Sudah tengah malam tetapi Kiara masih terjaga. Dia bingung harus bagaimana mengatasi kesedihannya yang begitu mendalam untuk saat ini. Ponselnya sejak tadi terus berdering karena banyak notif masuk dari teman – temannya menanyakan bagaimana keadaannya saat ini atau bahkan sekedar memberikan ucapan agar Kiara tetap tabah.
Namun, Kiara tidak memperdulikan semua itu. Hatinya hancur, kepalanya di penuhi dengan fikiran yang mengarah ke hal – hal menyedihkan. Sungguh, Kiara yang masih muda sedang di landa bimbang dan rasa gelisah.
“ Aku tidak bisa diam saja seperti ini. “ Ucap Kiara seraya bergerak turun dari kasur karena terus melamun seperti saat ini membuat dirinya semakin merasa bersedih.
Gadis itu bersiap untuk pergi. Dia tidak perduli kalau sekarang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kiara turun ke bawah, ia keluar lalu menuju mobilnya.
Kiara segera pergi ke suatu tempat yang tak lain adalah sebuah Club. Sampainya di tempat hiburan malam itu, Kiara memesan beberapa botol minuman. Dia duduk di bangku paling pojok untuk menikmati minuman beralkohol itu berbotol – botol sambil sesekali menangis. Di tengah keramaian dan musik yang menggelegar, hanya duka dan lara serta kesepian yang Kiara rasakan.
Kiara tau apa yang dia lakukan sekarang ini sangat salah karena di saat ibunya baru saja meninggal justru dia malah asik mabuk – mabukan, tapi Kiara menganggap dengan meneguk Beer setidaknya membuat dia melupakan sekejap kesedihan yang melanda dirinya.
Sudah tiga botol Kiara habiskan, ketika dia ingin membeli lagi ternyata tidak bisa karena club ingin tutup sebab sudah hampir menjelang subuh.
“ Maaf, mbak. Club sudah mau tutup. “ Tolak seorang bartender.
Mata Kiara mulai mengerjap lamban, kepalanya juga terasa berat karena sebenarnya saat ini Kiara sudah dalam keadaan mabuk tetapi masih saja memaksakan diri untuk minum.
“ Yah, satu botol lagi, deh. “ Pinta Kiara dengan suara berayun – ayun layaknya orang sedang mabuk.
“ Gak bisa, mbak. “ Tolaknya karena semua minuman sudah di rapihkan dan mereka ingin bersiap untuk pulang.
“ Ck, gak asik, ah. “ Kiara berjalan ke arah luar club dengan langkah gontai. Dia lihat para pengunjung lainnya juga sudah mulai meninggalkan tempat hiburan malam itu.
Kiara berjalan menuju parkiran mobil. Dia sengaja memakai mobil sedan merah sebab mobil BMW milik Fahrial saat ini masih dalam keadaan sedikit rusak bagian depannya karena tadi dia tabrakkan ke pintu depan rumah secara tidak sengaja.
“ Arghh… kepalaku terasa berputar. “ Gumam Kiara sambil memijat pelipisnya. Sampainya di samping mobil, Kiara berhenti sebentar karena perutnya mual.
“ Hoek… “ Beberapa kali Kiara seperti itu hingga akhirnya dia memutuskan untuk buru – buru masuk ke dalam mobil.
Kiara mulai melajukan kendaraan beroda empat itu keluar dari area club. Untung saja jalanan saat ini dalam keadaan sepi sehingga Kiara yang membawa mobil agak ngebut itu tidak menggangu atau bahkan membahayakan pengguna jalan yang lainnya.
Tibanya di rumah, Kiara benar – benar sudah tidak berdaya. Bahkan saat dia turun dari mobil sempat terjatuh karena sempoyongan.
“ Ah… ” Kiara mencoba untuk berdiri dan melanjutkan langkahnya menuju pintu, ia lihat lututnya sedikit tergores saat tadi terjatuh.
“ Dimana kunci rumah. “ Lagi – lagi Kiara melupakan dimana meletakkan kunci duplikat untuknya masuk, akhirnya karena dia sudah benar – benar teler, terpaksa Kiara mengetuk pintu berkali – kali agar di buka oleh Fahrial sebab Kiara tidak sanggup jika harus memanjat balkon lagi.
TOK…TOK…TOK…
Suara ketukan itu terdengar berkali – kali hingga membangunkan Fahrial yang saat ini tidur di kamar tamu tepat di lantai bawah.
Fahrial terbangun duduk, ia lirik saat ini jam menunjukkan pukul lima pagi.
“ Siapa yang datang pagi – pagi buta begini? “ sambil menguap, Fahrial turun dari kasur dan berjalan menuju pintu depan karena suara ketukan itu terus saja terdengar menggangu indra pendengarannya.
TOK…TOK…TOK…
“ Iya, tunggu sebentar. “ Fahrial membukakan kunci dari dalam. Begitu pintu terbuka, Fahrial terkejut bukan main karena ternyata seseorang yang sejak tadi mengetuk pintu adalah Kiara.
“ Lama banget, sih! “ omel Kiara.
“ Ki—Kiara? “ Fahrial melongo melihat istrinya itu berjalan masuk ke dalam melewatinya dengan langkah terhuyung – huyung. “ Kamu habis darimana? “ tanya Fahrial tidak di jawab oleh Kiara.
Fahrial mengunci kembali pintu depan, lalu dia mengejar istrinya itu. “ Kia? kamu habis mabuk ya? “ Fahrial memperhatikan wajah Kiara terlihat letih dan matanya memerah.
Kiara terus saja melangkahkan kakinya ingin menaiki tangga, tapi tenaganya sudah tidak mampu untuk mencapai ke atas. Kiara hampir saja terjatuh, namun dengan sigap Fahrial menahan bahunya agar Kiara tidak tersungkur.
“ Kenapa kamu harus mabuk seperti ini Kiara? “ omel Fahrial tetapi tidak Kiara perdulikan.
“ Bukan urusanmu! “ Kiara menepis tangan Fahrial yang sejak tadi memegang bahunya, ia berusaha untuk menaiki tangga lagi meski harus pelan – pelan karena kepalanya begitu berat dan tubuhnya sudah mulai tak bertenaga.
Beberapa kali Fahrial ingin membantunya tetapi Kiara menepis tangan suaminya itu yang ingin menuntunnya.
“ Seharusnya, kamu itu banyak berdoa untuk mamah kamu, Kiara. Bukannya mabuk – mabukan seperti! “ seru Fahrial ketika sudah berada di lantai atas, ia terus menemani Kiara karena takut gadis itu terjatuh.
“ Sudah sana pergi ke bawah, aku ingin tidur. “ Usir Kiara sambil membuka pintu kamar.
“ Mamahmu pasti akan sangat sedih melihat anaknya malah mabuk – mabukan di saat kuburannya masih basah. “ Ungkap Fahrial membuat Kiara tersinggung.
“ Kamu tidak tahu rasanya jadi aku, Fahri! “ balas Kiara sambil mengusap leher belakangnya yang terasa pegal. “ Aku begini supaya tidak stress memikirkan kepergian mamahku. “ Tutur Kiara.
“ Aku kecewa banget sama kamu. “ Balas Fahrial memandang Kiara dengan tatapan sendu.
“ Sumpah, aku tidak perduli. Kamu tidak penting bagiku, Fahri. Silahkan saja kamu mau kecewa atau tidak, itu urusanmu. “ Ucap Kiara, lalu dia segera menutup pintu dengan kencang.
BUK.
Fahrial terpanjat kaget, ia mengelus d@danya untuk melegakan rasa sesak yang dia rasakan. Fahrial ingin marah dan banyak bicara dengan gadis itu, tapi sepertinya akan percuma saja karena Kiara sedang berada di dalam pengaruh alkohol.
Fahrial agak menyesali apa yang terjadi pada malam ini karena beberapa hari terkahir Kiara sudah tidak berani pergi ke club lagi setelah perdebatan yang beberapa waktu lalu terjadi antara mereka. Namun, hari ini Kiara kembali pada kebiasaannya.
“ Masalah yang satu belum selesai, datang lagi yang lainnya. “ Fahrial kembali turun ke bawah dengan kepala yang di penuhi fikiran.
Niat menikah ingin membina rumah tangga yang menyenangkan dan membahagiakan, justru hanya ada permasalahan saja yang tidak henti – hentinya datang.
Kiara berjalan menuju kasur karena dia sudah tidak sabar ingin merebahkan tubuhnya yang benar – benar lemas.
“ Perutku mual sekali. “ Gumam Kiara, tepat ketika dia baru saja berbaring di atas kasur, rasa mual di dalam perutnya sudah tidak tertahankan, sehingga dia yang tidak sempat pergi ke kamar mandi langsung memuntahkan saja isi perutnya di lantai.
“ Lega sekali. “ Kata Kiara, ia kembali merebahkan tubuhnya. Matanya terpejam sambil memegangi perutnya yang terus saja bergejolak ingin kembali muntah.
Sebenarnya, Kiara berniat ingin membersihkan kotoraan bekasnya muntah, tapi matanya sudah tidak dapat tertahankan sehingga dalam sekejap dia tertidur pulas.