Fahrial bersiap ingin tidur, ia merebahkan tubuhnya disebelah Kiara yang sudah tertidur pulas lebih dulu. Fahrial memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan istrinya, ia pandangi sebentar wajah Kiara, perlahan senyumnya terukir sempurna, jari – jemarinya bergerak menyentuh pipi Kiara lalu dia elus lembut secara berkali – kali.
Tidak pernah Fahrial sangka – sangka kalau wanita yang dulu hanya bisa dia pandangi dari halaman rumahnya, kini dapat dia lihat dari jarak yang sangat dekat, bahkan tidur satu ranjang dengannya.
“ Istriku… “ Setiap kali menyebut itu, jantung Fahrial selalu saja berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia sangat bangga bisa menjadikan Kiara istrinya meski gadis itu nampak tidak merasakan hal yang sama seperti dirinya.
Mata Fahrial mengabsen setiap anggota tubuh yang ada di wajah Kiara, mulai dari alis yang tebal, bulu mata yang lentik, bibirnya yang sedikit terbelah di bagian bawahnya, ditambah lagi hidung Kiara yang sangat mancung bak orang timur tengah.
“ Sempurna.“ Kalimat itu baru saja keluar dari mulut Fahrial, matanya kini kembali terfokus kepada bibir ranum Kiara yang nampak begitu menggoda. Ingin rasanya Fahrial menciumnya tetapi takut membangunkan Kiara.
“ Sebaiknya aku tidur saja. “ Fahrial menyudahi aktivitas memandangi wajah Kiara sebelum bisikan – bisikan untuk melakukan sesuatu yang lebih pada istrinya itu memenuhi fikirannya.
“ Selamat malam, istriku. “ Ucap Fahrial pelan, ia menggeser tubuhnya untuk memberi jarak antara dirinya dengan Kiara karena kalau terlalu berdekatan, sudah pasti gadis itu akan marah ketika terbangun.
**
Terik matahari masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup gorden. Fahrial yang merasa terganggu akan cahaya tersebut pun terbangun dari tidurnya.
Fahrial menguap seraya beranjak duduk. “ Tumben Kiara udah bangun. “ Ucap Fahrial saat melihat sebelahnya sudah kosong tidak melihat keberadaan gadis itu, padahal ini masih pagi.
Fahrial melamun sebentar untuk mengumpulkan kesadaraan yang masih belum sepenuhnya menyatu pada dirinya, namun tiba – tiba saja dia dikejutkan dengan suara orang terbatuk – batuk.
UHUK…UHUK….UHUK…
Fahrial sontak menoleh ke arah sumber suara yang tak lain tepat berada di sebelah kanannnya yakni tempat Kiara tidur.“ Gak ada siapa – siapa. “ Tuturnya, ia jadi celingak – celinguk mengamati sekelilingnya.
Kemudian suara batuk itu menghilang dan berganti dengan suara menguap semakin membuat Fahrial terheran – heran, bagaimana bisa ada suara tetapi tidak ada orangnya.
“ Itu suara Kiara, tapi—“ Fahrial tidak jadi melanjutkan ucapannya, ia melongok ke arah bawah kasur dan saat itu juga dia terkejut.“ KIARA? “
Betapa kagetnya Fahrial melihat saat ini Kiara tidur terlentang di lantai. Fahrial sangat yakin pasti Kiara bukan sengaja tidur disana melainkan gadis itu terjatuh ke lantai saat tertidur dan yang membuat Fahrial terheran – heran kenapa Kiara masih bisa – bisanya tertidur pulas, padahal jarak dari atas kasur ke lantai lumayan tinggi dan seharusnya pada saat terjatuh, Kiara terbangun karena merasa sakit atau minimal terkaget.
“ Ya ampun, Kia. “ Fahrial bergegas untuk turun karena kasihan melihat istrinya tertidur di lantai. Dia berjongkok di samping gadis yang masih terlelap itu, lalu Fahrial angkat tubuhnya ke atas kasur, namun disaat yang bersamaan Kiara membuka matanya.
“ FAHRIAL! “ teriaknya memecahkan keheningan di pagi ini.
Aneh sekali! giliran di angkat Fahrial dia tersadar tetapi disaat terjatuh dia tidak terbangun.
Fahrial yang tercengang mendengar teriakan Kiara pun tak sengaja menjatuhkan kasar tubuh Kiara dan untungnya gadis itu terhempas tepat berada di atas kasur.
“ Kamu mau ngapain? “ Kiara terbangun duduk, ia menutupi dadanya dengan kedua tangannya. “ Jangan bilang kamu—“
“ Enggak, Kia. Saat tidur kamu jatuh ke lantai, jadi aku berniat mengangkat tubuh kamu ke atas kasur.“ Potong Fahrial langsung menjelaskan sebelum gadis itu menduga – duga ke hal yang tak seharusnya.
Mulut Kiara menganga. “ A—apa? aku jatuh dari kasur? “
Fahrial manggut – manggut. “ Iya, Kiara. “ Fahrial duduk di pinggir kasur, ia pandangi wajah Kiara, nampak mata gadis itu terlihat masih agak sayu, mungkin saja Kiara masih mengantuk.“ Kamu gak merasa sama sekali waktu jatuh ke lantai? “ tanyanya penasaran.
“ Enggak. “ Kiara menggelengkan kepalanya lambat. “ Ini semua gara – gara kebiasaanku yang gak bisa diem kalau lagi tidur. “ Ungkapnya malu sendiri.
“ Gak apa – apa. “ Fahrial mengelus kepala Kiara. “ Badan kamu ada yang sakit gak? “
“ Gak ada, sih. “ Jawab Kiara seraya menurunkan tangan yang sejak tadi menutupi bagian d@danya.
“ Yaudah kalau kamu masih ngantuk, tidur lagi aja.“ Ucap Fahrial dengan lembut.
“ Aku jadi gak ngantuk.“ Kiara beranjak turun dari kasur.
“ Kamu mau kemana? “ Fahrial bertanya kepada Kiara yang kini berjalan menuju lemari.
“ Aku mau mandi aja, badanku terasa lengket dari semalam. “ Balas Kiara, ia buka lemari dan mengambil pakaian miliknya beserta handuk.
“ Kia? “ Panggil Fahrial menghentikan langkah Kiara.
“ Apa lagi, Fahri? “ tanya Kiara menatap Fahrial malas.
“ Itu yang saat ini kamu ambil, baju dan handuk punya aku. “ Ucap Fahrial memberitahu, seketika Kiara menundukkan kepalanya untuk melihat pakaian yang saat ini berada di tangannya.
“ Hah? kok, bisa? “ Kiara terperangah, ia jadi bingung sendiri melihat apa yang baru saja dia ambil ternyata memang benar kaos dan handuk milik Fahrial.
Fahrial berjalan mendekati Kiara.“ Dan lemari yang baru saja kamu buka itu juga milikku.“ Kata Fahrial ketika sudah berhadapan dengan Kiara.
“ Aduh, kenapa aku oon banget, sih! “ Kiara menepuk jidatnya setelah menyadari kalau dia salah membuka lemari dan bisa – bisanya juga dia tidak sadar kalau yang baru saja dia ambil adalah pakaian dan handuk milik Fahrial.
“ Makannya, Kiara. Kamu itu kalau baru bangun itu jangan langsung ngelakuin sesuatu.“ Fahrial terkekeh melihat wanita dihadapannya saat ini menunduk dengan wajah memerah karena tersipu malu atas kelakuan konyol yang baru saja dia perbuat.
“ Sini. “ Fahrial ambil pakaian dan handuk kepunyaanya itu dari tangan Kiara, kemudian dia berkata. “ Untung aja kamu gak ambil juga celana dalam milikku. “ Ledek Fahrial sontak membuat Kiara memukul lengannya.
“ Fahrial! Rese banget, sih! “ teriaknya kesal sendiri. “ Arghh! Pagi – pagi bikin emosi aja! “ Kiara berjalan menuju lemarinya sambil menghentakkan kakinya.
“ Awas salah lemari lagi. “ Fahrial semakin gencar meledeki istrinya itu.
“ BACOT!“ balas Kiara dengan sewot sedangkan Fahrial meresponnnya sambil tertawa saja.
“ Kiara…Kiara, kamu nanti cepet tua loh, kalau kerjaannya marah – marah mulu.“ Ucap Fahrial ketika Kiara melewatinya saat ingin menuju kamar mandi.
Saat Kiara sudah berada di ambang masuk pintu kamar mandi, ia membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya. “ Fahrial?“
“ Hm? “ Fahrial mendongakan dagunya, ia memperhatikan Kiara yang kini memasang wajah menyeringai, lalu dia dibuat terkejut saat Kiara memberikannya jari tengah. “ Astagfirullah, Kia. “ Fahrial geleng – geleng kepala sambil mengelus dadanya melihat apa yang baru saja Kiara tunjukkan kepadanya.
Kiara tertawa saja melihat Fahrial kaget saat dia menunjukkan jari tengah yang berarti‘ F U C K ‘ke arah Fahrial. Sebelum lelaki itu menceramahinya, dengan cepat Kiara tutup pintu kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.