- 20 -

1875 Words
"Kiran diem?" Arbis menatap Kiran bingung, karena langka sekali Kiran tiba tiba diam di tengah perdebatan mereka. Sayna ikut menoleh pada Kiran, begitu pun dengan Ilham. Mereka menatap Kiran dengan pandangan heran. Sungguh suatu hal yang langka Kiran diam seketika. "Ran, lo kenapa?" Ilham yang berada di sebelahnya menepuk Kiran. Membuat Kiran tersadar akan lamunannya. Kiran gelagapan menatap ke semua temannya yang kini sedang menatapnya penuh tanya. Ia berusaha mengumpulkan partikel partikel nyawanya yang sempat berhamburan, melayang pergi pada masa lampau. "Kenapa? Kenapa liatin gue semua?" Tanya Kiran cuek, ia mengalihkan wajahnya dari para teman temannya. Berusaha menyembunyikan raut kebingungan yang timbul di wajahnya. "Lo galau yaa?" Tebak Saya asal, Namun menurut Kiran ini kurang tepat, Kiran bukan galau. Tapi, ahh.. Kiran sendiri pun bingung mendeksprisikan perasaannya. Ia hanya bingung, apa Kiran harus senang atau sedih? Dia kembal, yaa! Gusur kembali dengan cara misterius, itu yang Kiran benci. Namun yang Kiran lebih benci, Gusur kembali di saat yang tidak tepat. Mengapa baru sekarang? Di saat Kiran sudah berusaha membuka hati untuk orang lain. "Kesambet lo bengong mulu!" Cetus Arbis gemas, yang lagi lagi melihat Kiran malah kembali diam. Sungguh ini sangat langka, biasanya Kiran itu suka teriak teriak gak jelas atau nyerocos tanpa jeda. Tapi kini malah diam seketika. Kiran kembali menoleh pada teman temannya, melihat wajah wajah mereka yang terlihat kebingungan. Kiran mencoba meyakinkan dirinya, sepertinya Kiran memang perlu membagi kisahnya pada teman seperjuangannya ini. "Gue bingung." Hanya itu yang keluar dari mulut Kiran. Handphone yang ada di tangannya kini Kiran letakan di meja. Tak ada jawaban dari Klover, hanya pandangan penuh tanya yang di lontarkan pada Kiran. Menyuruh Kiran mengatakan apa penyebab Kiran kebingungan seperti itu. "Gusur tiba tiba muncul. Gue harus apa? Gue kan udah mau move on ama Rafa." Kiran mulai bercerita, namun ceritanya malah membuat Klover makin kebingungan menatap Kiran. "Gusur itu sejenis apaan, Ran?" Sayna bertanya begitu polos, mewakili pertanyaan yang juga terbesit di benak Ilham dan Arbis. Kiran menepuk jidatnya frustasi, Omaygat! Ini penghinaan atau pelecehan namanya. Disaat Kiran mau curhat pake acara ditanya Gusur itu sejenis apaan? "Gusur tuh nama orang. Cowo yang pernah gue ceritain itu. Yang bikin gue gagal move on ampe sekarang." "Namanya gak elite banget, gak ada yang bagusan dikit apa?" Komentar Ilham, oh ini lebih seperti celaan dibandingkan komentar. "Daku jadi teringat Lupus." Tambah Sayna, gaya bicaranya jadi mengikuti Gusur yang ada di cerita Lupus itu. "Bahahahaha.." Tawa Ilham dan Arbis seketika pecah, mendengar Sayna bicara seperti itu. Pikiran mereka langsung nyambung dengan ucapan Sayna. Gusur. Gusur yang ada di cerita Lupus. Sahabat karib Lupus selain Boim. Si seniman sableng yang gaya bicaranya begitu puitis. Temannya Lupus yang memiliki postur tubuh gendut, pendek, yang hobinya makan. Oh seketika bayang bayang cerita Lupus menghantui pikiran Sayna, Ilham, dan Arbis. "Gue gak kenal Lupus." Miss komunikasi pun terjalin antara Ilham, Sayna, Arbis dengan Kiran yang gak tau apa apa soal Lupus. Mereka jadi gak jelas, Kiran balik galau in Gusur, dan Ilham, Sayna, dan Arbis malah bernostalgia tentang novel era 80-an yang mereka sendiri pun belom lahir, tapi hobi ngoleksi novel novel ngocol yang di jamin selalu bikin ngakak para pembacanya. *** Sambil menunggu bel masuk sekolah, Klover yang pagi pagi udah pada ngumpul langsung ngerumpi. Gelak tawa membahana terdengar memenuhi kelas ini, mereka begitu ramai menceritakan kisah apapun. Namun pagi ini mereka kembali fokus menceritakan tentang Gusur. "Loh, Tisya. Lo kok gapake sepatu sih?" Pandangan Klover beralih, obrolan mereka terhenti, saat suara Sayna menyapa Tisya yang baru datang tanpa menggunakan sepatu. Terkecuali Arbis yang hanya melirik sekilas, melihat kaki Tisya yang hanya berbalutkak kaus kaki putih. "Pasti sepatu lo warna warni yaa?" Tebak Ilham sok tau. "Bukan.." suara Tisya terdengar tidak begitu kencang, karena Tisya tidak terlalu kenal dengan Klover yang sok akrab ini. "Paling tali sepatunya warna putih." Arbis angkat bicara tanpa menoleh sedikitpun pada Tisya. Arbis berpura pura sibuk dengan handphone nya yang jarang ada sms-nya. Paling paling cuma operator yang selalu perhatian mengingatkan Arbis untuk isi ulang pulsa atau masa aktif Arbis yang sudah habis. Beginilah derita jones akut kaya Arbis. Diam diam Tisya melirik Arbis yang ternyata perhatian juga. Segurat senyuman tipis mengulum indah di bibirnya, sebersit rasa senang menghampirinya. Tisya pun segera duduk di bangkunya, yang terletak di paling belakang. Maklum anak baru, jadi dapetnya bangku sisaan. Sebenernya bangku itu sebelahan juga ama Klover. Cuma bedanya bangku Tisya di barisan dua, dan Klover barisan pertama yang deket jendela. Biar mata mereka bisa bergeriliya ke luar kelas kalo guru yang ngajarnya ngebetein. Pada saat bel masuk berdering, Klover malah kompakan ke luar kelas. Mereka buru buru kabur sebelum guru masuk, tujuan utamanya sih ke UKS, meski sekarang kaki mereka malah melangkah ke kantin untuk membeli beberapa makanan. Ide bolos pelajaran ini tercetus dari Kiran, bukan tanpa sebab Kiran mengeluarkan ide ini. Masalahnya pelajaran pertama ini Pak Santo, guru yang setengah mati Kiran benci setelah kejadian minggu lalu. Kiran jadi gak mood buat ikut pelajaran dia, sampai akhirnya Kiran ngajak Klover buat ikut aliran sesatnya. Namun tak lupa Klover sudah memaksa ketua kelas untuk mencari alasan ketika ditanyai Pak Santo tentang hilangnya mereka berempat dari kelas. "Abis ini pelajaran olah raga, ambil baju dulu yuk." Ajak Sayna sambil memasukan piscok kedalam mulutnya. Dan perlu kalian ketahui, semua makanan yang tadi Klover beli di kantin ini di jajani oleh Kiran. Pasalnya Kiran baru aja di kirimin duit sama Papanya yang ada di luar negeri. Eh, luar negeri apa luar kota ya? Ah Kiran aja yang anaknya udah bener bener gak tau keberadaan orang tuanya dimana. Kiran udah gak peduli, mau ke luar angkasa pun Kiran udah sebodo. Yang penting mereka harus tetep memenuhi kewajibannya mengirimkan uang dengan Kiran. Meski Kiran pun tau, kasih sayang tak dapat di ganti dengan uang. Namun apa daya? Mau Kiran berdemo di bundaran HI pun, Mama dan Papa nya tetap akan sibuk dengan pekerjaannya. "Hayuk, kita gangguin XI IPA 2." Teriak Kiran penuh semangat, dan mendapat sambutan hangan dari Sayna. "Elo berdua mah gangguin Regan!" Ilham menoyor kepala Kiran, Kiran cuma manyun lalu nyengir karena tebakan Ilham tepat sasaran. Klover yang tadinya pada duduk pun berdiri untuk keluar dari UKS dan berganti baju olah raga, meski bel pelajaran masih 15 menit lagi tapi mereka udah pada sibuk mau ganti baju olahraga. Yaa daripada gak jelas di uks mulu, mending ganti baju kan, ngambil baju di loker. Lokernya di depan XI IPA 2. Kan Kiran sama Sayna mau bercentil ria dengan Regan. "Olahraga? Dia gak pake sepatu? Kenapa harus kebetulan?" Arbis bergumam sendiri, kini hanya Arbis yang terlihat masih diam di UKS sambil memikirkan sesuatu. "Bis, ayok. Betah lo di UKS?" Kiran berteriak dari pintu, memanggil Arbis untuk bergabung bersama mereka. Arbis yang segera tersadar pun langsung menghampiri teman temannya itu. *** Siswa kelas XI IPS 4 kini sudah berbaris rapi di lapangan, menunggu sang guru olah raga datang. Mereka sudah siap dengan seragam olah raga berwarna hijaunya. Pemanasan pun mereka lakukan sambil menunggu guru olah raga datang. Di tempatnya berbaris, mata Arbis sibuk mencari seseorang yang seharusnya ada disini. Namun ia tak menemukannya. Kemana dia? Batin Arbis bertanya tanya. Arbis seakan cemas, pasalnya hari ini akan ada pengambilan nilai olah raga. Jika dia tidak ikut, maka dia tidak dapat nilai. Padahal dia murid baru, dan itu akan menghancurkan image nya dimata para guru. Oh tidak, mengapa Arbis harus memikirkan dia? Dia saja belum tentu mengingat Arbis. Tidak tidak! Arbis sudah tidak peduli dengan dia! Tapi.. "Guys, gue ke kelas bentar yaa. Ada yang ketinggalan." Arbis memberitahu kepada teman temannya. Lalu kaki lincahnya langsung berlari menuju kelasnya yang berada di pojokan, maklum kelas buangan. *eh Arbis memperlambat langkahnya saat tubuh Arbis sudah terlihat di depan jendela kelasnya. Arbis melirik sedikit melalui jendela itu, disana ada Tisya yang sudah berganti pakaian menjadi seragam olah raga. Namun Tisya tidak beranjak, ia hanya duduk di tempatnya. Dan di kelas itu kini hanya ada dirinya. Arbis mulai memasuki kelasnya, membuat tatapan Tisya mengarah terhadapnya. Arbis menghampiri tempat duduknya, tak jelas apa yang di lakukannya, ia hanya terlihat sedang mengacak isi tasnya. "Hari ini ngambil nilai ya, Bis?" Tisya yang semula diam, memecah keheningan yang ada di kelas ini. Arbis menghentikan aktifitasnya sejenak, melirik Tisya sekilas. Rupanya dia mau bertanya pada Arbis lebih dulu. "Hm.." Arbis hanya berdehem, menandakan jawaban ya. Sebisa mungkin Arbis terus bersikap cuek pada Tisya. "Gue gabisa ikut, tolong ijinin sama gurunya yaa." Arbis diam, tak menjawab omongan Tisya. Lalu ia berjalan menuju keluar kelas. Namun saat berjalan menuju pintu, Arbis melepaskan sepatunya sambil berjalan, dan tentu Tisya melihat itu. Bahkan Tisya berpikir sepatu itu terlepas dari kaki Arbis, tapi tidak, itu sengaja Arbis lakukan. "Bis, sepatu lo!" Teriak Tisya tertahan, saat melihat Arbis tetap berjalan. Kini Arbis malah berhenti di dekat pintu. "Pake aja sama lo. Gue lagi gak mood olah raga." "Tapi kan hari ini ngambil nilai." "Gue gak minat sama nilai." Sebelum Tisya kembali menjawab, Arbis segera berlalu meninggalkan kelas. Ia segera menuju tangga untuk naik ke lantai dua. Sedang di kelas Tisya hanya terheran heran dengan sikap Arbis, namun sedetik kemudian Tisya mengerti, rupanya ini suatu bentuk kepedulian Arbis pada Tisya, dengan caranya yang terkesan cuek. Sementara di lantai dua, Arbis berjalan menuju lab multimedia. Bukan tanpa alasan Arbis pergi kesana, Arbis hanya ingin melepas penat dengan bermain komputer yang ada di lab multimedia itu. Di lab multimedia memang hampir mirip dengan lab kkpi, namun bedanya menurut Arbis, AC di lab multimedia lebih berasa dari pada di lab kkpi. Serta penjaga lab multimedia lebih enak daripada di kkpi, di lab multimedia ada mahasiswa calon guru yang tentunya masih muda, beda dengan kkpi yang ada guru batak bertubuh besar dengan tampang menyeramkan. Tapi itu menurut Arbis, yang sebenarnya adalah, di multimedia itu ada alat peredam suara, serta berbagai peralatan multimedia lainnya. "Ka, gue pinjem komputernya satu yaa." Dengan gaya tengilnya Arbis menyapa Fitri, penjaga lab ini. Arbis langsung duduk di salah satu bangku yang ada disana. Ia segera menyalakan komputer itu. Padahal Fitri belum mengijinkannya. "Jangan main disini. Nanti ada anak XI IPA 1 yang kesini." Fitri yang tadinya duduk pun menghampiri Arbis, untuk mengusir Arbis dari sana. "Ya biarin lah, sama sama kelas XI ini. Gue bayar deh nanti." Saut Arbis cuek, membuat Fitri naik darah mendengar ucapan Arbis. "Saya gak mau tau, kamu cepet keluar. Bukannya kamu olah raga?" "Sepatu gue basah, jadi gue gaikut." "Kenapa bisa basah, hari ini sama sekali tidak hujan." "Orang sepatu gue kepengen basah kok elo yang repot. Yaudasih anggap aja gue maen warnet, nanti gue bayar. Lagian komputernya kan ada 40. Setiap kelas kan siswanya cuma ada 38. Masih lebih dua kan? Yaudah buat gue." Arbis tetap keukeuh, membuat Fitri putus asa berbicara pada Arbis. Fitri tau, Arbis dan genk nya itu memang selalu bersikap semaunya pada Fitri. Mereka seperti menganggap Fitri itu sepantaran, karena memang disini Fitri itu hanya magang. Arbis segera memasangkan airphone yang tersedia disana. Arbis pun mengakses jaringan internet yang tersedia khusus di ruangan ini. Inilah hal yang paling Arbis sukai di lab ini, wifi nya kenceng banget. Tak lama kemudian segerombolan siswa dari XI IPA 1 pun datang. Arbis tak begitu memperdulikannya, ia tetap asik bermain game online dengan airphone yang terpasang di telinganya. Di setelnya musik dengan volume sekeras mungkin. Beberapa anak kelas XI IPA 1 sempat kebingungan melihat Arbis yang berada disana dengan seragam olah raganya. Namun Arbis tetap cuek, seolah tak terjadi apa apa. Beberapa saat kemudian Arbis baru tersadar, bahwa ternyata Karin kan kelas XI IPA 1, dan kebetulan Karin kini duduk di depannya. Pikiran jail pun mulai menggerayangi Arbis. "Hey, lo! Tukeran tempat duduk sama gue!" Arbis menarik narik kerah baju belakang seorang siswa lelaki yang duduk di sebelah Karin.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD