= CURAHAN HATI FAHRIAL =

1134 Words
Fahrial berjalan bersama ibunya menuju mobil. Dia akan mengantarkan ibunya pulang. “ Tidak ada barang yang ketinggalan kan, bu? “ tanya Fahrial sebelum dia melajukan mobilnya menjauh dari rumah. “ Tidak, nak. “ Jawab Ratih. “ Oke. “ Baru saja Fahrial ingin menyalahkan mesin mobil, ada pesan masuk yang langsung segera Fahrial lihat karena takut itu dari Kiara. Namun, ternyata pesan itu dari Prita. Kiara lagi ada di tempat ini. ( Mengirim lokasi restaurant ). *Prita* Fahrial membaca pesan tersebut sambil berfikir dengan siapa Kiara disana, tapi Fahrial tidak enak jika banyak bertanya lagi dengan Prita. Alhasil dia hanya membalas pesan Prita dengan ucapan terima kasih. “ Kenapa, nak? “ celetuk Ratih karena Fahrial belum juga menyalahkan mesin mobilnya. “ Enggak apa – apa, bu. “ Fahrial bergegas pergi melajukan mobilnya. Di perjalanan, Ratih jadi teringat dengan apa yang ingin dia tanyakan pada Fahrial mengenai pernikahannya. “ Fahri? “ “ Iya, bu? “ “ Sejauh ini, bagaimana keadaan rumah tangga kalian? “ tanya Ratih basa – basi. “ Baik – baik saja. “ Jawab Fahrial tidak berfikiran kalau ibunya merasa ada yang janggal. “ Kenapa, bu? “ “ Tidak apa – apa. “ Ratih diam selama beberapa saat sebelum akhirnya dia kembali bicara. “ Waktu kamu bilang akan menikah dengan Kiara, ibu kaget sekali karena ibu tidak pernah melihat kalian berdua dekat apa lagi berpacaran lalu tiba – tiba kamu ingin menikahinya. “ “ Saat itu ibu memang tidak menentang kamu untuk menikahinya karena berfikiran mungkin Kiara adalah wanita pilihan kamu, ya walaupun ibu tidak tahu sifat Kiara gimana karena sejak dulu kita hanya sebatas tetangga yang jarang saling sapa. “ Ungkap Ratih panjang lebar kali ini membuat Fahrial bingung sebenarnya apa yang ada di benak ibunya saat ini, ia pun memilih diam untuk mendengarkan apa yang berikutnya akan ibunya katakan. “ Ibu senang kamu sudah menikah, tapi ada satu hal yang sampai saat ini masih ibu tidak mengerti. “ Kata Ratih seketika Fahrial menoleh. “ Apa yang tidak ibu mengerti? “ tanya Fahrial. “ Sebenarnya kalian menikah itu atas dasar saling cinta atau tidak? “ balas Ratih. DEG. “ Um… “ Fahrial menggaruk ujung hidungnya. “ Ya, Fahrial sangat mencintai Kiara, kalau bukan karena itu untuk apa Fahri memilih Kiara untuk jadi istri. “ Jawab Fahrial. “ Lalu, apakah Kiara juga mencintaimu? “ balas Ratih yang selalu saja membuat Fahrial harus berfikir dulu untuk menjawabnya. “ Sama, kok. “ Fahrial menjawab seadanya saja. “ Sama apanya? “ “ Ya, maksud aku… Kita berdua sama – sama saling mencintai, bu. “ Terang Fahrial mencoba untuk memperjelas. “ Tapi, kenapa ibu tidak melihat itu ya. “ Ungkap Ratih berdasarkan apa yang dia rasakan. Meskipun Ratih melihat beberapa kali Fahrial dan Kiara bermesraan, tapi dia merasa itu bukanlah hal yang natural atau terkesan dipaksakan. “ Kenapa ibu berfikir begitu? Aku dan Kiara saling mencintai dan—“ “ Aku ini ibu kamu, Fahri. “ Potong Ratih membungkam Fahrial. Fahrial menghela nafas panjang. Kali ini Fahrial tidak bisa mengelak karena sepertinya sang ibu sudah punya insting kuat bahwa dia sedang menyembunyikan apa yang terjadi. “ Baiklah, bu. Aku akan jujur kepada ibu, tapi tolong setelah mendengar ini ibu jangan membenci Kiara. “ Tutur Fahrial. “ Kamu tenang saja, Fahri. “ Ratih tersenyum. “ Sebenarnya memang rumah tangga kami berdua tidak terlalu baik dan sejujurnya Kiara tidak mencintai Fahrial, bu. “ Fahrial melirik ibunya yang kini menatapnya serius. “ Mungkin, bisa disebut cintaku bertepuk sebelah tangan. “ Tambahnya. “ Lalu, untuk apa kamu menikah kalau dari awal sudah tahu begitu? “ Ratih terheran – heran dengan anaknya itu. “ Jadi begini bu… “ Fahrial mulai menceritakan secara keseluruhan bagaimana perasaan suka dia terhadap Kiara dari masih remaja hingga kini sudah dewasa serta perjuangan dia sejauh ini agar menjadi orang kaya semata – mata agar masuk ke dalam kriteria Kiara dan Fahrial juga menjelaskan bahwa keputusannya untuk menikah saat itu terburu – buru karena merasa ada kesempatan di balik masalah yang Kiara hadapi, ia ingin menjadi penolong sekaligus menikahi Kiara agar gadis itu tidak di jodohkan dengan pria tua kaya untuk melunasi hutang. Ratih tertegun mendengar cerita anaknya, ia cukup kagum karena putra semata wayangnya itu sangat berjuang serta memliki ketulusan dan cinta yang begitu besar untuk Kiara, ya meskipun hati Ratih agak sakit setelah tahu kalau Kiara tidak membalas ketulusan putranya. Ratih jadi berfikiran bahwa Kiara mau menikah dengan Fahrial hanya demi mencari posisi aman saja supaya tidak di nikahkan dengan pria tua, mungkin jika itu tidak terjadi, sudah pasti Kiara tak akan mau menikah dengan Fahrial. Tapi, bukankah memang begitu faktanya? “ Seperti itu bu, ceritanya. “ Ucap Fahrial di akhir cerita dan di jawab anggukan oleh Ratih. “ Jadi, untuk saat ini ibu jangan berharap mendapatkan cucu dari Fahrial karena Kiara belum mau di sentuh oleh Fahri. “ Terang Fahrial kali ini mengejutkan Ratih. Padahal, Ratih fikir setidaknya mereka tetap melakukan hubungan badan karena biar bagaimanapun mereka sudah menikah. “ Jadi begitu sikap Kiara kepadamu? “ Ratih bertanya dengan hati mencelos. “ Ya, bu. “ Fahrial manggut – manggut. “ Terus, kemarin malam waktu ibu gantikan baju Kiara, sebenarnya dia habis dari mana? Ibu yakin dia tidak habis pergi bersama kamu. “ Ratih mempertanyakan kejadian pada malam itu. “ Ya, bu. Kiara memang tidak pergi bersamaku, dia habis pergi sendiri ke acara pesta ulang tahun temannya dan dia mabuk. Maka dari itu, aku minta tolong ibu untuk menggantikan pakaian Kiara karena takut kalau aku yang gantikan dan dia menyadarinya, pasti akan marah besar padaku. “ Jelas Fahrial. “ Ah, ya ampun. “ Ratih merasakan sesak karena hatinya merasa begitu sakit melihat anaknya mencintai Kiara sepenuh hati tetapi wanita itu bersikap seenaknya saja. “ Ibu, aku mohon setelah ini jangan pernah rubah sikap ibu kepada Kiara. Aku ingin ibu tetap menyayanginya seperti sebelumnya. “ Harap Fahrial kepada Ratih tetapi ibunya hanya diam dengan mata berkaca – kaca. “ Berarti, Kiara tidak melaayanimu selayaknya seorang suami? “ tanya Ratih dan Fahrial menggeleng. “ Dia tidak pernah memperhatikan apa yang kamu perlukan, butuhkan dan tak memenuhi keinginanmu? “ tanya Ratih lagi. Fahrial menggeleng. “ Tidak, bu. Tapi, itu tak masalah bagi Fahrial karena bagaimanapun sikap Kiara kepadaku, tidak akan merubah sedikitpun perasaan aku ke Kiara. “ Jawab Fahrial menunjukkan betapa besar dan kuatnya cinta dia kepada gadis itu. Sebagai seorang ibu, hati Ratih seperti di sayat silet mengetahui anaknya yang begitu tulus tidak di perlakukan dengan baik. Selama ini Ratih selalu mengurus Fahrial dengan sepenuh hati dan berharap kelak nanti jika putranya menikah akan mendapatkan istri yang juga sayang padanya, tapi kenyataan itu tidak menghampiri anaknya. ‘ Anakku salah apa ya tuhan, kenapa dia harus mengalami nasib seperti ini. ‘ Batin Ratih. Meskipun dia lihat saat ini anaknya mencoba untuk tersenyum dan nampak bahagia, tapi di dalam hatinya pasti ada sebuah luka yang tak bisa di jelaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD