= PEMAKAMAN =

1580 Words
Hati anak mana yang tidak hancur ketika mendengar kabar bahwa ibunya telah tiada. Jiwa dan raga bagai tak berguna, seluruh energi seakan terkuras, bahkan bibir Kiara saat ini mendadak kelu tak berfungsi seolah bingung ingin mengeluarkan jeritan atau suara tangis. Berita duka kematian ibunya membuat Kiara merasakan dunia seperti berhenti berputar pada porosnya. Tangan Kiara sampai gemetar memegang ponselnya, genangan air mulai mengumpul di kedua bola mata indahnya. Nafas Kiara begitu sesak seakan – akan dia sedang merasa kekurangan oksigen padahal saat ini udara berkeliaran bebas di sekelilingnya. BRUK… Lutut Kiara sudah tidak mampu diajak untuk bertumpu supaya tetap berdiri tegak karena dirinya benar – benar dalam keadaan sehancur - hancurnya. “ Mamah… “ Ucap Kiara terdengar lirih. Fahrial baru saja masuk ke dalam kamar, ia lihat Kiara duduk di bawah kasur dengan tubuh menyandar pada sisi tempat tidur. Dapat Fahrial saksikan istrinya itu melamun dengan tatapan kosong tetapi matanya tergenang air. Awalnya, Fahrial fikir gadis itu menangis karena keputusannya yang ingin berniat menceraikannya sehingga hal tersebut membuat Fahrial jadi tak enak hati. “ Ki—Kiara? Jangan duduk di lantai. “ Fahrial menghampiri istrinya itu, ia berdiri di hadapan Kiara. “ Bangun, Kia. “ Fahrial mengulurkan tangannya tetapi Kiara tidak merespon. Bukannya berdiri, justru Kiara malah menangis. Awalnya hanya tangisan pelan yang terdengar sampai akhirnya semua itu berubah menjadi suara jeritan bersamaan dengan isak tangis melebur jadi satu keluar dari mulut Kiara. Fahrial semakin terkejut melihat Kiara seperti itu, ia sontak berlutut di hadapan Kiara. “ Hei? Kenapa kamu sampai menangis seperti ini? “ Fahrial kebingungan. “ Ma—mamahku, meninggal, Fahri. “ Kiara menunduk, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menumpahkan tangisnya yang semakin menjadi – jadi, bahkan tubuh gadis itu bergetar hebat. “ Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. “ Fahrial tercengang mendengar kabar tersebut, ia merendahkan pandangannya menatap Kiara yang sedang menangis histeris. Tanpa banyak bicara, Fahrial langsung memeluk istrinya. “ Kia…” Fahrial peluk erat gadis itu, tanpa terasa air mata Fahrial juga ingin keluar. Ya, walaupun dia tidak terlalu dekat dengan ibunya Kiara, tapi biar bagaimana pun beliau adalah mertuanya. “ Fahri… kenapa papah dan mamahku tega ninggalin aku sendirian di dunia ini.“ Spontan Kiara ikut membalas pelukan  Fahrial sebab saat ini dia benar – benar membutuh penopang karena sedang dalam keadaan rapuh. “ Sstt… kamu jangan bicara seperti itu, Kiara. “ Fahrial usap – usap kepala gadis itu. “ Aku tidak kuat menerima kenyataan ini. Aku belum membahagiakan ibuku, Fahri. “ Isak tangis Kiara semakin menjadi – jadi di dalam pelukan suaminya, bahkan baju Fahrial sampai basah tetapi bagi lelaki itu tak mengapa. Fahrial tidak banyak berkata – kata, ia cukup mendengarkan dan memeluk Kiara karena saat ini gadis itu hanya butuh waktu untuk meluapkan kesedihannya. “ Ini gak adil buat aku! kenapa hidupku sangat menderita! Aku benci hidupku, Fahrial! “ Jerit Kiara, ia jadi teringat bahwa sebelumnya Fahrial juga ingin menceraikannya. “ Aku juga benci sama kamu! “ Kiara menyudahi pelukannya. “ Bukankah kamu juga ingin meninggalkanku? Kamu juga ingin berpisah dan membiarkan aku sendiri! Iya, kan? “ tanya Kiara berharap Fahrial menggelengkan kepalanya, tapi Fahrial terdiam tanpa reaksi. Kiara manggut – manggut. “ Sudah jelas bahwa semua yang datang di hidupku hanya sementara dan pergi meninggalkanku sendirian! “ Kiara bangun dari duduknya. “ Aku akan pergi! “ Kiara berlari cepat keluar menuju mobil karena dia ingin segera melihat ibunya untuk yang terakhir kalinya. “ Kiara, kita pergi bersama.“ Fahrial ikut mengejar gadis itu tetapi Kiara sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.“ Kia! “ teriak Fahrial namun Kiara tetap pergi tanpa menunggunya. “ Ck, Kiara memang keras kepala! “ Fahrial ikut masuk ke dalam mobilnya dan mengejar istrinya itu. ** Gundukan tanah bertabur bunga mawar dan melati itu sudah mulai di tinggalkan oleh para pengantar dan keluarganya. Kini, hanya tersisa Fahrial, Laras, Ratih dan tentu saja Kiara yang sedang berlutut di samping makam ibunya. “ Ibu pulang duluan saja bersama Laras. “ Pesan Fahrial. “ Iya, aku antar ibu pulang. Biarkan Fahrial disini temani Kiara.“ Sahut Laras karena dia mengerti situasi saat ini. Tidak mungkin jika Fahrial pergi mengantar ibunya pulang dan meninggalkan Kiara. “ Yaudah.“  Ratih setuju. Sebelum pergi, Ratih menghampiri Kiara terlebih dahulu. Meskipun Ratih sempat kesal dengan menantunya itu, tapi kini dia jadi kasihan karena gadis itu sudah menjadi anak yatim – piatu. “ Kiara, ibu pulang duluan ya. “ Pamit Ratih sambil mengusap kepala Kiara tetapi gadis itu tidak merespon, ia hanya diam saja memandangi batu nisan ibunya. Ratih mencoba memaklumi sikap Kiara seperti itu karena benar – benar sedang merasakan kesedihan amat sangat mendalam sampai tidak memperdulikan sekelilingnya. Ratih menghampiri Fahrial. “ Ibu pulang dulu ya. “ “ Hati – hati, bu. “ Fahrial mencium tangan ibunya. Setelah Laras dan Ratih pergi, Fahrial mendekati Kiara. “ Kiara, kita pulang yuk. “ Ajak Fahrial. Kiara diam. “ Kalau kamu menangis terus, nanti ibu kamu jadi tidak tenang dan ikut bersedih. “ Celetuk Fahrial. Kiara tetap bungkam. “ Yuk, pulang. “ Ajak Fahrial lagi dengan suara lembut. “ Kamu saja. “ Balas Kiara, gadis itu mendongakan kepalanya memberikan tatapan sinis kepada Fahrial. “ Untuk apa kamu masih di sini? “ “ Aku disini karena sedang menunggu kamu, Kiara. Aku tidak akan pulang jika tanpa kamu. “ Ucap Fahrial ikut berlutut di sebelah Kiara. “ Ayo kita kembali ke rumah. “ “ Tidak! “ Kiara melengos tak mau memandang Fahrial. “ Kamu sendiri saja yang pulang! “ “ Kenapa? “ Fahrial bertanya – tanya. “ Sekarang, rumahku disini! “ tegas Kiara. “ Apa maksud kamu, Kiara? “ Fahrial kaget mendengar jawaban Kiara yang sangat nyeleneh itu. Kiara tersenyum miring. “ Untuk apa aku pulang? sebentar lagi kita akan bercerai dan kamu juga pasti akan menyuruhku pergi, kan? “ “ Kita bahas soal perceraian nanti saja, Kiara. Lebih baik kamu istirahat dulu di rumah dan tenangin fikiranmu. “ Terang Fahrial sambil mengusap punggung Kiara. “ Tidak perlu di bahas! Sudah jelas pada akhirnya kamu akan menceraikanku, lalu aku akan hidup sebatang kara tanpa siapapun dan…dan… “ Kiara terisak. “ Sudahlah, lebih baik aku mati saja agar bisa bertemu mamah dan papahku! “ imbuhnya. “ Ya allah, Kiara. Kamu jangan ngomong begitu. Masih banyak orang yang sayang dan cinta sama kamu di dunia ini.“ Ungkap Fahrial agar gadis itu tidak merasa bahwa tak ada yang perduli dengannya. Kiara mengusap air matanya yang tak mau berhenti menetes. “ Ada Prita, Ody dan masih banyak yang lainnya. “ Tambah Fahrial. Kiara menoleh cepat. “ Kamu? “ tanyanya penuh penekanan, ia penasaran mengapa Fahrial tidak mengatakan secara langsung bahwa lelaki itu juga menyayangi dan mencintainya, padahal biasanya juga Fahrial selalu mengatakan itu dengan terbuka. Fahrial terdiam namun di dalam hatinya berkata.‘ Aku juga sangat mencintaimu, Kiara. Justru, Aku orang yang akan selalu sayang denganmu, ya meskipun nanti jika seandainya kita berpisah, perasaan itu akan selalu sama.  Aku tidak ingin kamu meninggalkan dunia ini, Kiara. Aku ingin kamu tetap hidup agar aku bisa melihat kamu meski nanti status kita tak lagi sama.‘ Batin Fahrial, ia sengaja tidak mengungkapkannya secara langsung karena masih kecewa dengan kebohongan Kiara soal lelaki di Restauran. Melihat Fahrial tidak menunjukkan respon sama sekali setelah gadis itu tunggu selama bebebrapa detik, akhirnya Kiara angkat suara.“ Aku anggap jawabannya tidak! Ya, kamu tidak mengharapkanku untuk tetap hidup dan juga tak mencintaiku seperti dulu!“ seru Kiara, ia bangkit berdiri, lalu berjalan pergi meninggalkan Fahrial. “ Kia… “ Fahrial ikut berjalan di belakang istrinya itu. “ Kiara, pelan – pelan jalannya. “ Ucap Fahrial karena Kiara berjalan begitu cepat seperti sedang di kejar – kejar hantu. Sampainya di parkiran, mereka berdua masuk ke dalam mobilnya masing – masing karena Kiara memang tidak mau satu mobil dengan Fahrial. Kiara melajukan mobilnya secepat kilat. “ Ya, ampun. Dia seperti pembalap. “ Fahrial mencoba untuk mengikuti mobil Kiara. Setelah keluar dari pemakaman atau mungkin lebih tepatnya ketika  sudah berada di jalan raya, Kiara semakin menambah kecepatan mobilnya. Gadis itu mengendari kendaraannya dengan kecepatan tinggi sambil menangisi hidupnya, ia merasa seolah – olah tuhan tidak adil kepadanya. Pertama, papahnya meninggal karena bunuh diri. Kedua, Kiara jatuh miskin. Ketiga, tunangannya pergi meninggalkannya. Keempat, dia terpaksa menikah dengan Fahrial orang yang tak dicintai. Terakhir, ia mendapatkan dua penderitaan sekaligus yaitu ingin di ceraikan ole Fahrial dan ditinggalkan oleh ibunya untuk selama – lamanya. Lantas, untuk apa Kiara tetap hidup di dunia ini jika semua hal – hal pahit mendominasi kehidupannya. Tangis Kiara semakin pecah, ia seperti kehilangan arah di dalam hidupnya. Seketika otaknya mendadak porak – poranda tak mampu berfikir jernih. Gadis itu benar – benar mengemudi dengan asal, bahkan hampir menabrak para pengguna jalan lainnya. Bagi Kiara, saat ini dia sudah tidak lagi memperdulikan nyawanya. Jika dia selamat ya alhamdulillah, namun jika dia kecelakaan lalu mati, maka dia sudah sangat siap menerimanya sebab tidak ada lagi sesuatu yang dapat dia jadikan alasan untuk tetap hidup. “Lebih baik aku mati saja! “ jerit Kiara sekuat tenaga melampiaskan rasa duka dalam hatinya. Disisi lain, Fahrial sedang merasa kewalahan untuk mengejar Kiara sebab istrinya itu benar – benar membawa mobil seperti seorang  pembalap yang melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh sehingga dirinya ketinggalan jauh. Namun, dapat Fahrial lihat jelas beberapa kali Kiara hampir menabrak, hal tersebut membuatnya khawatir. “ Ya allah, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Kiara. Lindungilah Kiara dari segala marabahaya ya Allah. Amin.“ Harap Fahrial, ia tak henti – henti berdoa kepada sang maha kuasa memohon keselamatan untuk Kiara karena dia sangat takut Kiara mengalami kecelakaan mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD