"Cabut aja yok."
Gavin, laki-laki yang sedang memainkan ponselnya itu pun seketika mendongak saat sahabatnya itu berujar dan mengajaknya untuk meninggalkan ruang kelasnya. Sudah lebih dari lima belas menit mereka menunggu, namun dosen yang akan mengajar di kelas mereka tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Gas, kantin," ujar Gavin sembari menyampirkan tas pada pundak kanannya. Ia mempunyai keberanian untuk meninggalkan kelas sebab dalam Kontrak Kuliah bersama Bu Dona itu tertulis bahwa jika dosen terlambat masuk lebih dari lima belas menit, maka kelas dinyatakan kosong dan mahasiswa boleh meninggalkan ruang kelas. Jadi mereka tak akan mendapat hukuman apapun, meskipun sengaja meninggalkan kelas saat ini juga.
"Kuylah, ya kali nggak kuy," ucap Gara Laki-laki itu melenggang santai melewati teman-temannya yang masih memilih untuk tetap berada di kelas. Tak lupa, ia melayangkan high five pada beberapa teman laki-lakinya. Gavin yang berada di belakang Gara itu pun jadi ikut-ikutan high five bersama mereka.
Sesampainya di ambang pintu, tepat sebelum Gara berbelok ke arah kiri, Gavin sudah lebih dulu menarik laki-laki itu untuk berjalan ke arah kanan, mengikuti dirinya.
"Loh, kantin di sana, Vin," protes Gara yang tidak terima sebab tasnya ditarik-tarik seperti ini.
"Itu kantin Ilmu Komputer, sedangkan gue mau ke kantin Ekonomi Bisnis," sahut Gavin dengan enteng.
"Buset, jauh bener. Gue keburu laper, nyet," kata Gara yang sama sekali tidak disahuti oleh laki-laki jangkung yang sudah berjalan di depannya itu.
Gara mendengus, ia kini paham dengan tujuan Gavin. Palingan dia mau nge-bucin dengan pacarnya, si anak Manajemen itu. Dan Gara kini tersadar bahwa ia hanya akan menjadi obat nyamuk di sana. Huh, andai saja ia belum putus dengan Nadya, pasti Gara bisa tuh ikutan nge-bucin seperti Gavin dan Fany.
Ketika sepasang sahabat gendeng itu sudah sampai di kantin Ekonomi Bisnis, mereka langsung memesan makanan dan minuman yang diingankan. Lalu beberapa saat setelahnya, mereka membawa pesanan mereka ke meja yang masih kosong untuk mereka tempati.
Baru saja Gavin meletakkan mangkuk berisi mie ayam dan segelas es jeruknya di atas meja, perempuan yang sedang Gavin tunggu-tunggu itu melenggang santai melewati dirinya, seakan semesta memang sedang merestuinya saat ini.
*
"Fan, udah hampir jam dua nih." Rissa membagi tatapannya pada Fany dan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Perempuan itu menyesap jus jambu merahnya, sebelum tangannya mengobrak-abrik isi tasnya demi menemukan beberapa lembar kertas folio yang didominasi oleh angka-angka itu.
"Mau dikumpulin sekarang?" tanya Fany yang langsung diiyakan oleh sahabatnya itu. Setelahnya, Fany melakukan hal serupa dengan Rissa, yaitu mengambil kertas folio berisi jawaban dari tugas yang diberikan oleh Bu Tria tempo hari.
Rissa sudah beranjak dari tempat duduknya saat ponsel Fany bergetar singkat, tanda sebuah pesan masuk, membuat perempuan bermata sabit itu langsung menyambar ponselnya yang tadi ia letakkan di meja, berdekatan dengan jus alpukatnya.
"Lo jalan duluan, Ris. Kakak gue ngechat nih, gue mau bales dulu," kata Fany yang dijawab oleh anggukan dari sahabatnya itu.
Fany berjalan mengikuti Rissa dari belakang sembari menarikan jemarinya di atas layar datar ponselnya.
Pandangan Fany pun terfokus pada benda kotak itu, sampai ia tak menyadari bahwa ia telah melewati laki-laki yang sudah sejak tadi menatap ke arahnya.
"Fan," panggil Gavin pada perempuan itu, yang sepertinya tidak didengar olehnya.
Merasa kembali dihiraukan, Gavin memilih untuk mengikuti langkah Fany, hingga Gara yang sudah lebih dulu menikmati soto ayamnya itu memanggil nama Gavin beberapa kali.
Fany nampak begitu fokus kala membalas pesan dari sang kakak yang sedang bertanya bagaimana caranya memasak nasi goreng itu. Saking fokusnya sampai-sampai perempuan itu hampir saja membenturkan kepalanya pada punggung seseorang yang tengah berjalan mundur di depan Fany. Perempuan itu pasti sudah mengomel galak kalau saja lengannya tidak ditarik oleh laki-laki yang sedari tadi mengikuti di belakangnya.
Fany terperanjat ketika tiba-tiba lengannya ditarik hingga tubuhnya kini berbalik menghadap laki-laki jangkung itu. Belum selesai keterkejutan Fany, kala ia mengetahui bahwa laki-laki yang menarik lengannya tadi adalah Gavin.
"Mas, jalannya jangan sambil mundur dong," ujar Gavin pada laki-laki yang hampir ditabrak oleh Fany tadi. Sontak laki-laki itu pun meminta maaf, lalu beranjak dari sana.
"Lo baik-baik aja? Lain kali kalo jalan jangan sambil main hape," tegur Gavin pada Fany. Kini ia menurunkan tatapannya pada perempuan setinggi bahunya, yang tengah nenatapnya tanpa ekspresi.
Fany mengangguk, sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja, meskipun sebenarnya perempuan itu masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Makasih ya," kata Fany tulus. Tak ada intonasi yang galak dan jutek seperti beberapa hari belakangan. Melihat hal itu Gavin tersenyum lembut, lantas melepaskan genggamannya pada lengan Fany.
Detik berikutnya, masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya, Gavin mengulurkan tangannya pada Fany, "Gavino Pranaja," ujarnya.
Perempuan di hadapan Gavin itu masih menatap Gavin penuh tanya. Belum paham dengan maksud dari laki-laki itu. Fany menyernyit bingung, dan Gavin memahami hal itu.
"Nama lo? Gue mau kenalan," ucap Gavin.
Sejenak, Fany bergulat dengan pikirannya sendiri. Harus merespon dengan cara seperti apa untuk ucapan dan perlakuan Gavin padanya saat ini. Perempuan itu bimbang. Lalu dengan penuh ragu, Fany menyambut uluran tangan laki-laki di hadapannya itu, dengan tanpa senyum yang terbit di wajahnya.
"Stephany Gwen."
Senyum Gavin semakin mengembang lebar. Ia mengeratkan genggaman tangannya, terlampau bahagia karena langkah pertamanya dalam usaha mengembalikan ingatan Fany itu mendapat respon baik dari perempuan itu.
"Setelah ini, gue harap kita bisa menjadi teman baik," kata Gavin setelah ia melepaskan genggamannya. "Oh iya, gue juga minta maaf soal kejadian di parkiran waktu itu," lanjutnya.
Fany terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia mengangguk sebagai isyarat bahwa ia menerima permintaan maaf Gavin. Lalu, perempuan itu pun melangkahkan kakinya meninggalkan Gavin dan menghampiri Rissa yang rupanya sedari tadi menunggunya di sebelah pintu keluar kantin yang berjarak tak terlalu jauh dari tempat Fany dan Gavin berdiri. Diam-diam Rissa memperhatikan interaksi antara Fany dan Gavin tadi. Rissa masih belum paham mengapa keduanya malah mengulang adegan perkenalan seakan-akan sebelumnya tak saling kenal.
"Kalian ngapain kenalan lagi sih?" tanya Rissa ketika Fany sudah berada di sampingnya. Perempuan itu benar-benar kepo dengan hal itu, namun yang Fany lakukan untuk menjawab pertanyaan Rissa hanyalah mengendikkan bahu saja, tanpa mau untuk memberikan tanggapan apapun. Dan Rissa tak mau memaksa sahabatnya itu untuk menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara ia dan Gavin.
*
"Mie ayam lo udah ngembang tuh, bentar lagi berbuah," cibir Gara sedikit nyeleneh ketika Gavin kembali ke kursinya sembari meneguk es jeruknya yang sudah tidak dingin sebab es batunya telah sepenuhnya mencair.
Merasa diabaikan, Gara kembali berujar, "Jadi sekarang statusnya udah berubah jadi teman baik nih?"
"Berisik banget lo. Gue laper, setelah ini gue ceritain semuanya." Gavin berdecak. Laki-laki itu melayangkan tatapan tajam pada Gara yang terus bersuara padahal saat ini Gavin sedang lapar selapar-laparnya orang lapar. Oke, itu lebay. Intinya, Gavin sedang lapar saat ini, jadi ia tidak ingin diganggu.
Gara yang duduk di hadapan Gavin itu pun memaklumi. Mungkin temannya itu baru saja dicampakkan, jadi dia butuh energi yang banyak untuk menghadapi kenyataan. Untuk itu, yang Gara lakukan saat ini hanya memainkan ponselnya sembari menunggu Gavin menyelesaikan kegiatan mengisi perutnya. Sesekali laki-laki itu terkikik geli dengan video lucu dari akun yang diikutinya yang tak sengaja lewat di beranda Instagramnya. Dasar manusia receh.
Setelah meletakkan sendok dan garpunya pada mangkuknya dengan posisi tengkurap, laki-laki itu kini beralih pada es jeruknya, menyesapnya hingga hanya tersisa setinggi jari kelingking saja. Kemudian laki-laki itu melirik sang sahabat yang tengah tertawa cekikikan di hadapannya. Gavin menggeleng pelan, ternyata kerecehan Gara belum juga hilang, dan bahkan sepertinya kerecehan laki-laki itu semakin menjadi-jadi.
"Woy, gue udah selesai nih," tegur Gavin saat Gara masih saja terpaku pada layar ponselnya.
Laki-laki bernama lengkap Segara Biru itu pun sontak meletakkan ponsenya. Lalu menatap sahabatnya itu dengan serius, "Gimana?"
"Jijik tau nggak, lo natap gue kayak natap pacar, nyet," sambar Gavin yang risih ditatap seserius itu oleh Gara. Padahal kan muka serius Gara memang seperti ini. Dasar Gavinnya saja yang kepedean.
Gara memutar bola matanya jengah, lalu mengubah ekspresi wajahnya menjadi biasa aja, tidak seserius tadi.
"Jadi gini...." Gavin menggangantung kalimatnya, sengaja membuat sahabatnya itu semakin penasaran dengan apa yang akan ia ucapkan.
"Apaan, nyet," sahut Gara dengan emosi yang sudah sedikit naik. Sahabatnya ini benar-benar menyebalkan dan akhlakless. Dia pikir penasaran itu rasanya enak? Kan tidak.
Gavin terkekeh sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya, "Cewek gue hilang ingatan."
*
Pukul tiga lebih sepuluh menit. Seharusnya Gavin sudah berada di rumahnya saat ini, namun ia rela menunda kepulangannya demi menunggu sang pacar yang kini sedang menjadi teman baiknya itu pulang. Tadi Gavin sudah bertanya pada Rissa, katanya kelas mereka selesai jam tiga lebih lima belas menit. Jadi terhitung sisa lima menit lagi bagi Gavin untuk menunggu perempuan bermata sabit itu.
Beberapa kali Gavin melirik jam tangannya dan mendengus sebal. Kenapa jika ditunggu, jarum jam akan terasa berjalan dengan lambat? Membuat sebal saja.
Lalu wajah Gavin berubah ceria saat perempuan yang ditunggunya itu kini sedang berjalan menuju parkiran, tempat Gavin menunggunya sedari tadi.
"Fany," panggil Gavin ketika perempuan yang ditunggunya itu sudah berjarak kurang lebih tiga meter di depannya.
Fany tersenyum masam dan terus berjalan untuk melewati Gavin. Namun langkahnya terhenti saat Gavin memanggilnya lagi.
"Kenapa sih?" tanya Fany sedikit kesal karena laki-laki itu terus saja muncul di hapadannya.
"Gue anter pulang, yuk," ajak Gavin seraya menampilkan senyum lebarnya yang seperti biasa, senyum itu menciptakan lubang di kedua pipi laki-laki itu.
Fany mengembuskan napasnya kasar, sebelum akhirnya kembali berujar, "Katanya mau berteman, tapi kenapa lo nempelin gue mulu kayak perangko?"
Gavin hanya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Laki-laki itu tengah memikirkan jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Fany barusan.
"Nggak bisa jawab 'kan? Dasar perangko." Setelah mengucapkan kalimat itu, Fany berbalik untuk meninggalkan Gavin dan berjalan cepat menuju mobil yang sudah terparkir tak jauh dari sana dengan seseorang di kursi kemudi yang tengah melambai ke arahnya.
Merasa kenal dengan orang itu, Gavin pun mengikuti Fany dari belakang. Setelah sampai di samping mobil yang menjemput Fany tadi, Gavin menyapa orang yang ia kenali itu dengan sebutan 'Mami' lalu mencium tangannya.
Fany yang juga berada di tempat itu pun menyernyit bingung, "Lo ngapain sok kenal sama nyokap gue?" tanyanya sinis.
"Loh, Mami kan memang kenal dengan Gavin." Bukan Gavin yang menjawab pertanyaan Fany, melainkan Maminya, orang yang tadi duduk di kemudi mobil hitamnya. Kini wanita paruh baya itu sudah turun dari mobil tersebut.
Fany hanya mencebikkan bibirnya saja, tak mau membuang-buang tenaganya untuk memprotes Gavin yang ternyata selain menempeli dirinya, laki-laki itu juga menempeli Maminya. Memang dasar perangko.
"Yaudah, ayo kita pulang," ujar Angela dengan tersenyum lembut. "Gavin sekalian ikut, yuk," lanjutnya.
"Mi, ngapain sih?" protes Fany merasa tidak setuju dengan ajakan Maminya itu pada Gavin.
Dengan tetap menampilkan senyum manisnya, Gavin menolak ajakan Angel, dengan alasan ia mengendarai motor dan sudah berjanji akan pulang cepat pada kakaknya. Iya lah, hari ini kan giliran Gavin untuk mengepel lantai, jadi Gavin harus pulang cepat.
"Tapi, Mi. Aku mau minta izin," ujar Gavin yang sukses membuat Fany dan Angela menyernyit di waktu yang bersamaan.
Gavin tersenyum, lantas melanjutkan ucapannya, "Boleh nggak kalo besok aku ajak Fany jalan?" tanya Gavin pada Angela yang sontak membuat kedua bola mata Fany melebar sempurna.
Belum juga selesai kekesalan Fany pada laki-laki jangkung di sampingnya yang dengan seenak udelnya meminta izin pada Maminya untuk mengajaknya pergi, kekesalan Fany bertambah saat Maminya malah tersenyum penuh semangat dan memberi izin pada laki-laki perangko itu.
"Boleh, Mami izinkan."
*