Tepat pukul dua belas malam, acara kumpul Kiara bersama teman – temannya baru saja selesai. Kiara mengantarkan teman – temannya sampai ke depan pintu dengan langkah agak gontai, begitu juga dengan beberapa temannya. Bahkan, ada yang tubuhnya sampai disangga karena sudah tidak bisa berjalan sebab mereka semua dalam keadaan yang benar – benar mabuk. Hanya Ody saja yang tidak terlalu banyak minum.
“ Ody, lo aja yang bawa mobil. Mereka semua pada teler. “ Ucap Kiara memperingati.
“ Iya tenang aja, shayy. “ Ody melirik Kiara ternyata gadis itu juga sudah mulai sempoyongan. “ Lo juga udah teler banget, hati – hati naik ke atasnya. “
“ Iya. “ Jawab Kiara dengan suara berat. “ Bye, semuanya. “ Kiara melambaikan tangannya ke arah teman – temannya ketika sudah berada di depan pintu.
“ Bye, Kia. “ Sahut mereka bersamaan, suaranya terdengar berayun – ayun bak orang mabuk pada umumnya.
Setelah memastikan semua temannya telah pergi, Kiara tutup pintu lalu berjalan dengan langkah sempoyongan menuju tangga.
“ Ah, Shiiit! Kepala gue pusing banget! “ Umpat Kiara sambil memijat pelipisnya, pandangannya juga sudah mulai sedikit kabur. Baru saja Kiara naik beberapa anak tangga, tiba – tiba saja dia terpeleset, namun dengan cepat Kiara berpegangan pada besi pembatas tangga.
“ Hampir saja. “ Ucapnya seraya menghela nafas kasar, tetapi saat ini dia tidak bisa langsung berdiri karena lututnya sakit terbentur tangga, ditambah lagi kepalanya tampang pusing. “ FAHRI! Help me!“ teriak Kiara sekencang mungkin karena dia tidak mampu lagi untuk berjalan.
Daripada nanti Kiara terjatuh lagi, lebih baik dia meminta pertolongan Fahrial meskipun sebenarnya Kiara malas dengan lelaki itu.
“ FAHRI! “ Teriak Kiara sekali lagi lebih keras.
Fahrial yang sejak tadi berada di dalam kamar lagi duduk di sofa sambil nonton televisi sontak berdiri. “ Kayak suara Kiara? “
“ FAHRIAL! Tolongin aku!“
Mendengar suara teriakan itu lagi, Fahrial semakin yakin kalau Kiara yang memanggilnya. Fahrial pun berlari keluar kamar karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
Begitu Fahrial ingin turun tangga, ia terkejut melihat Kiara sedang terduduk lemas di tengah – tengah tangga, Fahrial pun bergerak cepat untuk membantunya.
“ Kiara? Kamu kenapa? “ tanya Fahrial panik.
“ Jatuh.“ Jawab Kiara dan saat itu juga Fahrial mencium bau alkohol sangat menyengat dari nafas istrinya.
“ Kia? Kamu mabuk ya? “ kali ini Fahrial menatap Kiara agak sinis sebab dia fikir Kiara berkumpul dengan teman – temannya hanya untuk ngobrol sambil makan – makan tetapi ada hal lain yang mereka konsumsi yaitu minuman haram.
“ Aduh, Fahri! Udah deh, lebih baik kamu tolongin aku aja dulu. Kepala aku pusing banget ini. “ Keluh Kiara dengan mata merem – melek.
Fahrial pun menunda dulu pertanyaan – pertanyaan yang ingin dia lontarkan kepada Kiara karena gadis itu sedang membutuhkan pertolongannya.
Fahrial membungkukkan tubuhnya, ia berniat untuk menggendong tubuh Kiara ala Bridal Style tetapi Kiara menepis tangan Fahrial yang sudah melekat pada tubuhnya.
“ Kamu mau ngapain, Fahri? “ Omelnya dengan mata sayu yang di paksa melotot. “ Jangan macam – macam ya! “
Fahrial mengelus dadanya karena dia sangat kaget tiba – tiba saja Kiara marah – marah padanya.
“ Siapa yang mau macam – macam, Kia? Aku cuma mau angkat tubuh kamu ke kamar. Itu aja, Kia.“ Balas Fahrial, ia ingin membungkukkan tubuhnya lagi tetapi Kiara kembali menolak.
“ Aku gak mau di gendong. “ Tolak Kiara membuat Fahrial jadi geregetan sendiri.
“ Udah kamu jangan banyak protes! “ tak ingin membuang – buang waktu lagi, Fahrial langsung angkat tubuh Kiara dengan sekuat tenaganya, ketika sudah berhasil, Fahrial bawa untuk naik ke lantai atas.
“ Fahrial! Turunin aku! “ Kiara berusaha memberontak tetapi Fahrial tetap terus melangkahkan kakinya dengan susah payah menaiki anak tangga.
“ Kiara, kalau kamu gak bisa diem, nanti kita berdua bisa jatuh dari tangga. Kamu mau tulangmu patah – patah, hah? “ ucap Fahrial menakut – nakuti.
Kiara yang semula menggerakkan tubuhnya untuk memberikan perlawanan agar Fahrial menurunkannya pun kini terdiam.
“ Ga—gak mau. “ Ucapnya ketakutan. Akhirnya, Kiara diam saja di gendong ala Bridal oleh Fahrial, apa lagi saat ini kepalanya juga sudah sangat berat.
Sampainya di dalam kamar, Fahrial merebahkan tubuh Kiara di atas kasur dengan hati – hati.
“ Kia? kamu bisa sampai mabuk seperti ini pasti banyak banget ya minumnya? “ Fahrial duduk dipinggir kasur, ia amati saat ini mata Kiara sudah terpejam meski mulutnya masih mengecap – ngecap.
“ Haus.“ Ucap Kiara dengan mata terpejam.
“ Oke, tunggu sebentar.“ Fahrial ambil botol minuman miliknya yang masih tersisa air cukup banyak, ia tuangkan ke dalam gelas lalu Fahrial berikan kepada Kiara. “ Ini minumnya, Kia. “
“ Bangunin. “ Kiara mengangkat kedua tangannya meminta pertolongan karena tubuhnya benar – benar lemas sekali. Fahrial pun segera menarik pelan tangan Kiara agar tubuh gadis itu terbangun duduk, setelah berhasil, Fahrial berikan segelas air itu kepada Kiara.
Kiara minum air tersebut sampai habis karena sejak tadi dia sama sekali tidak meneguk air mineral sebab hanya Beer saja yang dia minum.
“ Nih. “ Kiara berikan gelas kosong itu kepada Fahrial, lalu Kiara kembali merebahkan tubuhnya.
Fahrial letakkan gelas itu di atas nakas tepat di samping kasur, lalu dia duduk di samping tubuh Kiara. “ Kamu gak mau ganti baju dulu sebelum tidur? “ tanyanya karena melihat Kiara masih menggunakan mini dress.
Kepala Kiara menggeleng, ia menguap sebentar setelah itu langsung memejamkan matanya kembali. “ Good Night, Fahri. “ Ucapnya.
Fahrial menatap Kiara sedih karena dia merasa gagal sebagai suami telah membiarkan istrinya mabuk seperti ini. “ Maafkan aku, Kia. “ Ucapnya malah merasa bersalah.
Saat Fahrial sedang memandangi wajah Kiara yang sudah terlelap, tiba – tiba saja gadis itu bergerak untuk merubah posisi tidurnya sehingga tanpa sengaja menyingkap dress yang dia pakai hingga nyaris terlihat bagian celana dalamnya.
Mata Fahrial melotot melihat pemandangan tersebut, seketika perasaan Fahrial mendadak campur aduk. Fahrial jadi dilanda rasa bimbang dengan apa yang ada dihadapannya saat ini, tidak di lihat sayang, namun jika dilihat terus – menerus akan menyiksa dirinya sendiri karena tak bisa menikmati.
“ Ya allah, berilah hamba ketabahan yang luar biasa. Amiin! “ Fahrial memutuskan untuk menarik selimut untuk menutupi tubuh Kiara sebab jika dibiarkan begitu saja membuat naafsu Fahrial bisa bergejolak.
Fahrial sendiri merasa aneh, kenapa dia harus menahan diri dan naafsu kepada istrinya sendiri yang seharusnya dia memiliki hak untuk berbuat sesuatu.
Seandainya Fahrial bisa berbuat nekat atau bersikap egois, sudah pasti dia akan melakukan sesuatu untuk memuaskan naafsunya. Hanya saja, Fahrial tidak ingin membuat Kiara marah dan benci kepadanya jika dia melakukan hal di luar batas tanpa persetujuan gadis itu.
Alhasil, dia jadi seperti pria yang belum menikah yaitu harus menahan diri.
Sabar Fahri, sabar!