Kiara menyantap lahap soto babat dihadapannya, sedangkan Fahrial nampak tidak begitu bersemangat karena dia memang tak menyukai makanan tersebut.
“ Fahri, kenapa gak dimakan?“ tanya Kiara melihat soto di mangkuk tidak tersentuh sedikitpun karena Fahrial hanya mengaduk – aduknya saja.
“ Aku gak lapar, Kia.“ Bohong Fahrial.
“ Bilang dong, dari tadi.“ Kiara menarik mangkuk soto beserta sepiring nasi milik Fahrial ke hadapannya, lalu gadis itu santap tanpa jeda.
Fahrial tertegun, ternyata Kiara kalau makan sudah seperti kuli bangunan, sangat banyak. “ Pelan – pelan, Kia.“ Ucap Fahrial memperingati.
“ Kamu gak tau aja, kemarin pas kita nikah, aku itu gak makan sama sekali dan baru hari ini aku isi perut. “ Ungkap Kiara karena pada saat acara sakral itu dia benar – benar tidak memiliki nafsu makan meski sebenarnya perut Kiara keroncongan.
“ Kamu serius?“ Fahrial agak terkejut mendengarnya, pasalnya waktu mereka berdua ganti pakaian dan istirahat sebentar Kiara izin ke belakang untuk makan.
“ Iya, serius.“ Kiara manggut – manggut.
“ Terus? Kemarin kamu kebelakang ngapain? ”tanya Fahrial penasaran.
“ Ngerokok.“ Dengan santainya Kiara jawab begitu.
Mulut Fahrial menganga, matanya melebar mendengar sang istri berkata seperti itu, bisa – bisanya pada saat lagi jadi pengantin gadis itu menyempatkan diri untuk merokok. Kalau Fahrial tahu saat itu Kiara ingin merokok sudah pasti dia akan melarangnya.
“ Kia, merokok itu tidak baik untuk kesehatan kamu.“ Kata Fahrial menasihati.
“ Buktinya, sampai detik ini aku masih sehat.“ Jawab Kiara tenang tanpa ekspresi.
“ Iya sekarang masih sehat, tapi kamu gak tau kan, kedepannya akan ada masalah kesehatan apa yang kamu alami. “ Balas Fahrial mewanti – wanti.
“ Oooh!“ Kiara menyudahi aktivitas makan sotonya, ia melemparkan tatapan tajam ke arah Fahrial. “ Jadi, kamu nyumpahin aku supaya sakit? begitu maksud kamu, hah?“
“ Bukan gitu, Kia… ”
“ Udahlah, kamu itu emang selalu nyari gara – gara sama aku!“ Kiara mengelap bibirnya dengan tissue. “ Aku udah kenyang.“
“ Yaudah.“ Jawab Fahrial tak bertenaga, ia cukup kecewa pada Kiara yang tak mendengarkan nasihat dan selalu salah tanggap atas apa yang dia katakan.
Fahrial segera membayar makanan, setelah itu dia keluar bersama Kiara.
“ Fahri aku mau beli cemilan dulu buat dirumah.“ Kiara menunjuk ke arah Supermarket yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. “ Kita belanja disana aja. “
“ Oke.“ Fahrial menurut saja meski saat ini perutnya keroncongan.
Saat berjalan, Fahrial yang berada disebelah Kiara melirik tangan istrinya itu, ia tersenyum kemudian menautkan jari – jemarinya pada tangan Kiara.
Kiara menundukkan kepalanya untuk melihat tangannya yang kini bergandengan dengan Fahrial. “ Kenapa kamu tuntun? “ tanya Kiara dengan tatapan tak suka.
“ Gak apa – apa, biar so sweet aja gitu jalan sambil gandengan. “ Balas Fahrial senyam – senyum sendiri.
“ Aku bukan anak kecil, Fahri. “ Kiara menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Fahrial. “ Aku bisa jalan sendiri tanpa kamu gandeng. “
“ Aku gak bilang kamu anak kecil, kan? “ Fahrial kembali menggenggam tangan Kiara. “ Apa salahnya sebagai suami menuntun istrinya saat berjalan? “
“ Lepaskan! Aku gak suka, Fahri.“ Ujar Kiara kembali menarik tangannya.
Fahrial memandang tangannya kecewa karena sudah tidak saling bertautan, padahal hal sederhana seperti tadi saja sudah cukup menyenangkan bagi Fahrial tetapi nampaknya tidak dengan Kiara.
‘ Sabar, Fahri. ‘ Batin Fahrial. Dia lihat saat ini Kiara berjalan agak sedikit berjauhan dengannya seperti sedang menjaga jarak supaya dirinya tidak mencoba untuk menggandeng tangannya lagi.
Fahrial tidak memaksa Kiara lagi untuk bergandengan, ia biarkan saja apa kemauan gadis itu. Alhasil, saat ini mereka berdua jalan sejajar tetapi seperti orang asing yang tak saling kenal.
Sampainya di dalam Supermarket, Kiara menarik keranjang troli lalu dia berikan kepada Fahrial. “ Nih, kamu yang bawa.“ Suruhnya.
“ Oke.“ Sekali lagi, Fahrial selalu saja mengiyakan perintah gadis itu.
Fahrial mengikuti kemana pun Kiara berjalan, gadis itu mengambil banyak sekali cemilan sampai troli yang Fahrial dorong sudah hampir penuh. Dalam hati Kiara, ia sangat senang sekali bisa berbelanja sesuka hati tanpa melihat harga karena Kiara tahu pasti Fahrial punya banyak uang untuk membayar semua yang dia beli.
“ Kiara, kamu yakin beli cemilan sebanyak ini? ”tanya Fahrial ketika belanjaan yang Kiara beli sudah hampir meluber dari keranjang troli.
Kiara berhenti melangkah, ia menghadap Fahrial. “ Harusnya aku yang tanya, kamu yakin atau enggak untuk bayar semua ini. “ Celetuk Kiara, ia memicingkan matanya. “ Atau kamu gak terima lihat istrinya belanja banyak? “ Imbuhnya.
“ Bukan gitu, Kia.“ Fahrial mendekati Kiara. “ Kamu mau belanja sebanyak apapun juga pasti aku beliin, tapi kalau beli berlebihan seperti ini mubazir. “
“ Gak akan mubazir, Fahrial. “ Kiara membalikkan badannya membelakangi Fahrial sambil berkata. “ Nanti malam teman – temanku mau datang kerumah, makannya aku beli makanan sebanyak ini. “ Terangnya, ia ambil lagi salah satu makanan ringan dan ingin Kiara letakkan di atas keranjang tetapi sudah tidak muat.“ Yah, gak muat. “ Keluhnya, ia melirik Fahrial. “ Ambil keranjang yang ditenteng dong, Fahri. “ Perintahnya seenak jidat.
Fahrial tarik nafas dalam – dalam, lalu dia hempaskan secara perlahan, kemudian dia mencoba untuk tersenyum. “ Oke, tunggu sebentar ya nyonya Kiara.“ Ucap Fahrial, ia bergegas pergi ke depan untuk mengambil keranjang yang tenteng karena yang di dorong sudah penuh.
Kiara tersenyum saja melihat Fahrial sangat nurut sekali kepadanya tanpa banyak membantah. “ Setidaknya ada manfaat juga nikah sama Fahrial, walaupun gue gak cinta. “ Gumam Kiara.
Fahrial kembali lagi mendekati Kiara dengan membawa keranjang, tak membutuhkan waktu lama keranjang itu pun langsung terisi penuh. Fahrial agak kerepotan karena dia mendorong troli sambil menenteng keranjang yang satunya lagi, sementara itu Kiara berjalan santai di depannya.
“ Kiara…Kiara, kenapa kamu ngeselin banget, untung cinta.“ Umpat Fahrial, kalau bukan karena dia sangat mencintai dan menyayangi Kiara sepnuh hati, rasanya ogah banget dia begini karena terkesan seperti pembantu Kiara.
Ketika lagi antri di kasir, Kiara tak sengaja bertemu dengan temannya.
“ KIARA!“ teriak seorang pria yang agak – agak lekong seperti perempuan.“ Ya ampun, penganten baru auranya makin memancar ya. “
“ Ody, lo kenapa kemarin gak datang, hah!“ omel Kiara kepada temannya yang antri tepat di depannya.
“ Sorry banget, kemarin gue ada acara di luar daerah.“ Terang Ody dengan nada bicara terdengar seperti perempuan.
“ Yaudah nanti malam lo datang ke rumah gue ya, anak – anak juga pada mau kumpul dirumah gue. Nanti gue kirim lokasinya di w******p lo ya? “ Ucap Kiara.
Ody mengangguk semangat.“ Oke shay, gue pasti datang. “ Balas Ody.
“ Ngomong – ngomong kemana suami lo? “ tanya Ody.
Kiara sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya menunjuk ke arah lelaki yang berdiri tepat di belakangnya. “ Itu.“
“ Eh—gue kira dia supir lo lagi bawain belanjaan. “ Ucap Ody asal – asalan membuat Fahrial agak kesal mendengarnya. “ Tapi, kalau di lihat – lihat suami lo ganteng banget, jadi gak cocok dimirip – miripin sopir. “ Imbuh Ody membenarkan ucapannya yang tadi salah sangka, ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Fahrial. “ Kenalin nama gue Ody saputri. “
Alis Fahrial terangkat satu. “ Saputri?“
“ Sebenernya Saputra, tapi beberapa tahun terakhir gue lebih pilih ubah nama jadi Saputri. “ Balas Ody dilanjuti tawa kecil. “ Nama lo siapa? “
“ Fahrial.“
“ Laki lo ganteng bener bikin gue gemes pengen ajak tidur.“ Ledek Ody sambil menepuk lengan Kiara. “ Gimana malam pertama kalian? kasur ampe roboh gak?“ tanya Ody yang emang suka asal –asalan kalau ngomong.
“ Ck, udah sana jangan tanya – tanya soal kayak gitu.“ Kiara mendorong Ody agar maju ke depan kasir karena kini giliran Ody untuk membayar belanjaan. “ Maju sana. “
Ody tertawa saja. “ Nanti ceritain ya, shay. “ Celetuknya ke arah Kiara.
Kiara tidak bersuara. Setelah Ody selesai membayar belanjaan, ia pamit dulu dengan Kiara. “ Shay, gue duluan ya. “ Ucap Ody sambil cium pipi kiri dan kanan Kiara, tentu saja melihat hal tersebut membuat Fahrial kaget.
Setelesah selesai membayar belanjaan yang jumlahnya lumayan banyak itu, mereka berdua segera keluar supermaket. Di sepanjang perjalanan, Fahrial hanya diam saja memikirkan apa yang baru saja dia lihat tadi yaitu disaat Ody mencium pipi Kiara, sungguh itu sangat menganggu fikirannya.
“ Fahrial ? “ Panggil Kiara.
“ Iya, Kia? “ Fahrial menoleh ke arah istrinya itu.
“ Kita kan, sudah menikah… “ Kiara memperlambat ucapannya karena agak ragu untuk bicara.
“ Iya, terus? “
“ Itu artinya, uang kamu juga uang aku, kan? “ tanya Kiara sambil menautkan jari telunjuk kanan dan kirinya, ia menatap Fahrial malu – malu.
Fahrial tersenyum, tangannya bergerak mencubit pelan pipi Kiara.
“ Emang kenapa? ada sesuatu yang mau kamu beli? “ tanya Fahrial ingin tahu. “ Sebut aja.“
“ Enggak, sih. Sebagai istri aku kan, perlu pegangan uang. Masa dompet dan Atm aku kosong.“ Balas Kiara, ia agak gugup takut Fahrial tidak memberikannya uang.
“ Yaudah kamu tenang aja, nanti aku transfer uang ke rekening kamu untuk pegangan ya. “ Jawab Fahrial tanpa berfikir panjang karena itu memang sudah jadi kewajibannya memenuhi dan mencukupi kebutuhan istrinya termasuk memberikan jatah uang.
“ Beneran? “ Kiara mendadak tersenyum lebar.
“ Iya, Kia. Buat istriku, apasih yang enggak. “ Ungkap Fahrial mendadak memudarkan senyuman Kiara, gadis itu menoleh ke arah jendela sambil memeletkan lidahnya seolah – olah dia tak suka dan ingin muntaah mendengar ucapan Fahrial tadi.
“ Kiara? “ Panggil Fahrial.
“ Iya, kenapa? “ Kiara menoleh ke arah sumber suara.
“ Aku gak suka lihat kamu kayak tadi.“
“ Kayak gimana? “ tanya Kiara yang tidak tahu menahu letak kesalahannya.
“ Pada saat Ody cium pipi kanan dan kiri kamu, tapi kamu ngebiarin itu terjadi.“ Jawab Fahrial serius tetapi Kiara malah tertawa. “ Kenapa ketawa ? ”tanyanya bingung.
“ Ya ampun, Fahri. Ody itu bencccoong.“ Kiara tertawa lagi kali ini lebih keras. “ Emang kenapa? Kamu cemburu sama Ody?“ tanya Kiara.
“ Udah jelas aku cemburu, Kia.“ Balas Fahrial melemparkan tatapan kecewa ke arah Kiara. “ Sebagai seorang suami, aku gak terima istrinya di cium – cium gitu, sedangkan aku sendiri aja gak pernah cium kamu sebebas dia.“ Ungkap Fahrial merasa sangat cemburu dan bukankah itu hal wajar yang akan dirasakan seorang suami jika ada laki – laki lain yang mencium istrinya meskipun tahu pria itu dianggap ‘B E N C O N G‘ namun tetap saja pada dasarnya Ody itu laki – laki.
“ Udahlah, Fahri. Kamu itu gak usah lebay kayak gitu. “ Kiara membelalakan matanya, ia tak suka jika Fahrial protes seperti itu karena menurutnya terlalu berlebihan.
“ Jangan diulangin lagi ya, Kia.“ Fahrial tidak menunjukkan bahwa dia marah, suaranya selalu dilembut –lembutkan ketika bicara meski hatinya dalam keadaan bersunggut sebal.
Kiara tidak menjawab, ia diam saja.
Fahrial mengehentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan rumah, ia buru – buru turun untuk mengeluarkan semua belanjaan yang berada di bagasi mobil. Fahrial nampak kesusahan dan membutuhkan bantuan karena plastik belanjaan tersebut cukup banyak.
“ Kia, tolong bantu aku. Kamu bawa plastik yang kecil saja biar yag besar itu urusanku.“ Ucap Fahrial meminta tolong.
“ Fahri, aku capek mau langsung istirahat. Kamu itu laki – laki, jadi jangan lemah.“ Balas Kiara tanpa merasa bersalah, ia langsung masuk saja ke dalam rumah meninggalkan Fahrial yang kini membeku menatap kepergian istrinya yang sama sekali tidak ada perduli – perdulinya.
“ Ya allah, begini amat.“ Akhirnya dengan terpaksa Fahrial harus bolak – balik beberapa kali untuk membawa belanjaan tersebut dalam keadaan perut yang masih lapar karena dia memang belum makan sejak tadi.
Selesai menaruh semua belanjaan ke dapur, Fahrial menjatuhkan tubuhnya duduk di sofa atau lebih tepatnya di sebelah Kiara yang lagi asik main ponsel, ia sedang mengabar – ngabari temannya untuk datang nanti malam.
Tiba – tiba saja Kiara terkejut saat Fahrial tiduran dan meletakkan kepalanya di atas paha Kiara.
“ Eh—“ Mata Kiara melebar memandang Fahrial yang kini tersenyum menatapnya.
“ Aku capek banget, tapi pas tiduran kayak gini sambil liatin wajah kamu jadi ilang capeknya. “ Ucap Fahrial sontak Kiara langsung mengangkat kepala lelaki itu.
“ Bangun, Fahri!“ serunya mengangkat kepala lelaki itu.
“ Kenapa?“ Fahrial yang sudah terduduk menatap Kiara bingung, memangnya apa yang salah jika seorang suami tidur dipangkuan istrinya.
“ Aku gak suka!“ Kiara bangun dari duduknya.
“ Kamu mau kemana, Kiara? “
“ Ke halaman belakang. “ Balasnya, baru saja ingin melangkah, Kiara kembali membalikan badannya. “ Oh iya, nanti malam teman – teman aku mau kesini dan tolong kamu jangan buat ulah!“ ucapnya. “ Atau kalau bisa kamu diem aja di kamar gak usah keluar. “
“ Emang kenapa? “ Fahrial bangun dari duduknya, ia menghampiri istrinya itu. “ Apa salahnya aku kenalan juga sama mereka? “
“ Kamu gak perlu kenal mereka dan jangan ikut campur urusanku.“ Selesai bicara, Kiara pergi berlalu meninggalkan Fahrial dalam keadaan kecewa hati.
Fahrial tidak mengerti dimana letak kesalahannya sampai Kiara nampak ogah sekali dengan dirinya, bahkan gadis itu juga terkesan menyepelehkannya sebagai seorang suami.
Namun, Fahrial selalu saja berfikiran positif bahwa Kiara seperti itu karena belum mencintainya dan seiring berjalannya waktu Fahrial percaya Kiara akan mencair karena ketulusan cintanya.