Suara petikan senar gitar memenuhi sudut ruang kamar Gavin. Bermain gitar adalah salah satu kegiatan kegemarannya saat gabut melanda. Sebenarnya tadi Gavin sudah janjian untuk nongki di café dengan Gara, sebagai bentuk kesetiakawanan lain dari Gavin untuk menemani sahabatnya itu curi-curi pandang dengan salah satu waitress di café langganan mereka. Menurut pengetahuan Gavin, waitress itu adalah seorang Mahasiswi Farmasi yang tak lain adalah mantan Gara saat SMA dulu. Namun rencana nongki iu gagal karena saat hendak mandi tadi kran di kamar mandi Gavin mengalami kebocoran, sehingga mau tidak mau Gavin harus memperbaikinya terlebih dahulu.
Gavin meredam suara gitarnya menggunakan telapak tangan saat ponsel yang ia letakkan di atas meja belajarnya itu berdering dan menampilkan nama kontak ‘Mami’ pada layar datar benda tersebut. Laki-laki itu meletakkan gitarnya sebelum akhirnya menjawab panggilan dari Angela itu.
“Halo, Mi,” sapa Gavin pada wanita paruh baya di seberang sana.
“Vin, Mami ada kabar buruk untuk kamu,” ujar Angela dengn suara paraunya. Gavin jadi menebak-nebak, ibu dari pacarnya itu tengah flu atau habis menangis. Namun rasa penaaran Gavin pada kabar buruk yang ingin disampaikan oleh Angela itu rupanya lebih besar.
“Kabar buruk apa, Mi?” tanya Gavin.
“Tadi Fany diperiksa oleh Dokter Farel, dan Dokter Farel mendiagnosis Fany mengalami Amnesia,” jelas Angela. Wanita itu menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, “Dan Fany hanya melupakan kamu, Vin. Fany nggak bisa ingat kamu beserta kenangan kalian berdua,” lanjutnya.
Terdapat kepahitan yang telalu pekat dalam kalimat Angela, membuat Gavin seakan ditimpa oleh langit-langit kamarnya sendiri. Ia hancur, hatinya melebur bersama dengan kenyataan bahwa dirinya telah terlupakan. Ternyata rasanya sesakit ini. Lebih sakit dibandingkan tamparan Fany tempo hari. Lebih sakit dibandingkan saat Fany menatapnya dengan tatapan datar siang tadi.
Pikiran Gavin kalut, hingga tanpa sadar ia memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, dan melemparkan benda kotak itu ke atas kasurnya. Lalu yang Gavin lakukan selanjutnya adalah menyambar jaket dan kunci motornya, bergegas menuju garasi rumahnya, dan melajukan motornya di bawah kegelapan malam tanpa tujuan.
Gavin hanya ingin sedikit menenangkan pikirannya, namun yang ia dapat justru kenangan-kenangan masa lalunya bersama Fany yang terus berputar selayaknya kaset rusak di kepalanya. Kenangan itu terus bermunculan di setiap meter jalan yang ia lalui, di setiap tempat yang pernah mereka kunjungi dulu.
Hatinya sesak dan semakin lara, ketika lampu lalu lintas di perempataan jalan itu menyala merah, momen yang sama saat Gavin mengutarakan perasaannya pada Fany kala itu.
Gavin memejamkan matanya beberapa detik, berusaha mengembalikan fokusnya yang beberapa saat lalu hilang ditelan oleh kenangan tentang Fany, sebelum akhirnya motor putih itu kembali melaju kencang saat lampu lalu lintas berubah hijau.
*
Gavin mematikan mesin motornya saat ia sudah berada di depan pagar sebuah rumah mewah yang kini sudah nampak sepi itu. Pukul sepuluh malam lebih empat puluh menit, namun entah megapa Gavin malah datang ke rumah ini, yang tak lain adalah rumah Fany. Laki-laki itu turun dari motornya, lalu sedikit menyembulkan kepalanya untuk melihat Pak Edi di pos satpam melalui celah pagar yang menjulang tinggi itu.
Pak Edi sudah tertidur rupanya. Gavin tidak tega jika harus membangunkan Pak Edi demi menuruti egonya untuk bertemu Fany selarut ini.
Gavin lantas memutar otaknya. Ia mencabut kunci motornya, lalu mengantongi benda tersebut ke dalam saku celana jeansnya. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian, laki-laki itu memanjat pagar rumah Fany, tentunya dengan berusaha mati-matian agar ia tak menciptakan suara gaduh yang dapat membangunkan Pak Edi dari tidurnya. Laki-laki itu mendaratkan kakinya setelah berhasil melewati pagar tersebut, agak tersungkur memang, tetapi Gavin baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Setelah membersihkan celana yang kotor sebab tersungkur tadi, Gavin melangkahkan kaki, beranjak dari sana dan menuju teras rumah yang cukup luas itu.
*
Langit malam yang tak terlalu cerah rupanya mampu untuk sedikit menenangkan pikirannya yang kacau. Perempuan bermata sabit itu meneguk secangkir cokelat panas sambil memandangi langit malam tanpa bintang itu di tepi pagar pembatas balkon kamarnya. Pikirannya masih melayang pada ucapan Dokter Farel siang tadi.
“Jika dilihat dari hasil pemeriksaan tadi, saya simpulkan, Fany mengalami Disosiatif Amnesia, yang merupakan suatu keadaan di mana ketidakmampuan Fany untuk mengingat sebagian kenangan di masa lalunya. Kondisi ini bisa disebabkan akibat trauma, ataupun karena tekanan mental yang dialami oleh penderita.”
Fany mengembuskan napasnya, siapa orang yang sudah ia lupakan? Lalu kenangan apa saja yang menghilang dari ingatannya bersama orang itu? Ia bahkan tak dapat menemukan petunjuk apapun yang dapat membantunya untuk mengingatnya kembali pada orang itu. Mencari informasi melalui ponsel yang sudah rusak hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Atau melalui buku diary? Seingatnya, Fany tak pernah menuliskan kehidupannya di buku diary, jadi percuma juga.
“Ah, udah lah. Kalau memang nggak bisa diingat, sekalian saja nggak usah diingat lagi,” putus Fany pada dirinya sendiri yang sudah merasa buntu dengan ingatannya. Karena jika dipaksakan, kepalanya akan terasa berdenyut dan sakit. Jadi biarkan saja semuanya berlalu. Toh hidup Fany masih akan tetap berlanjut dengan ada atau tidaknya orang itu beserta kenangannya.
Fany hampir saja tersedak saat meneguk cokelat panasnya ketika tiba-tiba ekor matanya menangkap sosok laki-laki jangkung berdiri di bawah balkon kamarnya sembari tersenyum ke arahnya. Senyum yang dapat menciptakan lesung di kedua pipinya itu nampak manis jika dilihat oleh orang lain, namun jika Fany yang melihat, senyum itu nampak biasa-biasa saja menurutnya.
“Ngapain lo menyusup ke rumah orang malam-malam begini?” tanya Fany sinis dengan sedikit menambah volume suaranya.
“Mau memastikan kalo lo baik-baik aja,” sahut Gavin dari tempatnya, kini ia mengubah panggilannya pada Fany, yang semula ‘kamu’ menjadi ‘lo’, sama seperti yang perempuan itu lakukan pada Gavin.
“Nggak penting.” Fany memutar bola matanya malas, tak berminat sedikitpun untuk meladeni laki-laki jangkung bernama Gavin itu. Ia justru lebih tertarik untuk melihat langit yang kini sudah ditutupi oleh awan hitam di atasnya.
“Fan, gue udah tau semuanya dari Mami,” ujar Gavin lagi, ia tak merasa keberatan jika ucapannya hanya dianggap angin lalu oleh perempuan yang sama sekali tidak mau menatapnya itu.
Gavin tetap tersenyum lembut, meski ia tahu bahwa senyumnya tak berarti apa-apa bagi Fany, “Lo boleh jutekin gue, tapi apa lo nggak mau berusaha bareng-bareng untuk balikin ingatan lo tentang gue?”
Fany sedikit tersentak, lalu detik berikutnya perempuan itu menghela napasnya kasar, merasa sangat terusik oleh kedatangan dan ocehan tidak penting dari Gavin. Perempuan itu hendak berbalik masuk ke kamarnya, namun langkah Fany tertahan saat Gavin kembali memanggil namanya.
“Gue akan terus berusaha, sekalipun lo enggan. Jadi, jangan bosan untuk ketemu gue setiap hari,” ucap Gavin tak terelakkan. Ia tidak mengharapkan reaksi apapun dari Fany karena ketika kalimat itu berhasil terucap, artinya ia sudah siap untuk berjuang sendirian demi mendapatkan Fany kembali beserta kenangan mereka berdua.
“Gue pulang, ya. Sweet dream, Fan.” Gavin kembali menorehkan senyumnya pada perempuan yang berdiri memunggunginya di atas balkon kamar itu. Setelahnya, Gavin benar-benar pergi dengan perasaan yang jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan saat ia ditelepon oleh Angela tadi.
Selepas kepergian Gavin dari tempat itu, Fany masih mematung di balkon kamarnya. Cokelat yang semula hangat itu kini sudah mendingin di dalam cangkirnya, tanpa berminat untuk ia teguk kembali. Perasaan aneh itu datang menghampiri dirinya. Ada sedikit getaran melegakan yang tak Fany ketahui apa alasannya. Ada perasaan bahagia yang tanpa terasa mampu menciptakan seulas senyum tipis dari bibir Fany. Dan kekosongan dalam hatinya kini seolah terisi kembali.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Perasaan-perasaan itu seketika sirna, tepat ketika Fany teringat tentang pertemuannya dengan laki-laki jangkung itu di hari pertama Fany kembali ke Universitas Garuda waktu itu. Perlakuan yang tidak menyenangkan hati Fany itu masih terpatri jelas di ingatannya. Perasaan lega dan bahagia itu kini runtuh, bersamaan dengan titik pertama air hujan yang jatuh dan memecah membasahi tanah malam itu.
*
Gavin memarkirkan motor kesayangannya di garasi rumahnya dengan hati-hati. Tubuhnya yang basah kuyup akibat menerjang derasnya hujan dalam perjalanan pulangnya tadi membuat laki-laki itu beberapa kali bergidik kedinginan, lalu dengan kecepatan cahaya ia bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Setelah mengenakan pakaian yang hangat dan mengeringkan rambutnya, Gavin menuruni anak tangga menuju dapur untuk menyeduh teh yang mampu menghangatkan tubuhnya. Karena besok perjuangannya pada Fany baru akan dimulai, jadi ia tak boleh tumbang hanya karena kehujanan tengah malam seperti ini.
Dengan gerakan tangan yang sudah ia hapal di luar kepala, Gavin menuangkan teh hangat yang telah ia seduh itu ke dalam sebuah mug keramik berwarna putih, ia sengaja tak menambahkan gula pada tehnya karena memang tidak terlalu suka dengan minuman manis.
Diambilnya mug tersebut, lalu Gavin beranjak dari sana untuk kembali ke kamarnya. Namun, belum sempat ia menginjakkan kakinya di tangga penghubung antara lantai satu dan lantai dua rumahnya, fokusnya kini teralihkan pada Revan yang ternyata masih terjaga bersama sebuah laptop dan secangir kopi di depannya, hingga laki-laki itu bernama lengkap Gavino Pranaja itu mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar dan justru menghampiri sang kakak di ruang tengah.
“Kok belum tidur?” tanya Revan pada sang adik ketika laki-laki itu mendaratkan tubuhnya pada sofa yang berseberangan dengannya sambil menyeruput minuman hangatnya.
“Gue baru pulang, Bang. Tadi kehujanan di jalan,” ujar Gavin santai. Ia kini mengamati kakaknya yang tengah terfokus pada laptopnya dengan kedua alis yang saling bertaut.
“Lagi ngapain sih?” tanya Gavin yang sedikit penasaran dengan hal yang tengah dilakukan oleh kakaknya sampai seserius itu.
“Biasa, kerjaan.” Revan berujar tanpa melirik ke arah Gavin yang sedang menganggukkan kepalanya. Gavin yang tak mau mengganggu kakaknya itu pun hanya memperhatikan dalam diam sambil sesekali meneguk teh hangatnya.
Saat urusan pekerjaannya sudah selesai, Revan menutup laptopnya lantas menatap Gavin, ia ingin memfokuskan perhatiannya pada sang adik yang tumben-tumbenan sekali keluar kamar di jam segini, “Tadi kehujanan, habis dari mana?” tanya Revan pada sang adik.
“Habis dari rumah Fany,” ujar Gavin santai. Laki-laki itu memilih memandangi mug berisi teh hangat di tangannya itu ketimbang memandang kakaknya.
“Ke rumah Fany? Malem-malem gini?” tanya Revan lagi, sekedar memastikan bahwa ia tak salah dengar. Untuk apa laki-laki itu datang ke rumah Fany semalam itu, seperti tidak ada waktu lain saja.
Gavin hanya mengangguk mengiyakan. Laki-laki itu berpikir sejenak, sebelum akhirnya kembali membuka suara, “Fany… amnesia, Bang,” ucap Gavin.
Revan tersentak, laki-laki itu terbatuk-batuk sebab tersedak kopi yang baru saja diteguknya. Ia memang tahu kalau beberapa bulan lalu pacar dari adiknya itu mengalami kecelakaan, namun ia tak menyangka kalau ternyata kondisinya akan separah ini. Untuk itu, Revan menampilkan senyum lembutnya, mencoba memberikan energi positif pada sang adik yang sedang patah hati itu.
“Terus apa rencana lo?” tanya Revan.
Gavin mengendikkan bahunya, “Tentu aja gue harus balikin ingatan dia.” Laki-laki itu berujar, ia tak ingin pasrah dengan keadaannya, dan ingin berusaha untuk mengembalikan ingatan Fany tentangnya, walaupun ia masih belum tahu apa rencana awal yang akan ia lakukan.
Keduanya membisu selama beberapa menit, memikirkan hal apa yang harus dilakukan untuk mengambalikan ingatan Fany.
Setelah beberapa menit bergulat dengan pikirannya sendiri, Revan kini menegakkan tubuhnya, seakan menemukan sebuah pencerahan untuk masalah sang adik. ia lantas menatap serius ke arah Gavin, membuat sang adik juga ikut menampilkan ekspresi yang serupa.
Revan menarik napasnya, sebelum akhirnya mengutarakan apa yang ada di pikirannya, “Gimana kalau lo mulai lagi dari nol, seakan lo belum kenal dengan Fany?”
*