlihat senang karena merasa gengsi. “ Apa kamu senang? “ tanya Fahrial. “ Biasa aja. “ Jawab Kiara. “ Hm, sudah ku duga. “ Fahrial menyesal bertanya seperti itu karena memang pada dasarnya Kiara tidak akan perduli. Fahrial sengaja tidak jadi menceraikan Kiara karena masih sangat mencintai gadis itu dan juga tidak tega jika membiarkan Kiara sendiri di saat gadis itu sedang berada di titik terendah. Fahrial khawatir jika dia menceraikan dan membiarkan gadis itu sendirian, maka Kiara akan semakin hancur. Apa lagi Fahrial tau lingkungan pergaulan Kiara seperti apa. Fahrial menghela nafas. “ Kenapa semalam kamu mabuk? “ tanya Fahrial lagi. “ Supaya gak stress. “ Balas Kiara. “ Aku tidak suka kamu seperti itu, Kiara. “ Sebisa mungkin Fahrial bicara dengan nada rendah. “ Tapi aku suka. “ Balas Kiara seraya meletakkan gelas suusu dengan kasar ke atas meja. “ Jangan di ulangin lagi. “ Fahrial memperingati dengan lembut. “ Aku tidak janji. “ Jawab Kiara santai. “ Aku melakukan apa yang membuat aku senang. “ Lanjut Kiara karena dia merasa minuman beralkohol sudah menjadi bagian dalam hidupnya. “ Bagaimana cara membuatmu senang tanpa harus pergi mabuk - mabukan? Beritahu aku, Kia. “ Ujar Fahrial, jika ia bisa menjadi sesuatu yang membahagiakan Kiara pasti dirinya akan senang. “ Cukup bebaskan aku. “ Tutur Kiara mengisyaratkan agar Fahrial tidak melarang dirinya melakukan apapun. “ Tidak bisa. Aku sayang padamu, maka dari itu akau akan memberimu batasan supaya kamu tidak semakin kacau. “ Balas Fahrial. “ Terserah. “ Kiara bangun dari duduknya. “ Yang penting aku sudah memberitahumu bagaimana cara membuatku senang. “ Jelas Kiara, ia pergi meninggalkan Fahrial setelah selesai sarapan. “ Kamu mau kemana? “ tanya Fahrial. “ Mau mandi. “ Sahut Kiara, ia mengambil handuk dan pakaian ganti, lalu berjalan menuju kamar mandi, sebelum menutup pintu, ia berkata kepada Fahrial. “ Makasih udah bersihin muntahanku. “ Ungkapnya, setelah itu Kiara menutup pintu kamar mandi. Fahrial jadi termenung memikirkan perkataan Kiara tadi. Haruskah dia membebaskan Kiara? tapi jika Fahrial membebaskannya, itu sama saja dia mendukung kehancuran Kiara. Sebagai suami, Fahrial ingin istrinya menjadi perempuan baik – baik, bukannya mendukung untuk mabuk – mabukan, pulang malam dan sebagainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD