= MEMPERTIMBANGKAN =

1222 Words
Fahrial ingin mengompres luka memar pada dahi Kiara, tapi gadis itu berusaha menghindar saat kain yang sudah di rendam air dingin itu hampir menyentuh keningnya. “ Mau ngapain? “ tanya Kiara ketus. “ Itu luka memarnya aku kompres dulu sebentar, supaya cepat sembuh. “ Jawab Fahrial menerangkan. “ Tidak perlu. “ Kiara melengos, ia memutar duduknya sehingga saat ini membelakangi Fahrial. “ Nanti kalau tidak segera di obati, benjolan di dahi kamu itu akan membusuk. “ Bohong Fahrial menakut – nakuti Kiara. “ Bu—busuk? “ Kiara kembali menghadap Fahrial. “ Memangnya kamu fikir luka ini bisa busuk seperti buah? “ Kiara menunjuk bagian memarnya. “ Ya bisa, dong. Emangnya buah doang yang bisa busuk. “ “ Ck, kamu pasti bohong! “ seru Kiara tidak percaya. Fahrial meletakkan kembali kain itu ke dalam baskom. “ Terserah kamu saja. Aku mencoba untuk menyelamatkan jidatmu yang mulus itu dari korengan dan luka yang membusuk. Kalau kamu tidak mau, tanggung sendiri resikonya. “ Fahrial semakin gencar membohongi istrinya itu, ia melakukan itu demi kesembuhan luka memar pada dahi Kiara, tapi gadis itu sangat kerasa kepala sekali, padahal Fahrial hanya ingin mengobatinya, bukan memperparah luka tersebut. Mata Kiara melebar, ia meneguk ludahnya susah payah. Dia mulai merasa ketakutan kalau dahinya nanti akan berubah jadi korengan bahkan membusuk seperti yang Fahrial katakan. “ Ya—yaudah, cepetan obatin. “ Celetuknya dengan ketus karena dia cukup gengsi jika memintanya secara baik – baik. “ Takut ya? “ ledek Fahrial. “ Gak! “ sahut Kiara membelalakan matanya. “ Udah cepat obatin! “ Fahrial kembali mengambil kain tersebut, lalu dia mulai mengompres luka memar pada dahi Kiara dengan hati – hati. “ Aaaaaa! “ Kiara berteriak kencang membuat Fahrial sontak terkejut mendengarnya. “ Kenapa, Kia? “ Fahrial bertanya dengan jantung yang berdebar – debar. “ Tidak apa – apa. “ Jawab Kiara dengan santainya setelah membuat Fahrial terkaget – kaget. “ Ya ampun, kamu ini ada – ada aja. Kamu mau buat aku mati karena terkena serangan jantung mendadak, hah? “ tanya Fahrial seketika mengingatkan Kiara pada ibunya yang baru saja meninggal karena terkena serangan jantung. “ Apa maksud kamu? “ tanya Kiara sewot sebab setiap kali mengingat ibunya, hanya penyesalan yang tersisa di benak Kiara. Fahrial diam tidak mengerti. “ Kamu fikir lucu bawa – bawa serangan jantung sebagai bercandaan, hah? “ Kiara nampak kesal sekali meski apa yang Fahrial ucapkan tadi tidak ada maksud apapun atau mungkin lelaki itu hanya sekedar mengungkapkan kalimat tadi sebagai penggambaran bahwa Fahrial sangat terkejut dengan teriakan Kiara, namun Kiara yang lagi sangat sensitif menganggap itu sebagai lelucon berat yang menyinggungnya. Fahrial jadi merasa bersalah setelah dia tersadar. “ Maafkan aku ya? aku tidak bermaksud—“ “ Tinggalkan aku sendiri, Fahri. “ Kiara melengos tidak mau memandang Fahrial, matanya mulai berkaca – kaca. “ Kia—“ “ Keluar! “ perintah Kiara bernada tinggi. Fahrial bangun dari duduknya, alhasil dia mencoba untuk mengalah saja. Mungkin gadis itu sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Sebelum pergi, Fahrial berpesan pada istrinya itu. “ Jangan sampai mencoba untuk bunuh diri lagi ya. “ Ucap Fahrial sebelum akhirnya dia pergi keluar kamar. Kiara ingin mengunci pintu kamar tetapi ternyata tidak bisa karena pintunya rusak akibat tadi Fahrial dobrak. “ Ck, menyebalkan! “ Tepat saat Fahrial turun ke lantai bawah, para tukang yang akan membenarkan pintu pun datang. Fahrial segera berdiskusi dengan mereka apa saja yang harus di beli untuk memperbaiki pintu rumahnya yang rusak berserta pintu kamarnya juga yang baru saja dia dobrak. ** Semua pintu sudah dalam keadaan rapih, baik yang di lantai bawah maupun pintu kamarnya. Setelah melakukan transaksi pembayaran dengan para tukang, Fahrial kembali ke lantai atas untuk menemui Kiara. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Fahrial mulai mengantuk karena hari ini melalui waktu yang begitu berat sehingga dia sangat lelah. Ketika Fahrial ingin masuk ke dalam kamar, lagi – lagi pintu itu di kunci oleh Kiara. “ Ya ampun, apa lagi yang gadis ini lakukan. “ Gumam Fahrial seraya menghela nafas berat. Sepertinya masalah tidak henti – hentinya terjadi. TOK…TOK…TOK… “ Kiara…Kiara… “ Panggil Fahrial berkali – kali dan untungnya kali ini Kiara membukakan pintu pertanda gadis itu sedang baik – baik saja alias tidak melakukan percobaan bunuh diri lagi. Kiara membuka pintu tetapi hanya setengah saja sehingga Fahrial tidak bisa masuk ke dalam. “ Kenapa? “ tanya Fahrial bingung. “ Mulai hari ini, kamu tidur di bawah! “ perintah Kiara seenak jidatnya. Padahal, ini adalah rumah Fahrial, lalu kenapa jadi dia yang mengatur – atur. “ Loh, kalau bisa tidur berdua di atas, kenapa aku harus tidur di bawah? “ balas Fahrial tentu saja dia tidak terima. “ Aku tidak mau tidur denganmu, Fahri! “ seru Kiara. “ Bukankah kita akan bercerai? Lebih baik mulai hari ini kamu belajar tidur terpisah dariku. “ Kata Kiara dengan tatapan sinis, ia ingin kembali menutup pintu, tapi Fahrial buru – buru menahan dengan tanganya agar tetap terbuka. “ Saat ini status kita masih sebagai suami – istri, jadi jika kita tidur bersama itu sah – sah saja. “ Jelas Fahrial. “ Sudahlah, Kiara. Kamu jangan bicara ngaur, biarkan aku masuk. Aku lelah ingin beristirahat. “ Fahrial ingin masuk ke dalam tetapi Kiara mencegahnya. “ Jadi, kamu gak mau ngalah sama perempuan? “ tanya Kiara dengan mata setengah melotot. Fahrial terdiam memandang Kiara, sepertinya hari ini emosi Kiara benar – benar tidak terkendali sebab beberapa kali gadis itu menciptakan perdebatan – perdebatan sehingga membuat Fahrial jengkel dengan sikapnya. “ Kamu…” Kiara menunjuk d**a Fahrial. “ Tidur di bawah! “ tegasnya sekali lagi. Fahrial memejamkan matanya sebentar sambil tarik nafas. “ Oke. “ Akhirnya, ia memilih untuk mengalah saja daripada banyak berdebat dan ujung – ujungnya hanya akan semakin memperkeruh suasana. Fahrial kembali turun ke bawah, ia menuju kamar tamu yang kemarin di tempati oleh ibunya. Fahrial mencoba untuk lebih bersabar karena menganggap saat ini Kiara dalam keadaan berduka sehingga suasana hatinya sedang berantakan dan jadi mudah sekali mencari gara – gara hanya hal – hal kecil. “ Sabar Fahrial…. Sabar. “ Fahrial masuk ke dalam kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasanya hari ini dia benar – benar kelelahan. Seharusnya besok dia masuk kerja tetapi Fahrial memilih untuk meliburkan diri karena ingin menemani istrinya yang masih dalam keadaan berkabung. Mata Fahrial memandang langit – langit kamar, ia mencoba kembali memikirkan apakah keputusannya tepat untuk menceraikan Kiara dalam waktu dekat ini. Sebenarnya Fahrial juga tidak yakin tentang Kiara selingkuh atau tidak, tapi melihat ketakutan dan sikap Kiara yang seperti menutupi sesuatu jadi menggiring opini ke arah bahwa Kiara memang bermain belakang dengan pria lain. Jika tidak, kenapa Kiara terlihat cemas bahkan tak mau jujur dengan siapa dia makan siang. Fahrial jadi bimbang, jika dia tetap menceraikan Kiara saat ini juga, ia kasihan karena gadis itu baru saja di tinggal ibunya dan juga biar bagaimanapun Fahrial masih sangat mencintainya. Apakah dirinya harus mencoba untuk melupakan apa yang terjadi kemarin? “ Ya allah, berilah hamba petunjukmu. “ Ucap Fahrial dari hatinya yang terdalam. Saat ini dia benar – benar kehilangan arah sebab dia sangat menginginkan untuk tetap bersama Kiara meski gadis itu selalu mengecewakannya. “ Sepertinya, aku harus benar – benar mempertimbangkan lagi. Aku tidak boleh terburu – buru menceraikan Kiara. “ Ungkap Fahrial setelah mengingat kembali bahwa untuk dapat bersanding dengan gadis itu membutuhkan waktu yang lama, jadi Fahrial harus berfikir matang sebelum mengambil keputusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD