Fahrial baru saja tiba di rumah, ia sudah menekan bel bahkan mengetuk pintu berkali – kali tetapi tidak ada respon dari Kiara untuk membukakan pintu. Untungnya, Fahrial mempunyai duplikat kunci rumah sehingga dia bisa membukanya tanpa perlu menunggu Kiara yang tak kunjung keluar.
“ Kenapa tidak dari tadi aja aku pakai kunci ini untuk buka pintu. “ Fahrial jadi tertawa sendiri atas kebodohannya. Dia berjalan menuju tangga tetapi ketika melewati ruang tamu, Fahrial melihat Kiara sedang tertidur di atas sofa.
“ Ya ampun, Kia. “ Fahrial menghampiri istrinya itu, ia amati saat ini di atas meja ada banyak sekali sampah bekas makanan yang belum Kiara bersihkan, sedangkan istrinya itu kini terlelap sambil menggegam ponselnya.
Fahrial menggelengkan kepalanya saat memandangi sekelilingnya nampak begitu berantakan. Dimana – mana, saat suami pulang kerja itu para istri menyuguhkan makanan dan rumah pun terlihat rapih, tapi justru Fahrial malah mendapatkan kenyataan yang sebaliknya.
Baiklah, Fahrial tidak berharap banyak pada Kiara karena dia tahu gadis itu tidak akan melakukan apa yang selalu Fahrial damba – dambakan.
Fahrial segera mengangkat tubuh Kiara untuk memindahkan istrinya tidur ke kamar supaya lebih nyaman. Dengan hati – hati Fahrial membawa tubuh Kiara karena takut membangunkan istrinya itu sebab jika Kiara terbangun pasti gadis itu akan berteriak bahkan memberontak.
Beruntungnya, Kiara tidak terbangun sama sekali sampai Fahrial tiba di kamar.
“ Ah, pinggangku. “ Fahrial memegangi pinggangnya yang kembali mendadak nyeri, apa lagi tadi dia baru saja menggendong Kiara dari lantai bawah ke atas, padahal posisinya saat ini Fahrial sedang merasa kelelahan sehabis bekerja.
Fahrial tutupi tubuh Kiara dengan selimut, setelah itu dia pandangi sebentar wajah cantik Kiara yang ternyata saat ini di area bibirnya terdapat noda makanan.
“ Hm, Kia...Kia. Kamu ini seperti anak kecil, makan kok, belepotan. “ Fahrial berjalan ke meja rias untuk mengambil Tissue basah, lalu dia kembali mendekati Kiara.
Fahrail duduk di pinggir kasur, ia mulai membersihkan noda makanan di sekitar bibir Kiara dengan hati – hati, sepertinya kali ini Kiara benar – benar pulas sekali sampai dia tidak bergerak sedikitpun saat Fahrial sentuh bibirnya.
“ Tumben sekali dia gak terbangun saat di sentuh. “ Gumam Fahrial, tiba – tiba saja terbesit sesuatu dalam fikirannya. Senyum Fahrial perlahan melengkung, ia pun mendekatkan wajahnya kehadapan Kiara.
Tentu saja Fahrial ingin memanfaatkan kesempatan yang ada yaitu mencium Kiara.
CUP.
Bibir Fahrial mendarat sempurna di bibir Kiara, meski hanya satu kecupan saja rasanya sudah membuat Fahrial bagai terbang ke atas langit.
“ Kiara tidak bangun sama sekali. “ Fahrial tersenyum mengeringai, ia cium sekali lagi bibir Kiara tetapi kali ini lumayan lama.
Setelah merasa cukup, Fahrial menyudahi untuk mencium bibir Kiara karena takut gadis itu terbangun dan langsung ngomel – ngomel kepadanya.
“ Baiklah Fahri, sudah cukup. “ Fahrial bangun dari duduknya, ukiran senyuman masih tercetak pada wajahnya. “ Eh, tapi Kiara masih bernafas, kan? “ Fahrial sedikit cemas karena istrinya tidur seperti orang tak sadarkan diri.
Untuk memastikan keadaan baik – baik saja, Fahrial mencoba mendekatkan tangannya ke arah hidung Kiara untuk mengecek apakah gadis itu masih bernafas atau tidak.
“ Alhamdulillah, masih bernafas. “ Fahrial sampai mengucap syukur.
Fahrial kembali turun ke lantai bawah, ia bersihkan semua sampah bekas Kiara makan, lalu ia lap meja tersebut dan terakhir Fahrial bersihkan sofa yang tadi Kiara tiduri ternyata terdapat sedikit tumpahan noda makanan.
Fahrial tidak mengeluh atau mencela Kiara yang tidak memperhatikan kebersihan dan kerapihan, ia selalu saja memaklumi perbuataan gadis itu dan mencoba untuk ikhlas melakukan tugasnya.
Disaat Fahrial ingin mengeluh, ia selalu ingat bahwa dulu hampir setiap hari Fahrial memohon dan berdoa pada tuhan agar menjadikan Kiara pasangannya dan saat ini keinginan itu sudah terkabul, jadi apapun yang dia alami saat ini entah itu pahit ataupun menyakitkan akan Fahrial terima karena ini sudah menjadi permintaannya pada sang maha kuasa.
Fahrial menghela nafasnya setelah semua pekerjaannya beres, ia kembali ke kamar. Padahal, Fahrial sudah cukup lelah menghabiskan setengah harinya untuk bekerja di kantor, lalu ketika pulang ke rumah, ternyata dia punya pekerjaan tambahan lagi yang sebenarnya tidak seharusnya dia lakukan.
“ Mandi dulu, deh. “ Fahrial bergegas masuk ke dalam kamar mandi, ia membersihkan diri agar dapat tidur dengan nyaman.
Selesai mandi, tepat ketika Fahrial keluar, tiba – tiba saja terdengar suara jeritan dari seorang gadis yang tak lain adalah Kiara.
“ AAAAAAA!! “ Teriak Kiara membuat Fahrial terkejut.
“ Kia? Ada apa? “ tanya Fahrial terkaget – kaget.
Kiara menutup wajahnya ketika melihat Fahrial keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk saja yang menutupi bagian pinggul sampai lutut.
“ I—itu. “ Kiara menunjuk ke arah handuk yang membalut tubuh Fahrial dengan mata terpejam tetapi sedikit terbuka.
Fahrial menunduk ke arah yang Kiara tunjuk, baginya tidak ada yang salah sama sekali karena dia masih menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya.
“ Kenapa? “ tanya Fahrial bingung.
“ Kamu tidak tahu malu! Masa keluar hanya pakai handuk! “ protes Kiara.
Fahrial malah cengar – cengir di saat Kiara merasa ketakutan. Setelah menikah, Fahrial memang tidak pernah keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk saja, namun karena berfikiran tadi Kiara sedang tidur, jadi Fahrial merasa tidak akan bermasalah seperti ini, tapi ternyata gadis itu terbangun.
“ Yang penting ditutupin, kan. Daripada tidak sama sekali. “ Fahrial terkekeh.
BUK.
Tiba – tiba saja Kiara melempar Fahrial dengan bantal. “ Cepat sana pakai baju! “ omelnya tetapi ternyata apa yang Kiara lakukan justru memperparah keadaan karena handuk yang Fahrial pakai hampir saja terlepas.
“ Eh—“ Fahrial buru – buru menahan kain handuk tersebut yang hampir terbuka.
“ Aaaa! “ Kiara berteriak lagi. “ Ke—ke buka gak? “ tanya Kiara karena ternyata tadi dia sempat melihat handuk itu nyaris copot.
“ Hampir. “ Jawab Fahrial melingkarkan kembali handuk itu dengan sempurna pada tubuhnya. “ Kamu kalau mau lihat bilang aja, gak usah lempar – lempar bantal kayak gitu, Kia. “ Ledek Fahrial membuat Kiara bergidik geli.
“ OGAH! “ balas Kiara. “ Udah sana cepat pakai baju! “ Kiara benar – benar tidak nyaman, bahkan sekarang dia membalikkan badannya membelakangi Fahrial agar tidak melihat lelaki itu.
“ Iya – iya, sabar. “ Fahrial mengambil pakaiannya di lemari, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai baju.
“ Dasar tidak tahu malu! “ cibir Kiara kesal sendiri. Namun, beberapa menit kemudian, Kiara baru saja tersadar karena saat ini dia sudah berada di dalam kamar. “ Loh, perasaan tadi aku ada di ruang tamu, deh. Kenapa sekarang ada disini? “ Kiara bertanya pada dirinya sendiri.
“ Aku yang angkat kamu ke atas. “ Celetuk Fahrial yang baru saja keluar kamar mandi, ia berjalan mendekati gadis itu.
“ Apa? “ mata Kiara melotot, ia memberikan tatapan yang sangat tajam melebihi silet. “ Pasti tadi kamu berbuat macam – macam sama aku ya? “ tuduh Kiara ketika Fahrial sudah berada di hadapannya.
Dengan polosnya Fahrial mengangguk. “ Ya, sedikit macam – macam gak apa – apa, dong. “
Mulut Kiara menganga, ia melongo mendengar pernyataan Fahrial.
“ Apa aja yang sudah kamu lakukan ke aku, hah? “ Kiara berdiri, ia memberikan tatapan mengerikan kepada Fahrial. “ JAWAB! “
Fahrial mengulum senyumnya, ia malu ingin berkata jujur kalau tadi sudah mencium bibir Kiara dan Fahrial juga takut Kiara akan marah padanya, alhasil Fahrial memilih untuk berbohong.
“ Aku cuma bercanda, Kia. “ Balas Fahrial, ia cubit hidung mancung milik Kiara karena merasa gemas. “ Sensi banget, sih! “
“ Bercanda kamu gak lucu! “ seru Kiara. “ Aku fikir, saat ini aku sudah kehilangan keperawananku karenamu! “ timpalnya.
“ Tenang saja, aku akan melakukannya kalau kamu sudah siap. “ Jawab Fahrial agar Kiara tidak perlu khawatir soal itu. “ Aku akan menunggu dengan sabar. “ Ucap Fahrial sambil mengelus kepala Kiara dengan lembut.
“ Jangan berharap lebih soal itu kepadaku, Fahri. “ Kiara menghentikan tangan Fahrial yang sejak tadi mengelusnya.
“ Ya, sepertinya memang aku tidak perlu berharap lebih kepada manusia, tapi mungkin aku akan berharap penuh kepada Allah semoga dapat mengabulkan doaku agar hatimu bisa terbuka untukku. “ Kata Fahrial mencoba untuk tersenyum meskipun rasanya sulit sekali karena pada kenyataannya Kiara sama sekali tak menginginkannya.
“ Kamu berdoa pada tuhan agar pintu hatiku terbuka untukmu, tapi aku berdoa supaya tuhan tidak mengabulkan doamu. “ Ungkap Kiara sangat nyelekit dan menusuk relung hati Fahrial yang terdalam.
Fahrial membeku di tempat, ia memandang Kiara yang kini berjalan menuju kamar mandi. Ada luka yang tidak bisa Fahrial jelaskan atas apa yang baru saja dia dengar dari mulut gadis yang selama ini selalu berada dalam doanya.
Bisa – bisanya Kiara berkata seperti itu di saat Fahrial sedang berjuang untuk mendapatkannya, seolah – olah Kiara menyuruhnya untuk berhenti mencintainya karena Kiara tidak akan pernah membalasnya.
“ Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya, tapi aku berharap keberuntungan berpihak padaku. “ Ucap Fahrial dengan rasa sesak yang memenuhinya.
Fahrial sadar bahwa posisinya saat ini tidaklah mudah, ia mencintai seseorang yang sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama meski hanya setitik. Ternyata cinta bertepuk sebelah tangan sangat menyakitkan, bagai berjalan di atas remukan pecahan kaca, namun bodohnya Fahrial terus berusaha untuk melewatinya demi mencapai ujung kebahagiaan yang dia harap – harapkan.
Hanya satu pinta Fahrial pada yang maha kuasa, semoga doanya di kabulkan dan alam semesta mendukungnya untuk membuat Kiara jatuh cinta kepadanya.