Kiara membawa mobilnya seperti tanpa nyawa, ia biarkan kendaraan itu melaju dengan kecepatan penuh dengan harapan dia akan mati kecelakaan. Namun, nasib berkata lain sebab dia tetap selamat sampai tiba di rumah.
BUGG.
Kiara mengerem mendadak ketika tersadar mobilnya telah masuk ke area bagian depan rumahnya sehingga dia menabrak pintu masuk dan sebagian tembok.
Kiara melongo sambil memegangi kepalanya yang tadi sempat terbentur stir mobil. Nafasnya terengah dengan mata berkaca – kaca, perasaannya benar – benar kalang kabut.
“ Mamah…” Kalimat itu keluar bersamaan dengan air mata yang menetes. Kehilangan seorang ibu benar – benar menciptakan duka yang sangat mendalam bagi Kiara.
Bagian yang paling Kiara sesali adalah setelah menikah, dia tidak pernah mengunjungi ibunya yang tinggal seorang diri di Apartemen, sampai akhirnya dia menerima kabar buruk bahwa ibunya telah meninggal karena terkena serangan jantung dan pada saat itu ibunya sedang sendirian sehingga tidak ada siapapun yang memberikan pertolongan.
Kiara menempelkan kepalanya pada stir mobil sambil terisak menangis, ia menyesal sekali tidak ada di saat – saat ibunya membutuhkan dirinya. Semua itu membuat dirinya di hantui rasa bersalah.
Fahrial baru saja sampai, ia terkejut melihat mobil Kiara sampai naik ke atas teras depan rumah bahkan menabrak pintu.
“ Astaghfirullah. “ Fahrial segera turun dari mobil, ia berlari cepat menghampiri mobil Kiara. Dia lihat pintu depan rumahnya sebagian hancur dan tembok pun agak retak. Namun, Fahrial tidak terlalu memusingkan itu karena fikirannya tertuju kepada kondisi Kiara, apakah istrinya itu baik – baik saja atau tidak.
“ Kiara…Kiara… “ Fahrial mengetuk jendela mobil berkali – kali. “ Buka pintunya, Kiara. “ Fahrial terlihat begitu cemas.
Kiara menoleh ke arah Fahrial, kemudian dia membuka jendela mobil untuk bicara pada Fahrial.
“ Kenapa tuhan tidak membiarkan aku mati saja, Fahri? “ tanya Kiara terdengar tak bertenaga.
“ Kamu ini ngomong apa, sih? jangan bicara seperti itu lagi, Kiara!“ Tangan Fahrial masuk ke dalam mobil melalui celah jendela yang terbuka untuk membuka pintu agar Kiara segera keluar.“ Ayo turun. “ Setelah berhasil membuka pintu, ia melepaskan SeatBelt yang mengunci tubuh Kiara, lalu dia raih tangan Kiara untuk menuntunnya keluar mobil.
Ketika sudah turun dari mobil, Kiara memandang bagian depan mobilnya yang sedikit hancur karena tadi menabrak setengah pintu dan sebagian dinding.
“ Gak apa – apa, ayo masuk. “ Ucap Fahrial agar Kiara tidak perlu mencemaskan apa yang telah terjadi, biar itu Fahrial yang urus.
Fahrial menggiring Kiara masuk ke dalam rumah, ia lihat wajah Kiara agak pucat dan dahinya sedikit memar, lalu tatapan mata gadis itu benar – benar kosong seperti tak memiliki semangat untuk memikirkan apapun, bahkan memikirkan keselamatan dirinya sendiri tidak ada.
Sampainya di dalam kamar, Kiara duduk di sofa sambil melamun.
“ Tunggu sebentar ya, Kia. “
Fahrial kembali pergi ke bawah untuk mengambil kain bersih dan air dingin untuk mengompres luka memar pada dahi Kiara. Namun, sebelum kembali ke atas, Fahrial memindahkan dulu mobil Kiara ke posisi yang tepat di halaman depan, ia juga menghubungi Laras meminta bantuan untuk mencarikan tukang yang bisa membenarkan atau merenovasi bagian pintunya yang rusak.
Untungnya Laras sangat bisa di andalkan karena perempuan itu langsung bergerak cepat mencari tukang dan segera menyuruh mereka datang ke rumah Fahrial.
Fahrial kembali naik ke atas sambil menunggu orang yang akan membetulkan pintunya datang ke rumah. Tugas dia sekarang ingin mengobati istrinya.
Namun, ketika Fahrial ingin masuk ke dalam kamar, ternyata pintunya terkunci. Tentu saja hal tersebut membuat Fahrial panik karena takut Kiara akan melakukan sesuatu yang nekat atau mungkin lebih tepatnya percobaan untuk bunuh diri lagi setelah tadi gagal saat dia membawa mobil ngebut.
“ Kiara? “ Fahrial mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada respon. “ Kia? kenapa pintunya di kunci?“ tanya Fahrial dengan tangannya yang tidak berhenti untuk terus mengetuk pintu kamar.
“ Kia? jangan berbuat yang aneh – aneh ya! “ tegas Fahrial semakin khawatir.
Sementara itu Kiara berada di balkon, ia sedang melamun memikirkan nasibnya yang terkesan menyedihkan. Dia berfikir untuk apa masih ada di bumi karena sudah tak ada yang perduli, padahal tanpa Kiara sadari dia masih punya Prita dan kawan – kawan lainnya.
Keputusan Kiara untuk mengakhiri hidup semakin di perkuat karena Fahrial yang ingin menceraikannya. Dia tidak sanggup jika harus menghidupi dirinya sendiri di saat – saat berduka seperti sekarang ini.
Jika saja saat ini masih ada ibunya, setidaknya jika Kiara bercerai dengan Fahrial, ia masih punya tempat untuk berkeluh kesah, lalu sekarang ibunya telah tiada, ia sangat bingung harus bagaimana lagi meskipun masih ada Prita, tapi tetap yang paling nyaman adalah keluarga sendiri yang di butuhkan di kala sedang berada pada titik terendah.
“ Sudah wakunya bagiku untuk meninggalkan dunia ini.“ Kata Kiara sambil menitikan air matanya yang tak mau berhenti.
Fahrial meletakan baskom berisi air dingin yang dia bawa untuk mengompres luka memar Kiara ke lantai, lalu dia melangkah mundur menjauh dari pintu, kemudian dia kembali maju dengan mengeluarkan tenaganya untuk mendobrak pintu.
Satu kali gagal.
Kedua kali gagal.
Ketiga kalinya Fahrial mendobrak pintu sampai akhirnya berhasil terbuka.
BRAKK.
Ketika Fahrial masuk ke dalam kamar, ia menyaksikan dengan jelas bahwa saat ini Kiara sudah siap untuk melompat. Fahrial pun tidak ingin membuang – buang waktu dan langsung berlari cepat untuk menyelamatkan istrinya.
“ KIARA! “ Fahrial melingkarkan tangannya pada pinggang Kiara, lalu dia peluk erat dan bergerak cepat untuk menurunkan tubuh gadis itu dari atas pembatas balkon.
Kiara sontak kaget karena kini tubuhnya jatuh ke lantai bersama dengan Fahrial.
“ Kamu ini apa – apaan, sih! “ omel Fahrial, ia marah atas tindakan bodoh yang sudah Kiara lakukan.“ Apa kamu sudah kehilangan akal sampai harus memilih untuk bunuh diri, HAH?“ tanya Fahrial dengan suara meninggi, ia sangat panik sekali sampai tidak bisa mengontrol diri sehingga berbicara dengan nada membentak.
Kiara beranjak duduk, ia melotot ke arah Fahrial.“ Kenapa kamu selamatin aku? biarin aja aku mati!“ balasnya dengan nada berteriak.
“ Aku tidak akan membiarkan kamu mati, Kiara! “ Fahrial memeluk tubuh Kiara sangat erat, ia ciumi pucuk kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang. “ Aku sangat menyayangimu, maka dari itu aku ingin kamu tetap hidup.“
Tangis Kiara tumpah di pelukan Fahrial. “ Kalau kamu sayang, kenapa kamu ingin kita bercerai? “ tanya Kiara, lagi - lagi Fahrial diam tak merespon jika di tanya soal perceraian karena dia sendiri belum mempunyai jawaban yang pasti.
“ Kita bahas itu nanti Kiara. Sekarang, aku ingin kamu bangkit supaya tidak terus – menerus bersikap seperti ini. “ Balas Fahrial mengalihkan pembicaraan.
Kiara mendorong tubuh Fahrial agar terlepas dari pelukan lelaki itu.
“ Kamu tidak punya jawaban yang pasti mengenai status pernikahan kita! “ Kiara ingin bangun tetapi Fahrial tahan pundaknya agar tetap duduk.
“ Apa yang ingin kamu lakukan? “ tanya Fahrial.
“ Biarkan aku melompat. “ Jawab Kiara penuh penekanan.
“ Kamu fikir setelah bunuh diri semua masalahmu akan selesai dan semua penderitaanmu akan berakhir? “ tanya Fahrial,
“ Iya! “ jawab Kiara asal.
Fahrial menggelengkan kepalanya. “ Tidak, kamu salah! “
“ Aku tahu jika aku memutuskan untuk terjun pasti akan merasakan sakit, tapi setidaknya itu hanya sementara dan setelah itu aku gak akan merasakan sakit dan pahitnya dunia lagi. “ Jawab Kiara terdengar ngaur.
“ Apa kamu sudah siap mempertanggung jawabkan perbuatanmu di hadapan yang maha kuasa? “ pertanyaan Fahrial kali ini terdengar mengerikan bagi Kiara, ia sampai bungkam tak mampu berkata – kata.
“ Bunuh diri itu perbuatan dosa besar, bahkan lebih besar dosanya dari orang yang membunuh! “ tegas Fahrial berusaha menerangkan. “ Membunuh orang saja dosanya benar – benar dahsyat, lalu bagaimana dengan orang yang bunuh diri? Tidak bisa di bayangkan. “ Imbuh Fahrial semakin membuat Kiara takut.
“ Allah akan marah besar sama kamu, bahkan di akhirat nanti kamu akan kekal di neraaka? Kamu mau seperti itu, hah?“ Ungkapan Fahrial kali ini benar – benar mengejutkan Kiara dan membuatnya membeku dengan perasaan takut.
“ Ya, memang benar masalah dan penderitaanmu di dunia akan berkahir, tapi kamu akan menghadapi masalah yang lebih berat di akhirat. Apa yang sudah kamu perbuat harus di pertanggung jawabkan. “ Terang Fahrial seperti seorang pendakwah yang sedang berceramah dan Kiara adalah jemaahnya yang lagi menyimak.
Fahrial mengelus pipi Kiara. “ Kalau masalah di dunia, masih bisa kita hadapin dan semua akan berlalu seiring berjalannya waktu. Asal kita mau bersabar. Kalau sudah mati, tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan. “ Ungkap Fahrial membuat Kiara jadi mati kutu karena mendadak di rasuki bimbang apakah dia ingin melanjutkan untuk bunuh diri atau tidak.
Kiara diam tanpa suara, Fahrial perhatikan sepertinya gadis itu sudah mengurungkan niatnya untuk melompat.
“ Kamu masih mau tetap bunuh diri? “ tanya Fahrial seraya bangun dari duduknya. “ Balkon kita tidak terlalu tinggi. Kemungkinan jika kamu lompat hanya akan patanh tulang, kepala bocor dan kamu akan tetap hidup tetapi lumpuh. Jika kamu masih tetap keras kepala, silahkan saja melompat. Aku tidak akan melarang, “ Fahrial malah mempersilahkan gadis itu meski dalam hatinya juga tetap deg – degan kalau Kiara akan nekat melakukannya.
Kiara menatap Fahrial kesal tetapi dia masih dalam posisi duduk di lantai tak bergerak sedikitpun, ia menatap ke arah pembatas balkon, lalu kembali melirik Fahrial lagi.
“ Gimana? “ Fahrial bertelak pinggang. “ Atau kalau kamu memang sudah siap ingin bergabung dengan para penghuni neeraka, aku akan antarkan kamu ke lantai paling atas Apartemen yang terdekat dari sini? “ Fahrial bertanya dengan menantang.
Kiara menggelengkan kepalanya cepat. “ Gak mau. “ Jawabnya dengan bibir mengerucut dan wajah ketakutan.
“ Yaudah, ayo kita masuk. “ Ajak Fahrial, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Kiara berdiri.
“ Gak perlu! aku bisa sendiri! “ Kiara menepis kasar tangan Fahrial. Meskipun dia tidak jadi bunuh diri, bukan berarti kekesalannya kepada Fahrial sudah berakhir, ia masih sebal dengan lelaki itu karena tidak juga menarik keputusannya untuk bercerai.