Saat Kiara mandi, Fahrial memilih menunggu istrinya itu sampai selesai di balkon kamarnya sambil menghirup udara segar pada pagi ini. Dia pandangi dunia luar saat ini di lingkungan perumahannya tidak terlalu ramai orang.
TENG…TENG…TENG…
Pandangan Fahrial beralih ke arah sumber suara yang ternyata tukang bubur, ia jadi teringat Kiara pasti istrinya itu sebentar lagi akan mengeluh lapar dan sebelum itu terjadi dia pun berinisiatif membelikan Kiara sarapan bubur.
“ Bang, tunggu. “ Teriak Fahrial ke arah si abang – abang tukang bubur yang langsung mendongakan kepalanya ke arah Fahrial.
“ Oke, mas. “ Sahutnya seraya menghentikan gerobak bubur yang dia dorong .
Fahrial berlari kecil turun ke lantai bawah, ia pergi ke dapur dulu untuk mengambil mangkuk, lalu setelah itu baru Fahrial bergegas ke luar menghampiri tukang bubur yang berhenti tepat di depan rumahnya.
“ Nih, bang. “ Fahrial memberikan dua mangkuk yang dia bawa kepada si pedagang bubur.
“ Komplit mas? “
“ Iya.“ Mata Fahrial melihat ke arah nampan yang terdapat banyak sate usus, ati dan telor puyuh. “ Bungkusin satenya juga ya bang.“
“ Berapa mas? “
“ Masing – masing 5. “ Balas Fahrial karena takut Kiara menyukai dan kalau dia beli sedikit nanti istrinya jadi kurang kenyang.
“ Oke. “
Kiara baru saja selesai mandi, ia lihat di kamar tidak ada Fahrial.
“ Kemana tuh, dia? “ tanyanya, melihat pintu balkon terbuka, Kiara pun berjalan kesana dan melongok ke arah bawah ternyata terdapat Fahrial yang baru saja selesai membayar bubur dan langsung berjalan ke arah pintu.
“ Lihat tukang bubur, gue jadi lapar. “ Gumam Kiara, ia masuk ke dalam kamar lagi dan bertepatan dengan Fahrial yang baru saja datang.
“ Saatnya makan! “ Seru Fahrial menampilkan wajah sumringah, ia membawa dua mangkuk bubur ayam dan plastik ditangannya yang berisi sate ati, telur dan usus yang dia beli tadi.
Fahrial letakkan bubur itu di atas meja yang terdapat di kamarnya, lalu dia duduk di sofa. “ Kia, ayo makan. “ Panggilnya.
Kiara berjalan mendekati Fahrial. “ Itu mangkuk yang satunya lagi bubur buat aku?“ tanya Kiara ketika sudah duduk disebelah Fahrial.
“ Iya, Kia. Aku emang beli bubur ini untuk kamu. “ Fahrial tampilkan senyuman merekah. “ Ayo di makan buburnya nanti keburu dingin. “
“ Kebetulan banget perut aku keroncongan, nih. “ Dengan senang hati Kiara ambil mangkuk itu dan mulai Kiara santap bubur ayam yang masih hangat.
“ Aku tahu kamu pasti lapar. “ Ucap Fahrial.
“ Enak.“ Puji Kiara setelah mencicipi bubur tersebut.
“ Nih, satenya aku juga beliin buat kamu. “ Fahrial sodorkan plastik berisi macam – macam sate ke arah Kiara.
“ Ya ampun, aku suka banget makan sate beginian. “ Kiara ambil sate telur puyuh, ati dan usus masing – masing satu buah. “ Kalo kurang aku ambil lagi ya satenya. “ Kata Kiara.
“ Iya, kalau perlu kamu habisin semuanya juga gak apa – apa. “ Balas Fahrial dengan sangat ikhlas kalau dirinya tidak kebagian sate pun tak apa, asalkan Kiara kenyang dan senang. Bagi Fahrial, kebahagiaan Kiara adalah nomor satu.
Fahrial melihat Kiara sangat lahap menikmati bubur ayam tersebut, bahkan gadis itu sampai berkali – kali mengambil tusuk sate karena terlalu suka.
“ Alhamdulillah, kenyang banget. “ Kiara meletakkan mangkuk yang sudah bersih dari bubur ayam di atas meja, ia usap – usap perutnya yang kini telah terisi penuh.
“ Cepet banget kamu habisin makanannya. “ Celetuk Fahrial yang masih terdapat bubur di dalam mangkuknya.
“ Iyalah, emangnya kamu, lelet! “ balas Kiara seraya bangun dari duduknya.
“ Kamu mau kemana? “ tanya Fahrial.
“ Ambil minum.“ Jawab Kiara sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Kiara pergi ke dapur untuk mengambil minum lalu kembali lagi ke kamar.
Fahrial yang baru saja menyelesaikan makanannya ingin bangun untuk turun ke bawah ambil minum, tapi dia dikejutkan dengan Kiara yang baru saja datang langsung menyodorkannya sebotol air mineral.
“ Minuman buat kamu. “ Ujar Kiara membuat Fahrial melongo karena dia fikir gadis itu tidak akan mengambilkannya air.
“ Buat aku? “ Fahrial sampai bertanya – tanya karena masih tidak begitu percaya. Meskipun hal tersebut nampak sederhana tetapi kalau Kiara yang memberikannya jadi terkesan sangat spesial.
“ Hm, ini ambil. “ Kiara meraih tangan Fahrial lalu menyerahkan botol minuman tersebut.
“ Ma—makasih, Kiara. “ Tak dapat disembunyikan lagi senyuman Fahrial kini mengembang sempurna, ia kembali duduk di sofa bersama Kiara.
Kiara memakan sisa sate yang masih ada di dalam plastik.
“ Kapan kamu mulai aktif bekerja lagi? “ tanya Kiara sampai membuat Fahrial yang lagi minum hampir saja tersedak. Jarang – jarang gadis itu memulai percakapan untuk bertanya sesuatu tentang dirinya.
“ Besok.“ Jawab Fahrial dengan tatapan tak percaya lagi ke arah Kiara, ia jadi terheran – heran dengan sikap Kiara yang agak sedikit berbeda kepadanya, sampai Fahrial berfikir apakah ini semua karena tadi dia sudah membelikan Kiara sarapan bubur. Kalau benar seperti itu, maka Fahrial akan sering – sering menyediakan sarapan untuk istrinya itu jika cara tersebut dapat membuat hati Kiara luluh kepadanya.
Kiara manggut – manggut. “ Jam berapa berangkatnya? “
“ Jam sembilan pagi.“
“ Pulangnya jam berapa? “
“ Jam lima sore, tapi kalau lembur atau ada tugas ke lapangan aku bisa sampai malam.“ Terang Fahrial.
“ Oh, begitu. “ Kiara menoleh ke arah Fahrial. “ Ada hal penting yang mau aku bicarakan. “
“ Yaudah ngomong aja. “
“ Dirumah ini kan, mobil cuma ada satu dan mulai besok akan kamu pakai kerja mulai dari pagi hingga sore dan bahkan kalau kamu lembur bisa sampai balik malam. “ Kiara menatap Fahrial penuh arti. “ Boleh gak, kalau aku minta beli mobil. “ Selesai bicara dia cengar – cengir. Dengan entengnya Kiara minta mobil seperti meminta beli sebuah permen.
“ Umm… nanti aku fikir – fikir dulu ya. “ Jawab Fahrial sedikit membuat Kiara kecewa.
“ Yah, kok kamu gitu banget, sih.” Kiara menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Fahrial, secara refleks dia melingkarkan tangannya pada lengan Fahrial sambil terus memaksa lelaki yang kini duduk disebelahnya itu nampak bingung dengan permintaan Kiara.
Bukannya Fahrial pelit, tapi belum lama ini dia baru saja mengeluarkan banyak biaya untuk pernikahan dan sekarang Kiara meminta mobil yang tentu saja harganya tidak murah.
“ Ayolah, Fahri! Kalau aku dirumah terus pasti bete banget dan aku gak bisa pergi kemana – mana karena tidak ada kendaraan. “ Rengek Kiara tak henti - hentinya. “ Kalau aku butuh sesuatu mau ke supermaket, nanti aku kesananya naik apa? masa jalan kaki? emang kamu tega membiarkan istri kamu kecapean?“
Fahrial terdiam, apa yang istrinya katakan itu benar karena jika Kiara membutuhkan sesuatu pasti akan kesulitan untuk pergi kemana pun sebab tidak ada kendaraan lagi selain mobil yang dia pakai.
“ Gimana kalau motor? “ tawar Fahrial.
“ Gak mau.“ Kiara menggelengkan kepalanya cepat.“ Aku gak mau naik motor, Fahri. Masa cewek secantik aku pergi keluar naik motor. “ Balasnya dengan nada mengeluh. “ Nanti kena debu jalanan dan belum lagi kalau aku pergi siang – siang nanti kepanasan membuat kulitku jadi hitam belang! “ serunya seraya menggedikan bahunya. “ Emang kamu mau punya istri item buluk? “ tanya Kiara.
Fahrial tertawa saja melihat Kiara sejak tadi terus saja merengek seperti anak kecil yang sedang meminta dibelikan mainan.
“ Yaudah nanti aku fikirkan lagi ya.“ Jawab Fahrial sambil mengusap kepala Kiara dengan lembut.
“ Ck, nyebelin! Kenapa harus mikir, sih? tinggal bilang iya aja susah banget kayaknya buat istri sendiri. “ Bibir Kiara maju beberapa centi, ia ingin menggeser duduknya menjauh dari Fahrial tetapi tiba – tiba saja lelaki itu memeluknya.
“ Aku sayang banget sama kamu, Kia. Insyallah aku akan usahain apa yang kamu inginkan. “ Ucap Fahrial di dalam pelukan, ia berikan kecupan singkat pada pucuk kepala Kiara sedangkan gadis itu kini terdiam membeku.
Sebenarnya, Kiara ingin segera mendorong tubuh Fahrial agar terlepas dari pelukannya tetapi mendengar Fahrial bicara begitu, Kiara jadi berat hati untuk melakukannya.
“ Ma—makasih, Fahri. “ Balas Kiara gugup, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa jantung Kiara saat ini berdebar – debar karena tubuhnya melekat erat dengan Fahrial.
“ Sabar sedikit ya, istriku. “ Ucap Fahrial dengan sangat lembut masuk ke dalam indra pendengaran Kiara.