= KETAHUAN =

1349 Words
Mobil baru yang di tunggu – tunggu Kiara pun datang. Setelah melalui serah terima dan sebagainya, mobil itu kini telah menjadi hak milik Kiara dan sudah terparkir sempurna di sebelah mobil Fahrial. Namun, bukannya terlihat senang atau berterima kasih pada Fahrial, justru Kiara malah merengut dengan bibir mengerucut. Padahal sebelumnya Kiara sangat antusias menunggu kehadiran mobil barunya tetapi ketika kendaraan beroda empat itu datang, ia nampak tidak tertarik. “ Gimana? kamu suka gak? “ tanya Fahrial seraya menyerahkan kunci mobil itu kepada Kiara Kiara menoleh ke arah Fahrial, ia memberikan tatapan sinis. “ Aku sama sekali tidak suka mobil itu, Fahri! “ tolak Kiara seraya menjauhkan tangan Fahrial yang baru saja menyodorkan kunci ke arahnya. “ Kenapa? “ Fahrial terkejut atas penolakan yang Kiara lakukan. Awalnya, Fahrial berekspetasi bahwa Kiara akan merasa bahagia, tapi nyatanya semua itu di luar dugaan Fahrial karena istrinya itu malah menolaknya. “ Aku gak mau pakai mobil itu! “ Kiara menunjuk ke arah mobil sedan berwarna merah yang sebenarnya bagus dan banyak di pakai kalangan wanita, hanya saja Kiara merasa Fahrial tidak adil kepadanya dengan membelikan mobil yang standart sedangkan Fahrial sendiri menggunakan mobil merk terkenal BMW dan juga lebih keren dari Kiara. “ Loh, apa yang salah dengan mobil itu, Kiara? “ “ Pokoknya aku gak mau pakai mobil itu! “ tegas Kiara tetap bersikukuh menolak. “ Terus kamu maunya yang kayak gimana, Kia? “ Fahrial tetap berbicara dengan nada rendah meskipun sebenarnya cukup kesal karena sudah di usahakan membeli mobil, tapi yang Fahrial dapatkan justru respon yang tidak mengenakan. “ Teman – temanku pada pakai mobil merk ternama semua, masa aku sendiri yang berbeda! “ seru Kiara, ia melipatkan kedua tangan di depan dadanya. “ Begini saja, lebih baik kita tukeran mobil. “ Saran Kiara. “ Aku pakai mobil kamu dan biar kamu yang menggunakan mobil baru itu. “ Ungkap Kiara. Fahrial terdiam, ia melirik mobil idaman miliknya, kemudian menatap mobil baru Kiara. Kalau boleh memilih, tentu saja Fahrial tidak setuju dengan saran Kiara karena mobil BMW miliknya itu adalah kendaraan yang sejak dulu dia idam – idamkan, lalu sekarang Kiara memintanya untuk saling bertukar. ‘ Pilihan macam apa ini. ‘ Batin Fahrial. Melihat Fahrial tidak merespon semakin membuat Kiara naik pitam, ia beranggapan kalau Fahrial sangat egois tidak mau mengalah. “ Kenapa kamu diam saja? kamu gak setuju, hah? “ tanya Kiara sewot. “ Kamu benar – benar gak mau mengalah sama istri sendiri! “ Kiara menghentakkan kakinya kesal. “ Tadinya aku sangat senang karena berfikir kamu akan membelikanku mobil sport atau setidaknya kelas atas, tapi ternyata tidak. Dasar payah! “ Kiara bergegas masuk ke dalam rumah karena tidak berminat memandangi mobil baru yang tak sesuai seleranya. “ Kia… “ Fahrial berlari masuk ke dalam rumah mengejar Kiara, ia berhasil menggapai tangan gadis itu. “ Kamu jangan marah dulu, dong. “ Kiara secara mendadak berhenti melangkah karena tangannya di tarik oleh Fahrial. “ Lepasin, Fahril! “ Kiara tepis kasar tangan suaminya itu. “ Kamu tenang dulu, Kiara. “ Fahrial memegang kedua pundak Kiara, ia memberikan tatapan teduh tak ada sama sekali dia tunjukkan kekecewaan apa lagi kemarahan. “ Oke, aku akan turutin kemauan kamu. “ Ungkap Fahrial. Dia mencoba menerima saran dari Kiara dan mengikhlaskan mobil kesayangannya itu menjadi milik Kiara. Wajah muram Kiara perlahan berubah menjadi lebih cerah, ia mulai menunjukkan senyumnya. “ Kamu serius mau tukeran mobil? “ tanya Kiara untuk memastikan lagi. “ Ya, sesuai keinginanmu. “ Fahrial menunjukkan senyumnya yang tulus, ia juga memberikan belaian lembut di kepala Kiara yang selalu dia lakukan. “ Kamu jangan marah lagi ya. Maafin aku karena belum bisa membelikan mobil yang sesuai dengan harapanmu. “ Fahrial jadi merasa bersalah, padahal seharusnya dia tidak perlu merasakan hal tersebut. “ Oke, aku maafin kamu. “ Balas Kiara, ia mengadahkan tangannya kehadapan Fahrial sambil berkata. “ Mana kunci mobil kamu? “ “ Ada di kamar, aku simpan di dalam laci meja dekat kasur. “ Terang Fahrial. “ Oke, thanks. “ Ucap Kiara setelah itu dia pergi meninggalkan Fahrial menuju kamar untuk mengambil kunci tersebut. Fahrial menghela nafas seberat - beratnya. “ Baiklah, demi istri harus mengalah. “ Ungkapnya. ** Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam tetapi Kiara belum juga tertidur sedangkan sang suami sudah terlelap sejak beberapa jam yang lalu. Kiara mencolek tubuh Fahrial beberapa kali untuk memastikan apakah Fahrial benar – benar tertidur atau tidak. “ Syukurlah, Fahrial tidurnya pules banget. “ Ucap Kiara saat melihat Fahrial tidak terbangun saat dia colek beberapa kali dan Kiara merasa ini adalah kesempatan emas untuknya pergi ke luar menemui teman – temannya yang sedang berkumpul di salah satu club malam. “ Saatnya bersenang – senang! “ Kiara turun dari kasur, ia mulai bersiap – siap. Tak ingin membuang waktu terlalu lama, Kiara bergegas keluar rumah dan seperti biasa dia kembali meletakkan guling di atas bantal lalu dia tutupi selimut. Kiara hanya menutup pintu rapat – rapat tanpa di kunci karena dia tidak punya kunci cadangan lagi, ia melakukan itu agar ketika dia pulang nanti bisa langsung masuk. “ Semoga gak ada maling, deh. “ Harap Kiara karena pintu rumahnya sengaja tidak dia kunci. Kiara pun segera masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan kendaraannya pergi menuju club. Satu jam berlalu, Fahrial tak sengaja terbangun karena kebelet buang air kecil. Dia sempat menoleh ke arah tempat tidur Kiara dan berfikiran bahwa Kiara sedang ke dinginan sama seperti kemarin sehingga gadis itu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Fahrial tak menaruh curiga, ia pun pergi ke kamar mandi. Sesudah itu, Fahrial kembali naik ke atas kasur. “ Pasti Kiara kedinginan. “ Fahrial mengambil remot AC di atas nakas lalu dia atur suhunya agar tidak terlalu dingin. Setelah itu, Fahrial berniat membenarkan selimut Kiara tetapi justru Fahrial menemukan fakta yang sangat mengejutkan. “ Apa? “ Fahrial shock berat setelah mengetahui bahwa yang ada di balik selimut hanyalah sebuah guling saja. “ Ini tidak bisa di percaya! “ serunya masih merasa tercengang. “ Kemana Kiara? “ Fahrial jadi bertanya – tanya pada dirinya sendiri. Daripada dia penasaran, akhirnya Fahrial memutuskan untuk mencari istrinya itu ke lantai bawah dengan beranggapan barang kali Kiara ada di halaman belakang, dapur atau mungkin sedang bersantai di ruang tamu. Fahrial turun ke lantai bawah, ia telusuri semua ruangan bahkan sampai ke dalam toilet dia cari tetapi tidak juga di temukan. “ Kiara, dimana kamu? “ Fahrial mulai kebingungan. “ Aku telefon aja, deh. “ Fahrial mulai mencari kontak Kiara pada ponsel yang kini berada dalam genggamanya. Sementara itu, saat ini Kiara yang berada di club lagi asik bersenang – senang bersama teman – temannya dan ponselnya sengaja dia matikan agar tidak ada yang mengusik waktunya. NOMOR YANG ADA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF. “ Tidak aktif. “ Ucap Fahrial saat mendengar bukan Kiara yang menjawab panggilannya, melainkan operator telepon. Mata Fahrial memandangi sekeliling ruang tamu, sampai akhirnya tatapannya tertuju ke arah pintu keluar. “ Apa jangan – jangan…” Fahrial mulai menduga – duga, ia berjalan cepat ke arah pintu keluar dan Fahrial di buat terkejut lagi karena pintu rumah tidak terkunci serta ketika melihat ke arah parkiran ternyata mobil BMW miliknya tidak ada. Itu berarti, Kiara pergi membawa mobilnya. Sebenarnya tidak masalah bagi Fahrial karena mereka memang sudah sepakat untuk bertukar, tapi yang jadi permasalahannya saat ini adalah Kiara pergi tengah malam sendirian. “ Kemana dia malam – malam begini. “ Fahrial nampak cemas, ia kembali menelepon Kiara tetapi masih sama seperti tadi yaitu tidak aktif. Fahrial kembali masuk ke dalam rumah, tak lupa dia kunci pintu tersebut, lalu kembali naik ke atas. Dia memilih untuk menunggu Kiara di dalam kamar. “ Kiara… kenapa kamu bandel sekali keluar jam segini! “ serunya, mata Fahrial melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Semestinya saat ini Fahrial bisa tidur tenang dan beristirahat karena besok harus bekerja tetapi karena Kiara, ia jadi menunda tidurnya. “ Aku tidak akan tidur sebelum Kiara pulang. “ Ucap Fahrial, ia duduk di atas kasur dengan segenap fikiran yang memenuhi otaknya. Fahrial benar – benar tidak tenang dan merasa risau karena istrinya keluyuran tanpa izin, bahkan Kiara telah memanipulasi keadaan dengan menjadikan guling sebagai tipuaan agar Fahrial mengira itu adalah dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD