Kiara bersiap untuk pergi sebelum Fahrial datang karena jika suaminya itu tiba di rumah sebelum dia berangkat, pasti nanti akan ada banyak pertanyaan yang Fahrial lontarkan serta belum tentu dia akan di beri izin untuk pergi.
Kiara terpaksa menggunakan mobil sedan berwarna merah yang baru Fahrial belikan itu untuknya karena mobil BMW yang sudah menjadi miliknya itu sedang bersama Fahrial. Kiara berpamitan lebih dulu dengan Ratih karena kebetulan mertuanya itu lagi berada di halaman depan sedang menyirami tanaman.
“ Bu, Kiara mau keluar dulu sebentar ya. “ Pamit Kiara.
“ Mau kemana, Kia? “ tanya Ratih seraya meletakkan gembor yang sejak tadi dia gunakan untuk menyiram beberapa bunga di depan halaman rumah.
“ Mau ketemu teman, bu. “ Jawab Kiara mencium tangan Ratih.
“ Sudah izin sama Fahrial? “ tanya Ratih lagi.
Kiara agak gugup, matanya mengerjap cepat sebelum akhirnya dia mengangguk. “ Su—sudah, bu. “ Kiara mencoba untuk tersenyum menutupi kebohongannya.
“ Oh yaudah, hati – hati ya. “ Pesan Ratih. “ Jangan ngebut bawa mobilnya, nak. “
“ Iya, bu. “ Kiara masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan kendaraan beroda empat itu untuk pergi.
Belum lama Kiara pergi, tak lama Fahrial datang. Ketika turun dari mobil, Fahrial bingung karena tidak melihat keberadaan mobil merah.
“ Bu? Mobil merah kemana? “ tanya Fahrial menghampiri Ratih yang masih sama dengan aktivitas sebelumnya yaitu menyirami bunga.
“ Loh, emang kamu gak tahu? “ balas Ratih.
“ Gak tahu apa, bu? “ Fahrial yang tak mengerti tentu saja bertanya – tanya.
“ Bukannya Kiara sudah izin sama kamu mau pergi? itu berarti harusnya kamu tahu dong, kalau mobil di pakai dia. “ Jelas Ratih seketika Fahrial terdiam dalam bingung.
Namun, beberapa detik kemudian Fahrial menepuk jidatnya sambil berkata. “ Oh iya, aku lupa. Tadi dia sudah izin. “ Bohong Fahrial untuk yang kesekian kalinya agar ibunya tidak menganggap Kiara berbohong.
“ Hm, kamu ini gimana, sih? “ Ratih menyudahi kegiatannya, ia berjalan masuk ke dalam bersama Fahrial.
Dalam langkahnya, Fahrial bertanya – tanya kemana istrinya itu pergi. Tidak ada pesan yang Fahrial terima dari Kiara sehingga lelaki itu tidak tahu – menahu informasi kemana Kiara akan pergi.
“ Fahri, ibu mau pulang sekarang. “ Ucap Ratih tetapi Fahrial tidak meresponnya, hal tersebut membuat Ratih penasaran apa yang membuat anaknya itu tidak fokus di ajak bicara dengannya. “ Fahri? “ panggil Ratih tetapi masih belum ada respon juga.
“ Nak? “ Ratih menepuk pundak Fahrial.
“ I—iya, bu? “ Fahrial sontak kaget seraya menghentikan langkahnya tepat di ruang tamu. “ Ada apa, bu? “
“ Kamu lagi mikirin apa sih, sampai ibu ajak ngomong gak di dengar? “
“ Gak ada kok, bu. Cuma masalah kerjaan aja. “ Jawab Fahrial, dalam hatinya dia merasa sangat bersalah karena terus saja memberikan jawaban palsu kepada ibunya.
“ Jangan terlalu stress mikirin pekerjaan. “ Ratih mengusap punggung anaknya itu.
“ Iya, bu. “
“ Yaudah, ibu mau rapih – rapih. Tolong antarkan ibu pulang ya sekarang. “ Ucap Ratih yang sudah tak sabar kembali ke rumah.
“ Iya, bu. “
Ratih pergi ke dalam kamar untuk bersiap – siap, sedangkan Fahrial duduk di ruang tamu, ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Ya, Fahrial bukan menghubungi Kiara melainkan Prita karena dari perempuan itu setidaknya Fahrial bisa tahu apakah saat ini Kiara memang benar pergi bersama Prita atau tidak sebab jika Fahrial bertanya langsung pada Kiara pasti istrinya itu akan selalu mengatakan hal yang sama yaitu pergi bersama Ody dan Prita.
“ Kenapa dia gak bilang kalau mau pergi. “ Tutur Fahrial sambil menunggu panggilannya di angkat oleh Prita.
‘ Hallo, Fahri? ‘
“ Hai, Prita. “ Sahut Fahrial saat panggilan sudah tersambung.
‘ Ada apa? ‘
“ Aku cuma mau tanya—“
‘ Sebentar, aku minggir dulu. Lagi bawa mobil soalnya. ‘ Potong Prita karena sepertinya Fahrial akan bertanya hal penting.
“ Oke, sorry ya ganggu. “
‘ Iya santai aja. ‘ Mobil Prita melipir ke pinggir jalan, lalu dia matikan mesin mobilnya dan kembali fokus untuk bicara melalui telepon selulernya. ‘ Gimana, Fahri? ‘
“ Kamu lagi sama Kiara gak? “ tanya Fahrial.
‘ Enggak, Fahri. Emang dia gak ada di rumah? ‘
“ Tadi sih, waktu aku mau ambil mobil ke Apartemen, Kiara lagi tidur. Tapi, ketika aku pulang dia udah gak ada dirumah. “ Jelas Fahrial.
‘ Udah coba hubungi Kiara dan tanya dia dimana? ‘
“ Belum, Prita. Aku sengaja hubungi kamu karena sepertinya dia tidak akan berkata jujur kalau aku tanya pergi kemana. Pasti dia akan jawab pergi sama Ody atau kamu. “
Prita melirik Ody yang saat ini duduk di sebelahnya tetapi sedang tidur, tidak mungkin jika Kiara pergi dengan Ody sedangkan Prita saat ini lagi bersama lelaki itu.
“ Kira – kira, kamu tau gak dia kemana? atau mungkin dia kasih tau kamu mau pergi kemana? “ tanya Fahrial lagi.
‘ Aku juga gak tau Kiara pergi kemana karena dia gak kasih kabar. ‘
“ Apa mungkin dia sama Ody? “
‘ Tidak, Fahri. Saat ini aku sedang bersama dengan Ody. ‘
“ Oh gitu, yaudah, deh. Maaf ya ganggu, makasih Prita. “
Saat Fahrial ingin memutuskan panggilan, Prita buru – buru menyahut.
‘ Fahri? ‘
“ Iya, Prita? “
‘ Nanti coba aku cari tahu dimana Kiara saat ini ya. ‘
“ Serius? emang gak ganggu kamu? “
‘ Iya, Fahri. Nanti kalau sudah dapat informasi, aku kasih tahu ya. ‘
“ Oke, deh. “
‘ Bye. ‘
TUT… TUT… TUT…
Saat panggilan sudah berakhir, Prita membangunkan Ody yang sejak tadi tertidur di dalam mobilnya.
“ Heh, Ody! Bangun! “ Prita memukul pelan pipi lelaki yang sering berkelakuan seperti wanita itu hingga membuatnya terbangun.
Ody menguap. “ Lo bangunin gue, emang kita udah sampe salon? “
“ Belum. Gue bangunin lo karena mau minta tolong. “
“ Apa? “ Ody menguap sekali lagi sambil mengucek – ucek matanya.
“ Coba deh, lo pura – pura tanya saat ini Kiara ada dimana. “ Suruh Prita karena dia berfikir kalau Prita yang menghubunginya dan bertanya dengan gadis itu pergi kemana pasti Kiara tidak akan jujur jika seandainya sedang bertemu dengan Beckham, apa lagi sebelumnya Prita sudah mengancam dan melarang Kiara untuk tidak bertemu Beckham.
“ Kenapa gak lo aja, sih? “ protes Ody tetapi dia tetap melakukan apa yang Prita suruh.
“ Udah buruan, telepon. Tapi, jangan sampai ketahuan kalo saat ini lo lagi sama gue, oke? “ tutur Prita.
“ Iya – iya, cerewet. “ Ody mulai menghubungi Kiara.
“ Kalo udah di angkat, nyalahin Loud Speaker biar gue denger. “ Perintah Prita.
“ Oke. “
“ Jangan lupa nanti tanya dia lagi dimana dan sama siapa. “
“ Ya ampun bawel bener ya. “ Ody mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirnya sok imut.
Sedangkan Kiara saat ini sudah tiba di Restauran yang Beckham kirimkan alamatnya. Untuk yang ke dua kalinya Kiara akan makan bersama lelaki itu.
Kiara sudah berada di tempat duduk menunggu kehadiran Beckham yang belum menunjukkan batang hidungnya.
DRT…DRT…DRT…
“ Ody? “ Kiara menatap layar ponselnya, lalu dia angkat panggilan masuk itu. “ Hallo Ody, kenapa? “
‘ Kiara sayang, saat ini ada dimana dirimu shay? ‘ ucap Ody langsung sok asik.
“ Lagi di luar. “ Jawab Kiara.
‘ Ih, lagi di luar gak ajak – ajak! Ody kan, juga mau ikut. ‘
Kiara tertawa. “ Ngapain lo ikutin gue terus. “
‘ Emang sekarang lo lagi di tempat apa? ‘ tanya Ody sesuai instruksi Prita.
“ Lagi di Restaurant sedap alam, dekat club yang sering kita datengin. “ Jawab Kiara memberitahu dapat terdengar oleh Prita karena Ody menyalahkan Loud Speaker.
‘ Tuh kan, enak banget. Emang mau makan sama siapa aja di sana? Kok, gak ajak – ajak ish, sebel deh, sama Kiara! ‘ balas Ody berlagak ngambek.
“ Ngapain gue ajak lo, nanti gak bisa berduaan sama Beckham. “ Balas Kiara langsung membuat Prita naik darah mendengarnya.
Ody memandang Prita karena dia bingung apa lagi yang harus di katakan.
“ Bilang apa lagi? “ tanya Ody kepada Prita tanpa suara.
“ Udah, akhirin aja. “ Jawab Prita juga tak bersuara agar tidak terdengar Kiara.
Ody mengangguk faham.
‘ Yaudah, deh. Ody gak mau ganggu Kiara dan Beckham. Bye! ‘ Ody segera mengakhiri panggilan.
“ Udah, kan? puas? “ celetuk Ody kepada Prita.
“ Itu anak emang bener – bener susah di bilangin. “ Prita jadi kesal sendiri karena sebelumnya dia sudah memberitahu agar Kiara menghindari lelaki itu.
“ Yaudahlah, biarin aja. Itu kan, hidup dia. “ Balas Ody kembali memejamkan matanya.
Prita menoleh ke arah Ody dengan tatapan sinis. “ Arghh! Gue telen juga lo! sebagai teman yang baik gue itu harus melindungi Kiara dari si Beckham cowok sialaan itu! “ terang Prita karena dia sudah sempat cerita kepada Ody terkait apa yang terjadi pada malam itu di Apartemen, jadi Ody juga sudah mengerti, hanya saja lelaki itu tidak mau terlalu ikut campur.
“ Eh, Prita! lo itu sedang berhadapan dengan Kiara. Jadi, maklumin aja karena dia susah di kasih tau dan menurut gue lo hanya akan buang – buang tenaga bahkan sampai mulut lo berbusa dia gak akan dengar nasihat lo. “ Cetus Ody lagi kali ini panjang lebar.
“ Udah lo tidur lagi aja, nanti gue bangunin kalo udah sampai akhirat! “ seru Prita yang sedang naik pitam.
“ Astaghfirullah! “ Ody kembali membuka matanya karena kaget atas apa yang baru saja Prita katakan. “ Jangan sekata – kata kalo ngomong! Gue belum tobat dan berubah jadi laki – laki seutuhnya, jadi kalo bisa jangan mati dulu. “
“ Bodo amat! “ Prita mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan kepada Fahrial. Dia memberitahu lelaki itu dimana keberadaan Kiara saat ini tetapi Prita tidak menginformasikan dengan siapa Kiara bertemu, Prita sengaja memberikan alamatnya saja agar Fahrial datang kesana dan melihat secara langsung dengan siapa istrinya itu bertemu.
Bukannya Prita tak setia kawan, hanya saja dia merasa seharusnya Kiara yang sudah menikah bisa menghargai suaminya. Prita juga melakukan itu demi kebaikan Kiara, setidaknya jika ketahuan oleh Fahrial kalau saat ini Kiara sedang berduaan dengan seorang lelaki, pasti gadis itu tidak akan berani bertemu Beckham lagi dan begitu juga dengan Beckham pasti akan menghindar setelah tahu Kiara sudah menikah.