- 21 -

1837 Words
Siswa itupun menoleh, ia memicingkan matanya melihat Arbis, ia agak asing melihat wajah Arbis yang tidak sekelas dengannya. "Gak mau. Bahkan gue gak tau lo siapa." Sautnya cuek. "Lo pikir gue tau lo siapa hah? Gak usah sok tenar lo! Udah cepet pindah, gue mau duduk disitu." Arbis terus memaksa siswa itu untuk pindah, Karin yang duduk di sebelah siswa itu masih tidak begitu sadar bahwa ada Arbis di belakang. Karin kan memang orangnya tidak pedulian. "Arbis! Jangan mengganggu orang lain!" Ka Fitri yang saat itu meng-handle mata pelajaran di lab ini, menegur Arbis yang membuat keributan di belakang. Sontak seluruh siswa pun menengok pada Arbis yang kini malah memandang mereka dengan tatapan malas. "Apa liatin?" Ketus Arbis yang merasa jadi pusat perhatian. "Gue cuma mau tukeran tempat duduk, Ka. Dianya nyolot." Arbis mengadu pada Ka Fitri, Ka Fitri hanya mendenguskam nafas beratnya karena kelakuan Arbis. Akhirnya dengan sedikit paksaan siswa itupun mau bertukar tempat duduk dengan Arbis. Karin yang akhirnya tau dengan keberadaan Arbis pun hanya mengelus d**a, itu tandanya Karin harus ekstra sabar karena Arbis. "Rin, gue minjem airphone lo dong. Ini gak nyala tau." "Rin, lo bawa flashdisk ga? Gue pinjem bentar dong mau mindahin download-an gue." "Eh ini kenapa? Komputernya kok eror yaa?" "Rin, tolong sms in Kiran dong, bilangin gue gaikut olah raga karna di suruh bantuin Ka Fitri di lab. Gue gak ada pulsa." Karin menarik nafas panjangnya, setiap kali Arbis mengganggunya. Rasanya Karin benar benar naik darah dengan kelakuan Arbis. Wajah Karin kini merah padam, rasanya Karin ingin melenyapkan Arbis dari muka bumi ini. Kok bisa bisanya ada manusia merepotkan seperti ini? *** Dengan penuh rasa penasaran Sayna pergi ke taman yang berada di dekat SMPnya. Bahkan Sayna belum mengganti seragam sekolahnya, ia langsung di antarkan oleh Ilham kemari, karena memang permintaan Sayna seperti itu. Saat ini Sayna memang memiliki janji dengan secret admirer yang sering mengiriminya kata kata dan bunga ataupun coklat. Sebenarnya mereka janjian jam empat, tapi karena Sayna terlalu bersemangat, jam stengah tiga pun Sayna sudah sampai di taman ini. Dan pastinya si secret admirer itu belum datang. "Terus selama sejam lebih gue harus ngapain yaa? Duh, gue jadi deg degan gini, kira kira siapa yaa dia? Gue kenal gak yaa?" Gumam Sayna sambil menyusuri taman, kedua tangannya memegangi tali tas gembloknya yang bertali kecil. Mata Sayna menjelajah sekelilingnya, mencari objek yang enak di pandang. Pandangan Sayna berhenti pada gerobak buah dingin, enak juga yaa siang siang ngerujak. Kasih garem sama sambel, buahnya di cocol, duh pasti seru kalo makannya ramean sama Klover. Pikir Sayna. Hingga akhirnya Sayna pun menghampiri tukang buah dingin tersebut. "Bang, mau dong pepaya, bengkuang, mangga, em sama.." Sayna tampak berpikir sejenak untuk menu rujaknya. "Abis, Neng." Tukang rujak itu memotong omongan Sayna, Sayna melongo, baru sadar kalo isi gerobak tukang buah dingin ini tinggal es batu balok yang separonya udah mencair. Sayna hanya mengelus d**a, sabar, gue belom beruntung mungkin. "Duh sori yaa, kayaknya gue orang terakhir yang beli deh." Suara berat itu menggema dari samping Sayna. Dengan antusias Sayna menoleh ke sampingnya. Ia tertegun melihat makhlik Tuhan paling tampan 'menururnya' sedang berdiri di sampingnya. Oh Tuhan, mengapa belakangan ini Sayna sering terjebak kebetulan, kata orang sih namanya takdir, berarti emang dasar jodoh. Oh benarkah? Semoga aja iya. "Mungkin gue kurang beruntung, haha. Ngapain lo disini?" Sayna berusaha bersikap wajar. Kepalanya mendongkak menatap Eza yang lebih tinggi darinya. "Mau berdua sama gue gak? Em cari angin aja, rumah gue depan situ lagian." Omaygat? Barusan Eza bilang apa? Nawarin berdua? Makan rujaknya satu bungkus berdua gitu. Duh Sayna mau banget, tapi rada jaim juga, kesannya Sayna kelaperan dong di depan Eza. Rumah Eza di deket sini, yess akhirnya tau juga daerah Eza, tau gitu Sayna sering sering deh maen kesini. "Enggak deh, nanti lo gak kenyang lagi." "Sok malu malu deh. Udah ayuk kita ngerujak di bangku itu aja." Tangan kanan Eza menarik pergelangan tangan Sayna, sedangkan tangan kirinya menenteng kantong plasti hitam berisi buah dingin. Seketika konsentrasi Sayna buyar, Sayna bingung harus apa, semoga Eza gak sadar kalo Sayna mulai linglung gara gara tangannya di pegangin Eza. Sayna senang campur takut, dengan cara Eza kaya gini malahan bikin Sayna berharap lebih besar pada Eza, Sayna gak mau terlalu berharap ketinggian, jatohnya nanti sakit banget. Tapi Eza yang bikin harapan Sayna melambung tinggi karena perlakuannya. "Oh iya, lo ngapain disini? Sendirian aja kayak anak ilang." Tanya Eza setelah mereka duduk di salah satu bangku taman, Eza membuka buah dingin yang udah di bungkus, kata gue sih namanya rujak. "Nunggu temen." Jawab Sayna singkat. Sayna gak mampu ngomong terlalu panjang saat ini. Sayna bingung nyusun katanya, kerja otak Sayna seketika melemah. Aduh, keliatan banget begonya. "Emm, Klover yaa?" Eza mengunyah pepaya yang sudah di colekan sambel, ia menebak asal sambil memandang Sayna. Duh Eza, pelis, gak usah liatin gue, guenya salting tau. Batin Sayna berteriak gak karuan, setiap kali mendapat perlakuan dari Eza yang membuatnya semakin gak jelas. "Elo tau Klover? Omaygat, setenar itukan genk gue?" Sayna mencoba bersikap biasa, bertingkah sedikit lebay, dan sesekali ikut menyuap rujaknya Eza. "Abis gue pernah liat pas nganter Sesil. Elo, Regan, dan beberapa orang lagi pada ngeriung di parkiran. Sesil bilang kalian Klover, kecuali Regan sama cewek satu lagi itu, siapa yaa namanya?" "Oh Karin." Sayna mengingat kejadian tempo hari, saat debat di parkiran, emang sih sebelumnya Sayna ngeliat Eza lagi nganter Sesil, tapi Sayna gak nyangka Eza merhatiin. *** "Arbis, thanks yaa." Tisya menghentikan langkahnya saat melihat Arbis berjalan berlainan arah dengannya. Tisya baru sempat mengucapkan terimakasih pada Arbis setelah ia di pinjamkan sepatu, karena pasalnya seharian ini Arbis gak keliatan di kelas. Arbis full bolos pelajaran, dia ketiduran di lab multimedia. Arbis ikut menghentikan langkahnya, kini posisinya Arbis membelakangi Tisya. Arbis tersenyum tipis saat mensengar suara seseorang yang seharusnya adalah gadisnya itu. "Dasar ceroboh. Dari dulu gak pernah berubah." Ucapan Arbis kali ini lebih terdengar seperti desisan. Arbis berusaha cuek pada Tisya. "Yeah, lo juga masih sama kayak dulu. Sok cuek tapi peduli." Mendengar penuturan Tisya kali ini, Arbis malah memejamkan matanya. Arbis tak sanggup, Arbis sangat merindukan gadisnya itu. Arbis ingin memeluknya, menciumnya, menggenggam erat tangannya, dan Arbis berjanji tak akan pernah melepaskannya sedetikpun. Tapi Arbis tak mungkin melakukannya, itu sama saja mengundang perang dengan Angga. Gadisnya itu kini telah menjadi milik Angga, Arbis sendiri masih tak habis pikir bagaimana bisa itu terjadi? "Time finish, gue rasa cukup yaa ajang flashbacknya. Kan gak enak kalo nanti lo sampe nangis." Suara licik Angga terdengar menusuk gendang telinga Arbis. Suara itu terdengar sangat memuakan, suara yang di iringi tawa meremehkan. Arbis selalu benci dengan tawa lelaki itu. Arbis tak menjawab, ia kembali berjalan. Arbis tak ingin berurusan lagi dengannya. Tapi jujur, Arbis penasaran apa yang akan Angga lakukan setelah tau Arbis meminjamkan sepatu pada Tisya. "Kenapa gak bilang sih? Aku bisa beliin kamu seribu sepatu asalkan kamu jangan minjem sama dia." Angga menghampiri Tisya, suara nyaris pelan, namun masih terdengar oleh Arbis yang mulai menjauh. "Lo emang bisa beliin seribu sepatu, tapi lo gak bawain satu sepatupun disaat dia butuh. Memprihatinkan." Tanpa di duga Arbis malah menyauti omongan Angga, ia menengok sambil tersenyum sinis pada Angga. Tisya dan Angga menatap Arbis. Mata Angga terlihat sudah melotot, menatap gahar pada Arbis. Emosinya langsung terpancing dengan omongan Arbis. Membuat Tisya khawatir apa yang akan terjadi berikutnya. Arbis kembali berjalan santai, tanpa di duga Angga berjalan dengan cepat mengikutinya. Seketika sampai di dekat Arbis,,Angga membalikan tubuh Arbis dengan kasar. Dan... Bugh.. Satu tonjokan berhasil menghantam wajah Arbis, membuat perubahan warna pada bagian pipi Arbis. Arbis meringis menahan sakitnya tonjokan dari Angga. Tanpa ada perlawanan, Arbis malah menatap sinis sosok rival abadinya. "Ck! Gue gak nyangka, seorang Angga itu tempramen, padahal, cara nyelesain masalah orang orang cerdas itu gak kayak gini. Oke gue paham, otak lo emang masih jauh di bawah gue!" Arbis mencibir begitu pedas, membuat wajah Angga menjadi merah padam. Angga memang tidak ahli mengatur emosinya. Bugh.. Angga kembali meninju Arbis, kali ini di bagian perutnya, membuat Arbis berhasil memuntahkan darahnya. Tisya panik melihat suasana semakin parah, bukan perkelahian Angga dan Arbis yang Tisya khawatirkan, tapi keadaan Arbis. "Elo tuh udah kalah dari gue masih bisa bersuara. Dasar gak punya malu!" Angga berteriak murka di depan wajah Arbis, agar Arbis dapat mendengar penuturannya. "Kalah? Gue gak pernah ngerasa bertanding sama lo. Dan kalo lo pikir, dengan sekarang lo ngedapetin Tisya lo bisa lebih hebat dari gue, berarti lo salah. Harusnya elo yang malu, bisanya selalu dapetin apa yang pernah gue milikin. Lo tuh selalu dapet BEKAS gue!" Tisya tercekat mendengar ucapan Arbis, oh sungguh, kini dirinya seakan menjadi piala bergilir kedua orang di hadapannya. Dan Arbis adalah orang pertama yang berhasil mendapatkannya, dan dalam kesempatan berikutnya justru Angga berhasil merebutnya dari Arbis. Tapi, di mata Tisya, Arbis tidak salah. Ucapannya tadi semata ingin membela dirinya. Kini gantian, Arbis mempelintir tangan Angga, lalu kakinya menendang perut Angga sampai Angga tersungkur. Ia menatap Angga lebih sinis. "Kalo mau, gue bisa bikin lo mati di tempat detik ini juga. Tapi gue kasian sama lo, lo belom pernah ngerasain kebahagiaan yang sesungguhnya di hidup lo itu." Arbis langsung pergi setelah mengucapkan ini. Meninggalkan Angga yang kesakitan memegangi perutnya. Arbis juga sebenarnya kesakitan, terbukti dari jalannya yang agak bongkok dan tangannya memegangi perutnya. Untung sekolah sudah sepi, jadi tak ada yang melihat pertengkaran Arbis barusan dengan Angga. "Gue masih gak yakin loh, kalo elo tuh beneran kembaran Kiran. Abis bedanya jauh banget, elo tuh semua ngerti. Tentang pelajaran aja lo udah di jamin pinter sama guru guru, seputar novel elo tau semua, dunia komik juga lo tau, politik lo tau, olahraga juga lo tau, ah kenapa lo perfect banget yaa?" Arbis menghentikan langkahnya mendengar sebuah suara yang terdengar semakin mendekat. Arbis bersembunyi di balik tembok, ia mengintip sejenak, rupanya ada Karin dan Regan yang sedang berjalan bersama. Dilihatnya Karin yang tersipu malu akibat pujian Regan, barusan mereka memang baru saja di suruh mengerjakan tugas guru di ruangan salah satu guru, memungkinkan mereka untuk mengobrol. Dan tak henti hentinya Regan berdecak kagum pada Karin yang paham di segala bidang. "Gak usah berlebihan, nanti gue melayang." Karin tersenyum penuh arti. Hatinya benar benar berbunga bunga bisa dekat dengan Regan. "Haha bisa aja lo. Mau gue anter balik gak?" "Gak usah, gue bawa mobil kok. Tadi Kiran balik sama tukang ojeknya." "Emm, oh iya. Gue boleh bagi nomor lo gak? Barang kali kita di suruh guru barengan lagi gitu." Regan menggaruk kepalanya kebingungan, sambil sedikit nyengir Regan menatap Karin malu malu. Karin tersenyum melihat tingkah Regan. Dalam hati Karin berteriak sekencang kencangnya. Omaygat, dia minta nomor gue. Aaaaa serasa terbang naek awan doraemon. "Kiran punya kok nomor gue. Minta aja. Oh iya, lo ke parkiran duluan aja . Gue mau ke toilet." Sebenarnya ini hanya bualan Karin, Karin cuma tak tahan ingin berjingkrak kesenangan. Regan pun berbelok arah, sedang Karin terus lurus. Setelah sekiranya Regan sudah tak terlihat dari pandangannya, Karin pun meloncat dengan girangnya. Bodoamat, toh sekolah sudah sepi, tak ada juga yang mengamatinya bertingkah seperti orang gila ini. Karin tidak tau Arbis ada disana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD