= MENEMUI KIARA DI RESTAURANT =

2187 Words
Fahrial turun dari mobil, ia baru saja tiba di rumah yang sejak kecil dia tinggali bersama ibunya. Fahrial berdiri di depan rumahnya dengan pandangan tertuju ke arah rumah Kiara yang kini sudah tidak di tempati lagi karena mamahnya memilih untuk tinggal di sebuah Apartemen supaya tidak mengingat kenangan bersama almarhum suaminya jika terus berada di rumah itu.   “ Kamu mau langsung pulang atau mampir dulu? “ Ratih berdiri di samping putranya yang sedang memandang ke arah rumah Kiara.   “ Aku langsung pulang saja, bu. “ Fahrial melirik ibunya, ia lihat ekspresi ibunya itu agak berubah sejak dia bercerita tentang Kiara.   “ Yaudah. “ Jawab Ratih dengan kening mengerut.   “ Bu? “ Fahrial menghadap ibunya, ia pegang kedua pundak ibunya itu lalu bertanya.  “ Ada apa? “ tanya Fahrial.   “ Tidak ada apa - apa. “ Ratih berjalan menuju pintu masuk, Fahrial pun tidak tinggal diam, ia mengikuti ibunya.   “ Bu? “ Fahrial menahan pintu agar ibunya tidak jadi masuk. “ Apa penyebab ibu seperti ini ada kaitannya dengan Kiara? “   Ratih terdiam tetapi matanya berkaca – kaca, ia tidak bisa membayangkan bagaimana anaknya itu tinggal dengan perempuan yang sama sekali tidak mengindahkannya dan tak ada setitik cinta untuknya, sedangkan Fahrial sepenuh hati menyayangi Kiara.   “ Ibu, aku gak apa – apa, kok. Ibu jangan sedih karena cerita Fahrial tadi. “ Tutur Fahrial.   Ratih melengos tak mau menatap putranya.   “ Fahrial yakin, suatu saat nanti Kiara bisa mencintai Fahrial dan akan menjadi istri yang baik. “ Ungkap Fahrial langsung karena dia mengerti mengapa ibunya jadi mendadak bersedih.   “ Kamu terlalu tulus jadi orang, nak. “ Balas Ratih. “ Kalau sejak awal ibu tahu Kiara tidak mencintaimu dan hanya ingin menikah untuk menyelamatkan keadaannya, ibu tidak akan setuju! “ Ratih bicara dengan perasaan yang begitu sesak karena dia merasa selama ini membesarkan Fahrial penuh kasih sayang dan rasanya begitu sakit sang anak mendapat perlakuan seenaknya.   Mungkin sikap Ratih terlihat berlebihan, tapi suatu saat jika kalian para perempuan menjadi seorang ibu pasti tidak akan rela anaknya diperlakukan seperti itu.   “ Ibu—“   “ Kalau boleh memilih, ibu lebih ridho kamu menikah sama Laras! “ tegas Ratih kali ini sangat mengejutkan Fahrial.   “ Ibu? “ Fahrial sontak kaget. “ Jangan berkata seperti itu. Tolong hargai Kiara sebagai istriku. “ Ungkap Fahrial.   Ratih mengusap air matanya.   “ Ibu jangan menangis seperti ini. “ Fahrial menatap ibunya sendu.   “ Tadi ibu sudah janji tidak akan membenci Kiara kalau Fahrial menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. ” Kata Fahrial bernada lembut karena dia tak ingin menyakiti hati ibunya. “ Ayo duduk dulu, bu. “ Fahrial menggiring Ratih untuk duduk di bangku kayu yang berada di depan rumah agar lebih nyaman saat bicara.   “ Ibu tidak benci, mungkin lebih tepatnya sangat kecewa pada istrimu, Fahri. “ Jawab Ratih ketika sudah duduk, ia memandang Fahrial yang kini memilih untuk bersimpuh di hadapannya seperti orang ingin sungkeman.   “ Iya, aku mengerti. Ibu tenang saja, insyallah semuanya akan semakin membaik seiring berjalannya waktu. “ Ucap Fahrial mencoba untuk meyakinkan ibunya seakan – akan semuanya akan baik – baik saja.   “ Tidak bisa masak, tidak pernah mengurus suami, tidak melakukan apapun, keluar malam lalu pulang mabuk. Apa itu yang kamu maksud semuanya akan baik – baik saja? “ tanya Ratih dengan mata melebar, ia marah pada Fahrial yang masih bisa tenang menghadapi Kiara. “ Perempuan seperti itu harus segera di didik dengan tegas! “   “ Ibu jangan marah – marah. “ Fahrial meraih tangan ibunya lalu dia usap lembut untuk menenangkan emosi ibunya yang sedang menggebu. “ Aku akan mendidik Kiara, tapi secara perlahan, bu. “   “ Untuk apa secara perlahan? Kamu harus sedikit keras dengannya supaya dia tahu bahwa sebagai seorang istri itu harus menghargai suami! “ balas Ratih masih dengan emosi yang sama.   Fahrial tersenyum. “ Bu, aku pernah mendengar kalimat bahwa wanita itu di ciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan jika mencoba untuk meluruskan tulang rusuk yang bengkok tersebut, justru hanya akan mematahkannya. Oleh karena itu para lelaki dianjurkan untuk berlemah lembut dalam bersikap menghadapi wanita agar bisa tetap hidup bersama. “ Ungkap Fahrial menyentuh hati Ratih karena atas apa yang anaknya itu ucapkan dapat Ratih simpulkan kalau Fahrial sangatlah bijaksana.   “ Dari kalimat itu mungkin bisa di artikan jika Kiara yang bersikap keras kepala lalu aku menghadapinya dengan cara keras juga, justru yang ada akan meruusaak segala hal dan menyakitinya. Jadi, aku mencoba untuk bersikap tenang dan lembut kepadanya meskipun tau cara itu tidak akan membuatnya sadar secara instan, tapi Fahrial percaya proses, bu. “ Tambah Fahrial semakin membuat Ratih ingin menangis.   “ Fahri… “ Ratih mengusap kepala anaknya dengan bibir gemetar karena menahan tangis.   “ Sekarang, ibu tidak perlu khawatir lagi ya dan ibu juga jangan benci Kiara. Biar bagaimanapun Kiara sudah jadi istri aku dan anggap saja apa yang terjadi denganku saat ini adalah ujian dalam rumah tangga. “ Fahrial berusaha untuk membuat ibunya agar tidak membenci Kiara.   “ Kamu sangat tabah, nak. Tapi, ibu benar – benar sangat kepikiran tentang kalian berdua. “ Ujar Ratih.   “ Tidak usah ibu fikirkan, biar Fahrial aja yang tanggung. “ Cetusnya berusaha untuk tersenyum di depan ibunya yang dia lihat sudah hampir menangis.   Ratih menggelengkan kepalanya takjub. “ Entah hatimu terbuat dari apa sangat tulus sekali, nak. “ Tuturnya.   “ Bukankah aku begini karena didikan ibu yang selalu mengajarkan Fahrial untuk menjadi orang yang tulus dalam melakukan apapun harus sepenuh hati dan juga menjadi orang baik. “ Balas Fahrial menciptakan senyuman di bibir Ratih.   “ Anak ibu memang hebat! “   “ Yaudah, aku akan pergi sekarang. “ Fahrial berdiri, ia mencium pucuk kepala ibunya lalu beralih mencium tangannya untuk berpamitan.   Ratih ikut berdiri. “ Jika kamu sudah merasa lelah, pulang dan temui ibu. Rumah ini akan selalu terbuka untukmu. “ Ucap Ratih mengisyaratkan Fahrial jika sewaktu – waktu anaknya mulai jenuh dalam segala hal yang sudah dia tahan, Ratih sebagai ibunya akan selalu merentangkan tangan untuk memeluk anaknya.   “ Iya, bu. “ Sekali lagi Fahrial tersenyum. “ Assalamualaikum. “ Fahrial bergegas menuju mobilnya.   “ Hati – hati, nak. “ Ratih melambaikan tangan ke arah mobil Fahrial yang sudah mulai melaju. “ Berat sekali rasanya mencoba untuk menerima keadaan di saat anak sendiri sedang dalam kesedihan dan penuh luka. “   Sementara itu, Fahrial mengemudikan mobilnya dengan fikiran sedikit kacau. Melihat ibunya tadi sempat menangis karena dirinya membuat Fahrial jadi ikut bersedih.   “ Maafin aku, bu. “ Fahrial mengusap setitik air mata di sudut matanya.   Fahrial berharap kehidupan rumah tangganya benar – benar akan membaik agar ibunya tidak bersedih lagi.   “ Baiklah, aku harus segera menemui Kiara. “ Fahrial melajukan mobilnya menuju Restaurant tempat dimana saat ini Kiara berada.   **   Kiara lagi makan siang bersama Beckham sambil membahas apa saja yang terjadi pada malam itu di Apartemen.   “ Jadi, aku mabuk berat? “ tanya Kiara.   “ Ya, Kiara. Malam itu kamu muntah – muntah dan pingsan. Lalu, aku membawa kamu ke kamar agar kamu bisa istirahat disana, tapi temanmu tiba – tiba saja datang dan menamparku. “ Jelas Beckham dengan kesal jika mengingat apa yang sudah Prita lakukan padanya.   “ Me—menampar? “ Kiara tercengang mendengarnya.   “ Iya, dia fikir aku berbuat macam – macam padamu. Padahal, aku hanya sedang menolongmu dengan memindahkanmu ke kamar, bahkan aku mengelap sisa muntahan di bibirmu. Aku melakukan itu karena perduli padamu. “ Jelas Beckham membuat Kiara terharu sekaligus kasian dengan lelaki itu.   “ Maafin Prita ya, dia emang galak. “ Balas Kiara sambil mengelus tangan Beckham.   “ Iya, santai aja. “ Jawab Beckham tenang padahal dalam hatinya dia menggerutu kesal dengan Prita.   “ Pantes aja dia suruh aku jauhin kamu, mungkin dia begitu karena sudah salah faham. Tapi, untung saja aku gak dengerin omongan dia. “ Dengan polosnya Kiara berkata jujur pada Beckham soal larangan Prita.   ‘ Jadi, dia sudah melarang Kiara. ‘ Batin Beckham.   “ Apa kamu juga berfikiran seperti temanmu, bahwa aku ingin berbuat buruk padamu? “ tanya Beckham ingin tahu bagaimana pemikiran Kiara kepadanya.   “ Tentu saja tidak. “ Kiara tersenyum lebar. “ Aku percaya kamu orang baik. “   “ Terima kasih, Kiara. “ Beckham ikut senang mendengarnya.   Mereka melanjutkan menikmati makanannya.   “ Kia, aku ke toilet dulu ya. “ Beckham bangun dari duduknya. “ Aku titip ini. “ Beckham meletakkan topinya di atas meja sedangkan jaketnya lelaki itu letakkan di penyangga kursi.   “ Oke. “   Di sisi lain, saat ini Fahrial baru saja tiba di depan Restaurant Sedap Alam.   “ Itu mobilnya Kiara. “ Pandangan Fahrial tertuju ke arah mobil BMW yang dulunya sering dia pakai saat ini terparkir tak jauh dari posisinya berdiri.   “ Berarti benar dia ada disini.  Langsung masuk aja, deh. “ Fahrial melangkahkan kakinya masuk ke dalam Restaurant.   Begitu sampainya di dalam, ia celingak – celinguk mencari – cari keberadaan Kiara hingga akhirnya pandangannya tertuju ke meja yang berada di sudut ruangan.   “ Itu dia. “ Tanpa berfikir panjang, Fahrial langsung menghampiri saja ke tempat duduk Kiara, ia lihat istrinya itu sedang main ponsel.   “ Kiara? “   “ Sudah ke toiletnya? “ tanya Kiara dengan mata fokus ke arah layar ponsel. Namun, sedetik kemudian dia tersadar kalau suara yang baru saja dia dengar adalah milik Fahrial. Seketika Kiara mendongakan kepalanya menatap ke arah sumber suara.   “ FA—FAHRI? “ Kiara sontak berdiri, ia mendadak tegang dan nampak gelagapan.   “ Kamu sama siapa makan di sini? “ Fahrial bertanya sambil melirik ke arah tempat duduk yang ada di hadapan Kiara. Dapat Fahrial lihat ada topi dan jaket laki – laki.   “ Sa—sama, Ody! “ bohong Kiara.   Alis Fahrial terangkat satu. “ Ody? “   “ I—iya, Ody. “ Kepala Kiara mengangguk cepat.   Fahrial mengangguk saja seolah mempercayai Kiara, padahal dia tahu kalau saat ini Ody ada bersama dengan Prita. “ Aku mau ikut gabung sama kamu dan Ody. “ Fahrial malah duduk di salah satu kursi yang kosong.   “ Gak usah, Fahri! Lebih baik kamu pulang saja! “ seru Kiara dengan mata yang berkeliling untuk memantau apakah Beckham sudah keluar dari toilet atau belum.   “ Aku mau ketemu Ody. “ Jawab Fahrial sambil menyilangkan kakinya.   “ Fahrial, jangan buat aku marah! “ tegas Kiara yang mulai kesal karena dia panik dan takut jika Beckham bertemu Fahrial, maka mereka akan berkelahi.   “ Kenapa kamu harus marah? duduk saja. “ Fahrial menarik tangan Kiara untuk duduk tetapi gadis itu menepisnya.   “ Ayo kita pulang sekarang! “ Kiara mengambil tas dan konci mobilnya di atas meja. “ Ayo! “ dia tarik tangan Fahrial agar segera berdiri.   “ Kenapa? kamu takut ketahuan sedang berbohong, hm? “ tanya Fahrial yang saat ini sudah berhadapan dengan Kiara. “ Katakan sejujurnya, kamu makan berdua dengan siapa! “   “ Sama Ody! Sudah berapa kali aku bilang! Kamu cerewet sekali! “ Kiara menarik paksa tangan Fahrial untuk keluar Restaurant, sementara itu Fahrial mengikutinya saja karena tidak enak di perhatikan banyak orang karena sejak tadi berdebat.   Sampainya di parkiran, Fahrial mencoba untuk menghentikan Kiara yang sejak tadi menariknya. “ Hentikan, Kia. “ Fahrial menarik tangannya.   “ Masuk ke dalam mobil kamu! “ perintah Kiara dengan tatapan sinis.   “ Kenapa jadi kamu yang marah seperti ini? “ tanya Fahrial karena seharusnya Fahrial yang merasa kesal sebab Kiara sudah membohonginya.   “ Aku gak suka kamu datang tiba – tiba nyamperin aku kesini! aku sedang makan bersama temanku, Fahri! Perlakuan kamu yang kayak begini jadi buat aku tidak nyaman dan merasa tidak punya privasi! “ Oceh Kiara seakan – akan saat ini dia yang merasa paling tersakiti.   “ Kamu gak salah ngomong begitu? “ Fahrial bertelak pinggang. “ Aku datang hanya ingin tahu kamu pergi dengan siapa karena aku tanya Ody dan Prita mereka bilang sedang tidak bersama kamu! Terus sekarang tiba – tiba kamu mengatakan lagi makan dengan Ody! Kenapa kamu harus berbohong? Memangnya dengan siapa kamu makan? “   Kiara mendadak bungkam karena sudah terciduk berbohong. “ Kita bicarakan ini di rumah. “ Kata Kiara karena takut jika Bekcham keluar akan melihatnya.   “ Nanti dulu, aku ingin melihat siapa yang makan bersama kamu. “ Fahrial ingin masuk ke dalam lagi tetapi Kiara mencegahnya.   “ Jangan! Kalau kamu masuk, aku tidak akan mau bicara denganmu lagi! “ ancam Kiara dengan jantung berdegup kencang karena dia sangat deg – degan takut Fahrial tetap memaksa akan masuk.   Fahrial tersenyum miris. “ Kamu makan dengan laki – laki lain ya? “ tebak Fahrial karena melihat Kiara sangat panik.   “ Tidak! aku makan dengan teman perempuanku, Fahri! “ lagi – lagi Kiara berbohong.   “ Perempuan? “ Fahrial menggeleng kecewa karena Kiara tidak berterus terang kepada dirinya. “ Tadi aku melihat topi dan jaket milik laki – laki, bukan perempuan! Apa kamu fikir aku sangat bodoh, Kia? “ kali ini Fahrial memberikan tatapan agak tajam.   Kiara kembali membisu, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi karena fikirannya benar – benar kacau.   “ Aku ingin mendengar alasan apa lagi yang akan kamu katakan nanti di rumah. “ Fahrial mengalah, ia tidak jadi masuk ke dalam Restauran dan memilih untuk masuk ke dalam mobilnya.   Kiara menghela nafas berat, ia juga masuk ke dalam mobilnya dan mereka berdua masing – masing mengendarai mobil keluar parkiran Restaurant. Tak lupa Kiara mengirim pesan kepada Beckham dengan alasan bahwa dia ada acara mendadak yang tidak bisa di lewatkan dan terpaksa meninggalkan Beckham.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD