Hari ini Fahrial akan mengambil mobil milik Kiara yang berada di parkiran Apartemen Beckham. Kiara sendiri tidak tahu kalau mobilnya masih berada di sana, bahkan dia juga lupa bertanya bagaimana bisa dirinya sampai ke rumah karena saat ini gadis itu memilih untuk melanjutkan tidurnya setelah kenyang makan.
“ Hm, Kia tidur lagi. “ Tadinya Fahrial ingin berpamitan dengan istrinya ingin pergi ambil mobil tetapi perempuan itu sudah terlelap.
Fahrial bergegas untuk pergi karena nanti sore dia ingin mengantarkan ibunya pulang. Saat tiba di lantai bawah, Fahrial berpapasan dengan Ratih.
“ Fahri, di depan ada tukang ojek online. Tadi waktu ibu tanya katanya dia sedang menunggu penumpang atas nama Fahrial. “ Terang Ratih.
“ Iya itu aku yang pesan, bu. “ Jawab Fahrial karena memang dia akan pergi naik ojek online ke alamat yang sudah Prita kirim kepadanya agar nanti Fahrial pulangnya bisa membawa mobil Kiara yang berada di parkiran Apartemen.
“ Loh, kenapa naik ojek? Kan, ada mobil, nak? “ tanya Ratih ingin tahu.
“ Um… Fahri mau ambil mobil yang satunya lagi ada di bengkel, bu. Kemarin habis di service dan ini sudah bisa di bawa pulang. “ Bohong Fahrial menutupi fakta.
“ Oh, begitu. “ Ratih percaya saja. “ Yaudah hati – hati ya, nak. “
Fahrial mencium tangan ibunya sebelum pergi. “ Assalamualaikum. “
“ Waalaikumsallam. “
Fahrial menghampiri tukang ojek dengan plat nomor sesuai yang dia pesan. “ Atas nama Fahrial ya, mas? “
“ Iya betul. “ Si tukang ojek memberikan helm kepada Fahrial, kemudian setelah lelaki itu naik, motor pun melaju sesuai dengan alamat tujuan.
Sampainya di tempat tujuan, Fahrial langsung masuk ke dalam Apartemen lalu dia naik lift dan menuju lantai basement yaitu tempat dimana Kiara memarkir mobilnya. Tentu saja Fahrial tahu semua itu berkat informasi dari Prita.
Sementara itu Beckham baru saja tiba di basement karena dia ingin pergi. Namun, sebelum pergi menuju mobilnya, ia berhenti melangkah karena ingin menghubungi Kiara untuk menanyakan bagaimana kabar gadis itu dan juga berniat mengajak Kiara untuk keluar makan siang.
DRT…DRT…
Ponsel Kiara terus saja bergetar hingga membuat gadis itu terganggu.
“ Arghhh… siapa sih, yang telepon? “ dengan mata terpejam, Kiara mencari – cari keberadaan ponselnya di atas meja, setelah dapat dia angkat panggilan tersebut. “ Hallo? “
‘ Hai, Kiara? ‘
Mendengar suara lelaki itu seketika membuat Kiara membuka matanya selebar mungkin, ia langsung segar dalam sekejap. “ Beckham? “ sahutnya seraya beranjak duduk.
‘ Gimana keadaan kamu? ‘
“ Sekarang aku baik – baik saja, tapi aku tidak tahu lebih jelas apa yang terjadi padaku tadi malam. “ Jawab Kiara seraya turun dari kasur, ia berjalan menuju balkon untuk menghirup udara di luar.
‘ Syukurlah kalau kamu baik – baik saja. ‘ Jawab Beckham.
“ Beckham, bisakah kamu bisa jelasin sebenarnya apa saja yang terjadi padaku tadi malam? “ tanya Kiara penasaran.
‘ Bisa, tapi bagaimana kalau kita bicaranya di luar? ‘
“ Di luar? “
‘ Eum… maksudku, sekalian kita makan siang bersama. ‘ Tambah Beckham memperjelas agar Kiara mengerti.
Kiara tidak menjawab ajakan Beckham karena saat ini matanya terfokus memandang ke arah halaman depan rumahnya, ia heran sebab tidak melihat keberadaan mobil BMW yang seharusnya terparkir di halaman depan rumah. “ Loh, kemana mobilku? “ tanya Kiara bingung.
‘ Mobil apa, Kia? ‘ sahut Beckham tak mengerti karena saat ini ponsel masih menempel di telinga Kiara dan panggilan masih tersambung sehingga Bekcham bisa mendengar apa yang baru saja Kiara ucapkan.
“ E—enggak. “ Jawab Kiara terbata - bata. “ Beckham, udahan dulu ya teleponannya. “
‘ Kenapa? terus gimana? kamu terima ajakan aku untuk makan siang bersama tidak? ‘
“ Nanti kamu kirimkan saja alamat dimana kita akan bertemu. “
‘ Oh yaudah. Bye, Kiara. ‘
Selesai teleponan, Beckham membalikkan badannya ingin berjalan ke arah mobilnya tetapi dia terkejut karena di belakangnya ada seorang lelaki yang tak asing baginya.
“ Astagfirullah. “ Beckham terkaget – kaget sedangkan lelaki yang ada di hadapannya saat ini malah tersenyum. “ Kamu… “ Beckham perhatikan lagi wajah lelaki di hadapannya. “ Kamu lelaki yang waktu itu ketemu di apotek dan kasih tahu aku soal tali sepatu, kan? “
“ Iya, benar. Kebetulan sekali ya, kita bisa ketemu lagi. “ Jawab Fahrial, ia mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Beckham karena kemarin belum sempat berkenalan. “ Namaku Fahrial. “
“ Beckham. “ Balasnya menjabat tangan Fahrial.
“ Kamu tinggal di Apartemen ini? “ tanya Fahrial.
“ Iya, betul. Kamu juga? “ Beckham bertanya balik.
“ Oh, tidak. “ Fahrial menggelengkan kepala.
“ Terus kesini mau menginap atau gimana? “
“ Aku kesini mau ambil mobil istriku. “ Jawab Fahrial menunjuk ke arah parkiran B. “ Ada di sana mobilnya. “
“ Oh gitu, yaudah silahkan. “ Beckham tersenyum ramah, ia tak bertanya lanjut kenapa bisa mobil istrinya Fahrial ada disana.
“ Ngomong – ngomong, tadi aku tak sengaja mendengar kamu ngobrol di telepon dan kamu menyebut nama Kiara. Apakah dia pacarmu? “ tanya Fahrial iseng.
“ O—oh, iya. “ Beckham mengangguk saja.
“ Istriku namanya juga Kiara. Benar – benar sangat kebetulan, ya. “ Tutur Fahrial, ia tidak tahu saja kalau yang sejak tadi teleponan dengan Beckham adalah istrinya sendiri.
Beckham tertawa. “ Mungkinkah nama pasangan kita pasaran? “ ledek Beckham di sambut tawa oleh Fahrial.
“ Tidak apa – apa pasaran, asal mukanya tidak. “ Fahrial juga membalas dengan nada meledek. “ Biarpun namanya banyak di gunakan orang, tapi wajah istriku sangat cantik dan pastinya tidak akan sama dengan Kiara yang lainnya. “ Lanjut Fahrial.
“ Begitu juga dengan pacarku, dia seperti bidadari. “ Balas Beckham tak mau kalah.
Fahrial kembali tertawa.
“ Jangan – jangan, istrimu adalah pacarku. “ Ledek Beckham kali ini menghentikan tawa Fahrial.
Fahrial tersenyum miris. “ Jangan sampai. “ Celetuknya. “ Baiklah, aku harus buru – buru. Senang berkenalan denganmu, Beckham. “
“ Ya, Fahrial. Titip salam untuk Kiaramu. “ Ucap Beckham kepada Fahrial yang sudah melangkahkan kakinya.
“ Salam balik juga untuk Kiaramu. “ Sahut Fahrial.
Beckham pergi menuju mobilnya yang terparkir di blok A sedangkan Fahrial pergi ke blok B.
Di sisi lain, Kiara baru saja keluar kamar, ia turun ke bawah mencari – cari keberadaan Fahrial tetapi tidak di temukan, justru Kiara malah berhadapan dengan Ratih.
“ Bu, Fahrial pergi ya? “ tanya Kiara kepada Ratih yang saat ini duduk di sofa ruang tamu.
“ Iya, nak. Ada apa? Kiara butuh sesuatu? “ tanya Ratih menoleh ke arah Kiara.
“ Tidak. “ Kiara geleng – geleng kepala. “ Fahrial pergi naik mobil yang warna hitam ya, bu? “ tanya Kiara lagi.
“ Fahrial pergi naik ojek. “
“ Hah, naik ojek? “ Kiara terheran – heran. Jika memang lelaki itu naik ojek, lalu bagaimana dengan mobil BMW yang seharusnya ada di parkiran.
“ Iya, Kia. Katanya dia mau ambil mobil yang satunya lagi di bengkel karena sudah selesai di service. “ Jawaban Ratih kali ini semakin membingungkan Kiara.
“ Di service? ” gumam Kiara. “ Sejak kapan mobil itu rusak? “ tanya Kiara pelan pada dirinya sendiri.
“ Ada apa, Kiara? “ Ratih memandang menantunya itu penuh pertanyaan karena Kiara terlihat gelisah.
“ Ah, tidak apa – apa, ibu. Kia ke atas lagi ya, bu. “ Pamit Kiara yang kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.
Kiara kembali mengambil ponselnya di atas kasur, ia mengecek pesan di ponselnya pada malam dimana dia pergi ke Apartemen Beckham barangkali dia mendapat petunjuk. Setelah Kiara cek lagi, ternyata ada banyak pesan dari Prita.
Kiara baca pesan terakhir dari sahabatnya itu.
Kiara, kenapa lo gak angkat telepon gue? kalau begini terus, gue akan jemput lo ke Apartemen Beckham sekarang juga. *Prita*
“ Prita? “ Kiara melongo sebentar. “ Apa dia semalam benar – benar kesana? “ daripada bingung sendiri, Kiara pun segera menghubungi sahabatnya itu.
‘ Hallo? ‘
“ Prita, semalam lo ke Apartemen Beckham? “ Kiara langsung bertanya tanpa basa – basi.
‘ Iya, gue kesana dan menemukan lo dalam keadaan pingsan. Jadi, gue memutuskan untuk antar lo pulang pakai mobil gue dan mobil lo gue tinggal di parkiran Apartemen Beckham. ‘ Jelas Prita.
“ Apa? “ Kiara tertegun.
‘ Dan sekarang suami lo lagi pergi ke Apartemen Beckham untuk ambil mobil lo yang masih terparkir di sana. ‘
“ HAH? “ Kiara semakin di buat terkejut. “ Ko—kok, bisa? “
‘ Iya bisa karena gue yang kasih tahu alamatnya. Semalam juga dia yang angkat lo dari mobil gue ke dalam rumah. ‘ Jelas Prita.
Kiara tertegun, ia bingung kenapa pada pagi harinya Fahrial tidak memarahi dirinya atas apa yang terjadi.
‘ Kiara, gue harap lo jauhin Beckham mulai detik ini. ‘ Ucap Prita dengan tegas.
“ Loh, kenapa? ”
‘ Dia itu cowok gak bener, Kia. Lagian, emang lo gak kasihan sama suami lo? semalam itu dia terlihat khawatir banget sama keadaan lo! ‘
“ Dia gak seburuk yang lo lihat, kok. Beckham itu baik banget dan soal Fahrial gak usah lo fikirkan. “
‘ Terserah lo, deh. Pokoknya, lo harus jauhin Beckham atau gue akan laporkan soal hubungan kalian berdua ke Fahrial! ‘ ancam Prita.
“ Ya apa alesannya? “
‘ Banyak. Pokoknya lo jangan ketemu dia lagi! udah gue mau pergi dulu, nanti kita bahas lagi. ‘
“ Eh, tungg—“ Belum selesai Kiara bertanya – tanya, Prita sudah memutuskan panggilan dan ketika di hubungi lagi tidak di angkat.
Di saat Kiara lagi kebingungan, Beckham mengirimkannya pesan yaitu alamat dimana mereka akan bertemu.
“ Duh, Beckham ajak ketemuan lagi. “ Kiara menggigiti bibirnya karena bingung sebab tadi dia sudah di ancam oleh Prita tak boleh menemui pria itu. Namun, keinginan Kiara untuk bertemu Beckham selalu saja besar.
“ Udahlah, Prita gak akan lihat ini gue ketemu dia. “ Kiara yang memang keras kepala pun memutuskan bersiap – siap untuk pergi menemui Beckham.