Bersenang – senang.
Itulah yang Kiara rasakan dan selalu ingin dia lakukan. Baginya, dunia gemerlap sudah menjadi sebagian hidupnya. Kalau dulu, Kiara memang bersikap sebagai anak baik – baik, namun semenjak hidupnya mengalami banyak masalah dan penurunan, pergaulannya pun ikut berubah atau mungkin bisa di bilang pergaulan bebas.
Waktu Kiara jatuh miskin, semua teman – temannya pergi meninggalkan Kiara, tapi Prita datang menjadi teman barunya, bahkan perempuan itu memperkenalkan Kiara kepada Ody dan beberapa teman yang lainnya. Meskipun Kiara sadari pergaulan mereka sangat bebas, tapi setidaknya mereka bisa di andalkan di saat susah maupun senang tanpa memandang status kekayakaan.
“ Kia, jangan minum terlalu banyak. “ Ucap Prita memperingati Kiara yang sejak tadi bulak – balik meneguk Beer.
“ Iya – iya, sekali lagi. “ Kiara meneguk satu gelas minuman beralkohol itu sampai habis, lalu dia kembali berjalan ke tengah menuju Dance Floor untuk berjoget melepaskan penat sedangkan teman – temannya duduk saja sambil ngobrol.
Di saat Kiara sedang asik berjoget, tiba – tiba saja ada seseorang yang menepuk pundak Kiara.
“ Hei? “ sapa seorang lelaki.
“ Beckham? “ Kiara tersenyum saat mengetahui yang baru saja menghampirinya adalah seorang pria tampan berwajah blasteran yang kemarin malam berkenalan dengannya.
“ Akhirnya kita ketemu lagi. “ Kata Beckham ikut tersenyum.
“ Kamu sering ke club ini juga ya? “ tanya Kiara dengan suara berteriak agar terdengar oleh Beckham sebab alunan musik sangat keras sehingga jika dia bicara pelan tidak akan terdengar.
“ Lumayan. “ Jawab Beckham, ia mengeluarkan ponselnya. “ Boleh minta nomor w******p kamu gak? “ pinta Beckham agar dia bisa berkomunikasi dengan Kiara lewat chat pribadi.
“ Oh, iya. Boleh – boleh. “ Kiara mengambil ponsel Beckham dan mulai mengetik nomor teleponnya. “ Nih, udah. “ Kiara memberikan kembali ponsel Beckham.
“ Makasih, Kiara. “ Beckham tersenyum puas karena berhasil mendapatkan nomor perempuan yang sangat menarik baginya. “ Mau minum bareng? “ tawar Beckham.
“ Gak, makasih. “ Tolak Kiara.
“ Oke. “
Mereka berdua asik berjoget ala – ala anak muda pada umumnya kalau sudah berada di Dance Floor Club, sesekali mereka berdua tertawa dan ngobrol. Beberapa kali Beckham menyentuh Kiara, tapi tidak ada protes atau penolakan dari Kiara, bahkan gadis itu sama sekali tak memberitahu kepada Beckham bahwa dia sudah menikah, hal tersebut Kiara lakukan supaya Beckham tidak menghindarinya.
**
Mata Fahrial sudah mulai sayup – sayup, ia mengantuk, merasakan lelah badan dan juga capek fikiran menunggu kepulangan Kiara. Kalau dulu sebelum menikah yang membuat Fahrial pusing hanyalah masalah pekerjaan, kini Fahrial jadi merasakan double, yakni masalah pekerjaan dan juga istrinya yang selalu saja membuatnya kepikiran.
Sejak tadi Fahrial hanya termenung sambil menunggu Kiara kembali, beberapa kali dia menguap karena kantuk mulai menyeraangnya. Untuk menghilangkan rasa ngantuk, Fahrial berniat membuat kopi agar dia tetap terjaga sampai Kiara pulang. Fahrial kembali turun ke lantai bawah menuju dapur. Dia lihat jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.
“ Kiara keterlaluan. “ Ucap Fahrial kecewa.
Ketika Fahrial sedang membuat kopi, ia mendengar samar – samar bunyi pagar rumahnya di dorong, lalu di susul suara mobil masuk ke area parkiran di depan rumahnya.
“ Mungkinkah itu Kiara? “ Fahrial terdiam sambil menunggu apakah berikutnya akan terdengar suara pintu di ketuk atau tidak karena jika memang itu Kiara sudah pasti gadis itu akan mengetuknya.
Disisi lain, Kiara baru saja turun dari mobil, ia tutup dulu pagar rumahnya, kemudian berjalan menuju pintu. Malam ini Kiara tidak minum alkohol terlalu banyak karena Prita mencegahnya dengan alasan Kiara pulang membawa mobil sendiri, ia takut Kiara tidak fokus menyetir jika dalam keadaan teler.
Meskipun Kiara hanya minum sedikit, namun tetap saja saat ini gadis itu sedang berada di bawah pengaruh minuman beralkohol.
“ Loh, kok terkunci? “ Kiara terheran – heran saat dia mendorong pintu ternyata tidak terbuka. “ Tadi gue kunci atau enggak ya pintu rumah? “ Kiara jadi bingung sendiri, ia bahkan tidak begitu ingat karena saat ini dalam keadaan sedikit mabuk. “ Ah, sudahlah. Naik tangga saja. “ Ucap Kiara, untung saja dia masih punya cara lain untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kiara kembali mengambil tangga yang Fahrial letakkan di sudut halaman depan, kemudian sama seperti kemarin, yaitu Kiara kembali menaiki tangga tersebut untuk menuju balkon kamarnya.
Sementara itu, Fahrial yang sejak tadi terdiam di dapur pun mulai melangkahkan kakinya kembali ke lantai atas setelah merasa bunyi pagar dan mobil yang dia dengar tadi mungkin bukanlah Kiara karena tidak ada tanda – tanda gadis itu mengetuk pintu untuk masuk.
Sampainya di kamar, Fahrial duduk di sofa sambil menikmati kopi hangat yang tadi dia buat. Di tengah – tengah keheningan, tiba – tiba saja terdengar suara seperti ada yang sedang naik ke atas balkon.
“ Suara apa itu? “ Fahrial bangun dari duduknya, ia berjalan menuju pintu balkon. Begitu dia buka, Fahrial terkejut melihat Kiara yang sedang berusaha melewati pembatas untuk naik ke atas balkon.
“ Kiara? “ Fahrial tercengang menyaksikan apa yang sedang Kiara lakukan.
Kiara yang baru saja berhasil tiba di atas balkon di buat melongo ketika melihat Fahrial sudah ada di hadapannya, ia tercengang bahkan tak menyangka kalau Fahrial akan memergokinya dalam keadaan seperti ini.
“ Fa—Fahrial? “
Fahrial melongok ke arah bawah, ia temukan sebuah tangga yang di gunakan oleh Kiara untuk mencapai balkon, kemudian Fahrial kembali menghadap Kiara.
“ Sudah berapa kali kamu melakukan hal seperti ini? “ tanya Fahrial memberikan tatapan serius.
“ Mau jawaban jujur atau bohong. “ Balas Kiara terkesan meledek.
“ Kiara aku sedang serius! “ Fahrial melemparkan tatapan mendalam.
“ Baiklah. “ Kiara membelalakan matanya. “ Sudah dua kali. “ Jawab Kiara.
“ Berarti, waktu kemarin tangga yang aku temukan berada di bawah balkon itu ternyata kamu yang pakai, kan? bukan orang lain ataupun rampok yang mencoba untuk menyusup ke rumah kita? “ tanya Fahrial lagi seperti sedang mewawancarai narasumber.
“ Ya, itu aku. “ Jawab Kiara tenang.
Fahrial mengerutkan hidungnya saat mencium bau alkohol menyengat dari mulut Kiara. “ Jadi, kamu keluar tengah malam begini hanya untuk mabuk – mabukan? “ tanya Fahrial lagi tetapi kali ini dengan nada penuh penekanan.
“ Ya, terus kenapa? “ Kiara masih terlihat santai, ia tidak merasa takut ataupun merasa bersalah karena sudah terciduk kesalahannya oleh Fahrial.
“ Kamu masih tanya kenapa? “ Fahrial menajamkan tatapannya untuk yang pertama kalinya, ia merasa harus tegas kepada Kiara yang sudah kelewat batas. “ Apa pantas seorang perempuan yang sudah menikah, keluar malam – malam tanpa izin suaminya dan bahkan perginya itu untuk mabuk – mabukan! “ Fahrial bicara dengan nada agak tinggi.
Kiara tersentak kaget saat mendengar Fahrial bicara kepadanya dengan suara sedikit membentak bahkan matanya melotot saat memandangnya.
“ Apa pantas seorang suami membentak – bentak istrinya? “ balas Kiara dengan nyolot, nafasnya sedikit terputus – putus sebab saat ini Kiara dalam keadaan shock karena untuk pertama kalinya Fahrial bersikap seperti ini kepadanya.
Fahrial mendadak terdiam ketika Kiara bicara seperti itu, Fahrial sadar seharusnya dia tidak bersikap begitu, namun Fahrial mencoba untuk kembali bicara kepada Kiara tetapi kali ini dengan nada rendah.
“ Kamu habis darimana? jawab yang jujur padaku, Kiara? “ tanya Fahrial, ia melembut – lembutkan suaranya.
“ Habis dari club sama teman – teman. “ Selesai menjawab, Kiara berjalan masuk ke dalam kamar.
Fahrial mengikuti Kiara masuk ke dalam. “ Kenapa kamu tidak bilang padaku, Kia? “
“ Karena kalau aku bilang, sudah pasti kamu tidak akan mengizinkanku untuk pergi bersama teman - temanku. “ Balas Kiara seraya melemparkan asal tas miliknya ke atas sofa.
“ Aku pasti akan mengizinkanmu untuk pergi bersama teman – temanmu, tapi—“ Belum selesai Fahrial bicara, Kiara langsung memotong pembicaraannya.
“ Tapi, apa? pasti kamu tidak akan memberiku izin jika aku perginya ke club, kan? “ Ujar Kiara.
“ Ya, benar. Aku akan membebaskanmu main dengan teman – temanmu, tapi tidak untuk mabuk – mabukan. “ Terang Fahrial. Tak banyak yang Fahrial tuntut dari Kiara, tapi setidaknya kali ini Kiara harus menuruti perintahnya supaya tidak pergi ke club untuk mabuk – mabukan karena itu juga demi kebaikan Kiara.
Kiara membalikkan badannya untuk berhadapan dengan Fahrial, ia mengerutkan keningnya, lalu tersenyum tipis. “ Kamu tidak berhak mengaturku, Fahri! aku mau pergi kemana pun, itu bukan urusanmu! “ seru Kiara.
“ Tentu saja ini menjadi urusanku, Kia! “ tegas Fahrial.
“ Urus saja hidupmu sendiri. “ Kiara ingin melangkah menjauh tetapi tangannya di tarik oleh Fahrial.
“ Kia—“
“ Lepaskan, Fahri! “ bentak Kiara. “ Kamu ini terlalu repot jadi orang! Memangnya kamu ini siapa sehingga merasa berhak mengatur hidupku? “ Protes Kiara penuh emosi.
“ Aku ini suami kamu, Kia! Aku tidak bermaksud untuk mengatur hidupmu, tapi aku hanya ingin kamu mengerti hal yang tidak seharusnya kamu lakukan dan kamu harus tahu batasan! Itu saja! “ balas Fahrial dengan raut wajah menahan kesal.
“Baiklah. “ Kiara manggut – manggut. “ Status kamu memang suamiku, tapi kamu tidak berhak membatasi apa yang harus aku lakukan karena aku yang menjalankan kehidupanku sendiri, bukan kamu! “ Kiara menarik tangannya kasar hingga terlepas dari genggaman Fahrial. “ Aku capek mau tidur! “
“ Tunggu dulu. “ Fahrial kembali mencegah Kiara.
“ Apa lagi sih, Fahri! Biarkan aku beristirahat! “ Keluh Kiara, kesabarannya terus saja di uji oleh Fahrial.
“ Kita belum selesai bicara, Kiara. “ Balas Fahrial, ia menarik Kiara menuju sofa dan memaksa Kiara duduk di sana untuk melanjutkan pembicaraan.
“ Apa lagi yang harus di bicarakan? “ Kiara benar – benar jengkel dengan Fahrial yang terkesan terlalu memperpanjang masalah.
“ Kita harus buat peraturan. “ Kata Fahrial.
“ Hah? peraturan? “ Kiara tertegun mendengarnya.
“ Ya. “ Fahrial memicingkan matanya ke arah Kiara. “ Mulai besok, kamu tidak boleh keluar malam lagi. “
“ Gak bisa! “ sahut Kiara tak terima. “ Kalau aku mau main sama teman – temanku gimana? “
“ Aku tidak melarang kamu main dengan temanmu, Kia. Jika kamu ingin pergi bersama temanmu, maka jam delapan malam harus sudah ada di rumah. “ Terang Fahrial menjelaskan peraturan yang harus Kiara patuhi.
“ Aku juga tidak membatasi kamu mau main dari jam berapa, hanya saja tidak boleh keluar pada malam hari. Ya, kamu bisa keluar siang atau sore. Simpel, kan? “ Tambahnya.
Kiara melongo, tensi darahnya mendadak meningkat.
“ Oh iya, satu lagi. Kamu tidak boleh keluyuran tanpa izin dariku dan juga tidak boleh meminum alkohol lagi. “ Apa yang telah Fahrial beberkan tentu saja tidak dapat Kiara terima, gadis itu sangat keberatan.
Kiara menggebrak meja. “ Aku gak terima! “ Kiara langsung naik pitam karena semua larangan yang Fahrial berikan sangat menggangu kebebasannya.
“ Kamu sudah tidak waras ya, Fahri! Aku tidak akan pernah menjalankan peraturan itu! “ tegas Kiara, matanya melotot seperti ingin keluar dari cangkangnya.
“ Jadi, peraturan seperti apa yang kamu mau? “ Fahrial ingin tahu apa yang sebenarnya Kiara inginkan.
“ Aku ingin bebas. Tidak ada peraturan, tidak ada larangan dan biarkan semua berjalan seperti semestinya. “ Kiara bangun dari duduknya.
“ Kalau kamu ingin terbebas, lebih baik kita hidup masing – masing saja. “ Balas Fahrial membuat Kiara membeku mendengarnya, sedangkan Fahrial sendiri ikut terkejut atas apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Sejujurnya, Fahrial juga tidak sadar dengan apa yang dia katakan tadi karena Fahrial sedang emosi sehingga tidak dapat mengontrol dan menyaring ucapan yang akan keluar dari mulutnya.
Sekarang, Fahrial jadi panik sendiri karena takut mendengar respon dari Kiara.
Kiara mengangguk pelan, ada kerisauan yang tercetak di wajahnya, ia menggertakkan giginya karena menahan emosi. “ Yaudah kalau memang itu mau kamu. Ceraikan saja aku! “ Kiara bicara dengan sewot, bahkan dengan sengaja dia ambil gelas kopi milik Fahrial lalu dia banting ke lantai.
PRANNKK….
Fahrial tercengang melihat aksi Kiara yang tiba – tiba saja membanting gelas, ia tidak menyangka kalau respon Kiara akan seperti ini.
“ Aku benci sama kamu, Fahri! “ dengan mata berkaca – kaca, Kiara yang sudah lelah segera berjalan menuju kasur, bahkan dia tidak sempat untuk mengganti pakaiannya.
“ Kiaa… “ Suara Fahrial terdengar lirih, ia mengusap wajahnya kasar atas kebodohan yang baru saja dia lakukan. Fahrial sengaja tidak mengejar Kiara karena yakin hal itu akan semakin memperburuk keadaan.
Kiara langsung saja merebahkan tubuhnya di atas kasur, menutupi seluruh badannya dengan selimut, lalu dia menangis di bawah lindungan selimut tebal.
Kiara menyalahkan semua keadaan menyedihkan ini kepada papahnya yang telah memutuskan untuk bunuh diri dan meninggalkan banyak hutang karena sejak saat itulah kehidupannya mulai hancur.
Jika saja papahnya tidak terkena masalah dan bunuh diri, sudah pasti hidupnya akan baik – baik saja, bahkan Kiara tidak perlu menikah dengan Fahrial hanya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Saat ini, Kiara juga jadi ikut cemas memikirkan nasibnya jika bercerai dengan Fahrial dalam waktu dekat ini karena dia belum menyimpan banyak uang dan harta dari lelaki itu, tentunya jika berpisah dengan Fahrial sudah pasti Kiara tidak akan mendapatkan apapun.
Di tambah lagi saat ini Kiara baru saja menikmati indahnya hidup tanpa menanggung beban dan memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan uang. Ya, meskipun jika nanti Kiara bercerai dengan Fahrial tidak akan di tuntut lagi oleh ibunya untuk menikah dengan pria tua karena hutang papahnya sudah di lunasi, namun tetap saja Kiara harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari karena sudah bukan tanggungan Fahrial lagi.
Semua pemikiran itu membuat kepala Kiara pusing dan menyebabkan tangisnya semakin sesegukan.
Di sisi lain, saat ini Fahrial sedang membereskan lebih dulu pecahan beling dari gelas yang tadi Kiara banting. Setelah bersih, Fahrial memilih untuk naik ke atas kasur.
Ketika sudah berada di atas kasur, Fahrial mendengar suara tangisan pelan dari balik selimut Kiara dan hal tersebut membuat hatinya bagai teriris karena dia merasa belum sempat membahagiakan Kiara tetapi kini sudah membuat gadis itu menangis.
‘ Kiara, maafkan aku. ‘ Batin Fahrial, ia sudah menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Kiara tetapi tidak jadi karena takut gadis itu tambah marah kepadanya.
Fahrial pun memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang menatap langit – langit kamar sambil memikirkan langkah apa yang harus dia ambil untuk membuat biduk rumah tangganya yang baru seumur jagung ini membaik dan jangan sampai terjadi perceraian.
**
Fahrial sudah rapih dengan pakaian kerjanya, ia juga telah menyiapkan sarapan roti selai untuk Kiara dan seperti biasa Fahrial letakkan di atas meja samping kasur.
Tak lupa, Fahrial tulis sesuatu pada stiker label yang kemudian Fahrial tempelkan pada gelas minuman supaya nanti Kiara bisa baca.
“ Aku berangkat kerja dulu ya, Kia. “ Fahrial pandangi sebentar wajah Kiara sebelum akhirnya dia pergi.
Tibanya di parkiran kantor, Fahrial tak sengaja bertemu dengan Laras yang juga baru saja sampai. Laras memperhatikan mobil yang Fahrial pakai bukan yang seperti biasanya, melainkan saat ini Fahrial ke kantor menggunakan mobil baru yang Fahrial beli untuk Kiara.
“ Fahri? “ Laras menghampiri Fahrial yang baru saja turun dari mobil, ia perhatikan wajah lelaki itu nampak sedikit muram dan terlihat masih mengantuk.
“ Eh, Laras. “ Fahrial tersenyum tipis.
“ Itu… “ Laras menunjuk ke arah mobil Fahrial. “ Kenapa kamu yang pakai mobil Kiara? “
Fahrial menghela nafas berat. “ Rumit. “ Singkat Fahrial, ia mulai melangkahkan kakinya berjalan masuk ke dalam gedung di ikuti Laras.
“ Ada masalah apa lagi? “ Laras sudah siap pasang telinga untuk mendengarkan keluh kesah Fahrial yang pastinya membahas tentang Kiara…Kiara…dan selalu Kiara.
“ Kiara gak mau pakai mobil yang aku belikan kemarin karena menurutnya itu mobil murahan dan dia maunya itu mobil mahal seperti punyaku. “ Jelas Fahrial langsung dapat di mengerti oleh Laras.
“ Aku tahu, pasti Kiara meminta kamu untuk bertukar mobil? “ tebak Laras tepat sasaran.
“ Ya, kamu benar. “ Jawab Fahrial lemas seraya menekan tombol lift.
“ Padahal, apa salahnya dengan mobil yang kamu beli? Itu bagus, kok. Bahkan aku sebagai perempuan lebih suka mobil sedan seperti itu, apalagi warnanya merah. “ Ungkap Laras agak kecewa dengan Kiara yang tidak menghargai pemberian suaminya.
“ Aku juga tidak mengerti. “ Balas Fahrial.
Saat lift terbuka, mereka berdua masuk ke dalam menuju lantai tempat mereka bekerja.
Laras memperhatikan Fahrial, sepertinya ada yang sedang di rasakan oleh lelaki itu. “ Selain itu, ada masalah apa lagi? “ tanya Laras lagi karena dia yakin tidak hanya soal mobil saja yang sedang Fahrial fikirkan.
Fahrial melirik Laras. “ Rumit. “ Kata Fahrial lagi.
“ Ya, memang selalu rumit. “ Laras terkekeh. “ Jadi, apa yang sedang terjadi antara kamu dan Kiara? “
Pintu lift terbuka, mereka berdua keluar berjalan menuju ruangan.
“ Nanti saja aku ceritakan kalau sudah di ruangan. “ Jawab Fahrial karena tak mungkin baginya bercerita sementara itu saat ini di koridor kantor ada banyak para karyawan yang mungkin saja nanti akan mendengar apa yang dia bicarakan pada Laras.
“ Oke. “
Sampainya di ruangan, Laras segera menghampiri Fahrial. Untungnya saat ini ruangan kerja mereka berdua masih sepi, hanya ada Laras dan Fahrial saja dan ini menjadi kesempatan bagi Fahrial untuk memanfaatkan waktu sebagai sesi curhat dengan Laras.
“ Ayo cerita. “ Laras duduk di hadapan Fahrial, ia sudah siap menjadi tempat untuk menuangkan isi hati dan fikiran Fahrial.
“ Jadi begini ceritanya… “ Fahrial mulai menjelaskan secara rinci apa yang dia alami tadi malam dan perdebatan yang terjadi antara dirinya dengan Kiara, sedangkan Laras menyimak betul – betul dan agak kaget mendengarnya.
“ Ini benar – benar rumit. “ Ungkap Laras setelah mendengar cerita Fahrial.
“ Terakhir, aku sempat berkata bahwa jika Kiara ingin kebebasan, lebih baik hidup masing – masing saja dan saat itu Kiara menjawab agar aku menceraikannya. “ Jelas Fahrial dengan hati pilu nan terluka mengingat kata – kata itu.
Kalau di tanya marah dan kecewa dengan perilaku Kiara, sudah pasti jawabannya ‘IYA‘ , namun jika Fahrial di suruh memilih untuk bertahan atau bercerai, tentu saja Fahrial akan memutuskan untuk tetap bertahan karena sudah lama dia menunggu waktu agar bisa memiliki Kiara, oleh sebab itu Fahrial akan merasa sangat bertindak bodoh jika memutuskan untuk berpisah dengan Kiara.
“ Kalau bisa, apapun masalahnya dan meskipun itu sangat fatal, sebaiknya jangan pernah ada kata perceraian. “ Tambah Laras memperingati sahabatnya, ia lihat nampak ekspresi frustasi dari wajah Fahrial.
“ Ya, Laras. Aku juga tidak ingin bercerai dengan Kiara. “ Mata Fahrial jadi berkaca – kaca karena takut kehilangan gadis itu.
“ Fahri, sepertinya pola fikir Kiara belum matang karena prinsip hidupnya masih untuk bersenang – senang saja. “ Ucap Laras setelah mendengar cerita Fahrial mengenai sikap gadis itu.
“ Terus aku harus apa, Ras? “ terpampang keputus’asaan dalam wajah dan cara Fahrial bicara.
“ Nanti kalau kamu sudah sampai di rumah, kamu minta maaf sama Kiara dan bicarakan gimana baiknya. Jangan kamu marah - marahin Kiara karena orang yang berwatak keras tidak akan lunak jika di balas dengan kekerasan juga. “ Saran Laras lagi dan lagi.
“ Baiklah, aku akan meminta maaf pada istriku. “ Ucap Fahrial dari dalam lubuk hatinya. Dia akan melakukan apapun agar Kiara mau memaafkannya dan tetap hidup bersamanya.