Fahrial merebahkan tubuh Kiara di atas kasur, ia mencium bau tidak sedap dari baju Kiara yang cukup basah. Fahrial dapat menebak kalau istrinya itu habis muntah, oleh karena itu dia memutuskan untuk turun ke bawah membangunkan ibunya.
“ Ibu…Ibu…” Fahrial mengetuk pintu kamar ibunya berkali – kali.
“ Sebentar. “ Ratih yang baru saja selesai solat malam bergegas berdiri dari duduknya di atas sajadah untuk membukakan pintu. “ Ada apa, Fahri? “ tanya Ratih bingung.
Nampak kecemasan di wajah Fahrial. “ Um, ibu aku boleh minta tolong tidak? “ tanyanya ragu – ragu karena jika Fahrial meminta bantuan ibunya untuk membukakan pakaian Kiara pasti ibunya jadi tahu kalau Kiara baru saja pergi keluar malam dan mabuk – mabukan, serta ibunya akan curiga kenapa tidak Fahrial saja yang langsung menggantikan pakaian istrinya sendiri sebagai seorang suami.
“ Katakan saja, tidak usah ragu. “ Ratih mengusap lengan Fahrial karena merasa ada yang anaknya itu sembunyikan.
“ Tolong gantikan pakaian Kiara, bu. “ Jawab Fahrial mencoba memberanikan diri.
Ratih memandang lekat wajah anak semata wayangnya itu, ia yakin ada sesuatu yang sulit untuk di jelaskan sehingga nampak ketakutan dari mata Fahrial.
“ Kamu duluan saja ke atas, nanti ibu menyusul. “ Ungkap Ratih cukup mengejutkan Fahrial karena ibunya tidak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bertanya mengapa bukan dirinya saja yang menggantikan pakaian Kiara.
“ O—oke. “ Fahrial kembali menuju kamarnya sedangkan Ratih yang saat ini masih memakai mukena segera melepaskannya dan bersiap – siap.
Tak berselang lama, Ratih datang ke kamar Fahrial. Dia melihat Kiara dalam keadaan tertidur.
“ Berikan ibu pakaian Kiara. “ Pinta Ratih.
“ Iya, bu. “ Fahrial berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju tidur milik Kiara, kemudian dia serahkan kepada ibunya. “ Ini, bu. “
Ratih pun mulai membukakan pakaian Kiara, saat itu Fahrial masih berada di sebelah Ratih sampai akhirnya dia memutuskan untuk keluar karena tak ingin melihat tubuh Kiara dalam keadaan benar – benar tanpa sehelai baju.
Ya, meskipun Fahrial menginginkan untuk menyaksikan indahnya tubuh Kiara tetapi dia akan merasa bersalah jika menikmatinya di saat Kiara sedang tak sadarkan diri. Itu benar – benar tidak ada sensasinya.
Ratih sempat menoleh ke arah Fahrial yang baru saja keluar dari kamar, ia semakin yakin ada sesuatu antara putranya dan sang menantu sebab untuk apa Fahrial keluar. Anaknya itu seperti tak mau melihat bagian tubuh Kiara karena suatu alasan.
Ratih kembali melanjutkan kegiatannya, tak lupa dia mengelap tubuh Kiara menggunakan kain basah yang sudah dia siapkan agar tidak lengket.
Selesai membersihkan, Ratih bergegas keluar kamar.
“ Fahri, istrimu sudah bersih. “ Ucap Ratih kepada Fahrial yang nampak tak enak hati karena menyembunyikan sesuatu dari ibunya.
“ Makasih ya, bu. “ Jawab Fahrial tak berani menatap Ratih.
Ratih mengusap pipi Fahrial sebentar sebelum akhirnya dia pergi turun ke bawah tanpa bertanya apapun. Sebagai seorang ibu, tanpa perlu banyak bertanya dia langsung bisa merasakan sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Namun, Ratih tidak ingin langsung bertanya karena tahu hal tersebut sepertinya akan menggangu fikiran Fahrial, sehingga Ratih menunda dulu sampai menemukan waktu yang tepat untuk bicara.
Fahrial kembali masuk ke dalam kamar, ia menghampiri Kiara dan duduk di pinggir kasur. Kedua bola matanya memandangi Kiara yang begitu damai dalam tidurnya.
“ Kenapa kamu susah sekali di bilangin, sih? “ Fahrial bicara pada istrinya yang terlelap. “ Aku sudah tegaskan supaya jangan mabuk, tapi kamu tetap melakukannya. “ Fahrial menggeleng heran. Dia sudah mencoba untuk menjadi suami yang penyabar, pengertian tetapi respon Kiara seperti mengabaikannya.
“ Aku harus bagaimana lagi, Kiara? “ Fahrial terus saja bertanya – tanya.
Fahrial merasa sangat di kecewakan, tapi ada hal yang lebih menyakitkan lagi hanya saja tidak Fahrial ketahui yaitu istrinya sudah berciuman dengan pria lain tanpa sepengetahuannya.
**
Saat pagi tiba, Kiara terbangun lebih awal. Dia menguap sambil mengucek – ucek matanya. Dia melirik Fahrial masih tertidur sedangkan jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
“ Loh, Fahrial tidak bekerja? “ tanyanya, namun setelah mengingat ini hari sabtu Kiara pun tidak jadi membangunkan Fahrial untuk bekerja.
“ Tidur lagi aja, deh. “ Kiara ingin kembali memejamkan matanya tetapi seketika dia terkejut karena baru saja tersadar bahwa saat ini dia sudah berada di kamarnya sendiri sedangkan terakhir kali dia merasa sedang berada di Apartemen Beckham.
“ APA? “ Kiara sontak terbangun duduk, ia amati sekelilingnya lagi untuk memastikan apakah dia benar – benar ada di kamarnya atau tidak.
“ Ke—kenapa gue bisa ada disini? “ Kiara teperangah, ia menundukkan kepalanya menyaksikan Dress yang semalam dia pakai juga sudah berubah menjadi baju tidur. “ Pa—pakaianku? Siapa yang menggantikannya? “ Kiara semakin tercengang dengan semua yang menurutnya sangat mengejutkan dan tidak terduga.
Seketika pandangan Kiara menoleh ke arah Fahrial. “ Apakah Fahrial yang menggantikan pakaianku? Lalu siapa yang mengantarkanku pulang dan apakah Fahrial bertemu dengan Beckham dan—“ Kiara tidak jadi melanjutkan ucapannya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk.
“ Fahri…Fahri…” Terdengar suara Ratih dari luar kamar.
“ Ibu? “ Kiara turun dari kasur dan berjalan untuk membuka pintu.
“ Eh, Kiara. Kamu sudah bangun. “ Ratih menampilkan senyuman merekah. “ Fahrialnya masih tidur? “
“ Iya, bu. Perlu aku bangunin? “ tawar Kiara.
“ Tidak usah, ibu cuma mau anterin ini. “ Ratih memberikan nampan berisi dua gelas susuu putih dan beberapa roti selai. “ Ini sarapan untuk kalian berdua. “
“ Makasih, bu. “ Kiara mengambil nampan tersebut.
“ Yaudah ibu mau lanjut masak dulu ya. “ Ratih ingin melangkah pergi.
“ Ibu lagi masak? “ tanya Kiara menghentikan langkah Ratih.
“ Iya, kebetulan banget tadi pagi – pagi buta ada banyak tukang sayur yang lewat. Jadi ibu beli bahan untuk masak. “ Jelas Ratih, memang dasarnya ibu – ibu tidak bisa diam kalau lihat tukang sayur bawannnya ingin belanja dan masak untuk keluarganya.
“ Oh yaudah, aku cuci muka dulu terus habis itu bantuin ibu. “ Ucap Kiara karena merasa mertuanya itu sudah berbaik hati membuatkannya sarapan.
“ Tidak usah, nak. Kamu sarapan saja. Nanti kalau perlu bantuan ibu bilang, kok. “ Selesai bicara, Ratih pergi turun ke bawah karena dia sudah tidak sabar untuk mengolah bahan masakkan.
Kiara masih berdiri di ambang pintu memegang nampan berisi sarapan pagi yang telah dibuatkan ibu mertuanya. “ Sarapan dulu deh, isi energi. Habis itu baru bantuin ibu. “ Kata Kiara, ia menutup pintu dan masuk ke dalam kamar.
Kiara lupakan sejenak mengapa dirinya bisa tiba di rumah karena satu – satunya orang yang bisa menjelaskan semua ini adalah Fahrial.
“ Nanti kalau dia sudah bangun, aku harus tanyakan semuanya dari A sampai Z! “ seru Kiara sambil menikmati roti selai kacang bercampur cokelat. “ Hm, kalau di fikir – fikir. Ibunya Fahrial itu baik dan perhatian sekali ke gue, ya sama halnya seperti sikap Fahrial ke gue. Tapi, entah kenapa terkadang mereka berdua itu sama – sama menjengkelkan. “ Tuturnya.
“ Memang dasar buah tidak jauh dari pohonnya. “ Ucap Kiara, ia mendadak jadi teringat ibunya sendiri yang sangat cerewet seperti dirinya. “ Aku jadi kangen mamah. “